Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Merebutmu Kembali

Merebutmu Kembali

Banyak orang berjuang sembuh dari luka batin, sementara sisanya memilih kabur dari kenyataan pahit. Chandani kini terjepit saat bayang-bayang masa lalu yang sangat traumatis tiba-tiba muncul kembali di hadapannya. Tak disangka, sosok yang menjadi sumber penderitaannya justru datang untuk melamar. Haruskah ia menerima pinangan itu atau melarikan diri demi ketenangan hidupnya? Di tengah kebuntuan ini, kegelapan seolah menjadi satu-satunya cahaya penuntun bagi nasibnya.
Bab
Bagikan

Bab 1

Chandani itu seperti berlian. Dia kuat, cantik dan berharga. Cantik tak hanya paras. Ketangguhan dalam menghadapi masalah pun membuatnya tampak mempesona. Itulah yang disebut kecantikan abadi. Kecantikan yang sesungguhnya, kecantikan hati, kecantikan yang tak termakan usia.

***

Ketika kegelapan menjadi satu-satunya cahaya

Sanggupkah dia menerimanya?

_

Chandani tengah berdiri di dekat sebuah kamar pas di dalam sebuah butik. Meski tirainya hanya terbuka sedikit tetapi, dia dapat melihat dengan jelas ke dalam. Matanya nyalang dengan tubuh gemetar. Chandani mengepalkan tangannya kuat hingga buku jarinya memutih. 'Astagfirullahaladzim, Ma.' Hatinya dengan gigi gemeretak. Dia mengumpat pasangan yang tengah berbuat mesum di hadapannya dalam hati.

Hatinya terasa dicabik dan ditarik paksa dari uluhati kala melihat sang ibu yang selama ini dia banggakan tengah bermesraan dengan seorang pemuda. "Kenapa mama tega ngelakuin ini ke papa?" gumamnya meracau.

Chandani Adiratna Bahuraksa dua puluh dua tahun. Gadis muslimah yang berparas cantik pemilik; mata berlian, hidung lurus mancung, dan bibir tebal mirip "Angelina Jolie". Tinggi badan seratus enam puluh sentimeter dengan berat empat puluh tiga kilogram. Wanita bertubuh tinggi kurus itu, baik nun lemah lembut terlihat biasa tetapi, tegar dan tegas dalam menjalani kerasnya kehidupan membuat Chandani tampak mengagumkan.

Chandani bukanlah seorang wanita kuat tetapi, tidak juga lemah. Banyak hal yang telah dia lalui sehingga kehidupan menempa gadis itu menjadi pribadinya saat ini. Berat memang. Masa lalu yang gelap kerap menghantui perjalanan hidupnya, seolah tak rela jika dia lupakan. Bermula dari kejadian pahit di masa silam, kemudian ayahnya sakit keras, dan kini ibunya berselingkuh. Entah cobaan macam apalagi yang menunggunya di depan. Yang bisa Chandani lakukan hanya ikhlas dan tawakal, percaya di setiap cobaan pasti ada hikmahnya.

***

Gadis berhijab itu berjalan terhuyung-huyung meninggalkan mereka yang tengah asik bercinta. Kakinya terasa lemas, terasa ada beban berat yang menggelayut di betis. Chandani tak menyangka ibunya akan melakukan hal sekeji ini. Ibunya yang pendiam ternyata memiliki rahasia yang menjijikan. Apa yang harus Chandani lakukan sekarang? Apakah dia harus melaporkan semuanya kepada ayahnya?

Entahlah ....

Mana tega Chandani melakukan itu. Jika dia sampai memberitahu ayahnya pasal hal yang baru diketahuinya ini, sama saja dia ingin membunuhnya. Sang ayah tengah sakit keras, tentu Chandani takut akan memperburuk kondisi Darma-ayahnya jika sampai dia mengatakan kenyataan pahit ini.

"Assalamualaikum." Chandani memasuki rumah.

"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Alia. "Teteh udah pulang? Katanya bakal pulang malam, kok masih sore udah pulang?"

Alia Kanaya Bahuraksa, lima belas tahun. Adik satu-satunya Chandani. Gadis remaja yang bersurai panjang itu memiliki kontur wajah tak jauh berbeda dari sang kakak. Alia cantik dengan bentuk wajah oval, mata monolid, hidung lurus, dan bibir tebal. Tinggi badan seratus lima puluh empat sentimeter dengan berat empat puluh dua kilogram, tubuh Alia agak berisi.

"Iya, Dek. Kebetulan kerjaan Teteh selesai cepet tadi. Alhamdulillah, Teteh, bisa pulang cepat. Gimana keadaan papa?"

"Papa habis makan tadi, sekarang sudah tidur."

"Syukurlah." Chandani memalsukan senyuman.

"Teteh, kenapa?" Alia menatap Chandani penuh selidik. Dia melihat mata kakaknya yang sedikit sembab. "Teteh, abis nangis yah?"

Chandani cepat menggeleng. "Nggak, Teteh, nggak nangis, kok." Mulutnya melengkung membentuk senyuman.

"Bohong!" tukas Alia. "Teteh, pasti abis nangis kan?" Sekali lagi Alia menatap kakaknya dengan penuh rasa penasaran.

"Sudahlah. Itu nggak penting. Mending kamu istirahat, gih. Kamu pasti cape habis jagain papa seharian." Tangan Chandani membelai lembut pipi adik semata wayangnya tersebut.

"Hoam." Alia menguap lalu merenggangkan tubuhnya. Benar yang dikatakan kakaknya. Dia memang lelah setelah seharian menjaga ayahnya yang lumpuh. "Teteh bener. Lebih baik aku istirahat sekarang. Aku ke kamar dulu, yah?"

"Hmm." Chandani mengangguk. "Nanti kalo makan malam sudah siap, Teteh bangunin kamu, yah?"

"Sipp." Alia tersenyum seraya mengacungkan kedua jempolnya lalu pergi memasuki kamar.

Chandani duduk di sofa. Dia menyandarkan punggungnya malas ke punggung sofa. Wajah Chandani menengadah, menatap kosong ke langit-langit rumah. Yang dia lihat di butik tadi sungguh mengejutkan. Chandani merasa sangat syok dan kecewa. 'Ya Allah, apa yang harus aku lakukan?' Hatinya.

Bendungan di pelupuk yang coba dia tahan pun akhirnya jebol. Chandani terisak.. Dia membekap mulutnya dengan bantal sofa agar dapat meredam suara, supaya ayah dan adiknya tak dapat mendengar tangis lirihnya kini.

Chandani menggigit bibirnya dengan tangan mencengkram kuat kulit sofa. Ingin rasanya dia memukuli seseorang untuk melampiaskan kemarahan.

Kabut kelabu semakin tampak gelap menyelimuti kehidupan Chandani. Seolah takkan ada cahaya terang. Seolah hidupnya ditakdirkan gelap seumur hidup. "Ya Allah, kuatkan hambaMu yang payah ini."

***

Pagi menyapa dengan hangat. Sinar kuning keemasan menerangi setiap sudut rumah melalui celah jendela yang dibuka. Embun bening bak berlian tampak berkilauan kala terpapar sinar sang surya. Tak luput pula kabut putih yang mengambang di udara membuat dingin suasana pagi terasa merasuk ciri khas di kota Kembang. Di tengah kesejukan pagi, Chandani dan Alia tampak sibuk berkutat di dapur menyiapkan sarapan untuk keluarga tercintanya.

"Pagi, Sayang," sapa Miranda. Dia mengecup kening kedua putrinya bergantian.

"Pagi, Ma." Alia tersenyum manis kepada sang ibu.

"Pagi." Chandani berusaha bersikap biasa saja meski bayangan pengkhianatan ibunya terus saja menari-nari dalam ingatan.

Mereka bertiga pun duduk mengitari sebuah meja bundar dan mulai menikmati sarapan.

"Sayang, hari ini, Mama, pulang malam lagi. Akan ada investor penting datang ke butik." Miranda melemparkan senyuman manis ke arah kedua putrinya.

"Hmm." Chandani memanggukan kepala. Dia merasa curiga. 'Investor kok datangnya malam-malam?' Batinnya.

"Dek, tolong jagain papa lagi, yah," kata Miranda.

"Siap, Ma!" Alia mematuhi perintah ibunya.

Chandani segera bangkit dari duduk dengan kasar. "Maaf, aku harus berangkat sekarang. Assalamualaikum." Dia menyandang tas selempangnya lalu beranjak pergi.

"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," balas keduanya bersamaan.

"Teteh kenapa?" tanya Miranda kepada Alia.

"Nggak tau." Alia mengangkat sebelah bahunya sambil memonyongkan bibir.

Miranda hanya menggeleng, dia tak menanggapi dengan serius sikap putri sulungnya itu. Mereka pun kembali fokus menikmati menu sarapannya.

"Canda, Kuy." Alisia yang menyadarkannya Chandani dari lamunan.

"Em? Apa?" Chandani mendongak menatapnya yang duduk di depan meja kerja.

"Lo napa sih? Pagi ini gue perhatiin ngelamun terus. Lo lagi sakit?" Alisia.

"Nggak, kok." Chandani tersenyum lalu sepersekian detik kemudian wajahnya menampakan keraguan. "Aku cuma lagi mikirin presentasi nanti. Aku kuatir investor kita nggak suka." Air muka Chandani tampak gundah.

"Eeleh … kirain ada apa." Alisia menyeringai lega. "Santai saja kali, Sis. Fokus. Karena kalo lo gugup, sebagus apa pun proposal yang lo presentasikan, pasti bakalan jadi buruk. So, kuncinya hanya satu, lo harus rileks." Dia menasihati.

"Kamu benar, Lis. Aku harus rileks. Jangan sampai gugup. Makasih ya, Lis, udah ingetin aku. Semoga presentasi nanti berjalan lancar dan kita bisa menandatangani kontrak kerjasama dengan KPG. Amin."

"Amin." Alisia menelungkupkan kedua telapak tangannya ke muka.

Chandani pun menghela nafas panjang, lalu kembali pusat membaca lembar demi lembar map di hadapannya.

"Jangan lupa nanti ngucap Bismillah ye, Sis." Alisia.

"Pasti. Insyaallah." Chandani.

"Semangat, Sistah!" Alisia tersenyum puas kala berhasil mendokterin Chandani.

Tak berapa lama, terdengar suara pintu diketuk lalu Mirna pun masuk.

"Kak Canda, para tamu kita udah datang, tuh," lapor Mirna.

"Oke." Chandani segera bangkit dari duduknya. "Aku ke ruang rapat dulu, Lis."

"Sip." Alisia mengacungkan jempolnya. "Awas! jangan gugup ye, Sis." Alisia mengingatnya.

"Hmm." Chandani mengangguk dengan tegas lalu dia pun beranjak pergi.

Dikarenakan ayahnya sakit. Maka Chandani lah yang kini mengambil alih perusahaan tekstil yang dipimpin sang ayah. Hari ini merupakan hari penting bagi wanita muda itu. Karena hari ini dia akan kedatangan seorang investor besar sekaligus pemilik perusahaan multinasional raksasa di negerinya.

"Selamat pagi semuanya," sapa Chandani dengan senyum ramah untuk kesopanan.

"Pagi." Tampak satu orang pria dan dua orang perempuan yang berada di ruangan tersebut membalas sapaan Chandani bersamaan.

Lalu seorang pria bernama Andy pun gegas berdiri. "Bu Chandani, mohon maaf, Tuan Aldebaran nggak bisa mengikuti rapat lagi. Beliau ada pertemuan penting dengan Pak Menteri. Tapi sebelum saya berangkat tadi, beliau mengatakan akan menyaksikan via virtual."

"Oh silakan, Pak. Mau lewat sambungan apa, Gmeet atau Zmeet? Biar saya sediakan." Chandani.

"Nggak usah, Bu. Gapapa lewat ponsel saya saja."

"Oh ya sudah kalo gitu." Chandani paham. "Baiklah, kita akan mulai presentasinya."

Andy pun menyalakan Zmeet pada ponselnya. Namun, si pendengar di sisi lain menyetel camera off. Sehingga hanya visual Chandani yang akan tampak di sana.

"Saya yakin semuanya sudah membaca proposal yang saya berikan dua hari yang lalu." Chandani.

Semuanya mengangguk mengiyakan.

Chandani pun mulai menjelaskan.

Proposal itu menyangkut tentang perencanaan pengembangan dan pemasaran produk. Selama ini Istana Tekstil yang dipimpin Chandani hanya mencukupi kebutuhan kain di dalam negeri. Namun, kali ini Direktur Utama Muda itu ingin memasarkan produk kain dari perusahaannya ke luar negeri. Chandani merasa kualitas kain produksi dari perusahaannya cukup baik dan memenuhi syarat sebagai barang untuk ekspor. Target pemasaran produk Istana tekstil meliputi negara-negara di Asia Tenggara dan untuk customer-nya, dia menargetkan perusahaan-perusahaan garment. Mengingat pertumbuhan perusahaan garment kini yang semakin hari kian bertambah banyak.

"Biaya proyek dan laba ruginya sudah tercantum dengan jelas di dalam proposal yang kalian pegang. Prospek investasi ini akan menguntungkan jika semuanya berjalan sesuai rencana. Saya akan mengawasi semua prosesnya dengan ketat. Saya nggak akan mengecewakan kalian, Insyaallah."

Mata ketiga pendengar itu terlihat berbinar. Bekerjasama dengan Istana Tekstil sungguh menjanjikan. Ditambah lagi Direktur Utamanya yang cerdas lagi santun. Seketika membuat mereka langsung mempercayai Chandani dan tertarik untuk berinvestasi.

Zmeet pada ponsel Andy sudah terputus dan beberapa saat kemudian, dia pun menerima pesan singkat dari sang bos.

"Tuan Aldebaran baru saja mengirimkan pesan singkat. Beliau mengatakan semakin tertarik untuk menjalin kerjasama dengan Istana Tekstil."

"Benarkah?" Wajah Chandani tampak cerah. Dia tak menyangka kalau seorang pebisnis besar seperti Aldebaran akan tertarik berinvestasi di perusahaan kecilnya. Entah ini keberuntungan atau apa? Namun, Chandani amat bersyukur untuk itu.

"Tuan memimta saya untuk segera membawakan formulir kerjasama kita."

"Masyaallah." Mimik wajah Chandani langsung menampakan kegembiraan. "Baik, Pak. Setelah ini saya akan mempersiapkan segalanya lalu mengirimkan langsung ke kantor KPG," tuturnya dengan pasti.

"Baik, Bu."

'Alhamdulillah.' Batin Chandani berbunga-bunga.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Because of Mistake
9.6
Akibat kesalahpahaman fatal, Eudora terperangkap dalam penderitaan sebagai tawanan Legolas yang haus akan balas dendam. Kehidupannya hancur dalam siksaan hingga ia merasa maut lebih baik daripada bertahan hidup. Namun, kebenaran akhirnya terkuak bahwa Eudora adalah sosok penyelamat nyawa Legolas di masa lalu. Kini, rasa benci dan kekecewaan mendalam menyelimuti hati Eudora. Akankah cinta bersemi kembali atau mereka justru terjebak menjadi musuh abadi?
Sampul Novel Bersama Kita Bangkit Dari Abu
8.0
Dalam kondisi hamil tua, mobilku ditabrak truk secara sengaja. Saat sekarat, aku menghubungi suamiku, Kian, namun ia justru mengabaikanku demi keluhan sakit kepala Florence. Pengkhianatan itu berujung tragis: bayi kami tewas dan kakakku kehilangan karier pianisnya selamanya. Kini, duka berubah menjadi amarah yang membara. Kian menganggap kami sampah, namun ia tak sadar bahwa kami akan bangkit dari kehancuran ini untuk menuntut balas atas semua penderitaan kami.
Sampul Novel Bodyguard Mafia Seksi
8.4
Drystan Cordner tidak menyangka akan menjadi pengawal pribadi Avyana Burcardo, putri mafia yang gemar mengoleksi pria tampan. Di tengah godaan Avyana yang intens, Drystan berjuang keras menjaga profesionalitas meski hatinya goyah. Avyana sendiri merasa geram karena Drystan terus menekankan batasan status atasan dan bawahan di antara mereka. Akankah Avyana berhasil mengubah sosok Drystan yang polos menjadi pria yang lebih agresif dalam hubungan ini?
Sampul Novel Dangerous Girl
9.7
Aliya kehilangan segalanya saat kekayaan orang tuanya memicu tragedi berdarah. Gadis lembut ini bertransformasi menjadi dewi kematian yang haus balas dendam demi mengungkap dalang pembunuhan keluarganya. Di tengah teka-teki rumit di sekolah, ia harus mencari Samudra, pangeran bermata biru yang kini tak lagi mengenalinya. Meski penolakan terasa menyakitkan, Aliya tetap mengejar jawaban di balik badai rahasia yang mengancam nyawanya. Darah harus dibayar darah.
Sampul Novel Jodoh Pilihan Oma
8.5
Hidup Dion berubah drastis usai menyelamatkan Kayla dari bahaya bersama Nenek Melati. Terpikat oleh ketangguhan Kayla, sang nenek ingin mereka bersatu. Namun, Bu Ratna menentang karena ia telah menjodohkan Dion dengan Amara yang ambisius. Amara yang haus status pun mulai menyusun taktik licik untuk menyingkirkan Kayla dengan mengorek rahasia kelam masa lalunya. Di tengah tekanan keluarga dan intrik jahat, Dion harus berjuang melindungi cintanya dari kehancuran.
Sampul Novel My Sweetheart is Nerd?
9.6
Shenia Ereshva, putri konglomerat, diam-diam terlibat dalam geng motor yang menentang shadow economy. Ia jatuh hati pada Rafka, pemuda genius korban perundungan, dan bertekad memenangkan hatinya. Namun, Rafka ternyata menyimpan rahasia serupa sebagai anggota geng motor. Keduanya pun dipertemukan kembali dalam misi besar untuk menjatuhkan organisasi R Black yang sangat kuat. Di tengah tumpukan rahasia ini, mampukah cinta mereka bertahan tanpa mengancam misi?