
Menantu Dari Kota
Bab 3
Jam setengah enam pagi, Shafiya pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan dapur. Mertuanya sibuk di sawah, sementara Gandi menemui Marwan--juragan sawah di desa ini.
Agak rempong, say. Shafiya memakai baju sabrina crop top lengan panjang warna hitam. Untuk bawahan dia memakai jeans biru, sepatu sneakers putih dan tak lupa topi anti badai motif bunga. Semprot parfum ke seluruh tubuh, selesai deh. Tinggal cus jalan kaki melewati gang menuju jalan raya. Last, menunggu angkot atau bis bersama penumpang lainnya.
Kenapa enggak pakai motor?
Udah dipakai sama Gandi. Motor mertua ada sih ... tapi Shafiya gak bisa bawa motornya. Yang ada nabrak orang nanti, atau masuk selokan. Tolong dong jemput Shafiya pakai mobil lamborghini. Ngelunjak dikit gak ngaruh.
"Anjir, gue lupa bawa kacamata," gumamnya pelan.
Shafiya menggerutu setelah memeriksa tas sling bag miliknya tidak ditemui benda tersebut. Kacamata oh ... kacamata. Di mana kah engkau berada?
Walah, mau ke pasar atau pantai, Neng? Ribet bener.
Ibu-ibu di sebelahnya berbisik satu sama lain. Shafiya tebak, mereka tengah membicarakannya. You know lah warga Konoha ini. Kagak afdol tanpa gibah, guys.
Mungkin dalam benak mereka, Shafiya mau ke pasar aja rempongnya minta ampun. Ya, masa mereka tau sih semisal dirinya mau ke pasar?
Tring
Suara notifikasi pesan berasal dari ponselnya.
Mas Gandi.
Huh, kebetulan sekali.
[Pulangnya telepon Mas, ya? Biar tak susulin langsung ke pasar.]
Uwuw, so sweet nya suami Shafiya.
Tin tin
"Eh, Kun*u*," ceplos Shafiya dikarenakan kaget ketika Pak supir angkot membunyikan klakson mobilnya.
"Geulis-geulis latah ai si Eneng," tawa supir angkot mengudara membuat Shafiya mengerucutkan bibirnya.
Berusaha jadi perempuan cool, Shafiya mengibaskan rambutnya. Dengan tubuh dibuat lenggak-lenggok, dia membuka pintu depan, duduk sampingan sama supir. Kebetulan masih kosong.
"Berangkat, Bang. Keburu panas nih," keluh Shafiya sambil menyeka keningnya menggunakan tisu.
"Siap Neng geulis," jawabnya seraya hormat. Lucu deh Abangnya. Tapi, masih gantengan Gandi--suaminya.
Baru satu menit, Shafiya mengoceh tiada henti. Sang supir mengucap istighfar dalam batinnya sebab bukan Shafiya saja yang rempongnya kebangetan.
"AC nya mana dah, Bang?" Shafiya celingukan kesana-kemari.
Dia berdecak pelan, "Lih, kok enggak pakai pengharum kendaraannya?"
"Sebel ih, Bang supirnya diem aja. Malah cuekin gue," cebiknya sambil bersedekap dada.
"Eits, kursi depan khusus Shafiya seorang. Enggak boleh ada yang naik lagi," tegasnya kala ada penumpang mau membuka pintu depan.
Enak saja.
Shafiya gak mau dempet-dempetan.
Yang bener aja, rugi dong.
***
"Ada ayam, Bu?" tanya Shafiya saat baru sampai di pasar.
Pertama kali, dia mendatangi tukang penjual ayam.
"Aya, Neng. Meni seer kie pan. Mangga bade naona? Pimping, sirah atanapi dada montok?" cerocos Ibu tersebut tanpa jeda.
Shafiya senyum kikuk. Menggaruk alisnya yang tidak gatal karena tidak paham ucapan Ibu penjual ayam.
"Just speak Indonesian, please?"
Anjir lah, gue sok Inggris.
"Oke, sorry Miss,"
Ups, Shafiya mau ngabrut alias ngakak brutal.
"Mau paha, dada?" tanyanya lagi.
"Hem," dehem Shafiya seraya mengetuk dagunya dengan jari telunjuk, "bahu aja, Bu. Lagi butuh sandaran soalnya,"
"Waduh, bisa aja si enengnya,"
"Bercanda, Bu," sahut Shafiya, "itu aja deh, bagian paha dua puluh kilo. Terus dadanya lima kilo,"
Ibunya melotot sebab terkejut, "Masya Allah tabarakallah. Mau ada acara apa emangnya? Meni seer pisan?"
Bertanya sembari memotong daging ayang begitu lihainya.
"Hajatan tah?" sambungnya.
"Bukan. Buat persediaan selama satu bulan," jawab Shafiya enteng juga polos.
Anda Mungkin Juga Suka





