Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Merebutmu Kembali

Merebutmu Kembali

Banyak orang berjuang sembuh dari luka batin, sementara sisanya memilih kabur dari kenyataan pahit. Chandani kini terjepit saat bayang-bayang masa lalu yang sangat traumatis tiba-tiba muncul kembali di hadapannya. Tak disangka, sosok yang menjadi sumber penderitaannya justru datang untuk melamar. Haruskah ia menerima pinangan itu atau melarikan diri demi ketenangan hidupnya? Di tengah kebuntuan ini, kegelapan seolah menjadi satu-satunya cahaya penuntun bagi nasibnya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Bakda Maghrib, Chandani, Miranda, dan Alia pun sibuk memasak di dapur untuk acara makan malam nanti. Entah siapa yang akan datang. Ini tidak seperti tamu biasanya. Kali ini Darma meminta keluarganya untuk memasak makan malam lebih banyak. Mungkinkah dia ingin mengundang para tamu nanti untuk ikut makan malam bersama?

'Hmm ... Akan ada banyak orang sepertinya di makan malam nanti. Kenapa papa nggak bersikap seperti biasanya? Siapa mereka?' Chandani membatin.

Selesai memasak, Chandani berdiri di sisi ruangan dekat jendela. Kepalanya sedikit melenggak melihat ke arah langit. Suasana malam begitu sejuk dan cerah. Chandani pun menghela napas panjang. Jujur, hatinya terasa amat lelah. Chandani merasa cukup untuk kehidupannya saat ini. Sebenarnya Chandani merasa jemu setiap kali Darma mencoba menjodohkan-jodohkannya.

Meski fobia Chandani terhadap laki-laki kini sudah sembuh, tetapi bukan berarti dia bisa menerima kehadiran mereka dengan mudah. Itu masihlah hal terberat baginya. Bagaimanapun hidup tanpa keberadaan mereka adalah yang ternyaman bagi Chandani kecuali, dua orang lelaki yang namanya senantiasa dia lantunkan dalam doa untuk kebaikan dunia akhirat.

"Pa, siapa lagi kali ini?"

"Nanti juga, Teteh, akan tau," jawab sang ayah seraya tersenyum simpul.

"Ih Papa, bikin aku penasaran saja." Chandani memeluk ayahnya yang duduk di kursi roda dengan gemas. Kemudian dia melonggarkan rengkuhan. Matanya menelisik pakaian sang ayah. "Papa, kenapa pake bajunya rapi banget? Kaya mau nikah saja," candanya dengan mulut melengkung membentuk senyuman.

Darma pun terkekeh. "Teteh, bisa saja. Memangnya, Papa, ganteng, yah, pake koko gini?"

"Ganteng banget, Pa. Tp markotop, deh." Chandani mengacungkan kedua jempolnya seraya tertawa renyah bersama sang ayah.

Ramai tawa mereka menghangatkan suasana rumah. Chandani sangat bahagia karena bisa melihat kembali tawa ayahnya yang sempat lenyap. Semenjak musibah naas itu menimpanya, ayahnya memang belum pernah lagi menampakan tawa sebahagia ini. Baru malam ini.

Entah kenapa Darma terlihat riang gembira? Ada apakah gerangan? Mungkinkah karena tamu yang akan datang hari ini? Entahlah tetapi, Chandani sangat bersyukur bisa melihatnya seceria ini. Semoga ini pertanda baik untuk kesehatan sang ayah.

"Teteh, pake baju ini, yah." Tangan Miranda memegangi gaun muslimah yang panjang menjuntai. Gaun berwarna salem muda yang indah dengan renda-renda di bagian roknya dan ban pita melingkar di bagian pinggang itu tampak cantik.

"Wow … cantiknya." Ada binar-binar di mata Chandani. Tampak dia mengagumi keindahan gaun itu di wajahnya. Namun, Chandani segera kembali ke akal sehatnya. "Tunggu … tunggu … kok nggak kaya biasanya, sih? Kali ini pake disediakan gaun segala. Ada apa ini? Papa dan Mama nggak akan menikahkanku malam ini 'kan?" tanyanya panar dengan tatapan menyelidik.

Miranda tertawa geli. "Ya nggak lah, Teh. Mama dan Papa bakal menikahkan, Teteh, kalo nanti, Teteh, udah beneran siap.".

Darma hanya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.

Chandani tersipu malu karena merasa sudah suuzon kepada kedua orang tuanya. "Maaf, Ma, Pa." Dia menyengir kuda..

"Iya, gapapa, sekarang mending Teteh ganti baju, gih. Nih, gaunnya." Miranda menyerahkan gaunnya pada Chandani.

"Iya, Ma." Chandani mengangguk patuh lalu dia mengamit gaun itu dan masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian.

Tiba-tiba terdengar suara bel pintu berbunyi.

"Itu pasti mereka, Ma." Darma.

"Mama, bukain pintu dulu ya, Pa." Gegas Miranda beranjak menuju pintu.

Miranda pun membukakan pintu. Dia tersenyum ramah kepada tiga orang yang ditunggu. Di luar sudah berdiri sepasang suami istri yang kira-kira sebaya dengan suaminya. Istrinya mengenakan gamis syar'i berwarna cream yang indah dan terlihat elegan sedangkan, suaminya mengenakan kemeja panjang berwarna senada dengan gaun istrinya lengkap dengan celana bahan berwarna hitam dan sepatu kulit.

Lalu di samping istrinya berdiri seorang pria muda yang memakai kemeja kasual berwarna putih dengan celana jeans berwarna cream, pria itu sudah pasti adalah putra tunggal dari sepasang suami istri di hadapannya. Kemudian Miranda pun mempersilakan mereka masuk dan duduk

"Assalamualaikum." Daniel sekeluarga mengucap salam yang segera dibalas Waalaikumussalam oleh Miranda dan Darma bersamaan.

Aldebaran menyalami kedua orang tua Chandani dengan penuh rasa hormat. "Gimana kesehatan, Om? Apa sudah membaik?"

"Ya, beginilah. Mamanya juga udah tua, James." Darma tersenyum ramah.

Miranda menyambut dengan suka cita kedatangan mereka. Ruangan bergaya victorian elegan itu seolah menjadi saksi bisu untuk kedatangan Aldebaran dan keluarga malam ini.

Mereka semua pun berbincang dengan hangat. Tak ayal gurauan akan terlontar di tengah obrolan yang seketika membuat suasana menjadi lebih hidup.

Daniel dan Aisyah adalah sahabat Darma dari sejak lama. Mereka telah bersahabat sudah lebih dari dua puluh tahun, sampai pada kepergian Darma pada lima tahun yang lalu. Hal itu memutuskan tali silaturahmi ketiga sekawan tersebut. Miranda dan Darma telah memaafkan James. Mereka telah melihat ketulusan pemuda itu kala meminta maaf, James telah sangat menyesali perbuatannya.

Sudah merupakan kewajiban bagi setiap umat Nabi untuk saling memaafkan sekalipun, yang orang lain lakukan amat menyakitkan. Kalimat itulah yang senantiasa diingat Darma. Kalimat yang selalu berhasil menenangkan dirinya.

"Kamu pasti Alia." Aldebaran menunjuk dengan sopan seraya gadis remaja di hadapan.

Alia membalas dengan senyuman lalu mengangguk. "Iya, Kak."

"Kamu udah besar, yah? Terakhir kali, Om, melihatmu itu lima tahun yang lalu. Kamu masih kecil saat itu." Daniel beramah tamah.

Alia hanya membalasnya dengan senyuman. Dia sama sekali tidak mengenali ketiga orang ini. Wajar saja, karena saat itu Alia masih kecil dan masih tak acuh kepada siapapun di sekitarnya.

"Waktu itu usianya masih sepuluh tahun saat kita memutuskan tali silaturahmi." Deg. Dada Darma seketika bergemuruh. Penyesalan segera menerpanya. "Maaf, Dan, aku telah egois saat itu." Dia tersenyum kaku.

"Gapapa, aku mengerti. Aku juga patis akan melakukan hal yang sama jika hal itu menimpa keluargaku." Daniel terus menunjukan senyuman bersahabat.

Darma tak mampu membalas. Dia hanya bisa menatap mata sahabatnya dengan tersenyum simpul. "Kamu masih sahabatku."

Daniel beranjak dari duduknya, lalu berpindah ke dekat kursi roda Darma. Dia merangkul pria paruh baya yang lumpuh itu dengan bersahabat. "Tentu saja. Kita sahabat sampai kehendak Allah yang memisahkan."

"Hus! Dad, ngomong apa, sih?" tegur Aisyah-istri Daniel yang segera dibalas tawa keras kedua pria paruh baya itu.

Aldebaran hanya mampu menyulam senyum sederhana kala melihat kedekatan dua sahabat sejati itu. Mereka berdua beruntung masih bisa saling memiliki. Darma dan Daniel tidak pernah berselisih dan satu-satunya penyebab mereka berpisah dulu, adalah ulah Aldebaran.

Miranda datang membawa nampan berisi teh manis dan kue untuk disuguhkan kepada tamu-tamunya. "Mangga dileueut, kue dan tehnya," ujarnya sambil memanggutkan kepalanya sebagai kesopanan.

"Terima kasih, Dek. Aduh jadi ngerepotin ini." Aisyah bersopan santun.

"Akh bisa saja. Nggak ngerepotin atuh tibang kaya gini, mah." Miranda tertawa kecil.

Aisyah membalasnya dengan senyuman lalu meminum teh yang disuguhkan sang tuan rumah. "Ditampi yah, Dek."

"Oh, mangga-mangga, Teh, mangga," sahut Miranda. "Bang, James, silakan kue dan tehnya." Dia mempersilakan Daniel dan Aldebaran untuk ikut serta menikmati suguhannya.

***

Chandani masih di dalam kamar. Dia tengah duduk di depan meja riasnya. Chandani begitu cantik dengan alis yang sedikit dia hitamkan, eyeliner tipis mempertegas bagian kelopak mata serta eyeshadow berwarna cokelat tetapi, agak muda dia ulaskan. Rona merah tipis pun tak lupa dia taburkan di tulang pipinya dengan bibir berwarna merah natural. Sayup dia mendengar renyah tawa ayah, ibu dan para tamunya dari luar sana.

Selesai bersolek, Chandani tak langsung keluar dari kamar. Dia duduk seraya menatap pantulannya pada cermin, lalu seulas senyuman dia tampakan. Kemudian Chandani mencubit lembut pipinya. "Wow … kamu cantik, Canda." Senyum puas mengembang dari wajah cantiknya. Dia mendekatkan diri untuk melihat pantulan wajahnya dengan jelas di cermin.

Pori-pori kulit yang tipis dan halus, terlihat begitu terawat. Lalu dia mengedut-ngedutkan kedua belah alisnya, menatap puas wajah cantiknya. Namun, dia segera kembali ke akal sehatnya. "Astaghfirullahaladzim." Dia mengelus dadanya. Rupanya setan elah menelusup ke dalam pikirannya tanpa dia sadari. "Ya Allah maafkan aku, jauhkan aku dari sifat ujub." Kemudian sekali lagi dia mengucap Istigfar sebagai bentuk penyesalan.

Tiba saat terdengar suara pintu diketuk yang seketika membuat tubuhnya agak tersentak. "Ma-masuk, Ma!" seru Chandani.

Pintu terbuka dan Miranda pun masuk. "Teh, keluar, yuk? Tamu kita udah pada nunggu, tuh." Miranda tersenyum kagum kala melihat putri sulungnya yang sudah tampil cantik di hadapan.

Chandani mengangguk lalu bangkit dari duduknya. Dia berjalan dengan anggun seraya meremas buku jarinya agak gugup. Chandani melakukan ini bukan untuk pertama kalinya tetapi, entah kenapa dia selalu saja merasa gugup.

Mungkin karena rasa bersalahnya juga yang turut menyertai. Entah sampai kapan Chandani akan berhenti melakukan ini. Belum ada yang mampu mengetuk pintu hatinya atau mungkin takkan pernah ada yang bisa.

Chandani sama sekali tidak ingin menikah karena traumanya terhadap laki-laki. Dia tak masalah jika seumur hidup harus dihabiskan seorang diri tanpa memiliki pendamping. Chandani sudah merasa sempurna dengan kehidupannya saat ini. Sudah lebih dari cukup, menurutnya.

Miranda pun menggandeng Chandani keluar dari kamarnya. Wanita itu tampak sangat anggun malam ini. Dia terlihat begitu cantik dengan riasan make up natural dan gaun salem yang dikenakan menjuntai panjang hingga menutupi mata kakinya.

Chandani digandeng sang ibu menuju ruang tamu.

"Assalamualaikum." Chandani mengucapkan salam dengan sopan kepada para tamu. Mata teduhnya masih tertunduk.

"Waalla … ikumus … salam." Aldebaran terpegan sesaat kala melihat keindahan Chandani, hingga matanya tak kuasa berkedip. Tidak ada yang berkurang. Perempuan itu masih terlihat cantik seperti dulu, hanya bertambah aura dewasa yang menjadikannya lebih sempurna. Namun, Aldebaran segera kembali ke akal sehatnya. Gegas dia menunduk kepala. Bukan mahram, dilarang untuk melihat terlalu lama.

"Waallaikumussalam, Canda. Wah ... Cantiknya anak, Bunda," balas Aisyah sambil tersenyum. Wajahnya tampak kagum kala melihat kecantikan Chandani. Dia-anak gadis yang sudah Aisyah anggap seperti anak kandungnya sendiri itu kini sudah tumbuh menjadi seorang wanita dewasa nan anggun.

Chandani sedikit keheranan saat mendengar suara-suara yang familiar, dia pun memangukan kepalanya. Seketika dia terpegan kala melihat siapa tamunya itu. 'Bunda? Ayah?' gumamnya dalam hati.

Chandani mulai gugup dan takut lalu dengan ragu matanya melirik ke arah pria yang berdiri di samping Daniel. Di sana dia melihat seorang pria tengah memandanginya dengan senyuman di bibir. 'James?' Hatinya. Mata mendelik saat melihat sosok itu.

Dada Chandani seketika bergaung nyeri sesak dengan debar jantung yang tiba-tiba terpacu. Dia pun mundur beberapa langkah dengan tergesa-gesa sembari mengepalkan kedua tangannya.

Marah dan takut seketika menyeruak membakar jiwa Chandani. Lantas dia segera berbalik dan melangkah dengan tegas meninggalkan ruang tamu tanpa berbicara sepatah kata pun.

"Teh! Teteh!" panggil Miranda dan Darma bersamaan lalu segera sang ibu mengejar Chandani.

Alia terlihat heran, dia tak mengerti apa-apa. Dia hanya terus melihat kakaknya sembari mengerutkan kening. 'Teteh, kenapa?' Pikirnya bingung.

"Dan, Ais, maafkan anakku." Darma merasa tak enak hati kepada kedua sahabatnya.

"Gapapa, kami mengerti." Daniel sambil memalsukan senyumannya, terlihat jelas ada gurat kekecewaan di wajahnya.

Aisyah hanya menatap nanap ke arah Chandani dengan tatapan sendu. Dia sudah lama ingin bersua dengan anak gadisnya itu, tetapi kini disaat Chandani berada di hadapannya, Aisyah justru tak dapat melakukan apa-apa. Aisyah sangat menyesalkan sikap Chandani. Namun, dia juga tak dapat menyalahkannya karena memang kesalahan terletak padanya. Gadis cantik yang dahulu selalu bergelayut manja padanya itu, sekarang tampak ketakutan saat berjumpa dengannya. 'Canda.' Kalbunya bagai mantra. Terbersit kesedihan di wajah Aisyah.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Because of Mistake
9.6
Akibat kesalahpahaman fatal, Eudora terperangkap dalam penderitaan sebagai tawanan Legolas yang haus akan balas dendam. Kehidupannya hancur dalam siksaan hingga ia merasa maut lebih baik daripada bertahan hidup. Namun, kebenaran akhirnya terkuak bahwa Eudora adalah sosok penyelamat nyawa Legolas di masa lalu. Kini, rasa benci dan kekecewaan mendalam menyelimuti hati Eudora. Akankah cinta bersemi kembali atau mereka justru terjebak menjadi musuh abadi?
Sampul Novel Bersama Kita Bangkit Dari Abu
8.0
Dalam kondisi hamil tua, mobilku ditabrak truk secara sengaja. Saat sekarat, aku menghubungi suamiku, Kian, namun ia justru mengabaikanku demi keluhan sakit kepala Florence. Pengkhianatan itu berujung tragis: bayi kami tewas dan kakakku kehilangan karier pianisnya selamanya. Kini, duka berubah menjadi amarah yang membara. Kian menganggap kami sampah, namun ia tak sadar bahwa kami akan bangkit dari kehancuran ini untuk menuntut balas atas semua penderitaan kami.
Sampul Novel Bodyguard Mafia Seksi
8.4
Drystan Cordner tidak menyangka akan menjadi pengawal pribadi Avyana Burcardo, putri mafia yang gemar mengoleksi pria tampan. Di tengah godaan Avyana yang intens, Drystan berjuang keras menjaga profesionalitas meski hatinya goyah. Avyana sendiri merasa geram karena Drystan terus menekankan batasan status atasan dan bawahan di antara mereka. Akankah Avyana berhasil mengubah sosok Drystan yang polos menjadi pria yang lebih agresif dalam hubungan ini?
Sampul Novel Dangerous Girl
9.7
Aliya kehilangan segalanya saat kekayaan orang tuanya memicu tragedi berdarah. Gadis lembut ini bertransformasi menjadi dewi kematian yang haus balas dendam demi mengungkap dalang pembunuhan keluarganya. Di tengah teka-teki rumit di sekolah, ia harus mencari Samudra, pangeran bermata biru yang kini tak lagi mengenalinya. Meski penolakan terasa menyakitkan, Aliya tetap mengejar jawaban di balik badai rahasia yang mengancam nyawanya. Darah harus dibayar darah.
Sampul Novel Jodoh Pilihan Oma
8.5
Hidup Dion berubah drastis usai menyelamatkan Kayla dari bahaya bersama Nenek Melati. Terpikat oleh ketangguhan Kayla, sang nenek ingin mereka bersatu. Namun, Bu Ratna menentang karena ia telah menjodohkan Dion dengan Amara yang ambisius. Amara yang haus status pun mulai menyusun taktik licik untuk menyingkirkan Kayla dengan mengorek rahasia kelam masa lalunya. Di tengah tekanan keluarga dan intrik jahat, Dion harus berjuang melindungi cintanya dari kehancuran.
Sampul Novel My Sweetheart is Nerd?
9.6
Shenia Ereshva, putri konglomerat, diam-diam terlibat dalam geng motor yang menentang shadow economy. Ia jatuh hati pada Rafka, pemuda genius korban perundungan, dan bertekad memenangkan hatinya. Namun, Rafka ternyata menyimpan rahasia serupa sebagai anggota geng motor. Keduanya pun dipertemukan kembali dalam misi besar untuk menjatuhkan organisasi R Black yang sangat kuat. Di tengah tumpukan rahasia ini, mampukah cinta mereka bertahan tanpa mengancam misi?