Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Menikah dengan Tuan Muda Aneh

Menikah dengan Tuan Muda Aneh

Sania terjebak dalam kesepakatan pernikahan dengan Devandra Adiwiyatama demi memenuhi wasiat sang ayah. Meski ditentang keras oleh ibu Devan, Nyonya Hartati, Devan tetap memaksa Sania memenuhi kewajibannya sebagai istri untuk memberikan keturunan. Sania yang gugup tak berdaya melawan kontrak yang telah ia tandatangani. Akankah benih cinta tumbuh di tengah tuntutan ini, ataukah Devan akan melepaskan Sania setelah tujuannya memiliki ahli waris tercapai?
Bab
Bagikan

Bab 2

"Ka-kau, ce-cepat tutupi tubuhmu. Astaga!"

Deven terhuyung kebelakang sampai berpegangan pada bingkai jendela. Wajahnya memerah dengan napas yang kian memburu.

"Tuan! Tuan kenapa?" tanya Sania panik dan berjalan mendekat. Mengabaikan perintah Devan yang menyuruhnya untuk menutupi tubuhnya.

"Jangan mendekat!" seru Devan menghentikan langkah Sania, yang kini sudah berjarak beberapa Senti saja.

"Tapi, Tuan. Anda kenapa? Apa Anda sakit? Biarkan aku membantumu." Sania mencoba menawarkan bantuan.

"A-aku tidak apa-apa. Menjauh 'lah!" tuding Devan. Mengusir Sania dengan melayangkan tatapan tajam.

Devan merasa jantungnya berdebar tak karuan ketika Sania hendak mendekatinya. Wajahnya yang memerah kini mulai dialiri oleh keringat dingin. Tubuhnya bahkan bergetar hebat. Sania dapat melihatnya dengan jelas.

"Tuan, Anda berkeringat. Izinkan aku membantumu. Aku akan memapahmu ke tempat tidur. Anda harus segera istirahat dan minum obat."

Begitu yakin Sania akan pemikirannya kali ini. Berharap Devan mau menerima bantuannya. Wanita itu melangkah mendekat ke arah Devan. Dan langsung menyentuh lengannya.

Saat itulah Devan merasa seperti disengat aliran listrik. Reflek tubuhnya terjingkat dan mendorong tubuh Sania. Sehingga Sania terhuyung menjauh. Untung Sania tidak terjerembab ke lantai. Gadis itu masih bisa menyeimbangkan tubuhnya dengan baik.

"Sudah aku katakan, jangan mendekatiku. Tapi kau malah menyentuhku!" Devan berteriak dengan suara lantang. Membuat Sania bergetar.

"A-aku hanya ingin membantumu. Itu saja. Apa salah?" cicit Sania.

"Dengan berpakaian seperti itu. Kau ingin membantuku? Bukankah aku sudah menyuruhmu, untuk segera menutupi tubuhmu itu?"

Mendengar rentetan kalimat yang Devan ucapkan. Sania langsung teringat pada penampilannya. Gadis itu lantas memindai tubuhnya sendiri. Sejurus kemudian wajahnya langsung memerah, karena malu.

Sementara itu, Devan masih berusaha untuk menormalkan detak jantungnya. Dadanya terlihat naik turun tak beraturan. Dia bahkan memilih untuk memalingkan wajahnya. Tidak ingin melihat Sania yang nampak jelas kemolekannya.

***

'Ya Tuhan! Kenapa jantungku berdebar-debar seperti ini. Apa aku kena serangan jantung?' batin Devan tak karuan.

"A-apa kau ti-tidak punya pakaian lain? Selain saringan santan itu!" tanya Devan terbata. Devan bersuara setelah bisa mengontrol diri.

Namun Devan berubah jadi pria gagap. Tapi, meskipun begitu tatapannya tetap terlihat mengerikan. Ini menurut pandangan Sania saat ini.

"Ma-maaf, Tuan. Sa-saya tidak membawa baju ganti. Dan ini ... hanya ada pakaian ini tadi," tutur Sania menundukkan kepalanya.

"Ck, yang benar saja. Apa kau berkata jujur? Kau tidak sedang berbohong atau berniat menggodaku 'kan?"

Devan berkata dengan pandangan dingin. Pandangan matanya sampai membuat tubuh Sania, yang sempat meliriknya menggigil karena takut.

"Saya tidak bohong, Tuan. Sekertaris Anda tadi mengatakan, kalau saya harus memakai pakaian dinas yang sudah disediakan. Untuk ... untuk menyenangkan Tuan Devan malam ini," cicit Sania kembali menundukkan wajahnya.

"Apa?"

Devan benar-benar terperangah mendengar ucapan Sania. 'Bagaimana mungkin Reyhan menyediakan pakaian seperti itu?' batin Devan.

"Pakaian dinas katamu? Pakaian dinas macam apa seperti ini!"

"Bukan saya, Tuan. Tapi sekertaris Anda yang bilang."

Sania segera menyangkal ucapan Devan.

"Dan kamu mau mengenakannya begitu saja?"

Sania tidak menjawab, wanita itu sangat malu untuk sekedar melihat ke arah Devan. Yang mungkin saja sedang meneliti penampilannya.

"Dasar bodoh! Apa kamu tidak merasa malu? Lihatlah penampilanmu saat ini. Kau sudah sangat mirip dengan wanita penggoda." Devan mencemooh.

"Bukankah Tuan yang mengatakan, bahwa aku harus melayani Tuan malam ini. Tuan juga yang mengatakan, bahwa Tuan tidak menerima penolakan. Apa yang bisa kulakukan selain menurut.

"Apalagi sekertaris mu itu tidak menyediakan pakaian lain. Selain pakaian ini," Sania memberanikan diri untuk menatap wajah Devan.

"Dan sekarang Tuan marah, karena saya memakainya. Terus saya harus bagaimana? Apa yang harus kulakukan?" tanya Sania dengan suara bergetar.

Matanya bahkan sudah berkaca-kaca. Dalam satu kedipan saja, sudah pasti kristal bening itu akan jatuh. Menggelinding di pipi mulusnya.

"Ya Tuhan! Aku bisa khilaf kalau seperti ini," gumam Devan pelan.

"Apa Tuan? Saya tidak dengar. Apa Tuan bicara sesuatu?"

Devan gelagapan mendengar pertanyaan Sania. Padahal Devan hanya bergumam, ternyata suaranya masih bisa didengar oleh Sania.

"Tidak. Aku tidak sedang bicara denganmu." Devan berucap ketus.

'Ck, dasar Tuan aneh. Sudah jelas-jelas aku mendengarnya bicara sesuatu. Apa tadi katanya? Dia bisa khilaf? Dasar Tuan muda mesum yang sok dingin,' batin Sania mencemooh pria yang berdiri dihadapannya.

"Aku akan menghubungi Reyhan untuk membawakan pakaian untukmu."

Dengan rasa percaya diri, Devan hendak menghubungi sekretarisnya itu. Sementara Sania hanya diam saja. Masih dengan posisi yang sama. Berdiri seperti patung.

'Apa dia tidak berniat menyuruhku duduk?' gumam Sania dalam hati.

Wanita itu merasa kakinya pegal, karena belum sempat duduk ataupun mengistirahatkan diri, sedari tadi.

***

Devan nampak gusar karena teleponnya sedari tadi tidak diangkat oleh Reyhan.

"Brengsek! Dimana Reyhan sebenarnya? Kenapa teleponku tidak diangkat olehnya?"

Devan mengumpat dan menggerutu meluapkan kekesalannya. Karena Reyhan mengabaikan panggilannya. Sania yang melihatnya hanya meringis.

"Tuan, mungkin Tuan Reyhan sudah istirahat. Ini 'kan sudah larut malam. Jadi, mungkin saja dia sudah tidur."

Sania memberanikan diri untuk bicara. Mendengar ucapan gadis di hadapannya. Devan langsung mengecek jam yang ada di layar ponselnya. Ternyata benar, jam sudah di angka 23.45. Hampir tengah malam.

Devan hanya bisa menghembuskan napas frustasi. Dia benar-benar kesal.

"Mungkin Reyhan benar-benar sudah tidur. Seperti ucapanmu. Kalau begitu, kau juga ... tidurlah!" titah Devan pada Sania.

Tapi, Sania terlihat bingung. Gadis itu juga nampak gelisah. Devan yang tak sengaja melihatnya, jadi memicing.

"Kenapa?" tanya Devan.

"Mm, saya tidur dimana, Tuan?"

Kembali Devan menghela napasnya. Memandang ke arah Sania yang masih berdiri di hadapannya. Bukannya memberikan jawaban. Tapi, Devan malah asyik memperhatikan penampilan Sania.

'Dia seksi sekali.' Pikiran Devan memuji keindahan yang terlihat samar. Pandangan matanya meneliti tubuh Sania, yang berada dibalik pakaian dinas. Yang kata Devan saringan santan.

Semua tindakan Devan tertangkap oleh mata Sania. Gadis itu nampak risih dibuatnya.

'Tapi, bukankah dia suamiku sekarang. Akan sangat berdosa bila aku menolak untuk dilihat.' Sania bermonolog dalam hati.

Dia ingin melayangkan protes saat Devan terus menatapnya. Tapi, ingat seperti apa hubungan mereka sekarang. Sania jadi mengurungkan niatnya.

"Tuan, saya tidur dimana?"

"Hah! Apa?"

Devan gelagapan saat Sania kembali mengajukan pertanyaan, perihal tidur.

"Saya harus tidur dimana, Tuan Devan? Apa ... kita tidur satu ranjang?" tanya Sania hati-hati.

Devan beralih menatap ke arah tempat tidur. Ranjangnya sangat luas, rasanya tidak mungkin jika Devan menyuruh Sania tidur di tempat lain. Meskipun di dalam kamar ada sofa panjang. Ya, Sania memang bisa tidur di sana. Jika Devan ingin tidur terpisah.

Tapi, mereka 'kan sudah sah menjadi suami istri. Kenapa harus tidur terpisah. Tidak masalah 'kan, jika mereka tidur satu ranjang. Hanya tidur, bukan melakukan hal lainnya.

'Tapi, aku dan dia sudah menikah. Mau melakukan apapun. Itu tidak masalah 'kan. Sah-sah saja. Aish, apa yang aku pikirkan.'

Devan menggelengkan kepalanya, untuk menghalau pikirannya yang tiba-tiba liar.

"Tuan Devan kenapa? Tuan sakit?" Sania bertanya dengan wajah heran. Karena melihat tingkah Devan.

"Ah, ti-tidak. Aku tidak apa-apa." Devan menjawab dengan gugup.

"Benarkah?"

"Ah, lupakan saja. Kau bisa tidur di ranjang."

"Lalu, Tuan bagaimana?"

"Aku bisa tidur di ... di ... sofa. Ya, aku bisa tidur di sofa."

Devan bicara dengan penuh keyakinan.

"Baiklah kalau begitu. Selamat malam, Tuan. Selamat beristirahat," ucap Sania.

"Hm."

***

Detik telah berganti menit Sania sudah terlelap di bawah selimut. Sedangkan Devan, pria itu masih terjaga. Dia sendiri yang memutuskan untuk tidur di sofa. Dia juga yang kelimpungan.

"Kenapa tidak nyaman sekali." Devan menggerutu.

Pria itu beberapa kali membalikkan badannya. Tapi, masih saja tidak bisa memejamkan mata. Itu karena sofa yang digunakan untuk tidur, panjangnya tidak sesuai dengan tubuhnya.

Posisi yang tak nyaman membuat Devan merasakan nyeri di bagian tengkuk. Lelaki memijat tengkuknya yang terasa pegal.

"Ya Tuhan! Bagaimana aku bisa tidur jika seperti ini?" keluh Devan frustasi.

Devan melirik ke arah ranjang dan melihat Sania yang sudah terlelap.

"Lihatlah dia. Betapa nyenyak tidurnya. Sementara aku ... diriku tersiksa berbaring diatas sofa sialan ini." Devan menggerutu.

"Tunggu ... Dia sudah tidur 'kan? Itu berarti aku bisa pindah dan tidur di sana. Lagian ranjang itu sangat luas. Kenapa aku membiarkan dia menguasainya sendirian.

"Bukankah disini aku Tuannya? Kenapa aku harus terasingkan seperti ini. Apa-apaan aku ini. Sungguh bodoh!"

Berkali-kali Devan merutuki dirinya sendiri. Betapa tidak, bukankah Devan menikahi Sania untuk kepentingannya. Kenapa Devan malah bersikap seperti ini. Bisa-bisa Devan membuat Sania besar kepala.

Tidak-tidak, itu semua tidak boleh terjadi. Akhirnya Devan berjalan menuju ranjangnya. Dia juga lelah dan ingin tidur dengan nyenyak.

"Persetan dengannya. Aku lelah. Aku yang menyewa kamar ini. Bukan dirinya, jadi buat apa aku memikirkan perasaannya. Toh, kami juga sudah menikah 'kan?"

Tak ingin peduli dengan keberadaan Sania. Devan memilih untuk segera membaringkan tubuhnya. Pria itu mulai memejamkan mata.

Satu menit

Dua menit

Satu jam telah berlalu. Devan sudah terlelap dan pergi ke alam mimpi. Dalam keadaan tidak sadar, baik Devan maupun Sania tidur dengan posisi seenaknya.

Satu kaki Sania bahkan sudah bertengger di pinggang Devan. Keduanya tidur saling berhadapan. Wajah keduanya begitu dekat. Sejuknya udara karena mesin pendingin ruangan, membuat dua insan itu saling merengkuh. Mencari kehangatan dan kenyamanan. Hingga sinar mentari pagi terbit dari persembunyiannya. Dua insan itu masih asik terlelap.

***

Bersambung ....

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ayahku, Penjahat Terbesarku
8.1
Zayden Alaric Veyra adalah pengusaha sukses sekaligus pemimpin organisasi Raven yang ditakuti. Meski dikelilingi wanita, hatinya tetap hampa hingga ia terpikat oleh Kaela Seraphine di sebuah pesta. Namun, Kaela bukanlah gadis biasa; ia memiliki misi rahasia untuk memburu sosok Raven. Saat takdir mempertemukan mereka dalam misi berbahaya, ketertarikan pun muncul. Kini mereka terjebak antara perasaan cinta yang tumbuh atau tuntutan dunia gelap untuk saling menghabisi.
Sampul Novel Ceo itu ayah anakku
9.1
Queen Azalea berusaha keras melupakan Sean Alexander, pria masa lalu yang menolak putri mereka karena takut memikul tanggung jawab. Namun, takdir mempertemukan kembali sang CEO dominan itu dengan Queen. Saat Sean tak sengaja bertemu Lilly, ia merasakan ikatan batin yang kuat. Di tengah pengejaran Sean, rahasia pilu terungkap: Lilly mengidap kanker darah. Sean pun memohon kesempatan untuk menebus kesalahan dan menjadi ayah sejati di sisa waktu berharga putri kecilnya.
Sampul Novel Cinta Om Duda
7.9
Rehan Hadinata adalah CEO sukses sekaligus duda dengan satu anak yang merindukan kasih sayang wanita. Meski banyak yang mengejarnya, tak ada satu pun yang berhasil memikat hatinya. Suatu hari, ia mencoba aplikasi kencan daring dan tertarik pada sosok bernama Nesya Cintia Ayu. Rehan pun memberanikan diri untuk mengirimkan pesan dan memulai perkenalan. Akankah interaksi mereka berkembang menjadi hubungan yang lebih serius dan penuh komitmen di masa depan?
Sampul Novel DENDAM SANG CEO
9.6
Bram, CEO angkuh yang gagal move on dari Melisa, berencana menghancurkan Adam dengan memanfaatkan adiknya, Agni. Bram berpura-pura mencintai Agni hingga berhasil mendapatkan segalanya, namun niat busuk itu akhirnya terbongkar. Meski awalnya hanya ingin balas dendam, benih cinta tulus justru tumbuh di hati Bram. Sayangnya, Adam menentang keras hubungan ini karena sejarah persaingan bisnis mereka. Kini Agni terjepit antara perjodohan dengan Alan atau memilih Bram yang egois.
Sampul Novel En-PD153
8.9
Mantan kekasihku yang kukira telah tiada tiba-tiba muncul membawa wanita hamil yang disebut penyelamatnya. Dia secara tak masuk akal memintaku tinggal bersama mereka dan menawarkan upacara pernikahan sebagai kompensasi sementara ia menikahi wanita itu. Sebagai putri bangsawan dan menantu keluarga konglomerat, aku tak sudi dijadikan selingkuhan. Jika dia menolak hidup mewah, aku akan memastikan dia kehilangan segalanya hingga menjadi pengemis.
Sampul Novel Istri Idaman Tuan Ares
8.1
Perjodohan paksa merupakan fenomena klasik yang kerap membebani siapa pun, terutama jika harus bersatu dengan orang asing tanpa landasan cinta. Beban berat inilah yang kini menghimpit hidup Ares dan Anggun. Meski hati menolak, mereka terjebak dalam situasi yang tidak memberikan celah untuk melarikan diri. Keduanya terpaksa menghadapi komitmen yang tak diinginkan, di mana alasan apa pun tidak cukup kuat untuk membatalkan ikatan pernikahan tersebut.