
Melahirkan Anak Mantan
Bab 3
"Ini bos, data-data orang yang anda minta," ucap seseorang sambil memberikan sebuah amplop besar berwarna coklat.
Devan menerima amplop tersebut lalu membukanya, kemudian ia pun membacanya. "Hanya segini saja informasi yang bisa kamu dapatkan?" tanya Devan pada orang suruhannya tersebut.
"Maaf bos, tapi memang tidak ada informasi apapun selain yang tertera di kertas itu," jawab orang itu tertunduk.
"Apa kamu yakin, sudah mencarinya dengan benar?"
"Yakin bos," jawabnya yakin.
Devan menghela nafasnya karena informasi yang ingin ia ketahui ternyata tidak sesuai dengan harapannya.
"Sepertinya aku harus mencari tau sendiri," gumam Devan. "Ya sudah, kamu boleh pergi," perintah Devan, orang suruhannya itu pun membungkukkan badannya lalu pergi dari sana.
"Sepertinya kamu sengaja menutup informasi tentang dirimu. Kita lihat saja Rania, akan aku pastikan kamu tidak akan bisa lepas lagi dariku. Jangan panggil aku Devano Dirgantara jika tidak bisa mendapatkan kamu kembali," monolog Devan sambil menyeringai.
***
"Mom, I'm hungry," ucap Alvaro, bocah lima tahun yang akrab disapa Al itu adalah anak semata wayang Rania. Anak itu sedang bermain mobil-mobilan di ruang tamu. Sedangkan sang ibu sedang sibuk membuat desain sebuah gedung bertingkat untuk kliennya. Saking seriusnya ia bekerja sampai lupa mengajak anaknya untuk makan malam. Rania terpaksa harus membawa pekerjaannya ke rumah. Karena ia tak mungkin lembur di kantor, sementara anaknya tak ada yang menjaga.
"Iya, sebentar sayang," balas Rania.
Rania pun meninggalkan pekerjaannya sejenak, ia beranjak ke dapur untuk mengambilkan makanan untuk anaknya.
"Al, makan dulu sini," teriak Rania memanggil sang anak. Al pun berlari menghampiri ibunya di ruang makan.
"Cuci tangannya dulu sayang," tegur Rania mengingatkan sang anak yang langsung ingin melahap makanannya.
"Oh iya lupa, hehehe," ucap Al cengengesan. Bocah itu pun langsung turun dari kursinya dan berlari menuju wastafel. Ia menaiki bangku kecil yang digunakan sebagai pijakan karena tinggi badannya belum bisa menggapai kran air yang ada di wastafel tersebut.
"Sudah mom," ucapnya sambil menunjukkan tangannya yang sudah bersih setelah dicuci.
"Ya sudah, habiskan makanannya."
"Siap, mommy," Al pun segera melahap makanannya, nasi dengan lauk ayam goreng favoritnya serta sayur bayam.
Rania begitu senang melihat anaknya yang memakan makanannya dengan lahap, itu artinya sang anak sangat menyukainya. Sebenarnya Al bukan termasuk anak yang suka pilih-pilih makanan, dia akan memakan apapun yang dimasakkan oleh ibunya.
Namun, menu ayam goreng dan sayur bayam adalah makanan favorit Al, ditambah dengan sambal bawang buatan Rania. Al melahap makanannya hingga tandas, anak itu kekenyangan sampai bersendawa.
"Hehe. Sorry mom," ucap Al malu membuat Rania geleng kepala.
Selesai makan Al langsung menyimpan piring kotornya di wastafel.
"Tugas sekolah kamu sudah di kerjakan, Al?"
"Sudah mom," jawab Al sambil menguap. Rania yang menyadari anaknya sudah mengantuk pun membawa sang anak ke kamarnya.
"Kita tidur yuk, kayaknya kamu sudah mengantuk nih," ajak Rania. Keduanya berjalan bersama menuju kamar sang anak. Kamar bernuansa tata Surya dengan dinding yang di cat berwarna biru gelap dan gambar tata Surya seperti matahari, bulan, bintang dan planet-planet, tak lupa juga ada gambar astronot. Meskipun baru berusia lima tahun, tapi Rania sudah mengajarkan anaknya itu mandiri dan tidur terpisah dengan ibunya.
Rania membaringkan anaknya di tempat tidur. Lalu ia pun berbaring di sebelah anaknya sambil menepuk-nepuk sang anak agar cepat tidur.
"Mom," panggil Al yang ternyata belum tidur.
"Ya sayang," jawab raniya sambil tak berhenti menepuk-nepuk sang anak.
"Apa Al punya ayah?" tanya Al membuat Rania terdiam. Ia tak tau harus menjawab apa. Karena baru kali ini Al menanyakan tentang ayahnya.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
Al bangkit dan duduk di kasur nya menghadap sang ibu, "teman-teman Al semuanya punya ayah. Mereka di antar ke sekolah sama ayahnya, sedangkan Al hanya di antar sama mom atau kadang-kadang sama om Ray," ucap Al tertunduk.
"Setiap hari mereka cerita tentang ayah mereka, bermain bersama ayah, belajar bersama ayah, Al juga ingin seperti mereka. Al juga ingin punya ayah seperti mereka," ucap Al sendu.
Tiba-tiba tubuh Al bergetar menandakan bahwa dia sedang menangis, Rania pun langsung membawa anaknya ke dalam pelukannya. Sebenarnya Rania tak tega melihatnya, Al adalah anak berusia lima tahun yang tak pernah melihat dan mengetahui seperti apa ayahnya. Tak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah, sejak lahir bahkan sejak dalam kandungan hingga Al sebesar ini, anak itu tak pernah sekalipun bertanya kemana sang ayah pergi. Sehingga Rania pun bisa tenang menjalani hari-harinya bersama sang anak.
Rania pikir, dengan berperan sebagai ibu sekaligus ayah, itu sudah cukup untuk Al. Tapi ternyata semua itu berbeda, melihat teman-temannya yang memiliki ayah membuat Al mencari dimana keberadaan ayahnya.
Rania bingung, tak tau harus mengatakan apa. Apakah ia harus menceritakan hubungan rumit orang dewasa pada anak usia lima tahun, apakah Al akan mampu menerimanya.
"Mom, apakah Al punya ayah?" Al mendongak menatap sang ibu dan mengulangi pertanyaan yang sama karena sejak tadi Rania tidak menjawabnya.
"Sayang, maafkan mom ya," ucap Rania lembut. "Suatu hari nanti kamu pasti akan bertemu dengan ayah kamu," ucapnya lagi.
"Memangnya ayah kemana, kenapa dia tidak pernah ada bersama kita."
"Ayah kamu … " Rania memikirkan alasan yang tepat agar bisa diterima oleh anak seusia Al. "Ayah kamu sedang berada di tempat yang jauh, dan untuk saat ini dia belum bisa pulang dan berkumpul bersama kita," akhirnya Rania bisa memberikan alasan yang masuk akal.
"Ayah kerja di tempat yang jauh ya mom?" tanya Al yang percaya dengan ucapan ibunya.
"Iya," jawab Rania yang akhirnya bisa bernafas lega. Untung saja Al percaya dengan ucapannya.
"Sekarang kamu tidur ya, sudah malam dan besok kamu harus sekolah kan," bujuk Rania dan langsung di turuti Al. Anaknya itu langsung memejamkan matanya dan terlelap hingga terbuai ke alam mimpi.
Setelah memastikan Al benar-benar sudah tidur, Rania pun beranjak dari tempat tidur Al dan menarik selimut hingga menutupi sebatas dada anaknya. Ia mematikan lampu utama dan menggantikannya dengan lampu tidur.
'Cup'
Rania mengecup kening anaknya seraya berbisik, "selamat tidur sayang, semoga kamu mimpi indah." Setelah itu baru lah Rania beranjak dan keluar dari kamar sang anak.
***
Di dalam kamarnya Rania sedang memikirkan pertanyaan Al mengenai ayahnya. Selama ini ia tenang-tenang saja saat mereka hanya tinggal berdua saja. Rania tak memikirkan anaknya yang semakin tumbuh besar dan semakin mengerti tentang sebuah keluarga yang berarti ada ayah, ibu dan anak. Selama ini keluarga yang dipahami Al hanyalah ibu dan dirinya tanpa seorang ayah.
Namun, saat anak itu sudah besar ia bisa melihat perbedaan antara keluarganya sendiri dengan keluarga teman-temannya. Saat ia melihat ada sosok ayah di keluarga temannya, saat itulah Al mulai menanyakan dimana keberadaan ayahnya.
"Maafkan mom sayang, maafkan mom yang tak bisa memberikanmu keluarga yang lengkap. Mom terpaksa harus membawamu pergi jauh dari ayahmu, ini semua mom lakukan agar kamu bisa tetap hidup dan lahir ke dunia ini," monolog Rania sambil memandangi foto Al saat baru lahir.
***
Anda Mungkin Juga Suka





