
Miliarder Mendadak!
Bab 3
Malam itu, di dalam kediaman keluarga Ashford yang megah, keheningan bukanlah ketenangan, melainkan tanda sebelum badai. Vera berdiri di depan cermin besar di dalam kamar yang kini menjadi miliknya-kamar yang dulunya tidak pernah ia bayangkan akan ia tinggali, apalagi sebagai istri dari Dorian Ashford.
Tangannya menyusuri permukaan meja rias dengan tatapan kosong. Gaun malam sutra yang membalut tubuhnya terasa lebih seperti jaring daripada pakaian yang nyaman. Sejak malam pernikahan mereka, ia tahu bahwa hubungan ini hanyalah permainan politik, sebuah sandiwara yang harus ia jalani untuk bertahan. Namun, semakin hari, semakin sulit baginya untuk mengabaikan fakta bahwa ia terjebak di antara Dorian dan wanita lain yang merasa lebih berhak atas dirinya.
Ketukan di pintu menggema di dalam ruangan, menghentikan lamunannya.
"Masuk," kata Vera tanpa berpaling.
Pintu terbuka, dan di baliknya berdiri Dorian. Dengan setelan jas hitam yang rapi, wajahnya tetap dingin seperti biasa. Sorot matanya menyelidik, seolah-olah ia sedang mencoba memahami pikirannya.
"Kau belum tidur?" tanyanya.
Vera tersenyum sinis melalui pantulan cermin. "Apa aku seharusnya tidur nyenyak setelah pertunjukan tadi?"
Dorian menghela napas panjang, lalu melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya. Ia tidak langsung menjawab, hanya berdiri di sana, menatap punggung Vera.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan Isabella," katanya akhirnya, nadanya terdengar seperti janji yang rapuh.
Vera berbalik, menatapnya dengan tatapan tajam. "Aku tidak mengkhawatirkannya," katanya pelan, tapi penuh penekanan. "Aku hanya ingin tahu satu hal, Dorian-sampai kapan aku harus bermain dalam permainan ini?"
Dorian mendekat, tapi tidak cukup dekat untuk membuatnya terasa intim. Ia mengamati wajah Vera, seolah sedang menimbang kata-katanya. "Ini bukan hanya tentang kita, Vera," katanya akhirnya. "Kita punya kewajiban."
Kewajiban. Kata itu lagi. Seolah-olah perasaan mereka tidak pernah dihitung dalam persamaan ini.
"Dan bagaimana denganmu?" Vera bertanya, suaranya lebih lembut kali ini. "Apa yang sebenarnya kau inginkan?"
Dorian tidak menjawab. Tatapannya tetap pada Vera, tapi matanya menggelap, seolah ada sesuatu yang ingin ia sembunyikan.
"Kau tidak perlu mengetahuinya," jawabnya akhirnya, sebelum berbalik.
Vera menggigit bibirnya, menahan emosi yang bergolak di dadanya. Ia tidak tahu apa yang lebih menyakitkan-kenyataan bahwa Dorian tidak mencintainya, atau kenyataan bahwa ia mulai menginginkan pria yang seharusnya ia benci.
Saat Dorian melangkah pergi, Vera tahu bahwa malam ini hanyalah awal dari perang yang lebih besar. Jika ia ingin bertahan, ia harus menemukan cara untuk mengendalikan situasi.
Dan kali ini, ia tidak akan bermain sebagai korban.
Ia akan menjadi lawan yang tak bisa diabaikan.
Anda Mungkin Juga Suka





