
Mati Satu Tumbuh Seribu
Bab 3
Aku membungkuk untuk mengambil ponselku, tapi tiba-tiba Rani menginjak punggungku dengan kakinya, "Aku sudah memberi tahu suamiku tadi, dia akan datang ke sini sebentar lagi. Lihat saja, apa nanti kamu masih bisa berlagak sombong!"
Aku menahan rasa sakit ini, dan segera meraih kakinya kemudian menariknya keras. Rani sampai terjatuh ke lantai. Manajer hotel yang melihat hal itu pun sontak kaget, dan bergegas membantu Rani berdiri, "Aduh, Nyonya Rani, apa kamu baik-baik saja? Apa perlu kupanggilkan ambulans?"
"Nggak usah. Tangkap saja wanita itu! Dia itu selingkuhan yang nggak tahu malu!" Rani berteriak sambil menunjuk dan mencaci makiku, "Dasar wanita murahan! Beraninya menggoda suamiku bahkan memukulku! Akan kubuat nama baikmu tercoreng!"
Pemilik hotel terlihat sangat marah, dia menunjukku dan berteriak, "Beraninya kamu memukul Nyonya Rani! Ada kamera pengawas di hotel ini, aku sudah melaporkan hal ini ke polisi!"
Orang-orang yang sebelumnya hanya menonton pun mulai sok ikut menegakkan keadilan. Mereka menunjuk ke arahku, bahkan ada yang mulai berani menjambak dan merobek bajuku.
"Berani sekali memukul Nyonya Rani! Aku akan bantu Nyonya Rani mengumpulkan bukti! Kamu itu sudah jadi selingkuhan, malah masih berani memukul orang juga!"
"Iya, benar! Sebarkan saja identitasnya di internet biar terkenal, biar viral."
Aku lalu didorong dan diseret menuju foto pranikah yang menjadi foto sambutan di aula pernikahan. Seseorang lalu merobek fotoku dan Galang menjadi dua bagian.
Aku hanya diam saja melihat foto kami hancur berkeping-keping. Daripada marah, aku justru merasa muak.
Baguslah kalau foto itu akhirnya dirobek!
"Apa wanita itu sudah difoto? Aku mau semua orang melihat wajah aslinya!" Rani memberikan perintah dengan sombong, seolah-olah dialah pemenang dalam masalah ini.
Aku menggenggam erat ponselku, layarnya terus berkedip karena ada puluhan pesan belum terbaca dari Galang.
Cih, pria itu masih berani mengirimkan pesan padaku?
Aku pun membuka pesan-pesan itu ketika mereka tidak memerhatikanku. Seperti yang sudah kuduga, semua pesan itu berisi permintaan maaf, penjelasan, dan omong kosong minta ampun.
Aku membacanya dengan cepat, lalu segera menghapus dan memblokir nomornya tanpa ragu. Kemudian aku mengirimkan pesan pada sekretarisku, "Pernikahan besok batal, minta ayahku menarik sahamnya dari Hotel Surya, dan usir Galang dari perusahaanku!"
Sebuah pesan balasan langsung masuk, dan hanya berisi satu kalimat, "Baik, Bu Kiara."
Rani melihatku menggunakan ponsel, dan segera menghampiriku sambil menatapku tajam. Dia melangkah mendekat dengan menggunakan sepatu hak tinggi setinggi sepuluh sentimeter untuk menyerangku tanpa ampun.
Aku tidak sempat menghindar ketika dia menendang perut bagian bawahku.
Aku menggeram saat terjatuh dan meringkuk kesakitan, sambil memegangi perut bagian bawahku di lantai.
Kerumunan orang-orang di sekitar juga ikut kaget, tapi kemudian mereka kembali tenang. Pemilik hotel ini menatapku yang masih tersungkur di lantai sambil berkata, "Berhenti pura-pura, Nona Kiara. Kerusakan di aula pernikahan ini karena ulahmu sendiri. Hotel kami nggak akan bertanggung jawab."
"Selain itu, kamu juga harus minta maaf pada Nyonya Rani!"
Rasa sakit yang kurasakan membuat pandanganku jadi buram, dan tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Aku menatap orang-orang di sekelilingku dengan mata berkaca-kaca.
Manajer hotel kemudian menunjuk celanaku sambil berkata dengan suara gemetar, "Darah!"
Aku menunduk dan mengikuti arah pandangnya ... aku ... keguguran?
Rani terlihat panik sekilas, tapi dia segera menormalkan ekspresi wajahnya lagi. Sambil melipat tangan di depan dada, dia berkata dengan tersenyum kejam, "Hah! Wanita murahan ini pasti mengira dirinya bisa merebut harta keluarga suamiku hanya karena mengandung anak haram suamiku, 'kan?"
"Anak itu mati karena Tuhan bahkan nggak mengizinkan hal itu terjadi! Kamu pantas menerimanya!"
Aku menggigit bibirku dengan keras, berusaha agar tidak pingsan.
Kemudian terdengar suara langkah kaki yang terburu-baru dari pintu masuk hotel. Suara itu makin dekat, lalu terdengar suara orang yang sangat kukenal, "Kiara!"
Aku mendongak dengan susah payah, dan melihat sosok Galang menghampiriku dengan cemas. Ada beberapa pengawal memakai jas di belakangnya.
Cih ... Galang!
Dia sudah berani memakai uangku untuk berselingkuh!
Lihat saja bagaimana aku akan menghancurkan kalian!
Anda Mungkin Juga Suka





