Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mon Amour

Mon Amour

Farrin terjebak dalam dilema rumit antara dua pria kembar. Meski sempat menjalin kasih dengan Avan, takdir justru membawanya menikah dengan Vian, sang adik. Tak rela melepaskan, Avan bertekad merebut kembali Farrin dari tangan adiknya sendiri melalui berbagai cara licik. Walau Farrin dan Vian berusaha bertahan, Avan terus menyusun rencana jahat demi memisahkan mereka. Akankah Avan berhasil memenangkan cinta lamanya, ataukah Farrin tetap setia pada sang suami?
Bab
Bagikan

Bab 2

“Boleh aku masuh ke kamarmu? Kita perlu bicara,” ujar Vian. Ia masih berdiri di pintu kamar Farran dan tak berani masuk tanpa dipersilahkan si empu kamar. Lagi pula, ini pertama kali ia menginjakkan kaki ke wilayah pribadi wanita yang menjadi kekasih kakak kembarnya itu.

Farrin mengangguk pelan, ia masih menundukkan kepala dengan isakan sudah tak terdengar lagi di telinga Vian. Begitu ia membukakan pintu untuk Vian, ia langsung berbalik dan berjalan pelan ke dalam kamarnya. Jujur saja, Farrin tak ingin sosok lemahnya begitu terlihat di mata lelaki yang mulai malam ini menjadi tunangannya secara sepihak itu.

“Duduklah di manapun kau mau!” perintahnya.

Vian mengangguk tanpa mengeluarkan suaranya dan yakin jika Farrin sama sekali tak akan tahu jika ia mengangguk. Jujur saja, ia tak pernah masuk ke dalam kamar wanita manapun selain ibunya sebelum ini. Ia mengagumi tatanan kamar Farrin yang terlihat minimalis untuk ukuran wanita yang beranjak dewasa sepertinya. Ia pernah mendengar jika Farrin tak banyak mengoleksi banyak hal, dan ia kini percaya jika pernyataan itu benar adanya. Tak banyak barang di ruangannya. Sebagian adalah barang yang benar-benar selalu dibutuhkan dan umum untuk berada di kamar. Seperti buku-buku, laptop, dan beberapa barang perempuan seperti boneka.

Boneka? Oh, sepertinya wanita itu begitu menyukai boneka kelinci hingga di kamarnya ini terlihat beberapa boneka kelinci dengan berbeda bentuk, pose dan warna. Ada yang berwarna biru, ungu, dan pink.

“Boleh aku duduk di sofa?” tanya Vian setelah matanya melihat siluat sebuah sofa tunggal yang berada tak jauh dari ranjangnya. Dari sana, ia bisa menyimpulkan jika sofa itu biasa Farrin gunakan untuk membaca. Terbukti dari adanya rak buku yang berada di dekat sofa itu.

Farrin mengangguk dan bergumam pelan jika ia memperbolehkan Vian duduk di sana. Vian mendengarnya. Setelahnya, ia langsung mendudukkan dirinya di sofa berwarna biru gelap tersebut.

“Maaf, aku tak punya kudapan untuk di suguhkan padamu. Aku juga terlalu malas untuk ke dapur dan mengambilkannya untukmu,” ucap Farrin. Ia memang jarang membawa kudapan ke dalam kamarnya. Selain faktor malas, ia juga tidak ingin mengalami obesitas ataupun kelebihan kadar gula karena kudapan manis. Ia hanya akan mengambilnya di dapur hanya untuk saat-saat tertentu.

“Tak masalah untukku, lagi pula aku di sini untuk berbincang. Tak masalah jika tak ada kudapan atau minuman, aku sudah kenyang karena tadi kita telah makan bersama.”

Farrin masih menundukkan wajahnya. Ia masih malu untuk sekedar mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah eksistensi pria yang berusia tujuh menit lebih muda dari kekasihnya itu. Ah, atau mungkin bisa dikatakan mantan kekasih untuk saat ini?

Hening melingkupi keadaan mereka untuk beberapa saat. Farrin tahu, pemuda itu lebih pendiam ketimbang kakak kembarnya. Lalu, ia juga bingung ingin berbicara apa untuk memecah keheningan di antara mereka.Meski sudah beberapa menit berlalu sejak Vian duduk di sofa itu, ia sama sekali belum membuka mulutnya untuk berbicara seperti tujuan awalnya kesini.

“Jika tak ada yang kau katakan, sebaiknya temui keluargamu agar aku bisa istirahat!” sarkas Farrin.

Vian mengerti, kata-kata itu adalah kata pengusir untuknya karena ia tak segera membuka percakapan pada gadis yang kini tengah duduk di ranjangnya itu. Ia sebenarnya tak tahu harus memulainya dari mana, yang jelas, kini ia tengah mencari topic pembicaraan yang pas.

“Maaf,” ucap Vian. Ia memang bingung atas apa yang akan dikatakannya. Akhirnya, hanya ucapan maaflah yang bisa keluar dari mulutnya saat ini.

“Untuk?” tanya Farrin.

“Kakakku.”

“Mengapa kau yang meinta maaf? Jika memang kakakmu yang merasa bersalah, maka dialah yang harus meminta maaf. Bukan dirimu.”

“Aku tahu. Tapi aku juga ikut andil karena aku tak berusaha lebih keras untuk mencegahnya melakukan hal ini.”

Farrin menunduk, ia tahu jika Vian lah yang akan meminta maaf karena ia telah mengetahui tabiat calon adik iparnya itu. Ah, atau bisa di bilang kini calon suaminya karena pria itu telah menjadi tunangannya.

“Itu bukan salahmu. Lebih keras membujuknya atau tidak sama sekali, itu tak akan merubah apapun. Avan sangat keras kepala. Aku juga tak yakin jika ada yang bisa membuat keputusan yang ia buat berubah dalam hitungan menit.”

“Ya, seperti itulah kakak.” Avan tersenyum. Memang benar apa yang diucapkan oleh wanita itu tentang kakaknya. Tentu saja, apa yang akan kau harapkan dengan hubungan mereka yang tidak sebentar itu?

“Boleh ku tahu dimana ia sekarang?”

Vian menghembus nafasnya dengan pelan. Ia tak tahu apakah jawabannya ini berdampak buruk atau tidak untuk calon kakak iparnya ini. “Dia telah terbang ke New York. Mungkin sudah take off lima belas menit yang lalu. Sebelum kesini, kami mengantarkannya terlebih dahulu ke bandara,” ujarnya.

Air mata yang sebelumnya telah berhenti kini kembali mengalir lagi di pipi tirus milik Farrin. Vian menyadarinya.Namun, ia baru menyadari malam ini jika pipi Farrin lebih tirus dari terakhir mereka bertemu satu tahun yang lalu.

Sebelum ini, Avan memang menghindari Farrin karena mendengar kabar jika kakaknya akan meminang Farrin dalam jangka waktu dekat. Setelah kabar itu, ia memilih untuk menenangkan hatinya dan pergi ke negeri Paman Sam dengan dalih mengurus perusahaan yang kini berganti kakaknya yang mengurusnya karena beberapa hal dan ia ditugaskan kembali ke perusahaan lama menjadi karyawan biasa.

Kemudian, tanpa disadari siapapun juga, ia diam-diam telah menaruh hati pada calon kakak iparnya ini. Jadi, boleh ia berharap lebih meski pada nyatanya nanti ia tak akan mendapatkannya? Ia ingin menikmati saat-saat menjadi tunangan Farrin walau hanya sebentar saja.

Sedangkan di tempatnya, Farrin masih tetap dengan pandangannya keluar jendela café yang kini tengah ia gunakan untuk menenangkan pikirannya yang kalut. Tentu saja, ia masih belum tenang akibat berita pertunangannya yang begitu mengejutkan untuknya. Pun masih tak habis pikir, bagaimana bisa kekasihnya yang telah menjalin kasih selama tiga tahun ini dengannya bisa digantikan hanya dengan waktu satu malam saja tanpa pemberitahuan sebelum itu. Jangankan untuk pemberitahuan, bahkan untuk kata putus saja tidak ada di antara mereka. Memang, ia telah mengenal Vian jauh hari sebelum ini, tetapi tetap saja hal ini tak dapat ia terima dengan mudah.

Memang kau masih bisa menerima pertunangan dengan adik kekasihmu di saat yang bahkan kau saja ingat jika tidak ada masalah di antara kalian?

Heol! Jika saja bukan adik dari kekasihnya yang kini menjadi tunangannya, hatinya tak akan merasa sakit lebih dari ini. Ia akan lebih menerima jika yang ditunangkan dan dijodohkan dengannya adalah orang lain.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anak Durhaka Dibutakan Nafsu
7.9
Saat ibu mertuanya kritis akibat kecelakaan, sang istri diabaikan oleh suaminya sendiri yang sibuk membantu mantan kekasihnya, Stacy. Pengacara itu bahkan menolak mengirimkan uang pengobatan dan menuduh istrinya berbohong. Setelah sang ibu meninggal, sang suami justru maju sebagai pembela Stacy di pengadilan atas kasus tabrak lari dan berhasil membebaskannya. Begitu kebenaran terungkap saat sang istri menuntut cerai, pria itu baru menyadari bahwa korban tewas yang ditabrak oleh kekasihnya adalah ibunya sendiri.
Sampul Novel CHRONOPHILE
8.2
Menikahi pria yang pernah ditolak di masa lalu membawa dilema besar dalam sebuah perjodohan. Apakah dia bertahan karena cinta yang tersisa, atau justru merencanakan balas dendam atas luka lama? Sebagai pasutri, mereka dipaksa menjalani komitmen di tengah bayang-bayang masa lalu yang kembali mengusik ketenangan. Di dunia Chronophile, di mana waktu sangat dihargai, rahasia dan konflik mulai menguji kesetiaan mereka dalam mempertahankan rumah tangga ini.
Sampul Novel Cinta Tidak Direstui
9.6
Risa Ayu Cahyaningrum adalah dokter spesialis sukses yang memiliki klinik pribadi. Meski berprestasi, ia dipandang rendah oleh ibu kekasihnya, seorang Mayor TNI, hanya karena ia putri seorang petani. Sang ibu merasa status sosial Risa tidak sepadan bagi putranya. Risa pun berjuang membuktikan bahwa ketulusan melampaui kasta. Di tengah intrik dan konflik keluarga yang pelik, kesabaran serta cintanya diuji demi meraih restu yang terhalang oleh perbedaan derajat.
Sampul Novel Cinta yang Menghanyutkan
9.4
Dalam novel modern bergenre misteri horor ini, sebuah hukuman kejam berujung maut. Sang suami yang murka karena kekasih lamanya terjebak di lift, tega mengunci istrinya sendiri di dalam koper sempit dan menyimpannya di lemari. Meski sang istri menangis dan memohon ampun hingga kehabisan napas, jeritannya diabaikan. Setelah lima hari berlalu, sang suami akhirnya memutuskan untuk membuka kunci koper tersebut demi memberi pengampunan. Namun, ia tidak menyadari bahwa di dalam sana, tubuh istrinya telah membusuk dan hancur tak bersisa.
Sampul Novel Cinta yang Telah Menjadi Masa Lalu
9.0
Amukan pasien di rumah sakit berujung tragis bagi seorang istri. Berniat menyelamatkan suaminya, Elvano Wiratama, dari sabetan pisau, ia justru ditarik menjadi tameng hidup demi melindungi adik junior suaminya. Tusukan fatal itu merenggut nyawa janin di rahimnya. Alih-alih peduli pada kondisi istrinya yang sekarat, Elvano malah menurunkan paksa tubuhnya dari brankar ICU demi menyelamatkan sang junior terlebih dahulu. Di ambang maut, sang istri akhirnya menyerah dan memutuskan.
Sampul Novel Daddy's Princess (21+)
8.4
Dominic menjalani peran sebagai ayah angkat bagi Bee, namun kehadiran sosok dosen tampan bernama Nathan mulai mengubah dinamika kehidupan mereka. Hubungan ketiganya terjalin dalam narasi penuh emosi yang mendalam dan kompleks. Konflik hati serta ketegangan asmara mewarnai setiap babak perjalanan mereka, membawa pembaca menelusuri sisi dewasa dari sebuah komitmen. Sebuah kisah romansa modern yang menantang batas perasaan antara perlindungan dan cinta.