
Mr. G itu Bos-nya!
Bab 3
Waktu masih pagi saat Briana membuka mata. Dahinya tampak berkerut saat mencoba meraih kesadaran sepenuhnya. Dan saat melihat wajah pria tampan yang semalam tak berhenti memonopolinya, seketika matanya melebar sempurna.
Briana menelan ludah susah payah. Ia kira apa yang ia alami adalah mimpi. Tapi melihat pria itu berada tepat di hadapannya bahkan saat ini memeluk pinggangnya, sudah pasti itu bukanlah mimpi. Terlebih dengan kondisi mereka yang sama-sma telanjang bulat.
Dengan hati-hati Briana menyingkirkan tangan pria itu dari pinggangnya kemudian turun dari sofa. Namun saat kakinya baru saja memijak karpet di bawahnya, dirinya justru jatuh terduduk membelakangi pria itu. Briana menoleh perlahan dan menadatapi pria itu masih terlelap membuat hela nafas kelegaan terdengar samar. Untung saja posisinya berada di tepi, jadi dirinya bisa bebas dengan cukup mudah.
“Ugh!” Briana memegangi perut bagian bawahnya kala hendak bangkit berdiri. Rasa sakit luar biasa kala ia bergerak membuatnya nyaris tak bisa bangkit. Tapi ia tak bisa berlama-lama di sana, ia harus segera pergi sebelum pria itu bangun.
Briana berpegangan meja, berusaha berdiri dengan kaki tampak gemetar, diambilnya pakaiannya yang tercecer dan memakainya. Setelah selesai memakai pakaiannya, diambilnya banyak lembaran uang dari dalam tas dan meletakkannya di atas meja sebagai bayaran.
“Terima kasih, Mr. G.” Tulis Briana pada selembar kertas kecil dan meletakkannya di atas uang yang ia tinggalkan. Sebuah ucapan terima kasih atas yang dilaluinya semalam. Setelah itu dirinya segera pergi dari sana meninggalkan pria itu yang masih terlelap.
Satu jam kemudian Briana telah sampai di rumahnya setelah pergulatan batin selama perjalanan. Rasanya ia ingin segera berendam air hangat agar bisa menjernihkan kembali otaknya. Kilatan ingatan kegiatan panasnya semalam terus berputar-putar beradu dengan ingatan pengkhianatan yang Alex lakukan.
Briana menghentikan langkahnya dan mengetuk dahi dengan kepalan tangan. “Sadar Bri, sadar,” ucapnya pada diri sendiri.
“Bri.”
Perhatian Briana tertuju pada pemilik suara yang sudah sangat ia hafal. Mengangkat kepala, ia melihat Alex berdiri di depan rumah dan menatapnya dengan raut wajah penuh penyesalan.
“Bri, kau baru pulang? Dari mana saja?” tanya Alex seraya menghampiri Briana yang masih berdiri di halaman.
Briana mengabaikan Alex dan melangkah berniat segera masuk ke dalam rumah.
“Bri, tunggu!” cegah Alex dengan tangan menggenggam tangan Briana.
Briana melirik tangan Alex yang menggenggam kuat tangannya. “Bukan urusanmu,” jawabnya seraya menarik tangannya. Untuk saat ini ia tak ingin berhadapan dengan Alex atau dengan siapapun.
“Bri, kumohon dengarkan penjelasanku. Dengarkan aku dulu, Bri,” pinta Alex mengiba. Ia kembali meraih tangan Briana dan menahannya.
Rasanya Briana benar-benar muak. “Lepaskan,” ucapnya dengan suaranya yang begitu dingin sama dinginnya dengan raut wajahnya kini.
“Tidak, sebelum kau mendengar penjelasanku!”
Briana terdiam cukup lama sampai akhirnya suaranya terdengar. “Baiklah. Jelaskan.” Tapi seperti apapun Alex menjelaskan, ia tak akan pernah percaya.
“Mila menjebakku, Bri. Selama ini dia terus mendekatiku. Dan saat kau ditugaskan di luar kota, dia mengatakan padaku bahwa kau berselingkuh.”
“Dan kau percaya?” potong Briana cepat yang membuat Alex seketika terdiam.
Briana menarik tangannya dan mengalihkan pandangan dari Alex seraya menjelaskan tujuannya semalam.
“Kemarin, aku berpikir memberikan hadiah spesial untukmu. Kau tentu tahu, hari ulang tahunmu bertepatan dengan hari anniversary kita. Dan kau tahu hadiah apa yang kusiapkan untukmu? Harga diriku. Aku berpikir memberikan harga diriku karena aku percaya padamu. Aku percaya kau akan menjadi suami terbaikku. Tapi apa yang aku lihat? Apa yang justru aku dapatkan? Justru aku yang mendapat kejutan mengerikan darimu.” Briana berusaha menahan air matanya. Ia tak ingin Alex melihatnya menangisinya dan membuatnya merasa di atas awan.
Alex tak sanggup berkata-kata mendengar pengakuan dari Briana. Dan entah kenapa membuatnya merasa menjadi pria paling bodoh di dunia. Padahal Briana sangat mencintainya, mempercayainya, tapi kenapa dirinya tak bisa melakukan hal yang sama? Tak bisa mempercayai Briana seperti Briana mempercayainya hingga akhirnya dirinya tenggelam pada hasutan Mila.
Merasa tak ada lagi yang perlu dibicarakan, Briana segera melangkah meninggalkan Alex yang seolah tak sanggup bergerak. Alex seakan menyadari kesalahannya membuatnya tak sanggup meminta maaf dari Briana.
Briana menutup pintu rumahnya kemudian menguncinya. Ia masih berdiri di sana sampai tiba-tiba tubuhnya merosot dengan air mata menetes deras. Ia terduduk bersimpuh dengan tangisan yang mulai terdengar. Samar-samar isakannya pun muncul dan tak mampu ia redam.
Andai saja waktu bisa diputar, Briana tak ingin bertemu dengan Alex jika pada akhirnya harus berakhir seperti. Inilah yang ia takutkan, saat ia telah jatuh cinta, dirinya menggunakan seluruh hatinya. Dan saat cinta itu melukainya, hancur pula hatinya yang telah ia persembahkan.
Sementara di luar, Alex berdiri di depan pintu. Ia menjatuhkan kepalanya pada pintu bercat coklat itu dan menggunakan ribuan kata maaf. “Maaf, Bri. Maaf, maafkan aku. Maafkan aku.” Ia benar-benar menyesal telah melakukan kesalahan. Sebenarnya ia juga sangat mencintai Briana, tapi karena hasutan Mila membuatnya melakukan kesalahan yang tak dapat dimaafkan. Kini, siapa yang harus disalahkan? Mila yang menghasutnya, atau dirinya yang dengan mudah percaya begitu saja?
Beberapa hari berlalu sejak malam menyedihkan yang Briana alami, hari ini dirinya kembali bekerja di perusahaan utama. Kembali bekerja sebagai karyawan marketing di perusahaan yang telah memberinya nafkah selama dua tahun terakhir.
“Bagaimana pekerjaan di sana?”
Saat ini Briana tengah berjalan bersama Rania, rekan kerja satu departemennya menuju gedung.
“Tidak ada masalah. Meski kebanyakan dari mereka adalah karyawan baru, tapi mereka bekerja dengan baik,” jawab Briana seraya mengingat pengalamannya bekerja di anak perusahaan yang baru dibuka beberapa bulan lalu.
Rania menghentikan langkahnya dan menyiku lengan Briana dengan wajah menggoda. “Cie, aku yakin setelah ini kau akan dipromosikan menjadi supervisor atau bahkan asisten manager,” ucapnya disertai tawa ringan.
“Ish. Apa maksudmu? Jangan bicara seperti itu,” timpal Briana disertai dengusan. Dirinya sama sekali tak mengharapkan hal itu. Yang penting ia bisa bekerja dengan tenang, menghasilkan uang untuk biaya adik-adiknya sekolah dan menjalani kehidupannya dengan damai dan normal. Membicarakan kedamaian, tiba-tiba saja ia teringat Alex.
Rania yang melihat wajah Briana menjadi murung, seketika bertanya, “Eh? Ada apa denganmu? Bukankah harusnya kau senang jika naik jabatan?”
Briana tersenyum kecut yang seketika membuat Rania tahu apa masalah yang sebenarnya Briana pikirkan.
“Tunggu, jangan bilang kau kepikiran mantanmu yang sialan itu juga temanmu yang tak tahu diri itu,” tuduh Rania dengan tatapan penuh selidik.
Hela nafas panjang lolos dari mulut Briana. “Rasanya aku ingin memutar waktu. Jika mengingatnya, aku merasa sangat bodoh. Sangat-sangat bodoh.” Dan yang ia maksud di sini adalah, menyewa seorang pria untuk mengambil kegadisannya. Jika ada kategori wanita paling bodoh dalam guinness world, mungkin ia akan menjadi juaranya.
“Ya sudah lah, mau bagaimana lagi? Begini saja, daripada kau murung terus, aku akan menunjukkan sesuatu padamu. Anggap saja cuci mata. Sejak kau dipindahkan ke luar kota, direktur kita ganti,” ujar Rania memberitahu.
“Aku tahu,” sahut Briana.
“Tapi kau kan belum pernah melihatnya. Sekarang, berdiri di sini dan aku akan mempertemukanmu dengan direktur baru kita, mister G.”
Alis Briana tampak menyatu. “Mister G?” ucapnya mengulang ucapan Rania.
Rania mengangguk pasti kemudian tangannya menangkup wajah Briana dan menolehkannya ke arah dua orang yang berjalan menuju ke arah mereka. Lebih tepatnya ke lobi tempat mereka berdiri sekarang.
Briana tampak menajamkan penglihatannya. “Dia ….” gumamnya.
“Eh? Kau sudah pernah melihatnya?”
Seketika tubuh Briana menjadi kaku teringat jika pria yang saat ini berjalan ke arahnya adalah pria malam itu. Bagaimana bisa?!
Tepat di saat itu tanpa sengaja arah pandang pria itu tertuju pada Briana yang tampak mematung menatapnya. Untuk sepersekian detik ia cukup terkejut, namun setelahnya seringainya justru merekah. “Akhirnya kita bertemu lagi, wanita sialan,” ucapnya dalam benak.
Anda Mungkin Juga Suka





