Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Misteri Menu Sarapan Mertua

Misteri Menu Sarapan Mertua

Kehidupan baruku setelah menikah seharusnya penuh kebahagiaan saat aku memutuskan tinggal bersama mertua demi merawat mereka. Namun, kehangatan rumah itu perlahan sirna oleh suasana mencekam yang sulit dijelaskan. Ada sesuatu yang sangat ganjil pada perilaku kedua orang tua suamiku. Setiap pagi, misteri mulai menyelimuti meja makan, memicu kecurigaan bahwa ada rahasia gelap yang mereka sembunyikan di balik sikap tenang mereka selama ini.
Bab
Bagikan

Bab 3

Misteri Menu Sarapan Mertua (3)

"Sayang, sudah siap belum?"

"Sudah, gimana cantik engga?"

"Cantik dong," jawab suamiku sambil mencium keningku.

Kami diundang ke acara 4 bulanan Nanda, teman sekantorku. Kini kami sedang dalam perjalanan. Namun sebelum berangkat, aku tidak melihat ibu mertua di rumah. Kira-kira kemana ya?

Perjalanan ditempuh kurang lebih 1 jam melalui jalan tol. Aku harap kami tidak terlambat. Melihat banyaknya kendaraan di jalan, aku ada perasaan takut terkena kemacetan.

"Setelah acara, mau engga kita pergi?" Tanya suamiku sambil memegang stir mobil.

"Pergi kemana? Maksudnya ngedate?"

"Iya, kan sudah lama kita engga berdua, gimana?"

"Iya ayo kita pergi,"

Selama perjalanan kami mendengarkan musik, kadang juga mendengarkan podcast, lalu beralih ke stand up comedy hingga tidak terasa kami sudah sampe ditujuan.

Wah syukur deh kami sampai di waktu yang tepat. Aku juga melihat beberapa teman kantorku yang lain dan juga Kana. Aku tersenyum kepadanya dan ia membalasnya.

Acara tasyakuran telah selesai, kini semua tamu dipersilakan menyantap hidangan. Tentu saja aku langsung pindah duduk didekat Kana. Suamiku juga tampak nyaman bersama para suami teman-teman yang lain.

Makan sudah, kini aku mengambil beberapa cemilan. Aku melihat Nanda dan melambaikan tangan padanya. Disaat aku sedang melihatnya, tiba-tiba ibu Nanda datang membawa seseorang.

Mataku dibuat terkejut oleh orang yang dibawa Ibu Nanda, itu adalah ibu mertuaku. Lho kok bisa ibu mertua kesini. Apa ibu mertua teman dari ibu nya Nanda. Aku langsung berjalan menghampiru ibu mertua.

"Lho ibu? Kenapa kesini? Tau gitu tadi barengan kita," tanyaku dengan tersenyum.

"Iya ibu juga engga tau kalau kamu temannya Nanda. Ini bu Dewi teman sekolah ibu dulu," jawab ibu mertua sambil memperkenalkan ibunya Nanda.

"Oh iya, maaf aku engga tahu," jawabku.

"Iya tidak apa-apa. Duh senangnya Dewi ya sebentar lagi punya cucu. Kalau saya engga tau kapan bisa punya cucu,"

Perkataan ibu mertuaku barusan membuatku hati dan telingaku tersentak. Maksudnya apa dari perkataan itu. Aku menampakkan ekspresi bingung dan terkejut campur jadi satu.

"Iya nih, duh cepetan ya hamilnya, engga usah tunda-tunda, ada aja nanti rejekinya," timpa ibunya Nanda.

Ekspresiku makin tidak terkontrol. Siapa yang menunda-nunda, tidak ada. Kenapa rasanya aku seperti dipojokkan.

"Oh tidak bu, kami memang engga ada niat untuk menunda, memang belum dikasih aja," ucapku dengan sedikit nada kesal.

"Iya baguslah kalau tidak menunda. Kan kebanyakan anak muda sekarang mau enaknya aja, tapi tidak siap menjadi orang tua."

Wah obrolan makin melebar, sepertinya aku harus meninggalkan obrolan ini sebelum aku kehilangan kewarasanku.

"Saya kesana dulu ya bu," kataku lalu pergi meninggalkannya.

Aku melirik sedikit ke arah Nanda saat ibunya berbicara seperti itu. Dia juga menampakkan ekspresi yang kurang senang.

Untunglah dia tidak sombong, karena tidak baik juga kalau harus membandingkan keadaannya dengan keadaanku.

Karena aku sudah tidak berselera lagi disini, aku pamit dengan Nanda dan berpisah dengan Kana.

"Sayang, kamu engga tau? Kalau ibu ada disini," tanyaku kepada suamiku.

"Ibu siapa?"

"Ibu kamu! Mertua aku," jawabku dengan nada kesal.

Suamiku nampaknya bingung dan tidak percaya. Lalu ia mengeluarkan ponselnya dan melakukan panggilan. Sepertinya ia menelepon ibu mertua.

"Hah ngapain ibu disini?"

"Ibunya Nanda itu temen sekolah ibu, kamu engga tau emangnya?"

Biasanya kita sebagai anak pasti mengetahui siapa saja teman orang tua. Tapi kenapa suamiku malah tidak mengetahuinya.

Kami menunggu beberapa menit lalu ibu mertua keluar. Kami masuk ke mobil dan pulang. Kalau kondisinya seperti ini, entah jadi atau tidak kami pergi ngedate.

Sepanjang perjalanan suamiku bertanya tentang hubungan ibu mertua dengan ibunya Nanda. Ternyata memang Faris tidak tau tentang ibunya Nanda.

Aku jadi teringat perkataan ibu mertua tadi, yang tentang cucu. Rasa kesal muncul ke hati kalau mengingatnya. Aku ingin mengingatkan ibu mertua jangan berbuat seperti itu lagi.

"Oh iya bu, kalau diluar jangan berbicara seperti itu lagi, nanti kesannya malah kami yang engga mau punya anak," ungkapku dengan nada pelan.

"Berbicara seperti apa? Memangnya ibu bicara apa?" Balas ibu dengan nada meninggi.

"Iya itu soal cucu, entah kapan kami bisa ngasih cucu ke ibu dan lain-lainnya,"

"Lho kan ibu cuman berbicara tentang fakta,"

"Iya memang fakta, tapi tidak perlu juga untuk dibacarakan kepada orang lain. Toh bukan kami yang engga mau punya anak, buktinya saat check up badan aku sehat semua,"

"Lho kamu kok jadi ngelawan ibu, Faris kamu ini salah pilih istri," kata ibu mertuaku sambil turun dari mobil.

Kami terus berdebat tadi, tanpa sadar suamiku belok ke rest area. Kini ibu mertuaku sudah turun dari mobil. Aku ya syok, sangat syok.

"Ibu mau kemana?" Suamiku mengejar ibu mertua keluar.

Aku hanya melihat dari kaca. Mereka berdebat, aku tidak tahu tau apa yang didebatkan, tapi sepertinya ibu mertua tidak mau pulang bareng kami lagi.

Ibu mertua memilih naik taksi. Suamiku berjalan ke mobil. Kenapa ibu mertua bersikap seperti itu, kenapa ibu mertua jadi berubah?

"Kamu itu bisa tidak engga menyalahkan ibu ketika diluar seperti ini,"

"Apa?! Apa aku terlihat menyalahkan?"

Kenapa? Kenapa suamiku malah mengatakan itu bukannya membelaku.

"Seharusnya kan bisa dibicarakan saat sampai di rumah,"

"Jadi kamu pikir ini salah aku? Kamu harusnya tau siapa yang salah, kamu tau ibu ngomong apa? Seolah kita yang tidak mau punya anak,"

"Iya aku ngerti..."

"Ah sudah lah, aku akan pergi sendiri!" Kataku dengan nada kesal.

Aku keluar dari mobil suamiku pergi ke minimarket terdekat yang ada di rest area. Aku akan memesan taksi online. Aku melihat kesekeliling, tidak terlihat ada suamiku. Berarti suamiku tidak mengejar aku.

Kenapa sih menyudutkan aku, memangnya aku yang tidak mau punya anak? Orang kami juga rajin membuatnya. Harusnya mengerti juga kalau bukan kami yang mau kelamaan punya anak.

Sungguh membuatku kesal saja. Lagian Faris juga bilang anggap saja ibunya sebagai ibuku kan. Iya aku akan membantah apa yang ibuku katakan jika hal itu bukan hal yang benar. Takutnya malah jadi fitnahkan.

Memangnya aku yang mau seperti ini? Memangnya aku yang sengaja belum hamil? Kenapa sih tidak memikirkan aku? Aku juga stres, sedih, marah, kecewa. Sama seperti kalian! Tapi semua itu tidak terlihat oleh kalian, seolah aku membiarkan diriku tidak segera hamil.

Kalau sudah begini, selalu saja posisi istri yang disalahkan. Padahal kita bisa berusaha bersama, mencari letak salahnya dan mencari solusinya bersama.

Jangan bersikap menyebalkan kepadaku! Rasanya aku ingin berteriak di jalan tol ini.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95GJW" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95GJW
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AMARAH DALAM SELUBUNG
9.5
Riana terjebak dalam pernikahan dengan pria beristri yang memanfaatkan dirinya melalui kekuatan gaib. Muak akan kebohongan tersebut, ia melawan hingga sang suami jatuh hati, namun Riana tetap menolaknya. Setelah mengusir pria itu, ia membesarkan putranya sendirian hingga sukses. Kini sebagai wanita kaya, Riana membalas dendam secara sistematis. Ia menggunakan ilmu gaibnya untuk menghancurkan kejayaan mantan suaminya hingga tak berdaya tanpa pria itu sadari.
Sampul Novel Asmara Mendendam
9.5
Nezza menempati kos angker demi pekerjaan. Di sana, ia terpikat pada Ari, putra pemilik kos yang dingin. Meski penghuni lain seperti Adelina dan Putri agresif mengejar Ari, Nezza tetap kagum padanya. Namun, teror mistis mulai menghantui semua orang. Ari yakin ada manusia di balik kekacauan ini. Saat situasi memuncak, Rahma menuduh Jessy sebagai dalang teror sekaligus pembunuh mahasiswi dua tahun lalu. Akankah misteri berdarah di kos ini akhirnya terungkap?
Sampul Novel Dendam dan kehilangan
9.1
Kebahagiaan Ardian, polisi muda berbakat, hancur seketika saat istrinya, Mira, tewas mengenaskan. Mira adalah wartawati kriminal yang terbunuh saat meliput kasus pembunuhan berantai yang tengah diselidiki Ardian. Di hadapan jenazah sang istri dan ayah mertuanya, Ardian bersumpah untuk menuntaskan misteri ini. Ia bertekad memburu sang pembunuh dengan tangannya sendiri demi membalaskan dendam atas hilangnya nyawa wanita yang paling ia cintai.
Sampul Novel JARAN GOYANG PENARI JAIPONG
8.3
Terbakar api cemburu melihat Abimanyu memadu kasih dengan sahabatnya sendiri, Kamila nekat menempuh jalan hitam. Ia mengamalkan Ajian Jaran Goyang pemberian Nyai Winarsih, sosok tua yang secara misterius tetap berparas jelita. Kamila tidak menyadari bahwa tindakannya menyeretnya ke dalam pusaran sumpah masa lalu sang nyai. Obsesi buta ini membangkitkan petaka kuno yang telah terkubur puluhan tahun, mengancam nyawa demi sebuah cinta yang dipaksakan.
Sampul Novel Misteri nyai Ratu Blorong
8.8
Legenda pesugihan dari laut selatan Jawa sering kali dianggap sekadar dongeng tidur. Namun, sosok Nyi Ratu Blorong sang siluman ular sebenarnya nyata dan melampaui mitos mistis belaka. Meski tak kasat mata, entitas simbol kekayaan ini tetap setia mendampingi para sekutunya hingga saat ini. Di tengah kehidupan masyarakat milenial yang modern, eksistensi gaibnya masih bertahan kuat tanpa sepenuhnya disadari oleh manusia yang hidup berdampingan dengannya.
Sampul Novel Monster Heart
8.9
Alianna Monru, jurnalis ambisius, pulang demi membalas dendam, namun langkahnya dijegal pria misterius. Ia terkejut saat tahu pria itu adalah pembunuh berantai yang memegang kunci masa lalunya. Damian, sang pembunuh, mengenali Alianna sebagai pujaan hatinya sejak sekolah. Ia terpukul melihat gadis ceria itu berubah menjadi penuh kebencian. Damian didera rasa bersalah karena dialah penyebab kehancuran hidup Alianna yang memicu dendam membara tersebut.