
Melepas Dia Yang Tak Pantas
Bab 3
Mila dan Ferdy saling menatap beberapa saat.
"Mila?" ucap Ferdy dalam hati.
Nita yang merasa bingung melihat sikap suaminya dan juga Mila.
"Ayah ...," Lala berlari ke arah Ferdy.
"Iya, sayang," sapa Ferdy meraih tubuh mungil Lala dan memeluknya seperti biasa.
Nita menghampiri Mila yang terlihat kaget bertemu Ferdy.
"Bunda Nara. Kenapa? Yuk, aku kenalkan sama ayahnya Lala," ajak Nita.
Lamunan Mila buyar. "Oh, gak apa-apa, Bund," sahut Mila tersenyum simpul.
Mila mengikuti langkah Nita dengan terpaksa karena Arfan belum juga muncul. Dengan perasaan campur aduk dia mendekat ke arah Ferdy. Pria yang sangat spesial baginya dahulu. Entah apa yang akan dikatakannya di depan Ferdy.
"Ayah, kenalin ini bundanya Nara. Teman baru Lala. Bunda Nara kenalin ini ayahnya Lala," ujar Nita tersenyum ramah.
"Ferdy. Ayahnya Lala," ucap Ferdy tersenyum simpul.
"Mila. Bundanya Nara," ucap Mila tersenyum simpul.
Nita mengajak Mila untuk ikut bersama mereka. Untungnya, Arfan muncul. Mila begitu lega dengan kedatangan suaminya.
"Terima kasih tawarannya. Itu suami aku sudah datang," ucap Mila tersenyum lega.
Arfan turun dari mobil lalu mendatangi isteri dan anaknya.
"Mas, kenalin ini Ayah dan Bundanya Lala," ujar Mila ke suaminya.
Arfan tersenyum lalu menjabat tangan Ferdy dan Nita bergantian.
"Salam kenal, saya Arfan."
Arfan mengajak Mila dan Nara untuk pulang. Mila melirik ke arah Ferdy yang tampak sangat acuh. Mereka layaknya orang asing yang tak saling kenal.
Ada perasaan lega namun kecewa. Karena Ferdy adalah cinta pertama untuk Mila. Meski hubungan mereka kandas 13 tahun lalu.
*****
Di dalam mobil, Mila hanya diam. Tak dapat dipungkiri kalau pikirannya masih tertinggal di lobby kantor. Bayangan wajah Ferdy yang acuh membuat Mila bertanya pada dirinya sendiri.
"Kenapa Ferdy sampai gak ngenalin aku? Dia itu benar-benar lupa atau pura-pura?" gumam Mila dalam hati.
Arfan melirik isterinya yang sedari tadi diam dengan tatapan heran.
"Kamu kenapa? Gak enak badan? 'Kok tumben diam saja?" Tanya Arfan penasaran.
Mila terkesiap dan lamunannya buyar. "Gak apa-apa, Mas. Nara tidur, kamu lagi setir mobil. Ya aku gak mau ganggu saja," sahut Mila.
"Kamu sudah kenal lama sama mereka?" Tanya Arfan.
"Baru saja, Mas. Lala itu teman baru Nara di tempat penitipan anak. Kenapa memangnya, Mas?" Tanya Mila.
"Gak apa-apa. Aku cuma ngerasa gak asing sama ayahnya Lala. Kayak pernah lihat tapi lupa," ungkap Arfan sambil mengingat-ingat.
"Cuma mirip kali, Yah," kata Mila yang tak mau kalau Arfan tahu kalau Ferdy adalah orang yang spesial di masa lalu.
"Bund, rencananya mulai bulan depan aku ditugaskan di Surabaya. Ada cabang baru disana. Aku akan sering dinas luar kota. Bagaimana menurut kamu?" Ungkap Arfan.
"Ya mau bagaimana lagi. Aku dukung apapun keputusan kamu," sahut Mila lembut.
"Oh, ya. Jabatan kamu sekarang apa di kantor?" Tanya Arfan.
"Aku diangkat jadi sekretaris Pak David. Anak sulungnya Pak Daniel," jawab Mila.
Arfan mengernyitkan dahinya. "Kenapa gak di posisi lain saja? Jadi sekretaris itu rawan jadi selingkuhan," ucap Arfan terdengar kesal.
"Maksud kamu apa?" Tanya Mila kesal.
"Aku bicara sesuai fakta yang ada. Banyak kasus perselingkuhan antara bos dan sekretaris," sahut Arfan dengan wajah sinis.
Mila tak membalas ucapan suaminya. Dia mengalihkan pandangan ke luar jendela mobil. Ada rasa perih dihatinya. Karena suami yang harusnya memberi dukungan malah bicara dengan nada ketus bahkan berburuk sangka.
Arfan yang ditanggapi juga hanya diam dan kesal. "Kamu harus ingat kalau sudah berkeluarga. Jangan macam-macam! Fokus kerja saja," sambung Arfan.
"Iya, Mas," sahut Mila singkat.
Di sisi lain, Ferdy juga memikirkan Mila. Wanita yang pernah hadir dihidupnya. Ada perasaan bersalah ketika dia tak bisa menyapa Mila dengan baik.
"Maaf, Mila. Aku gak bisa menyapa kamu dengan benar. Bahkan pura-pura lupa," ujar Ferdy dalam hati.
"Mas, kamu kenapa? Ada masalah di kantor? 'Kok aku perhatikan diam saja dari tadi?" Tanya Nita mengusap lembut lengan sang suami.
"Gak apa-apa, Nit. Aku cuma agak capek saja hari ini. Banyak kerjaan," sahut Ferdy tersenyum simpul.
"Ya sudah, nanti kamu langsung istirahat saja pas di rumah. Sudah makan?" ucap Nita.
"Sudah 'kok," sahut Ferdy singkat.
"Eh iya, Mas. Aku tuh kayak gak asing sama wajahnya Bunda Nara. Mirip siapa gitu, ya," ujar Nita mengingat-ingat.
Ferdy terkesiap mendengar ucapan isterinya.
"Masa? Kamu sudah pernah ketemu mungkin sama dia."
"Aku baru pertama kali ketemu hari ini, Mas,"
"Semoga Nita gak ingat sama foto Mila yang pernah dia temukan di dalam dompetku," ujar Ferdy dalam hati.
"Bunda ... Ayah ... Lala suka sekali berteman sama adek Nara. Dia lucu dan pintar. Kapan Lala bisa punya adik?" Tanya Lala tiba-tiba yang sejak tadi fokus pada ponsel pintar miliknya.
Nita tersenyum manja ke arah sang suami. Wajah Ferdy juga memerah dengan pertanyaan sang anak.
"Nanti, ya, sayang. Bunda sedang banyak pekerjaan. Lala berdoa saja ya supaya bisa punya adik," ucap Nita lembut.
*****
Menjelang tidur, baik Mila dan Ferdy sama- sama tak bisa tidur. Kenangan demi kenangan saat mereka bersama tiba-tiba hadir. Hubungan mereka memang tak ada status kala itu. Tapi, kebersamaan mereka yang terjalin selama tiga tahun memberi kesan indah dan juga manis.
"Ya Allah. Kenapa kami harus dipertemukan lagi dalam situasi seperti ini? Lala dan Nara berteman. Mau tidak mau aku harus selalu bertemu dengan Nita juga Ferdy. Tak bisa ku pungkiri kalau Ferdy selalu punya tempat khusus di hati ini," ucap Mila dalam hati.
"Kenapa aku harus bertemu lagi dengan kamu, Mila. Susah payah aku pergi menjauh tapi kita ditakdirkan bertemu lagi. Kedekatan anak-anak kita bisa membuat aku dan kamu sering bertemu.
"Mila merasa sedih sekaligus senang. Aku sedih karena kita terpisah oleh dinding kaca yang jika pecah akan membuat luka. Tapi, aku cukup bahagia bisa melihatmu baik-baik saja. Meskipun aku tahu kamu sengaja tak mengendalikan di depan isteri dan anakmu," ucap Mila dalam hati yang tanpa dia sadari air matanya jatuh membasahi pipi.
Teringat saat terakhir kali Ferdy meninggalkannya tanpa alasan. Penantiannya selama enam tahun sia-sia. Padahal sikap Ferdy sangat jelas kalau dia memiliki perasaan yang sama terhadap Mila.
"Kamu adalah orang yang paling aku harapkan kala itu. Tapi, kamu juga orang yang paling menyakiti aku, Mas Ferdy,"
"Maafin aku, Mas Arfan. Aku gak bisa ke dalilnya perasaan ini. Aku gak semestinya memikirkan pria lain selain kamu," ucap Mila mengusap lembut pipi Arfan.
*****
Besoknya, Mila tak sengaja bertemu Nita yang baru saja turun dari mobil bersama Lala. Ada Ferdy juga yang ikut turun untuk mengantar anak semata wayang mereka.
"Bund, itu Kak Lala," ucap Nara menunjuk ke arah Lala dan kedua orang tuanya.
Mila melihat ke arah yang ditunjuk oleh Nara. "Mas Ferdy. Aku harus terbiasa dengan hal ini. Apalagi Nara dan Lala berteman baik. Aku harus bisa menjaga rahasia hubungan kami dulu."
Ferdy melirik keberadaan Mila sekilas sambil menggandeng Lala. Nara berlari kecil menghampiri Lala.
"Kak Lala," sapa Nara dengan senyum cerianya.
Lala meminta sang ayah untuk menggandeng tangan Nara.
"Bunda. Kami sudah seperti adik kakak beneran, ya?" Ucap Lala dengan sumringah.
Nita tertawa mendengar ucapan sang anak. Mila dan Ferdy justru terlihat canggung mendengarnya.
*****
Anda Mungkin Juga Suka





