
Mencintai dia
Bab 3
Apakah kamu bakal membenci saya jika kamu mengetahui kalo ustadz Adnan sudah melamar saya
-Aisyah
Sampai dirumah Aisyah kami pun turun dari mobilnya Adnan pun ikut turun dari mobilnya dia melihat ada om Hardi kenapa dia gak bilang kalau dia datang ke Yogyakarta, yah dia mengenalinya karena papah Syifa bersahabatan dengan abinya Adnan
"Assalamu'alaikum om" ucap salam Adnan sembari Mencium tangan om Hardi
"Wa'alaikumussalam loh kok kalian bisa sama nak Adnan sih" tanya papah gw yang bingung karena tadinya kita jalan sendiri dan pulangnya diantarkan oleh Adnan
"Tadi kebetulan ketemu dijalan om" jawab Adnan dengan tersenyum membuat memperlihatkan lesung pipinya
"Loh kok papah tau sih dia ini ustadz Adnan" sembari menaikkan kedua alisnya
"Ya tau lah sayang dia itu anak dari sahabat papah dari kecil" jelas om Hardi lalu gw mengangguk saja
"Om kapan datangnya kenapa gak bilang saya kalo om datang Abi saya selalu nanyain kabar om loh" ujar ustadz Adnan
"Alhamdulilah kabar om baik gimana kabar abimu itu" balas om Hardi
"Alhamdulilah Abi saya baik om, oh iya saya pamit om takutnya umi daya nyariin om tau kan umi saya gimana"
"Om titip salam buat abimu bilangin juga kalo anak om besok bakal sekolah di pesantren milik abimu"
"Iya nanti saya sampaikan om saya pamit om assalamu'alaikum" ucap salam ustadz Adnan belum saja Adnan masuk ke dalam mobilnya dia sudah di panggil oleh Syifa
"Tunggu ustadz" panggil Syifa membuat Adnan berhenti melangkah dan berbalik arah tubuhnya ke belakang
"Ada apa" sembari mengerutkan keningnya membuat semua orang yang berada disini bingung kenapa Syifa memanggil Adnan kembali
"Jaket ustadz gimana" kata gw
"Seterah kamu dikembalikannya kapan yasudah saya permisi assalamu'alaikum" ucap salam Adnan
"Wa'alaikumussalam" jawab salam bersamaan kemudian Syifa tersenyum-senyum sendiri
"Hayo kenapa senyum sendiri" Rani yang baru datang langsung menyenggol bahu Syifa membuat dia tersadar dari lamunannya
"Hmm... Enggak mah aku ke kamar dulu yah" pamit gw kemudian berjalan menuju kamar
"Maaf ga aku belum bisa bicara sama kamu jika aku sudah dilamar oleh ustadz Adnan apakah kamu bakal membenciku jika suatu saat nanti kamu tau kalo kami segera menikah" batin Aisyah
"Bu, pak saya masuk ke dalam dulu" izin Aisyah lalu keduanya membalasnya dengan anggukan dan tersenyum
"Anak kita kenapa sih pah senyum-senyum begitu" tanya mamah yang sedikit agak kepo jika ini bermasalah dengan putrinya
"Dia senyum karena dia antarkan oleh Adnan mah"
"Loh bukannya Adnan itu anak dari Kiai Sahlan Mahfudz kan" sembari mengangkat kedua alisnya
"Ya benar tapi papah cuma takut jika Nanti Syifa tau kalo Adnan sudah melamar Aisyah sejak dulu papah cuma gak mau kalo nanti putri kita sakit hati mah" lirih om Hardi dia bingung harus bagaimana caranya agar putrinya tidak sakit hati jika dia tahu kalo orang yang dia suka sudah melamar saudaranya sendiri
"Iya pah kalo anak kita tau gimana yah pah apa kita kasih tau ke Syifa aja sebelum dia mencintai lebih dalam lagi dengan Adnan" saran Rani
"Sudahlah kita tidak usah terlalu ikut campur dengan urusan remaja mending kita ke dalam sambil ngopi-ngopi" ajak om Hardi sambil menggandeng tangan istrinya
"Genit banget sih gak ingat udah tua pah masih aja kaya anak ABG" sindir rani
"Gapapa lah mah yang penting kita bahagia ayo kita masuk ke dalam gak baik diluar mulu" kemudian mereka pun masuk ke dalam rumahnya sembari menggandeng tangan istrinya dan tersenyum senang
Esok hari kami sudah ingin berangkat menuju ke pesantren sedangkan gw sedang membereskan barang-barang gw ke dalam koper setelah itu keluar dari kamarnya menuju ruang tamu yang sudah pada menunggu
"Udah siap semuanya" tanya papah gw yang sudah siap berangkat menuju pesantren
"Siap dong" Syifa sudah bersemangat untuk bertemu dengan calon imamnya yaitu Adnan Iyah dia belum mengetahui jika Adnan sudah mempunyai calon istri
"Bentar kamu kenapa pakai pakaian begini nak" ujar mamah gw yang melihat pakaian gw yang hanya memakai baju dress diatas paha gw
"Udah sih gapapa males aku make baju seperti Aisyah gerah tau gak" dumel gw untuk menolak memakai baju seperti Asiyah
"Dek kita itu mau ke pesantren bukan mau ke club' gimana sih lu" omel bang Dika
"Seterah gw sih komentar aja kalo gak terima sama pakaian gw yaudah gak usah jadi aja ke pesantrennya
"Sudah-sudah biarkan saja Syifa seperti itu Nani juga dia berubah di pesantren" om Hardi menyudahi perdebatan mereka berdua
"Kami pamit dulu yah rum nanti dari pesantren kami langsung pulang gak mampir ke rumah kamu dulu" pamit mamah gw sembari bersalaman dan berpelukan
"Iya gapapa kok hati-hati yah dan" ujar Rumi
"Saya dan keluarga pamit yah" balas papah gw dengan tersenyum
"Saya juga pamit juga bi" kata bang Dika sambil mencium tangan bibinya setelah itu kami pun berangkat menuju pesantren sampai disana kami dilihatkan oleh para santri dan gw pun berpikir ngapain sih ngelihatin sampai segitunya emang ada yang aneh yah dasar matanya jelalatan gw menghiraukan tatapan mereka langsung saja mengikuti papah gw yang sudah berjaln menuju rumah Kiai Sahlan Mahfudz sampai didepan rumahnya kami pun disambut oleh keluarganya
"Assalamu'alaikum" ucap salam keluarga gw
"Wa'alaikumussalam" jawab salam Abi & uminya Adnan yang sudah membuka pintu rumahnya dan berwajah senang
"Gimana kabar kamu kaysa" tanya mamah gw sembari bersalaman dan memeluk uminya Adnan
"Alhamdulilah kamu gimana kabarnya ran" jawab kaysa
"Alhamdulilah baik" ujar mamah gw
"Ternyata mereka sudah lama mengenalnya" batin Aisyah
"Ayo masuk dulu ngobrolnya didalam aja" ajak Abi Adnan kemudian kami pun masuk ke dalam rumahnya dan duduk di sofa
"Ada apa nih kamu ke sini" tanya Kiai Sahlan yang sudah duduk di sofa
"Kami ke sini untuk mengantarkan anak kami sekolah dipesantren ini" jawab papah gw
"Anakmu yang mana Aisyah atau gadis yang satu ini" sembari menunjukan kedua gadis yang sudah duduk didepannya
"Ini putri kami Syifa dan Aisyah itu keponakan kami" ujar papah gw dengan tersenyum
"Ini anak mu ran masya Allah cantik sekali gak nyangka loh dulu masih kecil Adnan selalu membujuk kamu untuk ke rumah kamu terus" balas umi kaysa lalu gw hanya tersenyum
"Masa sih umi ustadz Adnan nanyain kabarku terus" kata gw
"Iya loh nak dia selalu nanyain kamu terus waktu kamu sudah kembali ke Jakarta" ucap umi kaysa
"Kami titip putri kami yah lan kalo dia bandel omelin aja biar dia kapok" pesan papah gw
"Apa sih pah masa sama anaknya gitu sih"
"Pak Kiai kasih hukuman yang berat aja tuh sama adik say biar kapok juga" adu bang Dika
"Ini lagi Abang awas aja kalo gak ada gw pasti kesepian deh" lawan gw semuanya hanya tertawa berbeda dengan Aisyah yang sedari tadi hanya diam saja dia bingung harus jawab apa lagi
"Aisyah kamu ajak nak Syifa ke kamar kamu nanti Syifa tidur bareng kamu aja yah" perintah umi
"Baik umi kalo begitu kami pamit dulu ke pesantren" Aisyah bernjak dari duduknya dan berpamitan ke semua orang yang berada disini
"Pah mah bang aku pamit yah jangan lupa nanti jemput aku ke sini lagi yah" ujar gw sembari mencium tangan kedua orang tua gw kemudian pergi ke pesantren menuju kamar santri Wati sampai di kamar pun gw melihat ada kasur cuma hanya 2 masa iya gw tidur bareng mereka berempat
"Assalamu'alaikum" ucap salam Aisyah
"Wa'alaikumussalam" jawab salam teman kamarnya
"Kamu sudah balik Syah kamu bawa siapa cantik sekali" tanya salah satu santri disini
"Baru tau gw udah cantik kali dari lahir" sindir gw mereka hanya tersenyum saja
"Oh ini saudaraku namanya Syifa" Aisyah memperkenalkan Syifa kepada temannya
"Kenalin saya Tika" Tika mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan dirinya
"Gw Syifa" gw menolak jabatannya
"Kalo saya Rika salam kenal yah" sembari mengulurkan tangannya tapi ditolak oleh Syifa
"Oh iya Syah gw tidur dimana" tanya gw yang melihat hanya ada 2 kasur
"Kamu tidur dengan saya 1 kasur karena disini hanya ada 2 kasur jadi 1 kasur 2 orang" jelas Aisyah
"Yaudah gw mau beres-beres dulu" gw memasukkan baju gw ke dalam lemari mereka pun ikut membantu menilapkan pakaian Syifa untuk dimasukkan ke dalam lemari
"Sini biar saya bantu"
"Makasih"
"Loh baju kamu gak ada yang tertutup gitu" tanya Tika yang melihat pakaian Syifa yang tidak tertutup semua
"Kenapa tadinya mamah gw masukkan baju gamis ke dalam koper gw tapi gw pindahin lagi aja deh ke lemari gw di Jakarta" jawab Syifa
"Yasudah kalo begitu aku pinjamkan baju saja untuk kamu" ujar Rika
"Gak usah gw belum terbiasa sama pakaian seperti kalian" menolaknya
"Yasudah tidak apa-apa nanti juga terbiasa kok" balas Aisyah dengan tersenyum dan kembali membantu Syifa menilapkan pakaiannya.
"Jangan mencintai seorang wanita hanya karena kecantikan parasnya saja, karena anakmu tidak membutuhkan seorang ibu yang cantik. Akan tetapi mereka membutuhkan seorang itu yang mampu mendidiknya menjadi lebih baik"
"Jika engkau menginginkan seorang wanita yang baik maka jadilah seorang laki-laki yang baik pula. Karena sesungguhnya jodoh adalah cerminan dari diri kita masing-masing"
-Ustadz Adnan
Di sepertiga malam seluruh santri sudah bangun untuk sholat tahajud berjamaah di masjid sementara Syifa masih tertidur pulas teman-temannya sudah membangunkannya tapi tetap saja dia belum bangun dengan cara apa lagi mereka membangunkannya Aisyah pun sama sudah membangunkan saudaranya tapi dia tetap tidak bangun-bangun
"Fa ayo bangun nanti kita telat loh sholatnya" Aisyah mengguncang-guncangkan tubuh milik Syifa
"Engghhh gw masih ngantuk tau gak sih" sembari menutup telinga gw dengan bantal
"Tapi fa nanti kamu bisa diomelin sama Ustadz Adnan nanti" bujuk Aisyah masih saja Syifa tidak mendengarkannya
"Udah lu aja sana nanti gw nyusul" usir gw dengan kebohongan agar mereka keluar dari sini
"Yang benar nih fa" tanya Tika
"Benar udah ah sana lu pada ke masjid nanti diomelin mau luh" gw menakuti mereka agar semua pada kabur dan gw pun berhasil membuat mereka kabur dari sini
"Yasudah kita ke masjid dulu yah fa jangan lupa nanti ke masjid yah oh iya mukenamu sudah ada dilemari kamu bisa pakai mukena aku saja" pesan Rika dengan tersenyum
"Engghh" kemudian mereka pun pergi keluar dari kamar ini akhirnya Syifa bisa main hp juga tanpa gangguan mereka kalo ada mereka pasti curiga lagi berabe deh urusannya nanti
"Mana sih akun Ig ustadz Adnan kok gak ada sih" dumel gw sendiri sembari mengutak-atik hp gw mencari nama Ig ustadz Adnan sampai-sampai dia tidak tau jika ada seseorang yang masuk ke kamar ini dia adalah pengawas pesantren yaitu ustadz Adnan lalu dia merebut hp milik Syifa membuat dia kaget jika hp nya diambil
"Sampai kapan pun kamu mencari akun saya di social media gak akan ada" sembari mengambil hp milik Syifa yang sedari tadi mengutak-atik HP-nya
"Ehh ustadz ngapain ustadz disini" gw seperti kepergok yang sedang nonton film aneh
"Kamu kenapa gak sholat kayra" tanya ustadz Adnan
"Hmm sa...yaaa... Lagi datang bulan Abang ustadz" jawab gw dengan gugup
"Abang ustadz" sembari mengangkat kedua alisnya yang bingung kenapa murid yang satu ini memanggilnya Abang ustadz apa dia tidak tau jika ustadz nya sudah memiliki calon istri dan apakah dia gak mikir gimana perasaan calon istrinya nanti
"Itu panggilan kesayangan saya ustadz ku kalo ustadz sendiri kenapa manggil saya kayra kenapa gak Syifa aja" sembari mengangkat kedua alisnya
"Iya seterah saya lah lagian bagusan nama kayra dari pada Syifa oh iya Kamu gak sedang bulan kan jawab jujur saja memangnya kamu mau mendapatkan dosa jika kamu berbohong" jelas ustadz Adnan
"Ehh... Enggak mau lah ustadz ok saya Jujur saya lagi nggak datang bulan ustadz" ujar gw yang hanya cengengesan
"Kamu tau kan kalo ada seorang santri yang tidak ikut sholat dia akan mendapatkan hukuman" tegas Adnan sembari memegang rotan yah dia setiap mengawasi santri lainnya pasti selalu membawa rotan untuk membangunkannya
"Ttt...iidak abang ustadz" sembari menundukkan kepalanya dan Hugo karena melihat Adnan yang sudah memegang rotan ditangannya
"Segera siap-siap untuk pergi ke masjid dan setelah pulang dari masjid datang lah ke rumah Kiai Sahlan hp mu saya sita assalamu'alaikum" ucap salam ustadz Adnan yang sudah keluar dari kamar ini
"Oh my good gimana nih hp gw disita lagi nanti kalo followers gw berkurang gimana lebih baik gw ke masjid dulu aja deh dari pada kena hukuman lagi" gumam gw kemudian mengambil mukena di lemari dan berlari-lari ke masjid yang sudah hampir penuh disana dan gw memilih duduk disamping Aisyah dan yang lainnya
"Alhamdulilah Akhirnya kamu datang juga" kata Aisyah dengan tersenyum senang
"Gw juga ke sini karena hp gw disita tuh" ucap gw dengan nada kezel
"Hp mu disita siapa fa" tanya Tika yang sedikit agak kepo
"Tuh Abang Ustadz" jawab gw
"Abang ustadz siapa fa" ujar Tika
"Ihh dodol masa lh gak tau sih ustadz Adnan itu loh" balas gw dengan menjitak kepalanya
"Maaf fa aku gak tau hehe" sembari cengengesan
"Udah mau mulai jangan berisik" perintah Aisyah kemudian kami pun mengerjakan sholat tahajud setelah itu mendengarkan ceramah dari ustadz Adnan bagi Syifa isi ceramahnya seperti menyindir dirinya
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh" ucap salam ustadz Adnan
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh" jawab salam semua jama'ah
"Puji syukur atas kehadiran Tuhan alhamdulilah saya masih bisa ceramah lagi dan disini saya ingin ceramah tentang kewajiban menutup aurat dan batasannya" ujar ustadz Adnan
"Bilang aja mau nyindir gw" balas gw dengan masih kezel HP-nya diambil olehnya
"Gak boleh benci fa nanti kamu suka loh" sindir Rika sedangkan Aisyah ia hanya terdiam padahal dia sakit hati jika saudaranya menyukai lelaki yang sama
"Siapa juga yang benci memang gw suka sama dia tapi gw benci sama sifatnya" ujar gw
Dari pengharapan muncul -macam dugaan yang berakhir keraguan.
Jika memulai dari ragu, maka kita akan selalu berusaha memantapkan hati agar ragu itu hilang, dibarengi dengan kesabaran, kepastian pun datang. Pahit manis kepastian itu, hati akan lapang menerima.
Kepastian itu adalah batang yang menjadi ujung, sedang menunggu adalah kata yang belum tentu.
Ada saatnya aku lelah menunggu kepastian dan pergi meninggalkan penyesalan.
Penyesalan akan selalu datang diakhir, karena kalau diawal namanya pendaftaran. Makanya segera beri kepastian, biar gak menyesal kemudian.
-Kayra Naadhifa Syifa
"Jika melihat kehidupan masyarakat di sekitar, banyak kita jumpai kaum wanita keluar rumahnya dengan tidak mengenakan jilbab, atau bahkan memakai rok mini yang mengumbar aurat mereka, begitu pula kaum pria, banyak di antara mereka tidak menutup aurat.
Anehnya, keadaan itu dianggap biasa, tidak dianggap sebuah kemaksiatan yang perlu di ingkari. Seakan menutup aurat bukan sebuah kewajiban dan membuka aurat bukan sebuah dosa. Bahkan sebaliknya, terkadang orang yang menutup auratnya di anggap aneh, lucu dan asing. Inilah fakta yang aneh pada zaman sekarang. Kenapa bisa seperti itu ? Jawabnya, karena jauhnya mereka dari agama Islam sehingga mereka tidak mengerti apa yang menjadi kewajiban termasuk kewajiban menjaga aurat.
Oleh kerena itu, pada kesempatan kali ini, kami akan mencoba membahas tentang kewajiban menutup aurat, batasan-batasanya dan siapa yang bertanggung jawab menjaganya ?
PENGERTIAN AURAT DAN KEWAJIBAN MENUTUPNYA.
Aurat adalah suatu angggota badan yang tidak boleh di tampakkan dan di perlihatkan oleh lelaki atau perempuan kepada orang lain. [Lihat al-Mausû’ah al Fiqhiyah al Kuwaitiyah, 31/44] Menutup aurat hukumnya wajib sebagaimana kesepakatan para ulama berdasarkan firman Allâh Azza wa Jalla:
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Katakanlah kepada orang laki–laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allâh maha mengatahui apa yang mereka perbuat.” Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.
Anda Mungkin Juga Suka





