Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Moments And Memories

Moments And Memories

Evelina adalah siswi cerdas nan jelita yang sulit membuka hati. Ia kembali bertemu Nox Cyril, pemuda kaya raya yang menyimpan trauma masa kecil, namun Evelina justru melupakan sosoknya. Rumitnya romansa mereka kian pelik saat Lucas sang model ternama, Frans si pakar IT, dan Owen sang pewaris medis raksasa hadir di hidupnya. Akankah memori masa lalu Evelina pulih? Mampukah perasaan yang terpendam tersampaikan di tengah bayang-bayang rahasia lama mereka?
Bab
Bagikan

Bab 2

Evelina terlihat kebingungan karena Nox mengetahui namanya. Padahal, mereka belum mengenal ataupun bertemu satu sama lain.

“Apa kau mengenalku? Tidak ... apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Evelina kepada Nox.

Nox mendengar kata-kata itu, dia pun melepaskan tangan Evelina dengan perlahan. Pada saat itu, Rissa baru menyadari bahwa orang yang menabrak sahabatnya adalah Nox Cyril.

“NOXXX!!! Apa yang kau lakukan pada ‘Eve-ku’?” teriak Rissa.

“Eve-ku?" ucap Nox. Lalu, lelaki itu menoleh ke arah sampingnya, ketika ada seseorang yang sedang memanggil. Ia terkejut ketika melihat di depannya ada seseorang gadis yang dikenalnya. Rissa?” ucap Nox sambil melihat Rissa dengan tercengang.

“Iya, itu aku!” tegas Rissa.

Di kala itu, Nox malah mengacuhkannya dan meninggalkan Rissa tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

“Hei! Minta maaflah sebelum pergi!” ketus Rissa.

Evelina menganggukkan kepalanya dan dia bilang kepada Rissa bahwa ia tidak apa-apa. Lagi pula, ini salahnya karena tidak melihat jalan dan ada orang di depannya tadi. Franss masih berdiri dan berada di dekat Evelina, ia langsung mendatangi Evelina dan dia meminta maaf atas perlakuan Nox yang tidak sopan itu.

“Maafkan kami, sudah membuatmu terjatuh,” kata Franss.

“Dia memang tidak pandai dalam meminta maaf kepada orang lain, tapi dia orang yang baik kok,” jelasnya kepada Evelina.

“Franss ... kau di sini juga!” ucap Rissa.

“Tentu saja, siapa lagi yang bisa menjaga atau menangani bocah itu? Wkwk,” kekek Franss.

”Oh ya, aku tinggal dulu. Bye bye Rissa ... dan juga Evelina,” pamitnya.

Franss pun pergi meninggalkan Rissa dengan Evelina, dia mengejar Nox dan memanggilnya karena sudah ditinggalkan oleh Nox sejak tadi.

"Hei Nox! Kenapa kau meninggalkanku sendirian?" teriak Franss.

Evelina terkejut dengan ucapan lelaki itu, karena Franss mengetahui namanya. Padahal, mereka belum pernah bertemu sama sekali pun. Rissa menyadari bahwa Evelina terlihat bingung, ia pun menjelaskannya kepada Evelina

“Franss Vessalius, dia orang yang mudah mengingat apa pun. Walaupun, sekali dilihatnya dan juga dia adalah anak bungsu keluarga Vessalius dari perusahaan Swath.”

“Perusahaan Swath? Bukankah itu ...,” sahut Evelina.

“Benar, perusahaan yang mendunia di bidang teknologi yang sudah terkenal dari dulu sampai sekarang,” jawab Rissa. “Sudah-sudah itu tidak penting, ayo kita kembali ke kelas!” ajak Rissa kepada Evelina.

“Oh benar ...,” sahut Evelina.

Sambil berjalan membawa buku, Evelina menyadari bahwa Nox sepertinya mengenal dirinya dan terlihat bahwa lelaki itu ingin mengatakan sesuatu kepadanya. Tetapi, tidak jadi dikatakan oleh lelaki itu. Evelina juga menyadari bahwa sebelum Nox pergi, raut wajahnya terlihat sedih saat memandangnya.

“Apakah kita pernah bertemu? Aku rasa tidak ... sebelum itu, aku belum pernah mempunyai teman laki-laki ketika kecil. Yah ... tapi aku rasa ada memiliki beberapa teman laki-laki pada waktu itu,” pikir Evelina.

Setelah itu, mereka pun akhirnya sampai di kelas mereka. Tak lama kemudian, bel sekolah pun berbunyi.

Kring...kring...

Walaupun hari ini tidak ada pelajaran sekolah, tapi mereka harus memperkenalkan diri mereka masing-masing sebelum itu. Rissa dan Evelina pun duduk di bangkunya, Evelina menyadari bahwa ada Nox dan Franss sekelas dengan mereka. Setelah itu, ada seorang pria berambut abu-abu gelap dengan warna mata biru laut. Ia datang dan masuk ke kelas tersebut, dia langsung memperkenalkan dirinya sebagai wali kelas 1-4.

“Nama saya adalah Kyle Xerxes. Panggil saja Pak Kyle, saya mengajar mata pelajaran Matematika dan juga sebagai wali kelas kalian, Mohon kerja samanya!” kata Pak Kyle.

Setelah itu, Pak Kyle pun meminta para siswanya untuk memperkenalkan diri mereka masing-masing yang pertama di ujung dekat jendela, yaitu Nox Cyril dan Franss Vessalius.

“Nox Cyril dari SMP Izles,” senyum Nox.

“Franss Vessalius dari SMP Izles juga, salam kenal semua!” seru Franss.

Para murid mulai berbisik satu sama lain, ketika para pria populer memperkenalkan diri mereka masing-masing.

“Itu Franss merupakan sahabatnya Nox. Dia mempunyai sifat imut yang berkebalikan dengan Nox,” bisik siswa A.

“Benar, walaupun sifatnya imut dia anak berbakat di bidang teknologi. Sejak kecil sudah meraih banyak penghargaan juga,” sahut siswa B.

Kemudian, dilanjutkan oleh perkenalan dua laki-laki yang tak kalah terkenal dan berpengaruh di kota ini.

“Owen Blouse ... dari SMP Anwerd, salam kenal semua,” sapanya dengan ramah.

“Lucas Aland, SMP Anwed,” sapa Lucas dengan singkat.

Ketika Rissa melihat situasi kelasnya, ia duduk dan bersandar. Ia melihat para lelaki itu sambil menyilangkan kedua tangannya.

“Wah kelas kita benar-benar di kelilingi oleh pria yang terkenal,” seringai Rissa.

Evelina tersenyum tipis dan ia berkata,“Benar sekali.”

Melihat senyuman Evelina, Rissa yang duduk bersebelahan dengannya membuatnya terkagum dan berkata, “Tapi, aku tak tertarik dengan mereka. Hmph! Aku hanya mempedulikanmu saja," Ketika itu, Evelina merasa Rissa bahwa dia terlalu berlebihan dan itu membuatnya ingin tertawa saja.

Setelah semua orang selesai memperkenalkan diri, yang tersisa hanya kedua gadis itu. Mereka pun memperkenalkan dirinya kepada teman-teman sekelas mereka.

“Larissa Klariss dari SMP Vanth,” sapa Rissa

Semua terpesona dan membuat oramg terkagum dengan penampilannya yang cantik dengan rambut panjang cokelat kehitaman yang terurai.

“Evelina Caroline dari SMP Vanth, salam kenal semuanya,” sapanya dengan ramah sambil tersenyum.

Teman-teman kelas mereka pun mulai kembali membisikkan sesuatu, ketika kedua gadis itu memperkenalkan dirinya.

“Larissa Klariss bukankan dia anak perempuan dari desainer yang terkenal di seluruh dunia? Dan juga Evelina Caroline yang mendapatkan banyak penghargaan ketika di SD dan SMP dalam lomba sains dan matematika secara berturut-turut,” kata siswa C.

“Benar, aku pernah mendengarnya juga bahwa dia mempunyai IQ 200,” sahut siswa B.

“Dan juga aku dengar-dengar ... dia masuk SMA ini mendapatkan beasiswa dari dewan sekolah. Dia juga merupakan sahabat dari Larissa Klariss sejak kecil,” sela siswa D.

“Tidak heran dia terlihat akrab dengan Rissa dan juga banyak yang menyukainya,” jelas siswa A.

Setelah para siswa selesai memperkenalkan diri mereka, wali kelas pun berkata kepada para siswa bahwa hari ini adalah jam kosong. Jadi, mereka sekarang bebas dari jam mata pelajaran. Kemudian, Pak Kyle meninggalkan kelasnya.

Setelah beberapa jam kemudian...

Jam 15:00

Sore hari pun telah tiba, warna langit yang cerah itu mulai memudar. Terlihat ada seseorang lelaki berdiri dan menatap pemandangan di hadapannya sambil menunggu hari terbenam. Nox berada di atas atap sekolah dan menyandarkan tangannya pada pangkal pagar tangga tersebut, ia berdiri dengan seorang diri saja di dekat tangga sambil memikirkan sesuatu. Di selang waktu tersebut, muncul lah Franns dan dia mendatangi Nox. Dia menepuk bahunya Nox dan bertanya apa yang sedang dilakukan Nox sendirian di atas atap.

“Nox apa yang kau lakukan di sini?” tanya Franss.

Nox tidak menjawab sepatah kata pun dari pertanyaannya dan Franns bertanya lagi kepadanya.

“Apa kau berpikir dia adalah ‘cewek itu’?”

Nox pun menghela napas, ketika mendengar pertanyaan dari sahabatnya itu dan dia menjawab pertanyaannya.

“Aku rasa begitu ... ketika aku memegang tangannya, perasaan familiar ini yang aku rasakan pada saat itu,” kata Nox sambil melihat telapak tangannya.

“Bukankah dia orang yang sangat penting bagimu? Jadi, kau kali ini harus melindunginya,” sahut Franss sambil tersenyum.

Franss pun melihat Nox bahwa dia tersenyum kecil mendengarkan perkataan dari sahabatnya itu. Franss merasa lega melihat Nox bisa tersenyum lagi, maksudnya dia memang sering tersenyum tapi itu semua hanyalah senyuman palsu yang dia tunjukkan kepada orang lain.

Di sisi lain, Evelina dan Rissa masih berada di kelas. Evelina yang masih terlarut dalam membaca bukunya dengan serius sambil mendengarkan musik. Sedangkan Rissa yang menemani Evelina sambil membaca buku juga. Rissa yang terlihat bosan dia menggeliat dan bicara kepada Evelina.

“Eve ... sudah berapa jam kamu membaca buku?” tanya Rissa.

“Tunggu sebentar ini baru tiga buku ...,” sahut Evelina dengan santai.

Rissa yang menatap Evelina sambil menopang pipinya. “Bukankah ini terlalu membosankan? Membaca banyak buku ...,”

Evelina pun menutup bukunya dan melihat jam tangannya. “Oh benar, ini sudah sore,” kata Evelina, dia pun berdiri dari kursinya.

Kring...kring...

Bel sekolah pun berbunyi yang menandakan sudah waktunya pulang ke rumah mereka masing-masing.

Evelina pun memasukkan bukunya tadi ke dalam tasnya dan mengajak Rissa pulang. Setelah itu mereka sudah sampai di dekat pohon ginkgo pada sekolah mereka. Pada saat itu, Rissa pun ingat bahwa dia telah meninggalkan dompetmya di dalam laci mejanya. Dia meminta Evelina menunggunya sebentar, Evelina menganggukkan kepalanya. Kemudian, Rissa telah pergi dari hadapannya Evelina. Gadis itu menunggu Rissa di bawah pohon ginkgo dan dia pun bersandar tubuhnya pada pohon tersebut.

Daun ginkgo mulai berjatuhan secara perlahan-lahan, karena tertiup angin yang begitu kencang. Hal itu sampai membua rambut hitam kecokelatan panjang yang terurai itu terkibas juga, karena air yang bertiup dengan kencang. Evelina pun memegang rambutnya agar tidak berantakan dan mengaitkan rambutnya yang halus itu pada daun telinganya.

Di sela pemandangan itu, ada seseorang lelaki berambut putih keperakan yang sedang menghampiri gadis itu. Evelina pun baru menyadari kehadiran Nox dan menatapnya, mereka pun menatap satu sama lain.

“Apa sebelumnya kita pernah bertemu?” tanyanya kepada Nox dengan lembut. Tatapan sang gadis itu tertuju kepada Nox Cyril.

BERSAMBUNG...

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Apa Salahku Padamu, Bu?
7.9
Mutia menjalani hidup penuh kepedihan karena kebencian sang ibu yang tak beralasan. Seandainya bisa, ia lebih baik tidak pernah lahir daripada terus menjadi sasaran amarah. Kesulitan ekonomi yang menghimpit membuat ibunya selalu melampiaskan rasa frustrasi kepada Mutia tanpa henti. Setiap tindakan gadis malang ini selalu dianggap salah di mata sang ibu. Bagaimana nasib Mutia dalam menghadapi tekanan batin ini? Ikuti perjuangannya menghadapi kenyataan pahit.
Sampul Novel BAHAGIA SETELAH DUKA
8.3
Hubungan asmara Gabriel dan Nadya terhalang tembok besar restu keluarga akibat perbedaan keyakinan. Demi meminang Nadya yang merupakan penganut agama yang taat, Gabriel rela berpindah keyakinan dan berkomitmen menjadi imam yang baik. Namun, pengorbanan besar tersebut harus dibayar mahal. Keputusannya membuat Gabriel kehilangan haknya sebagai ahli waris Indofarma Grup dan namanya pun resmi dicoret dari daftar keluarga besarnya.
Sampul Novel Gairah Nakal Sang Billionaire
8.5
Raisa Aquila Nazara, wanita cantik berusia 25 tahun, terjerat dalam skema jahat Helena, ibu dari kekasihnya sendiri. Jebakan itu membawanya berakhir di satu kamar dengan Raka Mirza Bramantyo, CEO tampan berumur 27 tahun yang dikenal sebagai seorang player. Setelah malam tak terduga itu terjadi, Raisa harus menghadapi kenyataan pahit atas apa yang mereka lakukan. Akankah insiden memalukan ini menjadi akhir segalanya atau justru awal hubungan baru bagi mereka?
Sampul Novel Madu Jadi Upik Abu
8.2
Wati harus menghadapi kenyataan pahit saat bos di kantor suaminya melamar Dedy. Tergiur janji kehidupan yang lebih layak, Wati pun sepakat untuk dimadu. Namun, setelah Dedy memboyongnya ke rumah istri kedua, sebuah rahasia kelam mulai terungkap. Ternyata, Dedy memiliki agenda tersembunyi yang jauh lebih licik di balik pernikahan tersebut. Di sinilah perjuangan Wati dimulai saat ia menyadari bahwa dirinya hanyalah alat dalam rencana besar sang suami.
Sampul Novel Maduku Putri Konglomerat
9.4
Kehidupan yang serba kekurangan mendorong Hilman untuk mengkhianati janji suci pernikahannya. Demi mengejar harta dan kemewahan, ia nekat menikahi seorang wanita dari keluarga konglomerat di belakang istrinya. Kini, sang istri harus berjuang menghadapi kehancuran hati dan kepedihan mendalam akibat pengkhianatan lelaki yang sangat ia cintai itu. Sanggupkah ia bertahan saat suaminya lebih memilih kekayaan daripada kesetiaan mereka?
Sampul Novel Menikah dengan Pria Lain Setelah Tunanganku Menunda Pernikahan
9.7
Tepat tiga hari sebelum hari bahagia, Eliana dikhianati oleh kekasihnya yang memilih menikahi teman masa kecilnya dengan alasan penyakit Alzheimer. Pacarnya meminta Eliana menunggu hingga wanita itu lupa segalanya. Tanpa air mata, Eliana mengambil langkah drastis dengan menghubungi keluarganya. Ia setuju menikahi pewaris keluarga Barton yang dikenal dingin melalui perjodohan lama. Eliana memastikan pria itu akan muncul di pelaminan bersamanya.