Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Menikah Karena Mata

Menikah Karena Mata

Saat tirai pernikahan dibuka, Abimana terpaku melihat Maheswari. Sorot mata sang istri sangat identik dengan mendiang ibunya yang selalu menghantui mimpinya. Maheswari yang bingung hanya mengenal Abimana sebagai asisten dosen sekaligus calon suaminya melalui perjodohan. Namun, rahasia besar terungkap di malam pertama mereka: Maheswari adalah penerima donor mata ibu Abimana. Kini, Abimana terjebak konflik batin mendalam antara cinta dan kenangan masa lalu.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Saya tidak menyangka kita akan bertemu lagi dalam situasi seperti ini," ujar Maheswari tanpa basa-basi, matanya menusuk Abimana dengan tatapan yang jelas mengandung amarah terpendam.

"Percayalah, saya juga tidak menduga. Pagi tadi... ya, itu kesalahan saya. Saya tidak bermaksud menumpahkan kopi pada kemejamu," Abimana mengawali dengan nada menyesal.

"Dan tentang tawaran ganti rugi-saya hanya ingin bertanggung jawab."

Maheswari melipat kedua tangannya, tatapannya tak melunak. "Kamu pikir uang bisa menyelesaikan semuanya?"

Abimana menghela napas panjang, merasa bahwa permintaan maaf biasa tidak akan cukup untuk wanita ini. "Tidak, tentu saja tidak. Saya salah menilai situasi. Aku hanya ingin memperbaiki kesalahan."

"Kalau begitu, anggap saja ini sudah selesai," ujar Maheswari, suaranya lebih tenang tetapi masih dingin.

Maheswari berbalik untuk pergi, namun Abimana tak bisa menahan rasa frustrasinya. Kesannya seolah-olah Maheswari menutup setiap celah komunikasi, dan itu mulai memancing amarahnya.

"Jadi segitu saja?" Abimana berseru sedikit lebih keras dari yang ia maksudkan. Langkah Maheswari terhenti.

"Saya rasa permintaan maaf anda sudah cukup. Kita sudah tidak punya urusan selain urusan perkuliahan, saya pamit Pak."

Kata-katanya terasa menyengat, dan Abimana merasakan dorongan yang tak biasa. Dengan cepat, sebelum Maheswari bisa melangkah lebih jauh, Abimana maju dan tanpa berpikir panjang, ia meraih pergelangan tangan Maheswari, membuat wanita itu tersentak.

Wanita itu langsung menepis tangan Abimana, ingatlah mereka masih berada di wilayah kampus dan Maheswari tidak ingin ada gosip miring yang bisa mencoreng nama baiknya.

Abimana menatap Maheswari dengan intens, tatapannya tajam dan penuh emosi. Matanya bertemu dengan milik Maheswari, dan di sana ada sesuatu yang sulit diartikan-bukan hanya kemarahan atau kebencian, tetapi juga sesuatu yang lebih dalam.

"Apa lagi?" Tanya Maheswari dengan kesal dan tanpa sadar nada bicaranya naik satu oktaf.

"Saya tahu kamu bilang semuanya sudah selesai dengan permintaan maaf saya tadi, tapi saya tetap merasa harus bertanggung jawab. Setidaknya biarkan saya mengganti kerugianmu. Kemeja itu... saya yang membuatnya kotor."

Maheswari memutar tubuhnya perlahan, wajahnya terlihat sedikit lelah. "Kamu benar-benar tidak perlu melakukan itu. Permintaan maafmu sudah cukup. Ini bukan masalah besar, dan aku tidak mau memperpanjang urusan ini."

"Tapi aku merasa tidak enak," Abimana mendesah, setengah memohon. "Aku hanya ingin memastikan semuanya beres. Aku tidak mau meninggalkan kesan buruk di awal ini."

Maheswari tersenyum tipis, tapi senyum itu tidak sampai ke matanya. "Kesannya sudah cukup buruk, Pak. Tapi saya tidak akan mempermasalahkan hal sepele seperti ini lebih lanjut. Kalau itu yang kamu takutkan."

"Kamu pikir aku tidak tulus?" tanya Abimana, merasa ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar insiden kopi tadi.

Maheswari menggelengkan kepala, nada suaranya menjadi datar. "Bukan begitu. Aku hanya tidak mau masalah ini jadi lebih rumit daripada yang seharusnya. Kita ini... hanya mahasiswa dan asisten dosen. Tidak perlu membesar-besarkan insiden kecil."

Abimana mengangguk pelan, meskipun hatinya masih belum puas. "Baiklah," katanya akhirnya, menyerah untuk saat ini.

"Kalau kamu memang merasa sudah cukup, aku tidak akan memaksa."

Maheswari menganggukkan kepala, lalu tanpa berkata lagi, ia berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Abimana berdiri sendirian, masih dengan perasaan bersalah yang belum hilang.

Abimana menghela napas panjang. Meski kata-kata Maheswari menandakan seolah semuanya selesai, dia tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa ada sesuatu yang belum terselesaikan di antara mereka.

...

(Maheswari POV)

Maheswari melangkah cepat, berusaha melarikan diri dari perasaan yang tak diinginkannya. Suasana kampus yang mulai sepi memberinya sedikit ruang untuk bernapas.

Matanya terus menatap ke depan, namun pikirannya terus memutar ulang percakapan dengan Abimana. Langkahnya akhirnya terhenti di sebuah taman kecil di sudut kampus, tempat yang sering ia datangi saat butuh waktu untuk sendiri.

Langkah kaki wanita itu membawanya duduk pada bangku yang ada di bawah pepohonan rindang. Menatap pada dedaunan yang bergoyang mengikuti arah angin, semakin membuat pikiran Maheswari bercabang.

Kemeja yang menjadi topik percakapan dengan Abimana masih melekat pada tubuhnya. Bercak tumpahan kopi yang sudah mengering dan pudar menjadikannya gelisah.

"Kenapa aku tidak bisa begitu saja melupakan kejadian tadi?" batinnya, sambil menyandarkan punggung ke bangku. Napas panjang ia tarik, mencoba mencari ketenangan.

Dalam benaknya, terlintas kembali tatapan Abimana-tatapan yang awalnya penuh penyesalan, namun semakin lama semakin terlihat tulus. Bukan hanya permintaan maaf biasa.

Ada sesuatu di balik sorot matanya, seolah pria itu benar-benar ingin lebih dari sekadar menebus kesalahan kecil itu. Maheswari menggigit bibirnya, merasa kesal pada dirinya sendiri karena terus memikirkan hal itu.

"Apa dia benar-benar merasa bersalah, atau... ada alasan lain?" pikir Maheswari, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Tatapan Abimana terlintas lagi dalam pikirannya, membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari yang ia harapkan.

Maheswari mencoba untuk menenangkan dirinya dengan menikmati keheningan dan kesejukan taman tempatnya beristirahat sejenak. Semakin lama, otaknya kembali memutar adegan antara dirinya dengan Abimana.

Maheswari menggelengkan kepala, mencoba menepis pikiran itu. "Sudah cukup," bisiknya pada dirinya sendiri.

"Aku tidak boleh terjebak dalam hal ini. Kami hanya asisten dosen dan mahasiswa, dan itu tidak akan berubah."

...

(Abimana POV)

"Kenapa dia begitu keras kepala?" pikir Abimana. "Aku hanya ingin memperbaiki kesalahan."

Abimana menghentikan langkahnya sejenak dan mengusap tengkuknya dengan lelah. Dia memang belum lama menjadi asisten dosen, tetapi pertemuannya dengan Maheswari adalah salah satu yang paling membingungkan baginya.

Wanita itu berbeda-dia tegas, mandiri, dan terlihat tidak mau menerima bantuan apa pun dari siapa pun. Sikapnya yang dingin membuat Abimana sulit untuk mendekat, meski niatnya hanyalah untuk memperbaiki kesalahan kecil.

Ia melanjutkan langkahnya, menuju gedung fakultas, tapi pikirannya tetap terpaku pada sosok Maheswari. Setiap langkah yang ia ambil justru semakin dalam menuntunnya untuk mencari tahu lebih banyak tentang wanita itu.

Ada sesuatu tentang Maheswari yang terasa... tidak selesai.

"Pak Abimana, bagaimana hari pertama anda mengajar?" Tanya Prof. Gunandar selaku kaprodi Management.

"Syukurlah berjalan dengan baik, semua mahasiswa sangat semangat dan aktif berdiskusi," jawab Abimana dengan antusias.

"Baiklah jika berjalan dengan baik, jika butuh bantuan jangan sungkan untuk mengatakannya pada saya."

Abimana mengangguk dan tersenyum pada Prof. Gunandar yang kini sudah pergi meninggalkannya sendirian di ruang dosen.

Waktu terus berjalan menunjukkan pukul satu siang. Cuaca yang terik semakin membuat Abimana betah berada di ruangan ber AC itu.

Dirinya fokusnya ke tugas-tugas yang menumpuk di meja. Namun, saat pintu ruang dosen tiba-tiba terbuka, Abimana mendongak, sedikit terkejut. Maheswari masuk ke dalam ruangan dengan langkah cepat, tampak tidak menyadari kehadiran Abimana yang duduk di ujung ruangan. Ia jelas mencari seseorang.

"Siang Pak, apakah Pak Hery ada?" tanya Maheswari tanpa melihat ke arah lain, fokusnya hanya pada salah satu meja dosen yang kosong.

"Pak Hery sedang tidak ada," jawab Abimana, suaranya terdengar lebih lembut dari yang ia kira.

Maheswari langsung menoleh, dan ekspresi terkejutnya seketika terlihat jelas. Mata mereka bertemu untuk beberapa detik, sebelum Maheswari cepat-cepat menormalkan ekspresinya dan kembali dingin.

"Oh, Pak Abimana," ucapnya datar. "Saya sedang mencari Pak Hery. Ada tugas yang harus saya konsultasikan."

"Sayangnya, Pak Hery sedang ada pertemuan. Tapi..."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Yang Ditulis Ulang
9.3
Madelyn Jent wafat penuh sesal setelah delapan tahun pernikahan hambar dan vonis kanker mematikan. Di detik terakhir, Zach Jardin tak kunjung datang hingga Madelyn bersumpah takkan mencintainya lagi jika waktu terulang. Keajaiban membawanya kembali ke usia delapan belas tahun. Madelyn bertekad menjauhi Zach demi masa depan baru, namun takdir berkata lain. Pria itu justru muncul kembali, mendekat dengan aura intimidasi dan janji untuk menjaganya seumur hidup.
Sampul Novel Gairah Jantan Mafia Kampus
8.3
Kisah ini dirancang khusus bagi para pembaca yang pernah menjalin hubungan asmara dengan lawan jenis. Namun, mereka yang memiliki ketertarikan sesama jenis pun tetap dipersilakan untuk menyelami alur ceritanya. Siapa yang tahu jika setelah membaca narasi ini, akan muncul sebuah perspektif baru atau perubahan minat terhadap lawan jenis. Nikmati jalinan romansa modern yang penuh gairah di tengah dunia mafia kampus yang menantang dan sangat memikat.
Sampul Novel Istriku Punya Nama
7.9
Hananan, gadis mandiri berusia 25 tahun, terkejut saat mengetahui dirinya bukan anak kandung keluarga petani yang membesarkannya. Hidupnya berubah drastis ketika dijemput paksa ke sebuah rumah mewah, bukan untuk disambut hangat, melainkan dipaksa menggantikan adik kembarnya, Nazia, yang kabur demi cinta. Ia harus menikahi pengusaha kaya sebagai pengganti. Tanpa kasih sayang orang tua kandungnya, mampukah Hananan menemukan kebahagiaan sejati?
Sampul Novel Jangan salahkan aku minta cerai
8.1
Elsa menyadari Thomas memiliki keluarga rahasia dengan mantan kekasihnya. Meski berjuang keras menjaga pernikahan dari pihak ketiga, Elsa akhirnya sadar bahwa cinta yang pudar tak bisa dipaksakan. Ia pun memilih mundur dan melepaskan suaminya demi ketenangan batin. Di tengah kesendirian, seorang pria baru hadir mengusik hatinya. Kini Elsa bimbang, haruskah ia memulai lembaran baru atau menerima kembali suaminya yang tiba-tiba menyesal dan ingin bertobat?
Sampul Novel Kepentok Cinta Sang Idol
8.2
Adara adalah seorang jurnalis yang terjebak dalam masalah besar setelah dituduh menyebarkan rumor negatif tentang Benard, seorang aktor ternama. Kesalahpahaman ini membuat sang idola merasa sangat terganggu dan memojokkan posisi Adara. Namun, situasi justru berkembang ke arah yang tidak terduga saat benih cinta mulai tumbuh di antara mereka. Kini, Adara harus menghadapi dilema rumit antara karier dan perasaan cintanya kepada sang aktor pujaan.
Sampul Novel Love with my penyiarku
8.7
Muhammad Ghifarial Siregar, seorang pria flamboyan yang sangat populer, menambatkan hatinya pada sosok Ariana Martha. Meski perjalanannya dipenuhi luka mendalam dan jiwa yang rapuh, ia tetap teguh meyakini kehadiran cinta sejati. Baginya, perasaan tulus adalah takdir Tuhan yang harus diikhlaskan layaknya suara merdu di angkasa. Ia bertekad menjaga rasa yang tumbuh di relung hati agar terus mekar selamanya, hingga maut datang memisahkan mereka berdua.