Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Menikah-Paksaan

Menikah-Paksaan

Citra Komala, gadis yatim piatu berusia 25 tahun, tumbuh besar dalam asuhan Nenek Fatma dan Tante Suly. Kehidupannya berubah drastis saat sang tante menjodohkannya dengan pria bernama Yusuf Akbar. Citra terpaksa menerima pernikahan ini demi melindungi keluarganya. Jika menolak, mereka akan kehilangan tempat tinggal karena kepemilikan rumah tersebut akan beralih ke tangan orang tua Yusuf. Terjepit keadaan, Citra harus menghadapi takdir pahit ini.
Bab
Bagikan

Bab 1

Di sebuah rumah yang sangat sederhana ada tiga wanita sedang berkumpul, mereka adalah Bu Fatma. Suly dan Citra membicarakan sesuatu yang tampaknya sangat serius.

"Keputusan sudah tidak bisa di ganggu gugat lagi, kau harus mau menikah! dengan Yusuf dalam waktu satu minggu lagi," ucap Tante Suly.

"Tapi Tante ... Citra gak kenal sama siapa orang yang akan jadi suami Citra. Gimana jadinya menikah sama orang yang tidak di kenal?" ucap Citra memelas hatinya tak menyetujui perjodohan ini.

"Nanti juga kau akan mengenalnya Citra ... Nenek yakin kau akan menemukan bahagia, hidup bersamanya akan terjamin juga. Tidak seperti sekarang atau yang sudah-sudah kita hidup susah, kau juga harus banting tulang untuk membantu tante mu." Lirih Bu Fatma sambil menarik napas dalam-dalam.

"Tapi Nek, Citra tidak yakin." Citra menunduk dalam, bagaimana pun ia tidak ingin menikah apa lagi dengan orang yang sama sekali tidak ia kenal. Apa lagi mencintainya.

Tante Suly geram. "Dasar anak tidak tau di untung, kau mau hidup di jalanan? kalau kau tidak mau menerima lamaran tuan Ikbal. Kita harus angkat kaki dari rumah ini, terus kita mau tinggal di mana ha. Apa kau tidak kasian sama Nenek kamu yang sudah renta itu ha? rumah ini sudah jadi milik tuan Ikbal. Karena kita tidak bisa membayar hutang kita."

Citra meneteskan air mata di pipinya. "Citra akan berusaha mencari kerja dan akan Aku usahakan menyicil hutang itu."

"Apa! sampai kapan Citra? rumah ini aja tidak cukup untuk melunasi hutang kita, belum lagi seandainya tapi ... amit-amit kalau Nenek sakit lagi gimana? kerja kita berdua, cuma cukup buat makan dan kebutuhan lain saja. Lagi pula kau sudah cukup usia bahkan lebih cukup. Emangnya, kau mau jadi perawan tua seperti Tante mu. Ini, ha? buka mata kamu lebar-lebar Citra .... pacar kamu saja belum siap juga nikahin kamu, apa lagi melunasi hutang kita, udah lah terima saja lamaran tuan Ikbal itu. baik kok."

Terasa di sambar petir ketika sebutan perawan tua terdengar ditelinga Citra, hatinya bagai di gores pisau, dia punya kekasih yang sangat dia cintai. Namun karena belum siap menikahi dirinya, masih santai dengan hubungan pacaran semakin membuatnya sedih. Jadi dilema bagi Citra kalau menikah dengan Yusuf bagaimana dengan kekasihnya itu.

"Sudah, jangan berisik terima saja ya Cit ..." neneknya menatap lekat wajah Citra yang basah dengan air mata.

Citra pun mendongak, membalas tatap lekat dari wanita renta yang selama ini merawatnya. Orang tuanya entah di mana dan entah masih ada atau tiada! yang jelas sudah di anggap tiada.

"Baik lah Nek Citra mau." jawaban yang terbilang singkat.

"Nah gitu dong dari tadi kek, bikin orang naik darah dulu, mau gak sih kamu itu membahagiakan kami ha?" Suly memandangi Citra yang terus menunduk.

"Mau Tante." Citra sedikit menganggukkan kepalanya yang terasa berat.

"Ya sudah tidur sana, besok kita ke rumah tuan Ikbal," suruh Suly menunjuk kamar dengan dagunya.

Citra langsung beranjak dari duduknya. "Yuk Nek. kita tidur?" Citra menuntun Bu Fatma dari kursi bututnya dan di bawa ke kamar untuk istirahat.

Suly menatap langkah Ibu dan keponakannya, setelah hilang di balik pintu, Suly pun masuk ke kamarnya dengan hati sedikit tenang.

Suly adalah adik dari Ibunya Citra, setiap mau menikah selalu gagal dengan bermacam alasan. Makanya sering disebut perawan tua di usianya yang hampir kepala empat.

Pagi hari yang cerah ini, matahari sudah menampakkan sinarnya begitu hangat, embun yang menggenang di dedaunan berkilau tersorot sinar mentari bersinar bak permata.

Kicauan burung pun saling bersahutan, menyambut dengan riang hari yang penuh dengan harapan. Dimana setiap insan berharap hari ini lebih baik dari hari sebelumnya.

Begitupun, Citra sekeluarga mengharapkan hari ini tidak sekelam hari kemarin ataupun sebelumnya. Setelah sarapan seadanya kedua wanita itu bersiap untuk berkunjung ke rumah tuan Ikbal, seharusnya merekalah yang datang namun karena sebuah kesepakatan yang menjadikan sebaliknya. Suly dan Citra lah yang harus datang untuk menyetujui lamaran mereka.

Bu Fatma memilih berdiam di rumah saja menanti kabar selanjutnya tentang cucu tercintanya, Bu fatma cuma memiliki dua putri ya itu Shera dan Suly, Shera adalah anak pertama tiada lain dan tiada bukan adalah Ibunya Citra.

Namun tiba-tiba kepalanya terasa pusing, tubuhnya yang berdiri menjadi oleng.

Bu fatma oleng. Hampir saja terjatuh, untung saja berpegangan pada dinding. "Aku harus kuat, ya, harus kuat. Tidak boleh membuat mereka khawatir."

****

Selang beberapa puluh menit. Suly dan Citra tiba di sebuah rumah mewah, yang di depannya terdapat taman bunga.

Citra di sambut ramah oleh tuan rumah seorang Ibu paruh baya berpenampilan rapi dan masih tampak cantik, di ajaknya masuk ke salah satu ruangan. "Silahkan duduk?" dengan senyuman ramahnya.

Citra dan tante Suly mengangguk, dan duduk di ruang tamu yang luas dan nyaman itu.

"Kalian mau minum apa? tanya Ibu tersebut.

"Tidak usah repot-repot Bu, kami hanya ingin bertemu dengan tuan Ikbal," sahut Tante Suly mengangguk hormat.

"Oh, tidak merepotkan kok. Tenang aja, oya suami saya lagi siap-siap sebentar juga keluar tunggu saja."

Ibu tersebut ngeloyor kebelakang untuk mengambil minum dan kuenya.

Tidak lama beliau kembali dengan nampan di kedua tangannya. "Silakan diminum dan dicicipi kue nya maaf cuma ada ini aja," ucap Ibu itu sangat ramah.

Citra dan Tante Suly mengangguk, hati Citra sedari berangkat dag-dig-dug tak karuan. Datang lah seorang Bapak paruh baya dengan dandanan sangat rapi sepertinya mau berangkat kerja.

Tante Suly dan Citra berdiri dan menjabat tangan tuan rumah, setelah itu mereka duduk bersama.

"Wah ... pagi-pagi sudah mendapat tamu terhormat nih. Apa kalian sudah lama menunggu?" ucap Ikbal.

Dengan menyunggingkan senyuman Tante Suly berkata. "Tidak, kami baru saja."

"Bu, ini loh calon menantu kita," ucap tuan Ikbal melirik istrinya. Habibah, menunjuk ke arah Citra.

"Oh ini, cantik sekali Pak! Berjilbab lagi, Bapak gak akan salah memilih istri untuk putra kita," dengan senyuman yang merekah.

Deg ... hati Citra tak menentu dan merasa malu menerima sedikit pujian dari Bu Habibah.

Tante Suly ingin membuka perbincangan dan mengutarakan apa maksud kedatangannya ke sini. "Maaf kedatangan kami kemari adalah dengan maksud ingin menyampaikan berita-"

"Saya yakin pasti berita baik yang akan anda sampaikan pada saya iya, kan?" tuan Ikbal memotong perkataan Suly.

"Iya, kira-kira seperti itu Tuan, ponakan saya menyetujui lamaran anda, Tuan," sambung tante Suly sambil menunduk dalam ....

Bersambung.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Cintanya dan Hartaku
9.7
Saat hendak menyetor uang ke bank, sebuah unggahan media sosial menarik perhatianku. Di sana, seorang netizen mengaku telah diam-diam menikahi cinta pertamanya, sementara kekasihnya yang bodoh terus mengisi rekening bersama mereka yang kini berisi 1,3 miliar rupiah. Sang netizen berencana membawa kabur uang itu setelah mencapai 1,6 miliar. Terkejut, aku langsung memeriksa saldo tabunganku. Angkanya tepat 1,3 miliar rupiah. Kenyataan pahit menghantamku: kekasihku telah mengkhianatiku demi cinta pertamanya.
Sampul Novel Gadis Bucin Dan Cowok Dingin
8.3
Cinta sering kali membutakan logika dan meninggalkan goresan luka yang mendalam di hati. Meski penuh dengan kegilaan serta rasa sakit, perasaan ini menyimpan kekuatan yang tidak terduga. Siapa yang akan menyangka bahwa cinta justru menjadi penawar paling ampuh untuk menyembuhkan segala duka? Inilah sebuah kisah tentang bagaimana keajaiban kasih sayang mampu menggetarkan jiwa siapa pun dan mengubah kepedihan menjadi sebuah kebahagiaan yang nyata bagi mereka.
Sampul Novel Gairah panas my Daddy
8.6
Aldo Bimantara merupakan pria matang dari keluarga terpandang yang tetap terlihat awet muda meski sudah memasuki usia pernikahan. Sebagai sosok sukses, ia mengelola dua cabang restoran besar yang berlokasi di Medan dan Semarang. Di balik statusnya sebagai putra konglomerat, Aldo berjuang menyeimbangkan tuntutan hidup dengan kariernya yang gemilang. Kisah ini mengikuti perjalanan hidup sang pengusaha kaya dalam menghadapi dinamika romansa modern.
Sampul Novel Hasrat liar ayah tiri
8.1
Kehadiran ayah tiri awalnya dianggap sebagai pelindung bagi gadis remaja ini. Namun, tragedi berdarah mengubah segalanya hingga ia terpaksa tinggal bersama pria itu. Di balik wajah malaikatnya, sang ayah tiri justru menjerat kepolosan putri tirinya lewat rayuan dan sentuhan nakal. Masa SMA yang lugu dimanfaatkan secara perlahan untuk mengurung sang gadis dalam cengkeraman obsesi. Hubungan keluarga pun berubah menjadi skandal terlarang yang disembunyikan dari dunia.
Sampul Novel HOT DUDA
9.6
Taran merupakan pengusaha sukses yang ingin mendukung karier musik adiknya, Kejora, setelah viral di YouTube. Ia pun mempekerjakan Resti sebagai manajer. Awalnya, hubungan mereka tegang karena Taran merasa Resti terlalu ikut campur. Namun, berkat Kejora, keduanya justru semakin akrab. Meski ada Ben yang mencoba menghalangi, benih cinta antara Taran dan Resti kian tumbuh kuat, terutama saat mereka menghabiskan waktu bersama selama berada di Bali.
Sampul Novel Jodoh yang ditakdirkan
9.3
Terpisah sejak kecil akibat perceraian, si kembar Yunara dan Lunara bertemu kembali di hari pernikahan Yunara. Lunara hadir mencari sang ayah, namun takdir justru berubah drastis bagi keduanya. Yunara terjerat dengan pria asing yang obsesif, sementara Lunara terjebak situasi rumit bersama suami kakaknya sendiri. Pernikahan Lunara yang sudah di depan mata pun hancur karena kesalahpahaman. Kini, mereka harus memilih: pasrah pada nasib atau berjuang demi cinta sejati.