
Mas, aku lelah
Bab 3
Dengan tenang, Kayara mengunci kedua tangannya di depan dadanya, pandangan matanya tajam menembus kehampaan, seolah-olah ketakutan itu hanyalah sebuah mitos bagi dirinya."Kenapa Mas? Bukannya selama ini kamu tidak suka jika aku mengantarkan makanan, bahkan jarang sekali juga kamu memakan masakan aku," ucapnya santai, tak takut sedikitpun dengan sosok lelaki yang berstatus suaminya itu.
Lagi dan lagi Stev tertegun akan perubahan drastis yang di lakukan Kayara terhadapnya. Jika biasanya Kayara tak pernah membantah selalu menurutinya, maka kali ini tidak.
Kayara memperhatikan Steven dari atas sampai bawah, rasa kasihan pun menghantuinya saat melihat kemeja yang di pakai Stev sedikit lusuh. Bagaimana tak lusuh? Ia tidak menyetrika pakaian lelaki itu seperti biasanya.
Namun semua rasa itu ia tepis, di banding dengan rasa sakit tak di anggap dan tak di pedulikan selama dua tahun ini, rasanya masih sangat tak sebanding.
Anggap saja Kayara jahat, siapun boleh beranggapan demikian, namun bagi Kayara, Steven lah yang lebih jahat padanya. Bayangkan saja, dua tahun bukanlah waktu yang singkat, dan selama itu ia berjuang sendiri, selama itu ia menahan sakit hati. Kayara tidak akan peduli jika ada yang mengatainya istri durhaka atau semacamnya.
Steven menatap lekat Kayara yang berdiri dengan arogantnya, ia seakan kehilangan sosok Kayara yang selalu lembut dan taat padanya. Saat ini berdiri di depannya bukan lagi Kayara yang selalu tersenyum manis padanya tapi sosok Kayara yang dingin, bahkan senyum pun sudah tak lagi menghiasi wajah cantik itu.
"Ada apa denganmu Kayara?" tanya Stev penuh penekanan, kedua alisnya terangkat menatap penuh tanya wanita di hadapannya itu.
Kayara tertawa hambar. "Aku kenapa? Kamu yang kenapa Mas? Kenapa sekarang tiba-tiba mencari makanan yang tak pernah kamu hergai sebelumnya, bukannya kamu tak pernah peduli, kamu pikir aku tidak lelah melakukan hal yang tidak pernah di hargai? Aku lelah mas, di luar sana masih banyak yang membutuhkan makanan, maka dari sekarang aku tidak akan menyia-nyiakan masakan aku lagi, dari pada aku memberimu berakhir terbuang maka lebih baik tidak usah." Ucap Kayara panjang lebar.
Steven terpaku untuk saat mendengar ucapan kyara yang begitu menusuk. Ingatannya pun kembali Memutar waktu di mana hari-hari kyara selalu datang ke kantornya membawakan sebuah bekal makan siang untuk dirinya.
Tok! Tok! Tok!
Pintu diketuk sebanyak tiga kali setelahnya muncullah seorang wanita cantik berbadan mungil dengan sebuah tas bekal berwarna biru di tangannya. Dia kyara, wanita itu sudah biasa mengantarkan makanan untuk sang suami di jam makan siang dengan tujuan dan maksud agar suami bisa menerimanya dan menghargainya paling tidak menganggapnya ada.
Steven melirik sebentar ke arah pintu yang terbuka, lalu kembali fokus menatap layar laptopnya seakan tak peduli akan kedatangan Kayara.
"Mas ini aku bawakan makanan kamu belum makan siang kan? Ayo kita makan sama-sama," ucap Kayara lembut tak lupa menampilkan senyuman manisnya.
Steven melirik tak minat ke arah bekal yang di keluarkan oleh Kayara dari tasnya.
"Saya sudah makan, bawa kembali makanan kamu, saya tak membutuhkannya." Jawab Steven.
Mendengar itu Kayara menundukkan kepalanya, sembari menghela nafas berat, padahal dia sudah rela meninggalkan toko demi sang suami, dengan harapan hubungan mereka akan membaik.
Tak ingin memprotes akhirnya Kayara pun kembali menyimpan bekal tersebut.
"Ya sudah Mas kalau begitu aku pulang, makanan ini aku tinggal di sini, barangkali kamu lapar kamu bisa memakannya, aku pamit Mas." Kayara pun beranjak pergi dengan tangan kosong, bekal yang tadinya ia bawa ia letakkan di atas meja.
Krrk~
Steven memegangi perutnya yang berbunyi, sebenarnya lelaki itu belum makan siang dia sengaja belum makan siang karena menunggu bekal yang akan dibawakan oleh Kayara, dia sudah hafal Kayara pasti datang dan membawakannya makan siang, padahal tadi Niko sudah menawarkannya makan siang bersama, namun ia tolak.
Setelah memastikan Kayara sudah pergi, dengan cepat Steven bangkit dari duduknya menghampiri bekal yang tergeletak di atas meja, lalu membuka dan memakannya dengan lahap.
Lamunan Steven buayar saat cacing di dalam perutnya berdemo minta di isi, ia langsung membuang tatapannya ke lain arah lantaran malu, sudah pasti suara perutnya itu terdengar oleh Kayara.
Kayara menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya, setelahnya ia keluar dari ruangannya meninggalkan Steven sendiri di sana, namun tak lama ia kembali dengan nampan di tangannya. Ia membawakan secangkir kopi dan beberpa aneka kue. "Aku cuma punya ini, kalau kamu mau makan saja," ucapnya pada Steven lalu meletakkannya si atas meja.
Tanpa menjawab Steven langsung duduk di sofa dan memakan kur yang di suguhkan oleh Kayara. Melihat itu hati kecil Kayara tercubit, sekarang ia seakan menjadi istri yang durhaka, tapi mau bagaimana lagi, dia sendiri pun sudah lelah. Tak mau terlalu larut dalam perasaan, Kayara memilih pergi, "Aku lanjut kerja," pamitnya sebelum keluar dari ruangannya sendiri.
Tepat jam dua kurang lima menit, pekerjaan mereka selasai, keempat orang yang berada di dapur itu menghela nafas lega telah menyelesaikan pesanan tepat waktu.
"Setelah ini langsung di antar ke tempat tujuan ya," ucap Kayara sebelum beranjak pergi dari dapur.
Kayara kembali ke ruanganya, dan saat ia masuk ia di kejutkan akan keberadaan sang suami yang ternyata masih di sana. Ia pikir Steven sudah pergi sedari tadi, ternyata tidak. Di lihatnya lelaki yang tertidur di sofa, kue serta kopi yang ia suguhkan tadi habis tak bersisa, perasaan bersalah dan sedih lagi-lagi menghantui Kayara.
Perlahan ia mendekat, menatap lekat wajah tampan yang kini tengah tertidur.
'Aku gak tahu apa yang aku lakukan saat ini salah atau benar, yang aku tahu aku lelah Mas, lelah dengan sikap kamu, lelah tak pernah kau anggap. Dua tahun ini rasanya sungguh melalahkan bagiku, sekarang aku benar-benar lelah untuk berjuang.' Batinnya.
Bersamaan dengan Kayara beranjak mata Steven terbuka, dan hal yang pertama kali ia lihat adalah punggung kecil Kayara yang berjalan menjauh.
"Kayara,"panggilnya serak dengan suara yang khas bangun tidur.
Langkah Kayara berhenti, namun wanita itu tak menoleh.
Steven bangkit dari posisi baringnya, dan duduk, matanya menatap lurus ke arah punggung Kayara.
"Tidak bisakah kau bersikap seperti biasa? Saya rasa kamu bukanlah Kayara yang dulu." Ucapnya.
Kayara berbalik, tatapannya bertemu dengan tatapan elang Steven. Lalu ia terkekeh pelan. "Bersikap seperti biasa? Ck! seperti biasa apa yang kamu maksud Mas, biasa bodoh? Memohon dan berusaha memperbaiki seorang diri? Berusaha dan berjuang sendiri? Seperti itu?" Kayara tertawa hambar, " aku sudah bilang 'kan? Aku lelah Mas," sambungnya lirih.
Anda Mungkin Juga Suka





