Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Menjadi Orang Ketiga Dipernikahan

Menjadi Orang Ketiga Dipernikahan

Mira Aditya terjebak dalam perjodohan orang tuanya dengan Rafiq Jaya. Alih-alih bahagia, ia justru menghadapi kenyataan pahit bahwa suaminya telah menikahi kekasih lamanya, Elena Faris, secara rahasia. Menjadi sosok yang terpinggirkan dalam rumah tangganya sendiri, Mira harus menanggung luka batin yang mendalam. Di tengah kehampaan dan rasa kecewa yang kian menggunung, Mira kini dihadapkan pada pilihan sulit antara terus bertahan atau pergi mencari kebebasan.
Bab
Bagikan

Bab 2

Hari-hari berlalu tanpa ampun, membawa Mira semakin jauh dari kebahagiaan yang pernah ia impikan. Rumah besar itu, dengan dinding-dindingnya yang dingin dan kosong, seolah menjadi saksi bisu dari kehancuran hatinya. Ia mulai menyadari bahwa setiap langkahnya di rumah itu hanyalah upaya untuk bertahan hidup, bukan untuk hidup dengan sungguh-sungguh.

Namun, pagi itu terasa lebih berat dari biasanya. Mira baru saja selesai menyiapkan sarapan ketika suara langkah Rafiq terdengar mendekat. Ia mengenakan kemeja putih bersih yang disetrika rapi, dengan dasi yang tergantung santai di lehernya. Di belakangnya, Elena muncul tanpa malu-malu, mengenakan gaun merah yang mencolok, dengan rambutnya yang tergerai sempurna.

"Ah, kau di sini," ujar Elena dengan senyum yang menusuk. "Aku tidak tahu kau masih punya waktu untuk menjadi nyonya rumah, Mira. Aku kira kau sudah menyerah."

Mira menatap Elena dengan mata yang lelah. Ia tidak ingin bertengkar, tidak pagi ini. "Silakan duduk. Sarapan sudah siap."

Rafiq melirik Mira sekilas, tanpa sepatah kata pun. Ia berjalan melewati meja, mengambil secangkir kopi yang Mira buatkan, lalu menyesapnya dengan santai. Tak ada ucapan terima kasih, tak ada pengakuan. Bagi Rafiq, Mira hanyalah bayangan yang tidak layak diperhatikan.

Mira menggigit bibirnya, menahan rasa sakit yang mengguncang hatinya. "Kalian ingin aku tinggalkan ruangan ini?" tanyanya, mencoba tetap tenang meski suara gemetar mengkhianati perasaannya.

Elena tertawa kecil, suara tawanya seperti cemoohan yang disengaja. "Tidak perlu, Mira. Bagaimanapun, ini rumahmu... untuk saat ini."

Rafiq menoleh ke Elena dengan tatapan peringatan, tetapi tidak berkata apa-apa. Ia tahu kata-kata Elena kejam, tapi ia tidak pernah merasa perlu membela Mira. Dalam diamnya, ia menyetujui apa yang dikatakan Elena.

Mira tidak tahan lagi. Ia mengambil napas panjang dan berdiri, meninggalkan ruangan tanpa menoleh ke belakang. Namun, sebelum ia benar-benar pergi, ia berhenti di ambang pintu dan berkata, "Kau tahu, Rafiq, aku tidak meminta pernikahan ini. Tapi jika kau berpikir aku akan terus diperlakukan seperti ini, kau salah besar."

Rafiq menatap punggungnya yang semakin menjauh, dan untuk pertama kalinya, ada sesuatu di matanya-entah itu rasa bersalah, atau sekadar kekagetan bahwa Mira akhirnya melawan.

Konfrontasi di Malam Hari

Malam itu, Mira berbaring di tempat tidur, mencoba memejamkan mata meski pikirannya dipenuhi oleh luka-luka emosional yang tak kunjung sembuh. Tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka, dan Rafiq berdiri di sana.

"Ada yang ingin aku bicarakan," katanya, masuk tanpa meminta izin.

Mira duduk perlahan, menatapnya dengan wajah penuh kelelahan. "Kalau ini tentang Elena, aku tidak ingin mendengarnya."

Rafiq mendekat, berdiri di depan tempat tidur. "Kenapa kau selalu membuat semuanya lebih sulit dari yang seharusnya?"

Mira tertawa pahit. "Aku yang membuat semuanya sulit? Kau bercanda, kan? Kau menikahiku tanpa cinta, membawa wanita lain ke rumah ini, dan sekarang kau menyalahkanku?"

Rafiq menghela napas panjang, frustrasi. "Aku tidak pernah ingin menyakitimu, Mira. Tapi kau harus mengerti, aku mencintai Elena. Aku tidak bisa meninggalkannya."

Mira bangkit dari tempat tidur, berdiri berhadapan dengan Rafiq. "Kalau begitu kenapa kau tidak pernah meninggalkan aku? Kenapa kau masih tetap di sini, membuatku merasa seperti seorang tahanan?"

Tatapan mereka bertemu, dan untuk sesaat, Rafiq terlihat ragu. Tapi kemudian, ia berkata dengan nada dingin, "Aku tidak ingin membuat masalah dengan keluargaku. Kalau kau merasa tidak tahan, kau bisa pergi."

Kata-kata itu menghancurkan sisa harapan yang Mira miliki. Ia memandang Rafiq dengan mata yang penuh air mata, lalu berbisik, "Kau benar-benar tidak pernah peduli, ya?"

Rafiq tidak menjawab. Ia hanya berdiri di sana, diam, seolah membiarkan keheningan menjawab pertanyaan Mira.

Pertemuan yang Tak Terduga

Keesokan harinya, Mira memutuskan untuk keluar dari rumah. Ia butuh udara segar, butuh melarikan diri dari semua rasa sakit yang menyesakkan dadanya. Ia berjalan tanpa tujuan di taman kota, mencoba mencari ketenangan di tengah keramaian.

Namun, takdir memiliki rencana lain. Di sebuah bangku di sudut taman, ia melihat seorang pria duduk sendirian, membaca buku. Wajahnya tampan, dengan mata yang memancarkan kedamaian. Mira tidak tahu kenapa, tapi ia merasa tertarik untuk mendekat.

Pria itu mendongak ketika Mira berhenti di depannya. "Maaf," kata Mira dengan suara pelan. "Boleh aku duduk di sini?"

Pria itu tersenyum. "Tentu saja."

Mira duduk, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa nyaman berada di dekat seseorang. Mereka mulai berbicara, dan Mira mengetahui bahwa pria itu bernama Arfan, seorang penulis yang sering datang ke taman untuk mencari inspirasi.

"Kenapa wajahmu terlihat sedih?" tanya Arfan setelah beberapa saat.

Mira terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Tapi entah kenapa, ia merasa bisa mempercayai pria ini. "Aku hanya... aku terjebak dalam situasi yang sulit."

Arfan menatapnya dengan penuh pengertian. "Kadang, hidup memang tidak adil. Tapi kau selalu punya pilihan, Mira. Jangan biarkan siapa pun membuatmu merasa tidak berharga."

Kata-kata itu menggema di hati Mira. Untuk pertama kalinya, seseorang memberinya kekuatan, meski mereka baru saja bertemu.

Awal dari Perubahan

Mira pulang ke rumah malam itu dengan perasaan yang campur aduk. Pertemuan dengan Arfan membuatnya merasa sedikit lebih kuat, tetapi ia tahu bahwa ia masih terjebak dalam pernikahan yang menghancurkan.

Di dalam rumah, ia menemukan Elena duduk di sofa, dengan senyum penuh kemenangan. "Oh, kau pulang juga," kata Elena. "Kukira kau sudah menyerah dan pergi."

Mira tidak menjawab. Ia berjalan melewati Elena tanpa berkata apa-apa. Namun, di dalam hatinya, ia berjanji bahwa ini bukan akhir dari segalanya. Ia akan menemukan cara untuk keluar dari kegelapan ini, meskipun itu berarti harus melawan semuanya sendirian.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Alice and The Blue Sea
8.6
Alice nyaris tewas terseret ombak sebelum diselamatkan oleh Archer, sosok pria misterius yang ternyata adalah seekor duyung jantan. Meskipun sempat tidak percaya, Alice akhirnya yakin setelah menyentuh langsung ekor Archer yang berotot. Pertemuan ajaib ini berujung pada sebuah permohonan bantuan dari Archer kepada Alice. Akankah kehidupan normal Alice berubah total setelah terlibat dalam takdir sang penghuni laut? Simak kisah fantasi romansa modern yang penuh keajaiban ini.
Sampul Novel Cinta Yang Ditulis Ulang
9.3
Madelyn Jent wafat penuh sesal setelah delapan tahun pernikahan hambar dan vonis kanker mematikan. Di detik terakhir, Zach Jardin tak kunjung datang hingga Madelyn bersumpah takkan mencintainya lagi jika waktu terulang. Keajaiban membawanya kembali ke usia delapan belas tahun. Madelyn bertekad menjauhi Zach demi masa depan baru, namun takdir berkata lain. Pria itu justru muncul kembali, mendekat dengan aura intimidasi dan janji untuk menjaganya seumur hidup.
Sampul Novel Istri Yang Berjuang Sendiri
9.1
Kehidupan pernikahan ini terasa sangat hambar karena suamiku enggan menafkahiku dan lebih memilih menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Puncak penderitaanku bermula saat dia mendesakku mengambil utang bank demi membelikannya sebuah mobil. Meski sudah berkorban, pengabdianku justru dibalas dengan pengkhianatan pahit saat aku memergokinya berselingkuh dengan wanita lain. Kini, aku berdiri di persimpangan jalan, mempertanyakan nasib rumah tangga kami yang hancur.
Sampul Novel Istri yang Libidonya Rendah
9.7
Memiliki gairah seksual yang rendah sejak lahir membuat pernikahan sang protagonis berada di ambang ketegangan. Rasa frustrasi suaminya mendorong mereka mencari solusi, hingga sang suami merekomendasikan seorang dokter pengobatan tradisional yang sangat terkenal. Berniat untuk menyembuhkan kondisinya demi keutuhan rumah tangga, ia pun datang menemui dokter tersebut. Namun, ia sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa metode terapi yang diterapkan sang dokter ternyata sangat di luar dugaannya.
Sampul Novel Kencan Buta Setelah Pulang Kampung
9.4
Tujuh tahun mendampingi Daniel Liman dan menciptakan banyak karya untuknya, Nadya Luandra justru harus menelan pil pahit. Di hari yang seharusnya menjadi momen lamaran mereka, Daniel malah mengumumkan kerja sama dengan cinta pertamanya, Yuna Fadian. Nadya yang menuntut penjelasan justru mendengar kenyataan pahit dari balik pintu bahwa dirinya selama ini hanyalah seorang pengganti. Kini, putri Keluarga Luandra ini harus menghadapi kenyataan dan menentukan langkah barunya.
Sampul Novel Lenyap Bersama Kenangan
8.4
Kematian Ridho mengungkap rahasia memilukan lewat buku hariannya. Selama amnesia, ia mencintai Yolanda namun dipaksa menikah demi perjodohan keluarga. Disalahkan oleh mertua atas wafatnya sang suami, sang istri yang didera rasa bersalah nekat mengakhiri hidup di batu nisan Ridho. Namun, ia justru terbangun di masa lalu, tepat saat Ridho baru pulang dari desa nelayan setelah kecelakaan pertamanya. Kali ini, ia memilih mundur dan merelakan suaminya bersatu dengan wanita pilihan hatinya.