Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel MOLLY, She Will Be Love

MOLLY, She Will Be Love

Molly adalah mahasiswi yang jenuh dengan rutinitas membosankan dan sikap kakaknya yang terlalu protektif. Sebelum masa kuliahnya berakhir, ia merancang sebuah rencana nekat untuk mendekati dosen muda di kampusnya. Namun, situasi menjadi rumit saat Molly justru terjebak di antara dua pria yang bersaing sengit demi mendapatkan cintanya. Keduanya merasa terpikat oleh pesona unik Molly, hingga menciptakan persaingan hati yang penuh dengan lika-liku tak terduga.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Woiii ... Molly!" Panggil salah satu teman kampusnya yang memakai jaket almamater berwarna marun , ia berlari mendekat ke arah Molly.

"Hm. Apa?" tanya Molly sambil tersenyum. Sepasang sepatu hak tinggi yang ia kenakan membuat postur tubuhnya tampak jenjang. Menjadikan ia tinggi sejajar dengan pria yang memanggilnya. Delon. Anak jurusan Manajemen Pemasaran. Ketua senat kampus. Ganteng. Tajir. Most wanted kampus. Semua masuk daftar centang Molly. Ia terkekeh dalam hati.

"Mol, bisa-ikut-gabung-di acara kampus-awal-bulan-depan... nggak?" Delon ngos-ngosan. Molly dengan cepat mengangguk. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada demi melancarkan list sebelum ia lulus kuliah.

"Sip. Ternyata nggak perlu bujuk lo, kirain, gue harus susah payah. Kalo gitu, bisa ikut ke ruang panitia? Ruang senat sebenernya," ajak Delon sembari memegang tengkuk karena salah tingkah. Ia juga menahan senyumnya.

"Iya," jawab Molly singkat.

Mereka berjalan beriringan sampai ke ruang Senat. Beberapa mata menatap Delon dan Molly. Mulai dari tatapan iri, ingin menyelengkat kaki Molly, mencibir, semua tak ada yang menyenangkan. Tapi Molly justru tertawa jahat dalam hati. Ini jalan ia untuk menarik perhatian penghuni kampus, bahkan, mengubah penampilannya pun, ia akan lakukan.

***

Molly menatap Delon menjelaskan rencana kegiatan. Ia diam memperhatikan, karena, ia juga tak kenal dengan manusia-manusia lain yang ada di ruangan itu selain, Delon.

"Untuk bagian panitia sumber dana atau donatur, ada tiga orang, kemarin sudah dua 'kan, nah ... satu lagi, Molly, dari jurusan ilmu komunikasi," ucap Delon. Molly tersenyum sambil menyapa panitia lainnya. Semuanya tersenyum kecuali satu perempuan yang menatap seakan ingin memakannya hidup-hidup.

"Penanggung jawab dan pengawas kegiatan ini adalah--"

Pintu terbuka. Seseorang masuk ke dalam ruang panitia dengan wajah datar.

GLEK

Molly menelan ludah susah payah.

"Pak Melki," lanjut Delon dengan nada pelan dan takut. Melki tak menunjukkan keramahan, walau terbilang tampan, namun, aura pencabut rasa bahagia seketika menciutkan sejumlah mahasiswa mahasiswi yang ada di sana.

Kedua matanya menelisik satu persatu. Hingga netra matanya berhenti kepada Molly. Hanya sejenak, sebelum ia beralih kembali ke Delon dan berbisik sesuatu.

'Mati gue. Kenapa dua-duanya ada di sini, haduhhh ... mereka kandidat to do list gue.' ucap Molly dalam hati.

Molly berusaha tenang dan santai. Sorot mata Melki langsung kembali menatap ke Molly yang mencoba santai lalu tersenyum manis menatap Melki. Tapi yang diberi senyuman hanya menatap datar dan membuang arah pandangan.

'Sial. Awas lo ya.' ucap Molly dalam hati lagi.

Pembahasan diambil alih Melki, sejak saat itu, keinginan Molly untuk menjadi bagian dari acara perlahan perlahan sirna. Jujur, diperhatikan dengan tatapan mematikan itu membuat ia seakan menyerah sebelum berperang. Nasibnya bisa diujung tandung walaupun niatnya masih kuat untuk meluluhkan hati Melki.

Rapat selesai setelah Melki memberikan sedikit arahan. Semua mata menyimak dengan apa yang dibicarakan dosen itu. Namun, tidak dengan Molly yang terus mengulum senyum sambil menatap. Ia mencoba tebar pesona.

"Molly. Paham apa yang saya jelasin." tanya Melki, seketika membuat Molly serius dan mengangguk.

"Saya perlu bicara sama tim donatur setelah rapat ini selesai, yang lain boleh meninggalkan ruangan ini," ucap Delon. Semua mengangguk. Rapat selesai. Di ruangan itu tersisa Delon, Melki, Molly dan dua orang panitia lainnya.

"Lo tahu, kan, Mol, ini acara sosial, kampus kita mau berbagi rejeki dengan menyalurkan bantuan dari para donatur, jadi sebagai bagian dari tim donatur, lo harus bisa cari orang-orang yang ikhlas buat menyumbangkan dananya." Delon menatap Molly sambil menjelaskan.

"Ada batasan harus berapa dana yang terkumpul?" tanya Molly sambil membalas tatapan Delon. Pria itu tampak tersenyum malu, karena Molly menatapnya.

"Target kita sebenarnya lima puluh juta, bukan acara besar banget juga, kok, cuma buat intern kampus kita aja, dan ada acara live musik dari anak bengkel seni, UKM musik."

Molly manggut-manggut. Ia melirik ke Melki yang menatap tajam ke arahnya tanpa bergeming. ia balas menatap tak kalah tajamnya. Tak lama rapat selesai dengan Molly yang mendadak kesal dengan tatapan Melki.

"Udah kan, gue balik ya," ucap Molly seraya beranjak. "Kita mulai kerja cari donatur secepatnya," lanjut Molly menatap ke kedua teman satu timnya. Molly berjalan ke arah pintu. Langkahnya tertahan saat seseorang memanggilnya. Ia menoleh.

"Balik sama gue, Mol," ucap Devon sambil tersenyum.

Melki berjalan angkuh melewatinya. Molly juga cuek.

'Belum saatnya.' Batin Molly.

"Boleh, kalo nggak repotin," jawabnya pura-pura tak enak. Padahal ini kesempatannya, sebagai jalan pembuka menjadi Most Wanted Mahasiswi di kampus. Keteranan Delon menjadi keuntungan untuknya.

***

Mobil sedan merah itu melaju di jalanan Ibu kota, mereka akan mampir ke salah satu mal untuk makan sore bersama. Makan sore? Jelas, karena jam makan siang sudah lewat saat rapat tadi.

Molly memesan bakmi ayam goreng, sedangkan Delon bakmi kuah. Mereka makan dengan disuguhi pemandangan jalan Ibu kota yang terpampang jelas dari dalam mal tersebut. Molly menatap ke arah luar sambil bertopang dagu.

"Lo bener ambil jurusan komunikasi massa?" tanya Delon yang baru tiba setelah mengambil pesanan, duduk dengan nampan di tangannya yang kemudian ia letakkan di atas meja. Molly mengambil piring berisi makanannya lalu membuka plastik sumpit. Sambil manggut-manggut menjawab pertanyaan Delon tanpa menatapnya.

"Molly, lihat gue kalo gue lagi ngomong," tangan Delon mengangkat dagu Molly. Mata mereka saling menatap. Molly diam. Ia tak suka disentuh-sentuh pria tanpa izin darinya, lagi pula, ini pertama kalinya mereka jalan bersama. Coret Delon. Fix. Molly hilang tujuannya kepada Devon. Semudah itu? Mudah, untuk Molly. Ia tak suka. Nilai tinggi yang ia berikan untuk Delon beberapa jam lalu, terjun bebas ke nilai nol. Hanya karena hal itu. Molly mengetik sesuatu di layar ponselnya, lalu kembali fokus makan tanpa banyak bersuara lagi.

Mereka makan dalam diam. Delon menatap bingung sekaligus semakin penasaran dengan gadis di hadapannya itu. Ponsel Molly berbunyi. Ia membalas pesan singkat dan menatap sekeliling. Senyum terbit di wajahnya saat seseorang berjalan mendekat ke arahnya dengan gaya layaknya eksekutif muda. Sudah tebak itu siapa? Tentu, kakak ipar tersayangnya.

Banyu berdiri di samping Molly sambil tersenyum tapi menatap dingin ke Delon yang balas menatap tak kalah tajamnya.

"Bawa nggak, Kak," tanya Molly sambil tersenyum melirik ke Banyu.

"As your wish. sayang," jawab Banyu.

DEG

'Sayang?' Devon berucap dalam hati. Molly beranjak dan mengadahkan tangan ke arah Banyu. Sebuah amplop putih sudah pindah dari tangan Banyu ke Molly.

"Nih. Dua puluh lima juta. Lo tinggal cairin di bank itu cek. Gue cabut jadi panitia. Dan lo Delon, jangan pernah pegang-pegang gue. Nggak ada yang bisa pegang-pegang gue tanpa izin kecuali ..., KAKAK GUE INI. paham lo! Jaga tuh, TANGAN!"

Molly berbalik badan dan segera menggandeng Banyu yang terkekeh geli. Mereka berjalan semakin menjauh. Tetapi di ujung sana, sudah ada Kimmy yang menggeleng-geleng heran sambil berkacak pinggang.

"Terusss ..., Robinhood ceritanya, iya Mol?" Kimmy menatap Molly sambil melotot.

"Kak,itu buat acara kampus. Nanti di donasiin lagi kok, asli, deh," Molly manyun-manyun.

"Iya Mol, tapi caranya nggak gini. Kesepakatan kita bukannya jangan sampai orang lain tahu," sambung Kimmy.

"Kepepet masalahnya Kak, gara-gara tuh cowok pegang-pegang dagu gue sembarangan. Hih!" Molly kesal sendiri.

"Haduh ... ampun deh, adek gue ini. Ayo ke supermarket di bawah, gue mau belanja bulanan."

Banyu terkekeh sambil mengusap kepala istrinya. Sedangkan anak-anak mereka sudah pindah tangan, di gandeng Molly.

"Kita penuhin keranjang belanjaan sama cemilan yuk," bisik Molly tetapi masih terdengar Kimmy.

"Nggak! Gue capek bolak balik ke dokter gigi. Awas ya, Mol." Ancam kakaknya. Molly menatap Kimmy sambil senyum-senyum dan mata berkedip-kedip cepat.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Akibat Bebas Bergaul
7.9
Kisah ini merupakan sebuah narasi romansa modern yang secara eksplisit ditujukan bagi pembaca dewasa. Ceritanya mengeksplorasi dinamika hubungan yang kompleks dan konsekuensi nyata dari gaya hidup pergaulan bebas di era kontemporer. Melalui jalinan plot yang intens, pembaca akan dibawa memahami lika-liku asmara serta berbagai dampak personal yang muncul akibat pilihan hidup tersebut. Sebuah bacaan yang menuntut kedewasaan dalam memahami setiap konflik yang ada.
Sampul Novel Anna : Liontin Karma
8.0
Anna, model cantik berdarah Perancis, nekat menikahi pria pilihannya meski terhalang perbedaan iman. Demi cinta, ia rela mengorbankan segalanya, termasuk berpindah keyakinan menjadi mualaf. Namun, pengorbanan itu justru membawanya pada penderitaan mental dan hidup yang hancur. Di tengah kepedihan, Anna mulai meragukan keputusan besarnya memeluk Islam. Mampukah ia bangkit dari keterpurukan dan menemukan kembali jati dirinya yang sempat hilang tertelan duka?
Sampul Novel Babu Kumal VS CEO Kutub Utara
8.4
Terryn dikirim ibunya untuk tinggal bersama sahabat lamanya, Ibu Imelda. Meski dididik menjadi wanita berpendidikan, Terryn justru diperlakukan bak pembantu oleh Deva, putra bungsu Imelda yang dingin dan angkuh. Konflik memuncak hingga sebuah peristiwa besar memaksa mereka menikah atas keinginan Imelda. Terryn yang mencintai Deva harus menghadapi kenyataan pahit bahwa suaminya tetap tak acuh. Namun, saat Deva mulai luluh, Terryn justru pergi menjauh darinya.
Sampul Novel Dinodai Mantan Majikan
8.3
Demi biaya operasi ibunya, Anjani Aswari terpaksa menjual kesucian kepada majikannya, Barata Yudha. Konglomerat itu justru terus mengeksploitasi Anjani sebagai pemuas nafsu rekan bisnisnya di bawah ancaman maut. Saat Anjani hamil demi menghidupi adik-adiknya, Barata menolak bertanggung jawab dan menuduh bayi itu milik pria lain. Konflik memuncak ketika istri Barata, Ayudya, mengetahui skandal ini. Anjani yang menderita pun harus mengungkap kebenaran di tengah pengusiran.
Sampul Novel Fastidious
9.6
Almira, mahasiswi semester lima, terancam gagal meraih predikat cumlaude akibat nilai E di satu mata kuliah. Upaya memperbaiki nilai justru berujung salah lamar oleh keluarga dosennya, Aufa. Terjebak pernikahan beda lima belas tahun, Almira harus menghadapi sikap dingin Aufa yang terang-terangan menjaga jarak dan membandingkannya dengan wanita lain bernama Citra. Tanpa rasa takut, Almira membalas ketidakinginan suaminya dengan ketegasan yang setara.
Sampul Novel IBU YANG KAU BUANG
8.0
Memasuki usia senja, tubuh ini tak lagi berdaya untuk terus membanting tulang. Alih-alih mendapatkan kasih sayang, aku justru ditelantarkan oleh anak-anak kandungku sendiri tepat setelah aku berhenti bekerja. Di tengah perlakuan buruk dari darah dagingku, mampukah aku menemukan secercah kebahagiaan untuk menghabiskan sisa umurku? Sebuah kisah pilu tentang perjuangan seorang ibu yang dikhianati oleh anak-anak yang telah ia besarkan dengan penuh pengorbanan.