Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel MENIKAHI CEO KEJAM

MENIKAHI CEO KEJAM

Obsesi Jennifer pada Maximilian Jefferson, pengusaha real estate Jerman, berujung penyesalan. Awalnya ia berniat meminta maaf pada kakak korban perundungannya, namun Jennifer justru menjebak Max dalam pernikahan karena cinta buta. Meski disiksa secara emosional, ia bertahan hingga fakta kelam terungkap bahwa Max adalah dalang kematian ayahnya. Saat cinta Jennifer berubah jadi benci, Max justru mulai mencintainya. Akankah dendam memisahkan mereka selamanya?
Bab
Bagikan

Bab 3

Edgar terbelalak hampir saja mengeluarkan suara keras dengan ekspresi yang berlebihan jika tidak menyadari kalau mereka berada di tengah keramaian, "kau serius? Ini bisa jadi masalah besar jika kau membocorkannya pada media dan menjadi skandal yang merugikan untuk perusahaan"

"Aku tidak akan melakukannya, aku hanya ingin dia bertanggung jawab dan menikahiku, aku tidak mau anak ini lahir tanpa seorang ayah" Jennifer  memasang wajah menyedihkan yang membuat Edgar tersentuh tampaknya akan berhasil.

Edgar mengingat kembali istrinya yang berada di Amerika, ketika melahirkan buah hati mereka, dirinya tidak ada di samping sang istri dan itu benar benar menyesakkan, belum lagi untuk beberapa bulan istrinya itu harus mengurus buah hati mereka sendiri. Tiap kali mendapat keluhan dari istrinya Edgar selalu merasa bersalah. Dan, kini ada wanita yang mungkin akan mengalami hal serupa, tapi Edgar tidak akan membiarkannya. 

"Baiklah aku akan mengantarkan mu ke ruangannya, aku akan membantumu bicara dengan sekretaris tuan Max" Edgar tergerak untuk membantu Jennifer bukan untuk balas budi tapi dia mengiba jika seorang wanita harus berjuang melahirkan dan mengurus anaknya sendiri.

"Terimakasih Edgar" wanita itu bisa bernapas lega.

"Jangan berterima kasih dulu, aku tidak tahu akan berhasil atau tidak" sanggah Edgar.

"Ada satu hal yang ingin ku jelaskan padamu" mata Edgar menatap Jennifer dengan lebih serius, Jennifer mengerutkan dahinya tidak mengerti dengan perubahan mimik wajah Edgar. Pria itu seperti di liputi ketakutan.

"Di dalam ruangan tuan Max kau tidak boleh melewati garis merah, itu adalah area terlarang dan berbahaya" Edgar berkata dengan serius.

"Apa dia punya penyakit?" Terka Jennifer.

"Bukan, jika kau bertemu dengannya di tempat lain mungkin tak masalah dengan jarak, tapi khusus ruangan pribadinya yang itu kau tidak boleh melewati garis merah yang dia buat, sebelum gedung megah ini di bangun tanah ini dulunya adalah tempat berdirinya sekolah menengah, dan di sekolah itu pula tuan Max mendapat perundungan, aku dengar dia di kubur hidup hidup dan garis merah itu adalah tempat dia terkubur dulu, siapa pun yang melewati garis itu artinya dia menyerahkan hidupnya pada tuan Max" penjelasan panjang lebar dari Edgar membuat kepala Jennifer pusing, wanita itu masih berusaha mencernanya.

"Benarkah seseram itu? Kalau begitu dia punya trauma masa lalu, dia membuat delusi dengan patokan garis merah itu, pria bodoh!" Ucap Jennifer sambil menggelengkan kepalanya.

"Sekali kau melangkahi garis merah itu, kau menyerahkan seluruh hidupmu padanya" cetus Edgar memperingati.

"Garis sialan itu terdengar sangat konyol, hidupku hanya milik tuhan, kenapa aku harus takut pada manusia biasa, sekeras apapun seorang Max itu, dia tetaplah manusia, yang dia butuhkan bukan tumbal untuk pelampiasan kemarahannya atas masa lalu yang buruk...."

Jennifer melirik ke arah Edgar berusaha membuat pria itu meyakini kata kata yang akan dia ucapkan, "dia hanya butuh di perhatikan, di hargai, dan di cintai semua itu adalah hal yang tidak dia dapatkan dulu sebenarnya dia hanya menginginkan itu saja"

"Kau jenius, aku berharap pria sakit itu cepat sembuh" Edgar mengangguk setuju, seseorang yang tersakiti tidak harus selalu menjadi orang jahat untuk menuntaskan dendamnya.

"Bagaimana sikap dan cara dia berkomunikasi dengan orang lain saat sedang meeting atau bertemu rekan kerja? Tanya Jennifer penasaran.

"Normal saja, namun ketika marah dia sangat menakutkan" Edgar hafal sekali dengan sikap yang di tunjukkan Max di berbagai situasi, dia cenderung pendiam dan tertutup, berkharisma, juga menakutkan ketika marah, Max termasuk kasar meski dia tidak suka mengotori tangannya untuk menyakiti orang, tapi Max punya cara tersendiri yang membuat seseorang jera berhadapan dengannya.

"Sekarang aku yang bertanya padamu, jalur apa kau bisa mengandung benih tuan Max? Cinta, bermain main, uang, atau hanya sekadar one night stand?" Meski pertanyaan itu bersifat privasi namun Edgar sangat penasaran, pria seperti Max tidak mungkin asal pilih wanita yang akan di sentuhnya.

"Emmm...one night stand" kilah Jennifer, mendengarnya Edgar hanya mengangguk paham, zaman sekarang sangat lumrah melakukan one night stand.

Cukup mengobrol, mereka pun berjalan bersama menuju ruangan Max, masih di lantai satu. Ruangan kerja Max begitu elit, di depan pintu besinya terdapat papan dengan nama pria itu yang di ukir indah dari batangan emas, di seberangnya ada sebuah pintu bercat hitam yang tidak lain adalah ruang pribadi Max yang di keramatkan. Lalu ada kubikel yang lumayan besar di sampingnya, itu adalah tempat sekretaris pribadi Max.

Jennifer tidak menyangka kalau sekretaris perusahaan besar tidak memiliki tempat pribadi dan malah berjaga di depan ruangan bosnya seperti seorang resepsionis.

"Freddy, wanita ini ingin menemui tuan Max" ucap Edgar pada sekretaris itu, Jennifer hanya tersenyum kaku saat Freddy menatapnya.

"Siapa kau? Tuan Max sedang sibuk dan tidak bisa di ganggu" jawab Freddy dingin.

"Tolonglah ini sangat darurat, aku janji akan mentraktirmu seminggu ke depan jika mengizinkannya masuk ke ruangan tuan Max" Edgar merayu nya.

"Sudah ku bilang tuan sedang sibuk Edgar, kemarin aku hampir saja di gantung di puncak gedung karena mengizinkan bibi nya masuk, apalagi memasukkan orang asing aku pasti akan langsung di habisi" cetus Freddy menolak paksaan Edgar, dia sudah benar benar kapok bertindak di luar kendali boss nya.

Edgar mencondongkan tubuhnya lalu berbisik pada Freddy, "wanita itu sedang mengandung anak tuan Max"

Freddy terbelalak mendengarnya, kemudian dia melirik ke arah Jennifer , wanita itu hanya mengangguk lalu mengelus perutnya yang masih rata.

"Dia akan segera menjadi nyonya Jefferson" timpal Edgar.

"Baiklah kau bisa masuk" Freddy mudah sekali percaya dia pikir Jennifer adalah wanita spesial Max, dia pun menundukkan kepalanya di hadapan Jennifer dan membiarkannya masuk ke ruangan pribadi tuannya.

"Edgar, terimakasih kau sudah membantuku" ucap Jennifer sebelum masuk ke ruangan Max.

"Ini bukan apa apa, semoga kau berhasil memperjuangkan anakmu, dan ingat jangan melewati garis merah itu" pesan Edgar, pria itu mengusap bahu Jennifer lalu melenggang pergi untuk melanjutkan pekerjaannya.

Jennifer mengumpulkan keberanian, mengatur ritme jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya, dengan satu tarikan dia membuka pintu itu, kakinya melangkah masuk meski sedikit ragu.

Ruangan itu cukup luas dengan interior klasik yang di dominasi warna hitam dan putih, di dindingnya terpajang lukisan menyeramkan yang membuat Jennifer hampir menjerit, suasana yang gelap dan dingin memenuhi ruangan itu, beberapa langkah berjalan dia mendapati lampu gantung mewah tepat di atas kepalanya, dan di depannya kini sudah ada meja hitam dengan kursi yang memunggunginya.

Jennifer berpikir, mungkin Max duduk disana hanya saja tidak terlihat karena kursi yang lebar,  kursi itu sangat besar layaknya singgahsana seorang raja.

"Permisi" sapa Jennifer dengan sopan.

"Aku Jennifer Turner, aku ke sini untuk bertemu tuan Max, aku ingin---"

Perkataan Jennifer terpotong saat pria yang duduk di kursi besar itu berdeham, rasanya seperti baru saja terkena cipratan lahar gunung berapi, tubuh Jennifer kepanasan di ruangan dengan suhu AC yang amat dingin.

"Tidak punya sopan santun, kau datang ke tempat ini tanpa seizinku" entah bagaimana suara baritone itu membuat dada Jennifer ingin meledak. Kenapa suasananya jadi horor? Ini terlihat seperti ruangan iblis di bandingkan ruangan seorang CEO perusahaan besar.

"Maaf, tapi ada hal yang sangat penting yang harus aku sampaikan padamu" ucap Jennifer.

Lama Jennifer tidak mendapat jawaban dia pun melanjutkan kalimatnya, "aku kesini untuk meminta maaf dan menebus kesalahanku. Megan, adikmu meninggal lima bulan lalu dia menewaskan diri ketika melihatku berkencan dengan kekasihnya, aku juga merundungnya sejak SMA sampai kuliah, aku tahu orang seperti ku tidak pantas mendapat ampun tapi aku ingin menebusnya aku akan menerima apapun keputusan mu aku tidak akan tenang sebelum aku mendapat balasan atas perbuatanku"

Pria itu, Max yang duduk di kursi besar nya tertawa keji mendengar penuturan Jennifer, mata hitam nya menyorot tajam dengan kilatan amarah. Meski tak bisa melihat rupa Max karena pria itu duduk membelakangi nya namun Jennifer sedikit bingung dengan respon Max, yang tertawa kencang seolah mendengar lelucon.

"Dengan apa kau ingin menebus kesalahanmu? Uang atau hanya sekadar kata kata? Karena aku tahu kau tidak akan sanggup untuk menyerahkan nyawamu"

Mendengar itu Jennifer merasa kesungguhannya di tantang, mata nya melihat sebuah gadis merah yang tergores tepat di depan kakinya, dengan satu tarikan napas Jennifer melangkahinya.

Mata Max mengerjap setelah mendengar suara ketukan sepatu Jennifer dengan lantai marmer, instingnya sangat yakin kalau wanita itu telah melewati garis merah.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 30 Days With Mr. Vague
8.1
Rose terkejut saat tahu penculiknya adalah Louton Vague, pewaris kaya yang selama ini terlihat berwibawa. Di balik paras tampannya, Louton ternyata pria kejam dan misterius. Namun, interaksi intens selama penyekapan membuat Rose menyadari ada luka batin yang menyiksa Louton. Meski tersakiti, Rose justru merasa iba dan ingin memperbaiki sisi gelap pria itu. Kini ia terjebak dilema antara melaporkan kejahatan Louton atau mengikuti hatinya untuk terus membantu sang miliarder.
Sampul Novel CEO Bucin
9.2
Amanda, gadis panti asuhan yang sederhana, tak menyangka akan terikat pernikahan dengan CEO tampan bernama Antonio. Bukannya bahagia, Amanda justru menderita karena sikap dingin sang suami dalam rumah tangga tanpa cinta itu. Saat Amanda hampir menyerah akibat luka hati yang mendalam, Antonio justru menyadari bahwa kehadiran istrinya telah mengubahnya menjadi pria yang lebih baik. Ia pun berbalik mengejar cinta Amanda. Akankah Amanda memberi kesempatan kedua?
Sampul Novel Cinta Setelah Menikah
9.4
Bunga, wanita cantik dengan bayang-bayang masa lalu, dipertemukan dengan Rio Xen Zhin. Rio adalah CEO asal Jepang yang kaya, berwibawa, namun sangat dingin. Sosoknya sangat mirip dengan mendiang mantan tunangan Bunga yang telah tiada. Rio memutuskan untuk menikahi Bunga hanya demi membalas sebuah jasa. Di tengah pernikahan tanpa cinta ini, mampukah Bunga merelakan masa lalunya dan menghadapi kenyataan bersama pria yang memiliki wajah serupa?
Sampul Novel DIBUANG MANTAN TUNANGAN, DICINTAI MANTAN AYAH MERTUA
8.6
Reza berniat menepati janji pada sahabatnya dengan menjodohkan putranya, Krisna, dengan Vivi. Namun, Krisna justru mengkhianati Vivi dengan melamar wanita lain di hari ulang tahun gadis itu. Demi melindungi Vivi dan membalaskan rasa sakit hatinya, Reza mengambil langkah drastis yang mengejutkan seluruh keluarga. Ia melamar Vivi, mantan calon menantunya sendiri, agar wanita itu bisa merebut kembali martabat serta hak yang seharusnya ia miliki selama ini.
Sampul Novel Istri Kontrak Tuan CEO
8.4
Hidup Scarlett Piers hancur saat ayah dan ibu tirinya menjebaknya untuk dijual kepada duda tua kaya. Di tengah keputusasaan, Xanders Rilley hadir menyelamatkannya. Pengusaha dingin nan misterius itu menawarkan perlindungan, namun dengan syarat pernikahan kontrak selama satu tahun. Kini Scarlett harus memilih: menerima tawaran Xanders demi membalaskan dendam pada keluarganya, atau justru terjerumus ke dalam lingkaran masalah yang jauh lebih berbahaya.
Sampul Novel Istri Sang CEO yang Melarikan Diri
8.8
Jenessa menjalani peran ganda sebagai sekretaris sekaligus istri rahasia CEO bernama Ryan. Harapan indahnya saat hamil seketika hancur ketika Ryan justru lebih memedulikan cinta pertamanya. Merasa dikhianati, Jenessa memutuskan pergi dan menghilang. Saat takdir mempertemukan mereka kembali, Ryan terkejut melihat kehamilan Jenessa dan menuntut penjelasan. Namun, dengan penuh keberanian, Jenessa menegaskan bahwa sang mantan suami tak lagi punya hak atas hidupnya.