Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mencintai Gadis Amnesia

Mencintai Gadis Amnesia

Waktu belasan tahun bersama Amelia tak mampu menumbuhkan rasa di hati Adib. Ia justru jatuh hati pada Adiba, gadis amnesia yang ditolongnya enam bulan lalu. Meski ditentang orang tua dan ditekan keluarga Amelia, Adib tetap ingin menikahi Adiba. Sang ibu memberi syarat: Adib harus menemukan keluarga kandung Adiba dan siap menanggung segala risiko. Mampukah Adib memperjuangkan cintanya dan bertahan saat badai besar mulai mengancam kebahagiaan mereka?
Bab
Bagikan

Bab 1

“Menikah sama Amel, atau kamu enggak usah balik ke rumah Mama.” Satu kalimat to the point yang diucapkan Aisyah saat pertama kali teleponnya diangkat, membuat sang putra menggeram di tempatnya. Dia langsung mengeratkan pegangan pada benda elektronik yang masih menempel di telinga kanannya.

Lelaki beralis tebal itu mengembuskan napas panjang. “Mama, masa kalimat pembukanya seperti itu? Tidak ada niat menanyakan kabar anaknya, gitu?” keluhnya seraya memijit pelipis. “Aku juga sudah lama tinggal terpisah sama Mama, ya kali tidak rindu?”

Karena sejak tahun pertama menjadi dosen, dia pindah ke salah satu rumah kontrak di dekat kampus. Selain mempertimbangkan lokasinya yang lebih dekat dengan kampus, daripada jarak dari rumahnya, sedikit banyak tuntutan Aisyah yang menginginkannya segera menikah juga ikut menjadi pertimbangan. Secara tidak langsung, dia menghindari tuntutan sang mama dengan kabur.

“Apakah pantas kamu bertanya seperti itu sama mamamu sendiri? Harusnya Mama yang tanya! Mau sampai kapan kamu mengelak dari Mama, Adib? Mama pusing mikirin kamu. Makin tua kok makin enggak bisa diatur? Disuruh nikah aja susah. Sudah begitu, jarang pulang ke rumah mamanya. Sudah merasa tidak punya mama kali, ya?”

Embusan napas lelaki itu kian gusar. Posisi duduk yang semula tegak, berubah sedikit condong ke depan. Dia menumpu kepala di meja kerjanya. Ekor matanya menatap ke sekeliling, memastikan tidak banyak orang di sana. Beruntung sekali suasana kantor cukup lengang. Karena memang saat itu masih waktunya para dosen mengisi materi di kelas masing-masing. Para staf yang biasanya siaga di kantor, entah sedang ke mana.

Cukup lama waktu berlalu dengan keheningan, akhirnya Adib buka suara karena sang mama yang terus menuntutnya. “Mama, aku lagi di kampus. Aku minta tolong sama Mama, kalau mau bicara soal itu, nanti, ya. Aku akan pulang ke rumah Mama, kita bahas di sana.” Meskipun sudah kesal saat kalimat pembuka telepon sang adalah kalimat menyebalkan itu lagi, Adib memang harus bisa menahan diri untuk tidak lepas kendali. Karena selain kondisi yang tidak tepat—sebab masih berada di tempat kerja—Adib tidak ingin pembicaraan dengan mamanya itu kembali berakhir dengan perdebatan seperti yang sudah-sudah.

“Enggak ada bantahan. Mama sudah kepalang kesal sama kamu. Mumpung anak durhaka yang super sibuk ini sedang kedatangan setan putih untuk mengangkat telepon mamanya sendiri, Mama enggak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, atau kamu akan kabur lagi dan susah dihubungi.”

Sekali lagi Adib memijat pelipis. Ekspresi yang tampak di wajahnya yang terbilang rupawan meski dengan warna kulit sawo matang, adalah kusut. Kentara sekali bahwa dia enggan dengan pembahasan yang digiring oleh sang mama. Meskipun pada satu sisi ada rasa bersalah karena memang dia sering mengabaikan pesan dan telepon wanita itu. Ya, demi tidak mendengar tuntutan untuk segera memiliki pendamping hidup, Adib bahkan sampai seperti itu.

“Kenapa diam? Kamu sudah sadar kalau apa yang Mama bilang adalah benar, kan?”

Adib menegakkan tubuh tetapi tidak menjawab pertanyaan sang mama. Dia malah menatap laptop yang masih menyala karena pekerjaannya belum selesai. Yakin bahwa pembicaraan dengan Aisyah ini akan memakan banyak waktu, lelaki yang bekerja sebagai tenaga pendidik di salah satu kampus swasta itu perlahan menutup operasi benda itu. Yang lebih penting saat ini adalah meredakan emosi sang mama. Jadi, dia memang harus mengesampingkan sebentar pekerjaannya. Lagi pula dia memang sudah tidak mempunyai jadwal mengajar setelah ini. Pekerjaan tadi bisa dikerjakan di rumah.

“Ahmad Adib Al-Faroby, kamu dengar Mama bicara, kan? Kenapa malah diam saja?”

Adib menghela napas. “Iya, mamaku sayang. Aku dengar. Ini aku lagi siap-siap untuk pulang ke rumah Mama. Kita akan bahas permintaan Mama yang satu itu.” Adib memasukkan laptop hitam itu ke dalam ransel berwarna hitam pula. Dia rapikan beberapa buku dan jurnal yang berserakan, menumpuknya di satu tempat khusus yang ada di sudut meja. Terakhir, setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, dia melangkah untuk keluar dari kantor Fakultas Tarbiyah itu.

“Awas saja kalau enggak datang. Nanti Mama penggal lehermu biar tahu rasa.”

Adib meringis tanpa suara. Mamanya ini kalau sudah marah, sadis juga. Sangat bisa membuat bulu kuduk merinding. “Kalau aku dipenggal, Mama enggak bakal punya mantu, lo. Alih-alih punya mantu, anaknya pun mungkin bakal tidak ada.”

Aisyah mendengkus keras. “Sembarangan kalau ngomong. Kalau ada di depan Mama, sudah Mama pentokkan ke pintu tuh kepala kamu.”

Lagi, Adib meringis tanpa suara. Dengan spontan dia menggigit bibir mendengar kata-kata mamanya yang kian sarkasme. “Mama, tenang, Ma. Tidak usah emosi begitu, ya. Ini aku kan sudah mau pulang ke rumah Mama.”

“Mama begini juga karena kamu! Mama kesal sama kamu yang hobi berkelit terus kalau Mama ngomong.” Adib beristigfar dalam hati. Jika saja tidak ingat akan siapa dan jasa apa yang telah wanita itu lakukan untuknya, sudah pasti Adib memarahinya habis-habisan. Mood-nya sedang buruk, tetapi dipaksa untuk berdebat. Apalagi kata-kata yang selalu Aisyah ucapkan penuh penekanan dan tidak mau dibantah.

“Berkelit bagaimana, sih, Ma? Perasaan aku tidak ada benarnya di mata Mama.”

“Ya karena kamu selalu membantah Mama. Coba enggak membantah, pasti Mama enggak akan sebegininya sama kamu.”

Mama, oh, Mama. Kenapa makin menjadi-jadi, sih?

“Pak Adib masih ada kelas?” sapa Pak Alka ketika berpapasan dengan Adib di depan pintu. Dosen yang juga mengajar di Fakultas Tarbiyah itu baru saja datang dari kelas—usai mengisi materi. Adib yang tampak sedikit melamun meski kakinya terus melangkah itu lantas mengalihkan pandang ke arah dosen tersebut. Dia kemudian menggeleng sambil tersenyum, memberi isyarat kalau sedang menerima telepon.

“Pamit, ya, Pak,” pelan Adib seraya menjauhkan ponselnya dari telinga. Pak Alka mengangguk maklum, kemudian berlalu menuju dalam kantor. Sedangkan Adib, terus melangkah menuju parkiran dengan panggilan yang masih terhubung dengan Aisyah. Tentunya dengan omelan-omelan yang wanita itu ucapkan sepanjang perjalanan.

Begitu sampai di tempat mobilnya terparkir, Adib membuka pintu kemudian duduk di belakang kemudi. Dia pejamkan matanya untuk menetralisir kekesalan. Membiarkan sambungan teleponnya terhubung dengan Aisyah tanpa pembicaraan apa pun. Tentu saja Adib lelah. Saat memilih untuk fokus dengan dunia karier terlebih dahulu yang baru menginjak tahun ketiga, Aisyah selalu memaksanya untuk segera menikah. Apalagi dengan perempuan yang sama sekali tidak diinginkannya.

“Adib! Kamu ke mana? Kenapa diam saja?”

Anak semata wayang Aisyah itu membuka mata, kemudian menghela napas. “Mama Aisyah, Mama sudah tahu dengan apa yang aku inginkan sekarang, ‘kan? Aku mohon sama Mama, berhenti menuntut aku. Bisa, kan, Ma? Aku lelah dipaksa-paksa terus seperti ini, Ma. Apalagi Mama memaksakan Amelia untuk jadi istriku. Aku lebih kenal Amel daripada Mama. Dari zaman SMP aku dan dia sudah berteman malah.”

“Harusnya itu malah bagus. Kalau kamu tahu bagaimana Amelia, lebih nyaman buat kamu dan dia menjalani pernikahan kalian.”

Adib menutup pintu mobilnya yang ternyata masih terbuka. Beruntung belum ada kendaraan yang akan keluar. Kalau saja ada, sudah pasti dia ditegur oleh pengendara lain. Menyamankan posisi duduknya sebentar, dia lantas menjawab sang mama, “Justru itu yang buat aku menolak, Ma. Tolong, ya, Ma. Jangan paksa aku menikah dengan Amel. Aku sama sekali tidak ada rasa apa-apa sama dia.”

“Urusan cinta itu belakangan, Dib. Yang penting itu kenyamanan. Cinta bisa datang kapan aja.”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Asisten Pribadi CEO Dingin
9.7
Elena, desainer berbakat, terpaksa menunda mimpinya demi menjadi asisten Arion, CEO startup yang dingin. Meski awalnya sulit menghadapi sikap kaku sang atasan, Elena mulai menemukan sisi hangat Arion. Saat skandal besar mengancam perusahaan, Elena beraksi heroik membongkar pelaku sabotase. Kedekatan ini memicu perasaan cinta Arion, namun Elena terjebak dilema besar antara mengejar asmara atau mewujudkan ambisi agensi pribadinya yang sempat tertunda.
Sampul Novel Black White Life
9.5
Zee Rain adalah gadis konglomerat yang terjebak dalam kesepian di balik kekayaan melimpah. Hidupnya penuh cobaan akibat perebutan kekuasaan licik yang berdampak buruk pada banyak pihak. Di tengah konflik harta tersebut, hadir bumbu asmara yang mewarnai perjalanan hidupnya. Akankah misi balas dendam dan pengungkapan fakta rahasia mampu mengakhiri penderitaannya? Ikuti perjuangan Rain dalam mencari kebahagiaan sejati di tengah misteri yang menyelimuti keluarganya.
Sampul Novel Dipaksa Open BO
8.7
Amira, seorang gadis remaja berusia tujuh belas tahun, terjebak dalam penderitaan akibat ulah ayah tirinya yang sangat kejam. Demi meraup keuntungan materi, pria tersebut tega memaksa Amira menjadi pemuas nafsu dan mengeksploitasinya tanpa ampun. Di tengah tekanan fisik dan mental yang luar biasa, mampukah Amira menemukan jalan keluar dari lingkaran setan ini? Ikuti perjuangan hidup Amira yang penuh rintangan dalam menghadapi nasib kelam yang menjeratnya.
Sampul Novel Fatal Attraction: Jatuh Cinta dengan Target
9.6
Sebelum usia 26, aku adalah penipu ulung tanpa empati yang mahir memikat pria demi uang. Bagiku, mereka hanyalah mangsa hingga Dylan Hewitt muncul. Reputasiku hancur karena tipu dayaku gagal menaklukkannya. Saat aku hampir menyerah, Dylan justru menunjukkan jati diri dan perasaan yang selama ini dia sembunyikan. Terjebak dalam situasi tak terduga, aku kehilangan kendali atas permainanku sendiri. Dylan benar-benar mengubah hidup dan hatiku selamanya.
Sampul Novel Jangan Pernah Mengkhianatiku
9.0
Arvella Siregar melarikan diri dari kekejaman suaminya, Rivan, hingga tersesat di hutan dan diselamatkan oleh Kael Mahendra yang misterius. Di sana, ia bergabung dengan kelompok ahli untuk belajar bertahan hidup dan menjadi tangguh. Arvella mengungkap fakta bahwa kematian orang tuanya adalah konspirasi jahat, bukan kecelakaan. Bersama Kael, ia kini bersiap keluar dari hutan untuk membalas dendam dan mengungkap asal-usulnya meski nyawa menjadi taruhan utama.
Sampul Novel Pernikahan Karena Dendam
8.3
Sheila terperangkap dalam ikatan pernikahan yang menyiksa akibat kesalahpahaman mendalam. Sang suami, Kaisar Andelon, menikahinya hanya sebagai sarana membalas dendam atas tragedi kematian orang tuanya di masa lalu. Namun, seiring waktu berjalan, satu per satu kebenaran yang tersembunyi mulai terkuak ke permukaan. Sheila harus bertahan di tengah kebencian Kaisar sementara realitas sebenarnya perlahan mengubah segalanya dalam hubungan mereka yang penuh luka ini.