
Miliarder Misterius dan Pengantin Penggantinya
Bab 3
Semua orang menatap pria itu dengan takjub. Dia tampak memancarkan pesonanya tanpa perlu bersusah payah.
Kedua mata Jeslyn pun langsung berbinar. Dia menduga pria tampan itu adalah salah satu dari dua kakak laki-laki Erwin. Keluarga Lukito adalah salah satu keluarga paling berpengaruh di kota ini. Namun mau bagaimanapun, Erwin adalah anak di luar nikah dari keluarga berpengaruh itu, sehingga Jeslyn merasa dia tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk dibandingkan dengan anak sah dari keluarga berstatus tinggi itu. Pria di depannya tampak menawan dan agung yang membuatnya berpikir bahwa dia pastilah sang pewaris sah keluarga tersebut.
Ketampanan dan pesonanya begitu mengejutkan dan membuatnya jadi bersemangat. Selama ini Jeslyn selalu menganggap pacarnya tampan, tetapi anggapan itu memudar ketika dibandingkan dengan pria di depannya ini.
Jeslyn pun berjalan ke depan dan menyapa pria itu. "Apa kamu kakaknya Erwin?" Hanya dengan menatap mata pria itu saja sudah membuatnya merona. "Yah, keluarga pengantin pria belum datang, jadi silakan duduk. Pernikahan masih belum akan dimulai."
Sebenarnya Jeslyn sangat ingin meminta nomor telepon pria itu, tetapi dia tidak berani melakukannya ketika pacarnya sedang bersamanya.
Namun, pria itu hanya menatap datar Jeslyn. Dia mengabaikannya dan langsung pergi menuju Julita.
Sikap tak acuhnya membuat wajah Jeslyn terbakar karena malu. Perasaan malu-malu dan bersemangatnya tadi langsung menghilang dalam sekejap.
Dia pun kembali ke tempat duduknya dengan marah. Matanya terbelalak ngeri saat melihat pria tampan itu berdiri persis di samping Julita. Saat itulah dia menyadari satu hal: pria itu tidak lain adalah sang mempelai pria, Erwin.
Jeslyn pun menggelengkan kepalanya tak percaya. 'Bagaimana bisa Erwin terlihat setampan ini?'
Dia lalu membungkuk dan berbisik di telinga Fiona, "Ibu, kenapa Ibu tidak mencarikan foto Erwin untukku? Jika tahu seperti apa tampangnya, aku tidak akan meminta Julita menikah dengannya untuk menggantikanku."
Mendengar ucapan putrinya, Fiona langsung memejamkan mata dan mengembuskan napas dengan keras, menggelengkan kepalanya tidak setuju. Kemudian, dia berbalik dan melemparkan pandangan kesal pada putrinya. "Kamu ini masih muda. Nanti ketika kamu sudah dewasa, kamu akan tahu bahwa penampilan seorang pria adalah hal yang paling tidak penting. Erwin adalah pecundang -- dia bahkan tidak memiliki pekerjaan yang layak. Dia adalah orang bodoh tak berguna yang tidak memiliki kehidupan, dan dia adalah pasangan yang sempurna untuk Julita. Karena keduanya akan selalu menjadi yang terbuang untuk selamanya."
Setelah mendengar ucapan ibunya, Jeslyn memutuskan untuk tak perlu membalasnya. Namun, dia tetap membenci kenyataan bahwa Julita akan menikah dengan seorang pria tampan. Pria itu tampak seperti seorang bintang film.
Sementara Erwin berjalan ke Julita dan mengamati wajahnya. "Aku terlambat karena aku harus menyelesaikan beberapa urusan pribadi," ucapnya datar sambil menggaruk alisnya.
"Tidak masalah." Julita memang tidak keberatan. Dia merasa senang mengetahui bahwa Erwin adalah pria yang tampan. Setidaknya ada sesuatu yang baik tentang dirinya.
Saat dia berbalik, matanya tertuju ke arloji Patek Philippe di pergelangan tangan Erwin yang berkilauan terkena sinar matahari.
Meskipun Julita dibesarkan di pedesaan, tetapi dia tidak sepenuhnya bodoh. Hanya dalam sekali lihat, dia langsung mengetahui bahwa arloji itu bernilai setidaknya sepuluh miliar. Alisnya pun terangkat karena terkejut.
Semua orang memberitahunya bahwa Erwin adalah pria yang sangat miskin. Itulah alasan utama mereka ingin Julita menikah dengannya. Lantas bagaimana dia bisa membeli arloji yang begitu mahal?
Anda Mungkin Juga Suka





