
MELEPAS JERAT SUAMI PARAS(H)IT
Bab 3
Keluarga Hendra tiba tepat waktu, membuat Elmi berusaha keras untuk bersandiwara menyambut mereka dengan senyuman meski hatinya terasa berat. Saat mereka memasuki rumah, aroma masakan yang menggugah selera memenuhi ruangan. Ibu Damar ternyata tidak jadi memesan makanan dari restoran yang sempat diucapkannya untuk menghina masakan Elmi.
Seperti biasa, penampilan Hendra dan Risma terlihat sangat modis dan glamor. Ibu Damar segera menyambut kedatangan mereka dengan hangat, seolah melupakan semua ketegangan yang sebelumnya terjadi dengan Elmi.
"Selamat datang, Nak Hendra! Risma! Senang sekali kalian bisa mampir datang ke rumah Damar," Ibu Damar berkata sambil memeluk mereka. "Ibu sudah menyiapkan hidangan istimewa untuk kalian." Elmi menghela napasnya sesaat. Padahal tadi jelas sekali, ibu mertuanya itu menghina hasil masakannya.
Hendra, yang memakai setelan rapi, tersenyum ramah. "Wah, Hendra yakin masakan ibu pasti enak sekali. Terima kasih, Bu!"
Risma, yang mengenakan gaun modis, melirik Elmi dengan tatapan tajam. Entah kenapa, Risma selalu saja iri dengan penampilan Elmi, yang meskipun berpakaian sederhana tetap saja terlihat mempesona.
"Semoga masakannya tidak mengecewakan, ya, ibu kan bukan koki profesional." Ibu Damar tertawa kecil. "Ya kan, El ..."
Elmi tersenyum paksa. "Aah, iya ... Saya harap semuanya sesuai selera Mas Hendra dan Mbak Risma."
Mereka semua duduk di meja makan. Ibu Damar dengan antusias mulai memuji Hendra, menggambarkan betapa beruntungnya Risma memiliki suami sepertinya. "Hendra ini sangat sukses, kerja di perusahaan besar. Kamu harus banyak belajar dari dia, Elmi," Ibu Damar terus berbicara sambil menatap Elmi dengan senyuman sinis.
"Dan Risma, beruntung sekali ya bisa menikahi pria seperti Hendra. Kamu tidak pernah salah memilih," Ibu Damar melanjutkan, membuat Risma tersenyum bangga.
Hendra dan Risma tinggal di kota yang berbeda dengan Damar dan Elmi. Mereka hanya mampir setiap kali ada urusan di kota yang sama dengan tempat tinggal Damar.
Elmi menatap makanan di hadapannya, berusaha tidak terpancing oleh pujian yang berlebihan dilontarkan ibu mertuanya. Namun, saat Risma mulai mengalihkan topik pembicaraan, suasana semakin tidak nyaman.
"Eh, Elmi, kalo nggak salah, tahun ini, kalian sudah lima tahun menikah, ya? Kapan mau hamil? Kan, katanya kamu pengen banget jadi ibu?" Risma menyindir dengan nada menyengat. "Aku aja rencananya mau nambah lagi tahun ini." Risma tersenyum sambil menepuk pundak suaminya, "ya kan, Mas."
Sementara Hendra yang mulai sibuk mengambil makanan cuma mengangguk setuju. Damar yang baru saja ikut bergabung langsung duduk di sebelah Elmi.
Elmi menahan napas, berusaha tetap tenang. "Kita sedang berusaha, Risma. Semoga saja tidak lama lagi," jawabnya dengan diplomatis, meski hatinya seperti dicubit.
Damar yang duduk di samping Elmi tampak terdiam, tidak melakukan apa pun untuk membela istrinya. Dia hanya fokus pada piringnya, seolah berusaha menghindari lirikan tajam dari Elmi.
Ibu Damar, yang tidak menyadari ketegangan itu, menambahkan, "Benar, Elmi. Kamu harus berusaha lebih keras. Tidak ada yang lebih membahagiakan daripada memiliki anak."
Elmi merasa semakin tertekan. "Saya mengerti, Bu. Kami berusaha yang terbaik."
Risma menyeringai. "Jangan-jangan kamu hanya minta suami yang lebih baik? Kita semua tahu Damar tidak terlalu berambisi." Dia tertawa sinis, dan tawa itu diikuti oleh Ibu Damar, yang tampaknya menikmati lelucon tersebut.
Elmi merasa semakin tidak nyaman. Dia ingin Damar mengekspresikan perasaan tidak nyaman dan ingin agar Damar membantu dirinya untuk menyuarakan perasaannya, tetapi dia tahu itu hanya akan memperburuk keadaan. Sebagai gantinya, dia berusaha menyibukkan dirinya dengan menyajikan hidangan lain.
Elmi kembali ke meja dengan hidangan penutup, berusaha untuk tetap tersenyum. Namun, hatinya terasa hancur mendengar sindiran-sindiran itu. Semua harapan dan impian tentang kebahagiaan pernikahan mulai terasa samar, tergerus oleh lelucon dan sindiran yang datang dari orang-orang terdekatnya.
Dia terus melihat Damar, berharap setidaknya suaminya itu bisa memberikan sedikit dukungan. Tapi Damar tampak terjebak dalam ketidakberdayaan, memilih untuk tidak terlibat dalam ketegangan yang terjadi. Elmi menghela napas, menyadari bahwa dia kini harus berjuang sendiri untuk mempertahankan hubungan ini, meski semakin sulit dengan setiap kata yang terlontar.
Setelah Risma dan Hendra pamit pulang, suasana tegang di rumah sedikit mereda. Namun, perasaan kecewa dan sakit hati yang dirasakan Elmi tidak bisa hilang begitu saja. Dia membersihkan meja makan dengan hati-hati, berusaha mengalihkan pikirannya dari kejadian penghinaan saat makan siang. Begitu semua selesai, Elmi berjalan menuju kamar dan menemukan Damar sedang berbaring di tempat tidur, seperti biasa, memainkan ponselnya tanpa terlihat peduli.
**
Elmi baru saja selesai mandi, tubuhnya masih basah dengan aroma sabun yang lembut. Dia berjalan menuju cermin, menyisir rambut panjangnya yang masih setengah basah, lalu mengenakan pakaian tidur yang nyaman. Namun, pikiran Elmi masih terpusat pada kejadian makan siang tadi. Bagaimana ibu mertuanya dan Risma mempermalukannya di depan Damar, dan yang paling menyakitkan, Damar tidak melakukan apa pun untuk membelanya.
"Dam, kamu tidak keberatan mereka berkata seperti itu tadi?" tanyanya dengan suara pelan, nyaris seperti berbisik, namun jelas terdengar getir.
Damar menoleh sekilas, lalu kembali fokus pada layar ponselnya. "Mereka cuma bercanda, El. Jangan terlalu diambil hati."
Elmi menghela napas panjang. Dia tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Apa yang dikatakan Damar seolah membuat semua kejadian tadi menjadi tidak penting. Padahal, bagi Elmi, itu lebih dari sekadar lelucon. Itu adalah penghinaan yang membuatnya merasa tidak berarti.
"Cuma bercanda?" Elmi berbalik, menatap Damar yang masih asyik dengan ponselnya. "Mereka menghina kita, menghina aku. Kamu nggak merasa marah?"
Damar mengangkat bahu, tidak menanggapi dengan serius. "Sudahlah, El! Jangan memperpanjang masalah. Mereka memang begitu, tidak usah dipikirkan."
"Kamu selalu bilang begitu setiap kali mereka merendahkan aku." Suara Elmi mulai bergetar. "Aku ini istrimu, Dam. Kenapa kamu tidak pernah berdiri di pihakku? Kenapa kamu selalu membiarkan mereka mempermalukan aku?"
Damar menurunkan ponselnya, menatap Elmi dengan mata yang terlihat sebal. "Kamu ini kenapa, sih? Sudahlah, jangan lebay. Mereka sudah pergi, kan? Urusan selesai. Kenapa kamu masih membahas ini?"
Elmi terdiam, merasakan amarah dan kesedihan bercampur menjadi satu. Bagaimana bisa suaminya bersikap begitu acuh?
"Karena ini menyakitkan, Dam," akhirnya Elmi berkata pelan, menahan tangis yang mengancam pecah. "Aku ini kan istrimu. Aku butuh kamu untuk membelaku. Kalau bukan kamu, terus siapa lagi?"
Damar memutar bola matanya, tampak semakin kesal. "El, aku capek. Bisa nggak sih, kita nggak usah drama-dramaan kayak gini?"
Kata-kata itu seperti pisau yang menyayat hati Elmi. Dia menatap suaminya dengan tatapan tidak percaya. "Drama-dramaan? Apa menurutmu semua yang aku rasakan ini cuma drama, Dam?"
Damar mengangkat kedua tangannya, seolah menyerah. "Ya sudah, aku salah. Maaf, ya? Tapi, tolong, jangan bahas ini lagi. Aku capek. Aku mau istirahat."
Elmi menelan ludah, menahan rasa pahit yang menyebar di tenggorokannya. Dia tahu, Damar tidak akan pernah mengerti perasaannya. Dan dia juga tahu, tidak peduli seberapa keras dia berusaha, Damar tidak akan pernah berubah.
"Ya, sudah. Istirahatlah," jawab Elmi akhirnya dengan suara parau. Dia mematikan lampu kamar, menyisakan hanya lampu tidur yang remang. Sambil berbaring di sebelah Damar, Elmi memejamkan matanya, berusaha menenangkan diri.
Namun, meski matanya terpejam, pikirannya tidak bisa tenang. Kata-kata Risma dan Ibu Damar terus terngiang di telinganya, menambah luka yang semakin menganga di hatinya. Sementara Damar, yang kini tertidur pulas di sampingnya, menjadi saksi bisu dari semua rasa sakit yang harus dia tanggung sendirian.
Malam itu, Elmi kembali tersadar, bahwa dalam hubungan yang telah mereka bangun selama lima tahun ini, ternyata dia masih berdiri sendirian. Dan seiring berjalannya waktu, dia semakin menyadari bahwa tidak ada yang lebih sepi daripada merasa sendirian di tengah kebersamaan yang seharusnya bisa memberikan kehangatan.
***
Anda Mungkin Juga Suka





