
Misteri matinya teman-temanku
Bab 3
" Apa lu bilang? " tanyaku
" Apa?! " Meraka malah balik tanya dan seolah-olah menantang ku.
" Maksud kalian apa bilang gue tega sama Cahaya?, Lu pada jangan sembarangan ngomong ya, Cahaya gak lamaran! " Ucapku.
" Lu itu yang sembarangan, jelas-jelas Cahaya lamaran lu aja yang gak niat buat hadirkan?, Apa lagi saat tahu Cahaya di lamar Valen! " Tuturnya.
Deg!!...
Seperti jantungku terlepas dari tempatnya setelah mendengar apa yang di tuturkan orang itu.
" Va,,Valen? " Ucapku terbata-bata.
" Iya!, Gak mungkin lu gak tahu! " Bentaknya lalu pergi meninggalkanku begitu saja.
Aku masih terpaku pada apa yang ku dengar barusan.
" Valen?, Tidak mungkin. Bukankah selama ini Cahaya tahu jika aku dan Valen bersama? " Pikirku.
Dengan hati yang penuh penasaran, aku bergegas untuk pulang, tak peduli meskipun hari ini masih ada jam pelajaran.
Aku berlari menuju parkiran lalu menyalakan motorku, dan melaju meninggalkan kampus dengan kecepatan di atas rata-rata.
Aku benar-benar masih tak percaya dengan ucapan orang-orang, tidak mungkin Valen melamar Cahaya, bukan kah aku telah memberikan segalanya padanya.
Aku tahu Valen tak pernah mencintaiku, aku juga tahu Valen tak pernah menggapku ada, tapi setidaknya dia jangan melepaskan tanggung jawabnya. Dia telah merusakku, merenggut kesucianku, mau tidak mau dia harus bertanggung jawab atas itu.
Sepanjang perjalanan air mataku terus saja menetes. Memikirkan jika Sampai apa yang di katakan mereka itu benar.
" Aku harus bagaimana? " Pikirku.
Tiba di rumah, aku benar-benar di sambut dengan kenyataan pahit.
Ku lihat rumah ini telah di sulap menjadi penuh hiasan bunga-bunga dan juga pernak-pernik lainya. Rumah yang tadi pagi biasa saja kini berubah di penuhi bunga dan lampu-lampu kelap-kelip.
Air mataku benar-benar luruh saat ku lihat nama yang tertera disana.
Aku melangkah masuk kedalam rumah yang sudah aku tinggalin selama Dua puluh Dua tahun ini.
Ku lihat hampir seluruh ruangan kosong, hanya ada beberapa saudara ayah.
" Min, kamu dari mana aja?, Acara udah selesai kamu kok baru datang? " Tanya bibiku.
Aku tak menjawab, bahkan menampakan wajahku saja aku tak bisa, air mataku tak bisa ku tahan, kekecewaan ini terasa sangat dalam.
" Aku yakin mereka di ruangan atas! " Ucapku dalam hati.
Aku menaiki tangga yang telah merenggut nyawa nenek. Dan benar saja, kulihat ternyata mereka sedang berkumpul bersama.
Mereka?, Ya mereka termasuk ayahku sendiri.
" Ternyata begitu tak berartinya aku di mata ayah, ya. " Ucapku menggetkan mereka.
" Minnie?! " Mereka semua berbalik ke arahku.
" Kenapa kalian menyembunyikan ini dariku? " Tanyaku, getaran kesedihan jelas terdengar dari suaraku. Leherku terasa tercekat menahan agar tidak menangis sejadi-jadinya.
Apa masih kurang mereka menyakiti diri ini?,
Ku lihat wajah syok ayah, Tante Melinda juga kedua pasang manusia tak berhati itu.
Sedangkan keluarga Valen hanya diam dan kebingungan melihatku.
" Mengapa kalian lakukan ini padaku?!, Ayah?, Apa ayah lupa laki-laki yang bernama Valentino Abimanyu ini adalah kekasihku?!, Apa ayah lupa Cahaya itu adalah adik tiriku?!, Mengapa kalian begitu tega melakukan ini padaku! " Teriakku. Amarahku sudah benar-benar memuncak, hati ku benar-benar di buat hancur oleh keluargaku sendiri.
" Minnie!, Jaga ucapanmu kita sedang kedatangan tamu! " Bentak ayah.
" Ayah yang harus jaga bicara!, Dan kau! " Ku tunjuk Valen lalu ku lirik cahaya yang masih saja terlihat pura-pura polos.
" Valentino Abimanyu, apa kau lupa selama dua tahun ini apa yang telah ku berikan padamu?, Bahkan aku menolak pun kau terus memaksaku?, Apa kau lupa aku telah memberikan seluruh hidupku padamu?, " Ucapku dengan penuh penekanan.
" Dominnieqha Pramaditha! " Bentak ayahku.
" Apa, yah?!, Apa selama ini penyiksaan yang ayah lakukan belum cukup untukku?!, Apa sikap ayah yang selalu membela Cahaya itu belum cukup, yah?!, Aku telah banyak menderita tapi ayah tidak pernah peduli itu, lihat sekarang apa yang ayah lakukan?!, Ayah tahu jika Valen adalah pacarku tapi mengapa ayah malah membiarkan Cahaya mengambilnya?! " Tuturku dengan dada naik turun.
" Minnie!, Berani nya kau!, Dengar ini. Apa kau pikir ayah tidak malu jika membiarkan kamu di lamar!, Ayah malu. Perempuan macam apa kau ini, yang sampai rela memberikan tubuhmu pada laki-laki sebelum menikah hah?!, Kau membuatku malu, bukan hanya kepada Valen kau menjajakan tubuhmu tapi kepada orang lain di luaran sana pula!, Dasar anak tidak tahu di untung!, " Ayah malah balik memarahiku.
" Maksud Ayah apa?, Jangan sembarangan bicara aku tidak pernah menjajakan tubuhku pada laki-laki selain Valentino Abimanyu!, Lagi pula itu pun Valen yang selalu memaksaku dan mengancam akan menyebarkan foto dan videoku!" Aku berusaha membela diriku di tengah sakitnya leherku menahan tangis yang sudah hampir pecah ini.
" Itulah kesalahan terbesar mu!, Kamu lihat betapa brutalnya dirimu, hidupmu acak-acakan, kau bahkan sudah terlihat seperti preman saja, tengok dirimu! Lidah di tindik, rambut di warnai, anting hampir memenuhi seluruh kupingmu!, Pakaian compang camping seperti gelandangan, pantas saja jika laki-laki hanya memanfaatkanmu!, Harusnya kau berkaca sebelum berpikir lebih jauh " ucapan ayahku benar-benar membuatku kecewa. Dai bukan lagi ayahku, dia kini telah berubah menjadi orang lain.
" Ayah!, Aku begini karena kau!, Kau selalu saja menyiksaku dan pilih kasih, padahal aku anakmu sendiri, tapi kau selalu membela gadis sialan ini! " Tunjuku pada Cahaya.
" Minnie!, Cukup! Apa lu gak punya malu?!, Lu sadar diri dong siapa lu!, Jangan terus aja nyalahin Cahaya, Cahaya wanita baik-baik, gak sama kaya lu! " Bentak Valen.
" Lu yang gak punya malu!, Lu macarin gue tapi lu malah lamar orang lain!, Dasar bajingan! " Lawanku.
" Lihat, apakah dengan seperti ini orang tua Valen akan menerima kamu? " Ucapan Tante Melinda semakin membuat amarahku mendidih.
" Cukup kau wanita ular!, Aku tahu kau yang selalu saja menghasut ayah! Dasar wanita perbuat kebahagian orang! " Bentaku.
" Valen, apa lu lupa, lu sering ngucapin bakalan tanggung jawab, bakal nikahin gue tapi mana buktinya?!, Dasar!, Memang cocok bajingan bersanding dengan perusak kebahagian orang!. "
" Kakak aku gak gitu,, " Cahaya kembali melakukan aktingnya.
" Terserah kau saja, wanita ular! " Bentaku.
Dia langsung menampakan wajah polos yang seolah-olah begitu tersakiti olehku.
" Minnie! " Bentak ayah.
" Hahaha, apa yang membutakan ayah sampai ayah terus saja membela dia? " Ucapku di iringi tawa sumbang.
" Kau sudah sangat keterlaluan, Minnie! " Bentaknya lagi.
Ku lihat ada kotak perhiasan di hadapan Cahaya, dengan hati yang di penuhi amarah aku mengambil kotak itu lalu...
Pyarrr...
" Minnie!! " Kaget semua orang saat melihat pecahan kotak kaca itu berserakan.
" Jika saja aku tidak kasian padamu sudah ku lemaparkan kotak ini di wajahmu! " Tunjuk ku tepat di wajah Cahaya.
" Kau!! " Ayah terlihat semakin marah padaku.
" Apa mau menyiksaku lagi?, Atau mau membunuhku sekalian? " Tantangku.
" Keluar kau dari rumah ini! " Teriaknya.
" Dengan senang hati " ucapku di iringi senyuman sinis.
" Kau senang wanita ular?! " Ucapku sambil menatap Tante Melinda dan Cahaya.
" Cepat pergi!! " Bentak ayah lagi.
Aku tak mau jika sampai badanku di siksa lagi, lebih baik sekarang aku pergi dan menenangkan diriku.
Aku keluar meninggalkan rumah yang di isi oleh para manusia durjana itu.
Kini aku menangis sejadi-jadinya di tepi danau, badanku meringkuk di rerumputan hijau, Isak tangisku di iringi suara burung gagak sedari tadi menemani.
" Mbak? " Tiba-tiba suara seseorang menggetkanku, aku bangkit dan berusaha membersihkan air mataku.
" Ya? " Jawabku lalu menatap orang itu.
" Aksara?! " Kagetku.
" Minnie?, Sedang apa disini? Kamu kenapa menangis?! " Dia langsung duduk menatapku sambil memeriksa tubuhku dari mulai wajahku, tangan dan kaki ku.
" Apa ayahmu menyiksamu lagi?! " Tanya nya dengan panik.
Aku menggelengkan kepala.
" Ini lebih dari penyiksaan, Aksara. Huhuhu " tangisku semakin kencang lalu dengan spontanitas dia membawa tubuhku ke pelukannya.
Anda Mungkin Juga Suka





