
MISTERI KAMAR ADIK PEREMPUANKU
Bab 3
Perasaanku saat ini benar-benar sangat gamang. Aku terus saja berjalan mondar-mandir seperti orang yang tak waras. Saat ini, aku hanya menanti kepulangan Mas Deo dan Ema. Sesekali juga kutenangkan Cici yang merengek rewel tak karuan.
Kugelar buah hatiku di atas tempat tidur, aku pun ikut merebah di samping Cici. Malam itu benar-benar menjadi malam yang sangat menggemaskan bagiku. Bahkan kicauan Cici di samping telingaku sama sekali tidak aku hiraukan.
Pikiranku benar-benar buntu.
"Kenapa sih kain privasi Mas Deo bisa ada di kamar Ema? Aneh!"
Kedua bola mataku terdampar di arah jarum jam yang sudah menunjukkan tanda larutnya malam. Dan angka yang terlihat tepat memanah pada nomor 10. Hatiku semakin sesak.
Dua jam tengah berlalu terasa panjang.
Aku mendengar deru mesin mobil memasuki pekarangan halaman rumah.
Bergegas aku mengelilingi Cici dengan bantal guling di sekitar. Kuamankan Cici sebelum pada akhirnya aku berjalan porak-parit menuju jendela kaca rumahku.
Untung saja Cici sudah tidur lelap, hingga pikiranku tidak bercabang lagi dan hanya fokus kepada dua insan yang ada di balik pintu rumah.
Rasanya aku sudah tak tahan ingin melabrak keduanya, isi kepalaku sudah hampir meledak mengingat kejadian beberapa jam lalu.
Aku segera mungkin menyambut kepulangan Ema dan Mas Deo dengan rasa was-was yang sangat dalam.
"Kenapa d4-la-m4n Mas Deo ada di ranjang kamu, Ema?!" tanyaku tak mau berbasa-basi lagi.
Mas Deo dan Ema seketika membisu di ambang pintu rumah.
Mata mereka saling bertemu dan hati mereka seperti sedang berbincang mempertanyakan hal yang sama.
Aku menghembus nafas penat, rasanya kecemburuanku sedikit meningkat.
Sedetik kemudian ketegangan pun mulai terpecahkan oleh suara Mas Deo yang santai. "Masak, sih? Emang iya, Ema?"
Pria berambut hitam pekat itu melirik ke arah adikku satu-satunya. Alih-alih mendapat keterangan pasti, Ema malah cengar-cengir tak karuan.
"Eh, iya. Maaf, Mbak," ucap Ema yang benar-benar tidak aku mengerti.
Kenapa wanita itu tiba-tiba meminta maaf, apakah dia tengah melakukan kesalahan yang fatal? Pikiranku semakin runyam.
"Tadi sebenarnya aku salah angkat kain. Aku kan masukin baju-baju kotorku ke dalam mesin cuci, eh, ternyata di dalam sudah ada pakaian kotor punya keluarga Mbak. Aku tarik lagi deh pakaianku yang ada dalam mesin cuci itu. Nggak aku sadari, pakaian Mas Deo ketarik," urai Ema yang belum membuat perasaanku tenang.
"Ambil aja celananya. Lagi pula dari tadi aku sudah berniat mau mengembalikannya, tapi lupa terus. Seriusan deh,"lanjut ucap Ema sedikit membuat pikiranku sedikit terbuka.
"Oh," jawabku singkat. Tapi dari kepolosan bahasa Ema, alasannya cukup bisa masuk diakal.
"Duh! Lain kali jangan teledor dong, Em." Cekal Mas Deo dengan nada yang kesal.
"Maaf ya, Mas, Mbak. Sumpah sumpah aku nggak sengaja, kok."
Aku pun mengangguk menerima alasan Ema tersebut.
Keesokan harinya, aku bersiap mencegat pria yang dinantikan para ibu-ibu sekomplek.
Sampai orang yang ditunggu datang, aku bergegas menghampirinya untuk memilih dan memilah sayuran yang aku butuhkan sebagai pengisi kulkas.
Gerobaknya dikelilingi oleh para ibu yang jago dalam memasak, juga jago dalam bersilat lidah.
Salah satu dari ibu itu menyapaku. "Eh, Fel. Dengar-dengar tadi malam suamimu pergi ke undangan sama Ema, ya?" tanya wanita muda yang usianya di atasku.
Aku mengangkat kedua alis, lalu menggangguk. Aku rasa, seluruh kegiatan rumahku tidak perlu dikonsumsi oleh orang lain juga. Sampai akhirnya aku menunggu kelangsungan ucapan dari ibu itu.
"Tau nggak semalam suamimu sampai pegangan tangan juga sama Ema. Kok kamu ngasih, sih, suamimu bergandengan tangan sama perempuan lain? Ya walaupun dia adikmu, tapi mereka kan tidak muhrim. Jadi nggak gitu juga kali konsepnya," lanjut wanita itu dengan bibir menjungkit.
Mendengarnya aku merasa ingin merobek mulutnya yang lebih berbingkai merah cabai.
Hatiku pun sampai menegang. Panas menyeruak mengisi batinku.
"Emang ibu tahu dari mana?" tanyaku dengan nada yang dingin.
"Tadi anakku yang cerita, soalnya kan dia juga pergi ke undangan yang sama."
"Oh, soal itu, aku sendiri yang menyuruh Ema untuk pergi sama Mas Deo. Soalnya tadi malam aku merasa nggak enak badan," tukasku sebenarnya membohongi hatiku sendiri.
Apa betul mereka pegangan tangan? Ck! Mungkin salah lihat.
***
Sore itu kucuci seperangkat pakaian suamiku. Dan, betapa terkejutnya aku saat menemukan sesuatu yang tak terduga.
Gumpalan kertas kecil yang sudah tergenang di saku celana Mas Deo yang ternyata berupa struk belanja berisi sederet barang-barang perempuan.
"Ya, Tuhan! Mas Deo beli semua perlengkapan wanita? Untuk siapa?" batinku berkecamuk. Jantungku serasa hendak lepas.
Anda Mungkin Juga Suka





