
Mengasuh CEO amnesia
Bab 3
Episode 3/ Pemalsuan kematian sang ceo.
Aurora masih sangat kesal dengan tingkah Roberto yang masih tidak mau mengaku jika dia memang mesum.
"Maling mana ada yang berani ngaku, jika para maling mengaku, maka penjara sudah pasti akan penuh!" Kesal Aurora.
‘’Kamu ini memang gadis keras kepala, padahal Saya sudah mengatakan jika saya bukan pria mesuk! bukan pria mesum!’ kamu paham kan dengan ucapan saya!’ sergah Roberto yang berusaha mengelak.
‘’Cih, mengaku saja! Tidak ada gunanya juga Tuan berbohong karena memang ada bukti jika CEO seperti Anda ini memang mesum!’’ kesal Aurora, setelah itu ia malah tersenyum sinis.
‘’Hei! Apa buktinya hah! Menuduh seseorang tanpa bukti bisa di kenakan pasal berlapis nantinya, kamu bisa saja saya tuntut di pengadilan bahkan kamu bisa saja saya masukkan ke dalam penjara!’’ elak Roberto.
‘’Tuan mimisan karena tidak bisa menahan diri ketika melihat tubuh saya!’’ jawab telak Aurora yang membuat Roberto terdiam seribu bahasa.
‘’Tapi ….’’
Namun ketika yang bersamaan turun beberapa orang dengan menggunakan pakaian anti api dari tangga, Roberto menarik kembali tubuh mungil Aurora untuk masuk ke dalam toilet. Tubuh kekar Roberto menghimpit tubuh Aurora di dinding toilet, posisi mereka sangat dekat. Ketika Aurora hendak berkata tangan Roberto menahannya, ia memberikan isyarat untuk tetap diam.
‘’Shtt, kamu lihat dua pria di luar sana!’’
Tatapan Aurora pun tertuju kepada kedua pria yang seakan tengah mencari sesuatu, namun mata Aurora terbelalak sempurna ketika bongkahan kayu besar hendak jatuh dan menghantam tubuh Roberto.
Dengan cekatan Aurora menginjak keras kaki kiri Roberto, ia menarik tubuh kekar itu agar tak terkena dengan bongkahan kayu yang bisa mencelakai CEO dingin ini.
‘’Kamu ingin membuat kita ketahuan apa!’’ kesal Roberto.
‘’Bukan, bukan begitu …’’
Belum sempat Aurora mengatakan apa yang sebenarnya telah terjadi, kedua pria itu langsung menghantam tubuh besar Roberto dengan menggunakan palang kayu.
‘’Awhg! Siapa kalian hah!’’ teriak Roberto yang berusaha bertahan.
Pertarungan pun tak bisa terelakkan lagi, Roberto berusaha melawan kedua pria tersebut, dan Aurora berusaha berpikir bagaimana caranya ia bisa meminta bantuan.
‘’Cih! Kenapa ponsel ini malah tidak bisa di gunakan ketika sedang dalam keadaan terdesak begini!’’ kesal Aurora, ponsel jadulnya mendadak mati karena kehabisan baterai.
…..
‘’Roberto!’’ pekik Aurora ketika ceo itu tersungkur di lantai.
Aurora melangkah mendekat untuk menahan kedua pria tersebut agar tidak menghabisi nyawa Roberto.
‘’Biarkan saja mereka berdua, bos. Tidak perlu kita mengotori tangan kita untuk membunuh dia, biarkan kobaran api ini saja yang membuat dia berpindah alam. Sebaiknya kita pergi sebelum polisi memeriksa ruangan ini, kita harus meninggalkan tempat ini dan menghilang tanpa jejak!’’ sarannya.
‘’Hmm, benar juga kamu. Sekarang nikmatilah pembalasan kami keponakan sialan!’’
Kedua pria itu langsung keluar dan meninggalkan Aurora yang berusaha membopong tubuh kekar Roberto.
‘’Cihh! Tubuh pria ini sangat berat sekali!’’ kesal Aurora.
Roberto sudah pingsan dan kobaran api pun semakin besar, untungnya Aurora masih bisa berpikir positif, ia mengambil kain dan membasahi kain itu.
‘’Sialan! Jalan depan sudah tidak bisa di lewati!’’ kesal Aurora.
Ia pun memutar kembali otaknya, dan teringat dengan kedua pria tersebut, Aurora berusaha menggendong tubuh kekar Roberto. Setelah berjuang sepuluh menit agar bisa selamat dari kobaran api, mereka berdua berhasil lolos.
Aurora menjatuhkan tubuhnya di samping tubuh Roberto yang sedang pingsan, ‘’Huff, kenapa kamu sangat berat sekali!’’
Aurora memperhatikan lebih dekat wajah Roberto, ‘’Rasanya aku pernah melihat wajah ini, tapi dimana yah?’’ pikirnya.
Ketika masih sibuk berpikir keras apakah mereka berdua memang pernah bertemu sebelum ini, kedua pria yang menyerang Roberto terlihat sedang berbincang dengan seseorang.
‘’Tenang saja Tuan besar, dia sudah pasti mati karena kobaran api di dalam sana, lagian polisi tidak akan menemukan jejak kita,’’
‘Siapa mereka? Dan kenapa hendak mencelakai pria ini?’ pikir Aurora, nasib baik ia dan Roberto di tutupi oleh rerumputan ilalang.
‘’Bagus, pastikan besok kalian berdua membuat berita kematian tentang dia dan pastikan juga tidak akan menimbulkan kecurigaan dari pihak kepolisian, paham!’’
Kedua pria tersebut memberikan anggukan, bos besar yang mereka sebut langsung masuk ke dalam mobil, kedua pria tersebut melepaskan pakaian anti apinya, dengan samar-samar Aurora bisa melihat wajah kedua pria tersebut.
Hachim!
‘’Suara apa itu?!’’
Aurora lantas menutup mulutnya, ‘Jangan sampai mereka berdua melihatku di semak-semak ini! Oh tuhan selamatkan lah hamba!’
‘’Sudah, kita harus pergi sekarang! Polisi akan datang untuk menginvestigasi tempat ini, kita tidak boleh berada di tempat ini,’’ cegah temannya.
Akhirnya kedua pria itu melangkah pergi dan Aurora pun bisa bernafas lega.
‘’Huff, hampir saja.’’
…..
Keesokan paginya, semua siaran di stasiun televisi di ambil alih oleh keluarga konglomerat gemini group, mereka akan memberikan pengumuman penting perihal kebakaran di malam valentine.
[Bagaimana dengan kabar Tuan muda? Rumornya Tuan muda masuk ke dalam kobaran api untuk menyelamatkan seorang gadis, apakah Tuan muda dan gadis itu berhasil selamat? Atau tidak? Mohon konfirmasinya,]
‘’Memang benar Tuan muda masuk kembali ke dalam ruangan yang sudah terbakar, namun setelah di selidiki oleh pihak kepolisian hanya di temukan satu nyawa pria yang sudah tidak bisa di investigasi siapa dia, dan kami semua menyimpulkan jika Tuan muda telah meninggal dunia,’’
Kericuhan pun terjadi di sela-sela rapat penting, banyak dari mereka yang tidak percaya jika Roberto, pewaris tunggal sudah meninggal dunia.
[Tapi … apakah sudah di pastikan jika mayat yang di temukan oleh pihak kepolisian memang mayat dari tuan muda? Dan bagaimana dengan gadis itu? Dimana keberadaannya sekarang?]
Pertanyaan dari wartawan pun di tutup, keluarga Roberto meninggalkan podium, sementara wartawan masih meminta kepastian apakah memang benar berita menggemparkan ini jika Tuan muda sudah meninggal dunia.
….
Di tempat yang berbeda, Aurora berada di rumah sederhananya, ia pun ikut menyaksikan berita penting di pagi ini.
Aurora menatap kepada Roberto yang masih belum sadarkan diri, ‘Apa sebaiknya ceo ini aku rahasiakan keberadaannya? Mungkin mereka orang-orang yang mengincar nyawa ceo ini, oleh sebab itu mereka semua membuat pengumuman pemalsuan kematian dia,’ pikir Aurora.
'Tapi tidak mungkin jika pria ini terus bersamaku, aku saja hidup pas-pasan di kota besar, bahkan untuk memenuhi kebutuhan hidup ku saja, sudah kesulitan,"
‘’Awhg,’’
Aurora lantas melangkah mendekat, ‘’Kamu sudah bangun!’’ pekik bahagia Aurora.
Mata Roberto perlahan terbuka, ‘’Dimana ini? Dan siapa kamu?’’
‘Apa jangan-jangan dia hilang ingatan karena pukulan keras di bagian belakang kepalanya?’
~Bersambung.
Anda Mungkin Juga Suka





