Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Menikahi Bu Manajer

Menikahi Bu Manajer

Prastu tidak menyangka pertemuannya dengan Erika Hana di trotoar akan mengubah hidupnya. Erika adalah manajer sukses di industri makanan yang ternyata terikat takdir lama dengan Prastu. Akibat janji yang dibuat oleh orang tua mereka di masa lalu, keduanya kini terjebak dalam ikatan pertunangan paksa. Tanpa adanya landasan cinta, mereka harus menjalani hubungan formal ini demi memenuhi wasiat keluarga di tengah kehidupan modern yang rumit.
Bab
Bagikan

Bab 3

Rasanya pagi ini datang begitu cepat. Aku tidak tahu harus memulai pagi dengan bahagia atau biasa saja. Sejak menyalakan mesin wagon kesayanganku, dadaku rasanya kacau. Sambil menunggu mesin panas, aku berpamitan pada orangtuaku. Menyalim tangan mereka. Hanya pesan untuk berhati-hati di jalan saja yang mereka ucapkan untuk melepasku sebelum masuk ke dalam wagon dan duduk di belakang setir.

Kakiku ragu-ragu menginjak pedal gas. Satu-satunya yang terbayang di wajahku adalah reaksi di wajah mungil Erika saat aku menyetor muka ke rumahnya. Membuang keraguanku jauh-jauh, aku menginjak pedal gas.

Selang sepuluh menit, aku sudah sampai di depan rumah Erika. Sebelum menapakkan kakiku ke tanah dari lantai wagon, kutarik napas dalam-dalam. Biar bagaimanapun aku harus memberanikan diri karena aku sudah bilang akan menjemputnya.

Jantungku memompa darah lebih cepat, detak nyaris terdengar di telingaku begitu kaki kananku menginjak halaman depan rumah. Erika dan kedua orangtuanya sudah menungguku di depan pintu.

Erika terlihat sangat berbeda auranya dibanding malam saat aku menemukannya di trotoar. Dia mengenakan dress coklat dengan blazer kantor. Wajahnya menjadi kosong saat mata kami bertemu. Sesekali Erika membetulkan kacamata berframe bulat.

“Pagi Om, pagi Tante!" sapaku sembari menyalim tangan mereka bergantian.

“Ayo, cepat!”

Erika melenggang begitu saja menuju wagon sebelum orangtuanya membalas sapaanku Benar-benar tidak sopan, dia pergi tanpa pamitan.

“Om, Tante, kami pamit dulu, ya.”

“Sarapan dulu!” tawar tante Gita.

“Sudah, Te,“ jawabku sambil mempercepat langkah.

“Ya sudah, titip Erika, ya!” Pesan Om Jayanta.

“Baik.”

Erika sudah duduk di kursi sebelah sopir ketika aku masuk ke wagon. Dia berkali-kali memalingkan muka, menghindari mataku. Tanpa membuang waktu lagi, aku menyalakan mesin kemudian menginjak pedal gas. Wagonku melaju pelan, menjauh dari rumah calon mertuaku.

Seperti biasa kondisi jalanan kota pagi ini padat merayap. Aku pun memelankan wagonku hingga sampai di sebuah traffic light.

“Kenapa aku harus tinggal di rumahmu?” Suara parau Erika memecah kecanggungan di dalam mobil.

“Kan udah aku bilang supaya kita bisa saling kenal.” Mataku sesekali melirik kaca spion.

“Kalau hanya saling kenal kita bisa chat, kan?”

Bisa kurasakan tatapan Erika dari samping, seperti seekor singa betina yang akan menerkamku.

“Aku punya alasan sendiri untuk itu.”

“Tanpa persetujuanku?” Nada Erika meninggi.

Lampu hijau menyala menyelamatkanku dari pertanyaan Erika. Percakapan kami berhenti sampai disitu saja hingga wagonku sampai di garasi.

Rumahku ini tidak begitu luas, ukuran minimalis dengan satu kamar tamu, satu dapur, 2 kamar tidur dan 1 kamar mandi. Rumah ini adalah rumah hasil lelang yang berhasil dibeli ayah tiga tahun lalu dan diwariskan padaku.

Begitu pintu terbuka, Erika melenggang tanpa berkata apapun.

“Kamu boleh pakai kamarku yang kamu pakai semalam, Kak.”

Erika menghentikan langkahnya. Seolah mendengar sesuatu yang salah dari mulutku.

“Kak?”

“Kamu lebih tua dariku, tidak sopan kalau aku memanggilmu dengan nama panggilan.”

“Oke.”

“Jadi, apa alasanmu ngajak aku tinggal di sini?”

Kukira dia sudah membuang jauh-jauh rasa penasarannya, akan tetapi dugaanku salah. Rasa penasaran memenuhi wajahnya.

Aku menanggalkan jaketku lalu menggantungnya pada gantungan baju di sebelah pintu masuk.

“Istirahatlah!”

"Itu gak ngejawab pertanyaanku!" teriaknya padaku yang merangsek masuk ke kamar.

Aku benar-benar tidak punya jawaban untuk pertanyaan Erika. Hanya menjalankan apa yang ada di kepalaku kemarin. Otakku kemarin buntu sehingga satu-satunya ide yang muncul adalah ide untuk tinggal bersama sebelum kami resmi menikah, alih-alih ingin saling mengenal lebih dekat satu sama lain.

Sebenarnya ini pertunangan macam apa? tanyaku dalam hati kemudian membekap wajah dengan bantal guling.

***

Dari jendela bintang-bintang terlihat sudah bermunculan di langit. Ayam kecap dan telur dadar sudah terhidang di meja makan untuk menu makan malam kami berdua.

Erika duduk berseberangan denganku. Tidak ada percakapan di meja makan. Hanya suara sendok sesekali beradu dengan permukaan piring saat meraup makanan. Erika mengunyah pelan makannya, dia terlihat menarik dan polos saja saat rahangnya melumatkan makanan di dalam mulut.

Saat aku terpesona dengan caranya mengunyah makanan, dia menelan makanan. Tangan kanannya mengangkat segelas air putih. Dia mendekatkan bibir gelas ke mulut kemudian meneguknya pelan.

Makanan itu belum sepenuhnya sampai ke perut, dia sudah beranjak dari tempat duduknya kemudian meninggalkanku sendirian di meja makan. Makanannya bahkan masih tersisa setengah piring. Sungguh Bu Manager yang tidak sopan dengan tuan rumah.

"Apa aku akan makan malam seperti ini setelah menikah dengannya nanti?" batinku.

Tanpa dibantu Erika, aku membereskan peralatan makan, merapikan meja kemudian membuang sampah. Entah apa yang Erika kerjakan di depan laptopnya, dia terlihat sangat serius. Sesekali, Erika membetulkan kacamata yang melorot kemudian kembali memelototi laptop sambil memainkan jarinya pada keyboard.

"Wanita yang berorientasi pada karir," ucapku.

Hari pertama tinggal serumah dengan Erika tanpa obrolan yang berarti.

***

Sejak kemarin pagi rasanya datang lebih cepat. Hari pertama aku dan Erika tinggal serumah. Rutinitasku seperti biasa membuaat sarapan sebelum ke kedai dan bekal makan siang. Aku juga kadang membawa sedikit lauk makan siang untuk dibagikan ke Yus dan Dita, karyawan kedai.

Kedai yang kurintis baru tiga bulan itu butuh banyak perjuangan. Tidak mudah untuk mendapatkan nama dan pelanggan.

Aku memasak udang bumbu Bali dan telur goreng untuk sarapan kali ini. Setengah porsi udang kumasukan ke dalam kotak makan siang dan setengahnya lagi kuhidangkan di meja, berikut ayam dan nasi. Kuhidangkan untuk Erika dan diriku sendiri.

“Kak, sarapan dulu!” teriakku dari meja makan.

Erika sudah rapi dengan blazer abu-abu dan didalamnya dress formal warna cokelat. Rambutnya yang panjang lurus tapi tipis dibiarkan tergerai. Dia duduk di kursi dan berhadapan dengan menu sarapan.

“Makanlah!” ajakku sambil melepas apron hitam yang kupakai.

Kami sarapan bersama setelah berdoa. Tidak ada percakapan pagi di meja makan, yang ada hanya suara sendok yang beradu dengan piring.

“Aku antar ke kantor, ya,” aku mencoba memecah keheningan.

“Gak usah!” jawabnya tegas dengan suara parau.

Suasana kembali hening. Beberapa saat setelah itu, suara klakson motor beberapa kali terdengar dari luar pagar rumah. Aku merasa sangat terganggu dan mengeceknya dari jendela. Seorang pria dengan jaket kulit dan helm full face biru menatap ke arah rumahku. Ia duduk di atas motor.

“Aku berangkat!” ucap Erika sembari keluar dari kamar menggendong tas punggungnya.

“Hati-hati!" Aku berpesan.

Aku memandangnya naik di belakang pria itu. Begitu duduk di boncengan belakang setelah mengenakan helm, dia memeluk pria itu mesra. Tidak mungkin itu driver ojek online, pasti itu pacar yang meninggalkannya malam itu.

Setelah puas dengan pemandangan itu, aku mendekat ke meja makan. Lagi-lagi sikap buruk manajer terhadap tuan rumah. Bu Manaherer itu, menyisakan makanan yang masih setengah seperti semalam. Aku menghela napas, dia bukan hanya tidak menghargaiku tapi juga makhluk hidup yang merelakan nyawanya untuk mengenyangkan perut. Terpaksa aku membuangnya juga ke tong sampah. Maaf ya, udang, telur dan nasi.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BENIH KAKAK IPAR
8.3
Nayla Maldania merasa hidupnya sempurna bersama Alvin Rayes, suami mapan yang ia cintai. Namun, kebahagiaan itu hancur saat perselingkuhan Alvin terbongkar. Di tengah luka mendalam dan kondisi hamil, Nayla justru terjebak dalam perasaan terlarang dengan kakak iparnya, Alvaro Rayes. Kini ia berada di persimpangan jalan antara mempertahankan pernikahan demi sang buah hati atau menyambut cinta tulus Alvaro. Siapa yang akhirnya akan menjadi sandaran hidup Nayla?
Sampul Novel DILEMA CINTA SEGITIGA
9.3
Marlon dan Sarah menjalani pernikahan yang hanya berlandaskan urusan bisnis semata. Di balik itu, mereka memiliki pasangan rahasia masing-masing. Sarah sebenarnya berniat menjatuhkan reputasi Marlon demi perceraian kilat, namun ia justru mulai merasa cemburu melihat kemesraan Marlon dengan Natalia. Kini, Marlon terjebak dalam situasi rumit karena istri dan kekasihnya sama-sama enggan melepaskannya. Ia pun bimbang harus memilih siapa di antara mereka.
Sampul Novel Istri Sah Hanya Dianggap Pembantu
9.2
Aluna Maheswari menderita akibat sikap dingin Renandio serta pengkhianatan keluarga besarnya. Usai menggugat cerai, ia bertemu Dion Ardianata, duda kaya yang membesarkan putranya, Elvano, sendirian. Hubungan mereka bermula saat Aluna menyelamatkan Elvano dari kecelakaan. Bocah yang merindukan kasih sayang ibu itu pun mulai melekat padanya. Meski benih cinta tumbuh, masa lalu yang kelam dan orang-orang yang iri menjadi penghalang besar bagi kebahagiaan baru mereka.
Sampul Novel JATUH DI PELUKAN LELAKI BERISTRI
9.2
Terjebak dalam situasi sulit bukanlah pilihanku, hingga takdir mempertemukanku dengan seorang pria yang menjadi penyelamat hidup. Seiring waktu, benih cinta mulai tumbuh di hatiku bagi dirinya. Sebagai wanita biasa, aku tak mampu membendung perasaan mendalam ini. Meski menyadari bahwa ia telah beristri, aku sepenuhnya siap menghadapi segala kepedihan dan konsekuensi berat yang akan menyertai perjalanan cinta terlarang ini ke depannya.
Sampul Novel Kontrak Cinta - Love Contract
7.8
Demi melunasi utang dan membiayai pengobatan sang ayah, Mahesa rela menunda skripsinya untuk bekerja sebagai pelayan kelab malam. Di sana, ia bertemu wanita mabuk yang baru saja patah hati. Tak disangka, wanita itu tiba-tiba menawarkan pernikahan kontrak sebagai solusi finansial bagi Mahesa. Meski sempat ragu, Mahesa akhirnya menerima tawaran tersebut demi keluarganya. Kini, dimulailah kehidupan penuh sandiwara antara Mahesa dan istri barunya tersebut.
Sampul Novel MENGHINDARI SUAMI TUKANG KAWIN
9.5
Sena tersadar akan memori masa lalunya setelah gagal mengakhiri hidup berulang kali. Memasuki kehidupan kedelapan, ia bertekad mengubah nasib tragisnya dengan berhenti mengejar sang suami. Sambil merawat mertua, Sena menabung diam-diam untuk bercerai karena tahu suaminya sangat pelit harta. Namun, rencana itu terusik oleh sekretaris ayah mertuanya yang dahulu membencinya, kini justru berbalik menggoda dan menawarkan bantuan untuk membalas dendam pada suaminya.