
Menikah Demi Perceraian
Bab 2
"Ha?!"
Mengulurkan tangan, Reva menarik lengan Vero, mengguncangnya pelan beberapa kali. "Ayo, cerai!" rengeknya.
"Kamu sakit, ya?" Vero mengernyitkan kening, bertanya sembari melabuhkan telapak tangannya di permukaan kening Reva.
Reva berdesis pelan seraya menyingkirkan tangan Vero, lalu menggenggamnya agar tetap diam. "Aku gak sakit."
"Kalau gak lagi sakit, berarti kamu lagi ngelindur."
"Aku serius, Uncle. Ayok cerai."
Vero menatap Reva, tidak percaya. "Kita baru nikah hari ini, Rev."
"Maka dari itu. Mumpung baru sehari, jadinya belum banyak yang kita lakuin. Ayok cerai, hemm?"
Memejam, Vero memijat pelipisnya yang mulai berdenyut nyeri untuk beberapa saat. "Tidur. Ini udah malem. Kamu butuh banyak istirahat biar gak rewel."
Vero membenarkan selimut yang membalut tubuh Reva, lantas memberi tepukan pelan di permukaan bahu istri cantiknya itu secara berulang. Ia memejam, kemudian.
"Uncle, aku beneran serius. Ayo cera-"
Reva tidak diberi waktu untuk kembali merengek, meski sempat memberi guncangan lagi di lengan Vero, sebab suami tampannya itu kembali membuka mata, sembari menarik paksa tangannya sampai menubruk kepala ranjang pun Vero tahu-tahu sudah berada di atasnya, mengikat kuat kedua pergelangan tangannya.
"Bisa diem, gak?"
Manik mata jelaga indah Vero menyalang, menatap lekat pada tekstur wajah Reva.
Mata Reva membola. Suara tegukan ludahnya sampai terdengar, membersamai raut wajahnya yang memetakan kegugupan.
"Kamu tuh nganggep pernikahan itu semacem permainan atau apa, sih?" Vero bertutur dengan dingin, diiringi tatapan penuh intimidasi, sedang air mukanya merah padam, syarat akan keseriusan.
Reva menelengkan kepala ke kanan, tidak kuasa bersitatap dengan Vero dalam jarak sedekat ini, sebab membuat degup jantungnya berpacu cepat.
"Bersikap sedikit dewasa, bisa gak?"
Iris hitam itu masih menilik wajah cantik Reva, lekat. "Kenapa diem?"
"Kan Uncle tadi yang nyuruh aku diem," tukas Reva dengan begitu lugunya sembari mempertemukan pandangan dengan Vero.
Vero memejam sesaat. "Kamu kenapa tiba-tiba ngajak cerai?"
"Eummm. I-Itu-" Reva menjawab takut-takut, bahkan memutuskan kontak mata lagi dengan Vero untuk yang kesekian kali.
"Itu apa? Bukannya kamu bilang mau cepet-cepet nikah? Sekarang udah nikah, kok malah mau cerai?"
"Iya, emang. Emang iya, aku mau cepet nikah, tapi aku gak pernah bilang, kalau aku mau nikahnya sama Uncle!" Reva memberanikan diri menatap Vero dengan matanya yang melotot.
Alih-alih seram, tatapannya itu malah terlihat begitu menggemaskan, matanya yang besar, terlihat mirip seperti bola mata rusa.
Vero sampai harus menahan bingkai birainya agar tidak merenggang, karena tidak mau tersenyum tiba-tiba, saat situasinya seharusnya terasa menegangkan.
Menundukan pandangan, pribadi tampan itu mengatupkan bibir rapat-rapat, untuk sesaat, lantas mengangguk, gamang. "Tapi kan, kamu bilang nikahnya sama siapa aja. Asal secepetnya."
Reva berdehem canggung. "Eumm, iya sih. Tapi-"
"Tapi apa?"
Reva menelan ludahnya kasar dengan susah payah. "Aku jadi ngerasa gak nyaman, Uncle. Mungkin karena belum terbiasa, harus bobok berdua sama cowok."
Vero mengangguk paham. "Ok. Terus?"
Reva mengulum bibir bawahnya sesaat. "Jadi ... bisa gak, kita pisah kamar dulu?"
"Kamu ngusir saya?"
Reva buru-buru menggeleng. "Enggak."
"Terus?"
Diam memaku beberapa saat, Reva lantas berdehem singkat. "Pokoknya aku mau pisah kamar, kalau enggak ayok cerai!"
Mengatupkan bingkai birai setelah berucap, Reva tidak sadar saja, jika atensi Vero sudah terpikat dan terfokus hanya di permukaan bibirnya, selepas sempat ia kulum sebentar tadi.
Bergerak seperti menggunakan efek slow motion, terlihat merah merona, tipis juga manis, ingin sekali Vero terkam dengan segera, meski sempat dicoba seusai pengucapan janji suci pernikahan siang tadi.
"Bukannya tadi gangguin saya tidur itu, kamu nawarin diri, biar cepet-cepet saya unboxing?" Vero bertanya sembari mengalihkan pandangan, dari yang semula menatap bibir Reva, kini menatap wajah cantik sang istri.
Tatkala semburat merah itu menyembul, menandakan Reva sedang tersipu, Vero tersenyum miring, mendekati menyeringai.
Reva berdehem kikuk. "Aku kan cuman bercanda."
"Tapi saya nganggepnya serius."
Perkataan Vero sebenarnya sudah lebih cukup untuk membuat Reva terkejut, ditambah dengan tindakan yang dilakukan pribadi tampan itu, Reva jadi diam mematung dengan mata yang membola.
Betapa tidak, tanpa memberi sedikit pun waktu bagi Reva untuk melakukan paling tidak persiapan, Vero dengan cepat tiba-tiba mendekatkan wajah, lantas meraup bibir tipis Reva.
Reva terkesiap, membersamai persendian di sekujur tubuhnya yang menegang, sementara debaran jantungnya mengalami percepatan.
Pelupuk mata wanita cantik itu mengerjap cepat beberapa kali, sebelum kemudian berhenti bekerja.
Merasakan tidak ada sedikit pun pergerakan yang sang istri lakukan, selepas membiarkan permukaan bibirnya bertemu dengan bibir Reva, Vero lantas menarik diri.
Tersenyum senang, Vero mengecup singkat bibir sang istri sekali lagi. "Napas, Rev."
Mengerjap cepat, Reva mengembuskan napas yang sebelumnya sudah tanpa ia sadari ia tahan dengan satu kali hentakan kasar.
Manik mata wanita cantik itu gemetar, bersirobok dengan manik jelaga indah milik Vero yang menatapnya gemas. "U-Uncle abis ngapain?"
Tersenyum simpul, melepaskan cekalannya pada kedua pergelangan tangan Reva, Vero lantas beringsut, mendudukan diri tepat di samping tubuh istri cantiknya itu.
"Unboxingnya lain kali aja," tukas Vero dengan begitu santainya.
"U-Uncle barusan nyi-nyium aku?!" Reva memekik saat kenyataan itu akhirnya berhasil memukul keras benak, membuatnya menyadari, apa sebenanya yang baru saja dialami.
Vero terkekeh. "Iya. Kenapa? Gak boleh?"
Deru napas Reva memburu, tatkala wanita cantik itu ikut mendudukan diri, tanpa mengalihkan sedikit pun atensi, membiarkan manik mata hazel indahnya menyalang, menatap Vero dengan tatapan tajam, sedang wajahnya sudah begitu memerah, antara tersipu juga memendam marah dalam satu waktu.
Melihat reaksi yang Reva tunjukan, Vero terkekeh sinis, juga menatap istri cantiknya yang kini duduk saling berhadapan dengannya itu dengan tatapan mencibir. "Sok-sok'an minta diunboxing, dicium gitu doang aja langsung panik," ejeknya sembari membangkitkan diri.
"Uncle mau ke mana?" Reva buru-buru meraih pergelangan tangan sebelah kiri Vero, membuat pergerakan suami tampannya itu terhentikan seketika.
"Mau ke luar. Katanya kan tadi kamu gak nyaman tidur bareng saya."
"Abis nyium aku, Uncle mau pergi gitu aja gitu? Ninggalin aku?" Reva menatap garang wajah tampan Vero yang tampak begitu tenang, sedang dirinya tengah dilanda kekesalan.
Mendengkus sembari tersenyum menyeraingai, Vero menaikan alis sebelah kirinya, sedang matanya dibiarkan memicing, menatap Reva, penuh telisik. "Kenapa emang? Kamu mau saya ngelakuin hal lebih ke kamu?"
Rona merah yang sempat memudar di wajah Reva, kembali singgah, mendengar Vero bertanya dengan memberikan kesan sedikit menggoda.
Reva berdehem sembari mengalihkan pandangannya dari Vero, sekilas, kemudian menggeleng cepat. "Enggak, kok. E-enggak gitu."
"Terus kalau gak gitu, gimana? Kamu jangan bikin saya bingung, Rev."
Mendengkus kesal, Reva menepis tangan Vero dari genggamannya. Bibirnya mencebik lucu. "Ya udah, pergi sana."
Melihat Reva merajuk dengan kepala yang tertunduk, tidak mempertemukan pandangan dengannya, sedang bibir istri cantiknya itu masih mencebik, Vero tersenyum.
Lantas pribadi tampan itu mendudukan dirinya lagi, bahkan mencondongkan tubuhnya ke arah Reva, sebelum kemudian dengan pergerakan cepat, kembali mencuri kecupan di bibirnya.
Reva terkesiap, sontak menengadah dan menarik diri dari Vero.
Mendapati Vero tengah menatapnya sambil tersenyum senang, Reva mendaratkan pukulan di permukaan bahu sebelah kanan suami tampannya itu. "Uncle jadi aneh kalau udah nikah!"
Vero terkekeh. Menegakan posisi duduk, ia mengusap puncak kepala Reva lembut, penuh kasih. "Tidur sana. Ini udah malem."
Reva menepis kesal pergelangan tangan Vero. "Uncle aneh!"
Menatap Reva dengan tatapan lekat untuk beberapa saat, Vero lantas mengalihkan pandangan, membangkitkan diri lagi dari duduknya. "Kalau kamu butuh sesuatu, saya ada di ruang tamu."
Reva membiarkan manik mata hazel indahnya yang menyalang mengikuti setiap gerik yang Vero lakukan, menatap pribadi tampan itu berjalan menuju pintu utama dari kamar yang saat ini tengah ditempatinya.
Membuka pintu, sebelum mengayunkan tungkai untuk ke luar, Vero menghentikan langkah, lantas menoleh ke arah Reva. Ia tersenyum. "Selamat malam, Manis."
"Uncle aneh! Ih! Pokoknya nyebelin!"
Tidak menggubris ocehan Reva, Vero melenggang melewati ambang pintu, lantas kembali menutupnya.
Berdiri di depan pintu kamar, mendengar Reva tak henti-hentinya mengoceh di dalam sana, Vero tersenyum miring, lantas mengusap pelan permukaan bibirnya menggunakan bantalan ibu jari.
Terkekeh, pribadi tampan itu menggeleng tidak percaya. "Dia rewel, tapi gemesin."
Anda Mungkin Juga Suka





