
Menikahi Taipan Misterius
Bab 2
Di seberang telepon, seorang pria berpakaian hitam memancarkan aura seperti bangsawan dan dia memiliki wajah yang sangat tampan.
Dia tampak terkejut ketika mendengar suara seorang wanita di seberang telepon.
Keheningan berlanjut hingga Amelia merasa dia tidak dapat menunggu lebih lama lagi. Akhirnya, dia berkata, "Maaf, aku sedang impulsif. Abaikan perkataanku barusan ...."
"Masih berlaku."
Kata-kata Amelia terpotong oleh suara rendah pria itu.
Kali ini, giliran Amelia yang terkejut saat mendengar tanggapan tersebut.
Sebenarnya, dia langsung menyesal setelah menyelesaikan perkataannya.
Membatalkan pertunangan dengan Jako bukanlah hal besar, tapi menikahi Sammy Steward terasa seperti bermain api.
Dalam kegelapan, pikiran Amelia melayang kembali ke kejadian setahun yang lalu.
Pada waktu itu, malam sudah larut seperti sekarang, ketika Amelia meninggalkan rumah sakit, dia menemukan Sammy yang hampir tidak sadarkan diri di sebuah gang di sisi barat Kota Cinjang.
Amelia tidak mengetahui identitas Sammy, jadi saat pria itu menawarkan hadiah karena telah menyelamatkan dirinya, dia bercanda dan bertanya apakah pria itu akan mengabulkan semua permintaannya.
Sammy mengangguk sebagai jawaban, lalu Amelia bertanya apakah pria itu bersedia menikah dengannya.
Sebenarnya, Amelia hanya bercanda dan ingin menggoda pria itu. Dia tidak pernah menyangka bahwa Sammy akan setuju.
Namun, pertunangan Amelia dengan Jako telah diatur sebelum ibunya meninggal, jadi dia segera menjelaskan bahwa dia hanya bercanda.
Sammy mengetahui pertunangan Amelia, jadi dia tidak membantah. Dia dengan tenang mengatakan bahwa mereka akan menikah jika Amelia memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Jako. Dia mengatakan tawaran ini berlaku selama dua tahun.
Saat ini, tawaran Sammy masih berlaku.
Amelia tidak dapat mengingat bagaimana panggilan telepon itu berakhir.
Dia hanya teringat Sammy memintanya bersiap untuk menikah dalam waktu tiga puluh hari.
Amelia akan menikah dengan seseorang dan orang itu bukanlah Jako.
Lampu kamar dimatikan saat Amelia berbaring di atas tempat tidur, dia merasa lelah tapi tidak dapat tertidur.
Ketika dia hampir tertidur, serbuan notifikasi membuat ponselnya bergetar.
Sejak neneknya dirawat di rumah sakit, Amelia tidak pernah mematikan atau memasang mode senyap di ponselnya.
Dia memeriksa ponsel dan melihat foto potongan-potongan pakaian yang rusak.
Setelah mengamati selama beberapa saat, dia baru menyadari bahwa potongan kain berasal dari setelan yang dia buat untuk Jako dan baru saja dikenakan pria itu.
Sebuah pesan dari Tina menyertai foto tersebut. "Maaf, Kak Amelia. Aku tidak tahu kamu membuat setelan ini untuk Jako. Awalnya, aku pikir jas itu hanya jas biasa dan karena jas ini sangat kotor, aku memotongnya menjadi beberapa bagian untuk membuangnya. Aku harap kamu tidak marah padaku."
Kata-kata Tina terdengar arogan dan penuh percaya diri.
Ketika Amelia tidak segera membalas, Tina segera mengirim pesan lain. "Jako mengatakan dia tidak menyalahkan aku. Jas itu hanyalah sepotong kain yang tidak bernilai apa-apa."
Amelia tahu dia tidak akan bisa tidur jika mengabaikan Tina. Kalau dia tidak memberi balasan, pesan-pesan itu akan terus berdatangan.
Amelia segera mengetik balasan, "Perkataan Jako tidak salah, itu hanyalah sepotong pakaian. Aku tidak marah."
Kemudian, dia memblokir nomor Tina sebelum menyimpan ponselnya.
Amelia tidak berbohong, dia memang tidak marah.
Apalagi, situasi seperti ini sering terjadi selama dua tahun terakhir, sehingga dia sudah terbiasa.
Jika Amelia membiarkan dirinya merasa kesal setiap kali Tina mencari masalah, dia pasti sudah kehilangan akal sehat sejak lama.
Amelia berbaring kembali, tapi mendapati dirinya tidak bisa tertidur.
Sebuah pikiran terlintas di benaknya, 'Apakah Ibu akan menyesal saat melihat hidupku saat ini?'
Tina adalah anak hasil perselingkuhan ayah Amelia dan usianya beberapa bulan lebih muda dari Amelia.
Ketika ibu Amelia, Rara Davis, mengetahui keberadaan Tina, dia segera mengirimnya ke luar negeri.
Namun, beban pekerjaan yang tidak pernah habis dan tekanan emosional membuat kesehatan Rara menurun.
Ketika kesehatan istrinya semakin memburuk, Laman membawa Kiara dan Tina pulang ke rumah keluarga mereka.
Rara mengetahui semua perbuatan suaminya. Dia menyadari bahwa Amelia akan menderita jika hidup bersama ibu tiri, apalagi Laman bukanlah pria yang baik.
Untuk melindungi putrinya, Katrina membuat rencana agar Amelia menikah dengan Jaxton.
Rara berpikir keputusan ini sangat baik karena dia dan ibu Jako telah bersahabat selama puluhan tahun.
Amelia dan Jako tumbuh bersama, sementara Rara berteman baik dengan Laura. Oleh karena itu, Rara yakin Amelia akan hidup bahagia setelah menikah.
Akan tetapi, Rara tidak pernah menyangka seseorang dapat berubah seiring dengan berjalannya waktu.
Tepat sebelum ajal menjemput, Rara memanggil Jako dan mendesaknya berjanji untuk merawat Amelia dengan baik. Akhirnya, Jako berjanji di hadapan Rara dan Laura.
Perkataan Jako sangat meyakinkan, sehingga Amelia juga percaya padanya. Tapi sekarang ....
Amelia tiba-tiba terbangun saat fajar menyingsing.
Saat membuka matanya, dia melihat wajah Jako tampak marah.
Jako mencengkeram pergelangan tangan Amelia erat-erat, sehingga rasa sakit mendorongnya untuk melepaskan diri. "Kamu kenapa? Kenapa kamu tiba-tiba marah di pagi hari?" tanya Amelia.
"Amelia, apakah kamu merasa pintar? Selain mengadu pada ibuku, apa lagi yang bisa kamu lakukan?" kata Jako.
Tuduhan itu membuat Amelia mengerutkan keningnya.
Video mengenai skandal perselingkuhan telah tersebar secara daring, sehingga Laura tidak mungkin melewatkannya.
Namun begitu Jako mendengar kabar dari ibunya, dia langsung menyimpulkan bahwa Amelia pasti telah mengadu.
Amelia bahkan tidak punya tenaga untuk memberi penjelasan kepada pria itu.
Masalah ini malah memperkuat tekadnya untuk memutuskan pertunangan.
Jako menganggap sikap diam Amelia sebagai sebuah pengakuan. Dia melontarkan ucapan kasar sepanjang perjalanan menuju rumah keluarganya.
Namun, begitu mereka memasuki rumah Keluarga Waritono, Jako segera mengubah sikapnya.
Amelia memutar bola matanya saat melihat sikap Jako berubah dalam hitungan detik. Sebelumnya dia sangat buta, sehingga tidak mampu menyadari bahwa Jako hanyalah seorang pria munafik.
Anda Mungkin Juga Suka





