Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mantan Pacar

Mantan Pacar

Clara mendatangi kebun anggur tunangannya demi memulai hidup mewah. Namun, calon suaminya lenyap misterius dua hari sebelum pernikahan. Di tengah pencarian, ia justru terikat dengan saudara laki-laki sang tunangan yang kaku namun memikat. Terjebak dalam pusaran rahasia gelap keluarga dan godaan terlarang, Clara menyadari bahwa pengungkapan kebenaran bisa menghancurkan hidupnya atau justru memberinya kekuasaan besar yang selama ini ia dambakan.
Bab
Bagikan

Bab 3

Matahari masuk deras melalui jendela ruang utama di perkebunan anggur, menggambar persegi panjang cahaya hangat di atas karpet Persia dan perabot kayu gelap. Itu adalah pagi biasa, tepat dua bulan sebelum pernikahan, dan udara dipenuhi aroma manis dan sedikit logam yang biasanya menyertai hari-hari musim panas di rumah tua perkebunan anggur itu. Aku duduk di sofa, jari-jariku gelisah memainkan tepi gelas air mineral kosong. Di sampingku, Martina dengan santai membolak-balik majalah yang dicurinya dari meja pelayan.

Dia berusia enam belas tahun, usia di mana kepolosan dan ambisi bertemu di persimpangan yang berbahaya. Aku memperhatikannya saat dia melirikku cepat, seolah mencari persetujuan, meskipun dia selalu tahu aku yang memegang kendali dalam permainan ini. Martina adalah jangkar yang membuatku tetap waras, sekutu diam dalam lautan topeng dan kebohongan yang menyelimuti kami semua.

"Kau pikir ini akan mudah, Clara?" tanyanya, menurunkan majalah dengan gestur yang berusaha terlihat santai.

Aku tersenyum, memiringkan kepala, berpura-pura pertanyaannya naif.

"Mudah bukan kata yang tepat. Tapi permainan ini dimainkan dengan kartu yang dibagikan, dan kita dapat kartu as sekop."

Dia tertawa, tawa remaja yang belum ternoda pengkhianatan atau kekecewaan mendalam.

Hari-hari berlalu dengan monotoninya persiapan: gaun yang harus pas seperti jas tailor, bunga yang layu sebelum sempat mekar penuh harum, dan latihan tanpa henti di mana senyum membeku di wajah mereka yang tahu terlalu banyak tapi sedikit bicara.

Martina dan aku bergerak mengikuti koreografi yang sudah terlatih: di luar, dua saudari yang bersemangat menyambut pernikahan yang menjanjikan perubahan hidup; di dalam, dua ahli strategi yang menganalisa setiap gerak, tatap, dan bisikan.

"Bagaimana dengan Nicolo?" tanya Martina tiba-tiba, tanpa mengangkat mata dari majalah, tapi suaranya penuh rasa penasaran yang tertahan.

Aku tahu siapa yang dia maksud. Nicolo, kakak laki-laki, selalu hadir di pertemuan keluarga, dengan senyum tajam dan tatapan yang seolah menembus dan membuka niatmu. Seorang pria yang menyimpan lautan gelap di balik permukaan tenangnya.

"Nicolo itu... variabel yang sulit dipecahkan," jawabku dengan hati-hati memilih kata. "Sulit mendekatinya, itu yang membuatnya makin menarik. Kita harus hati-hati padanya."

Martina memandangku dengan campuran kekaguman dan sesuatu yang bisa disebut ketakutan.

"Kau pikir dia akan berada di pihak kita ketika semua ini selesai?"

Itu pertanyaan terlalu jujur untuk dilontarkan bebas di tempat di mana rahasia adalah mata uang umum. Tapi aku butuh mendengarnya, dan aku ingin dia tahu bisa percaya padaku, bahwa jalan ini bukanlah perjalanan sendiri.

"Yang penting adalah kita tahu ke mana kita pergi," jawabku sambil menggenggam tangannya dengan lembut. "Sisanya hanya pion di papan catur. Jangan biarkan kita diintimidasi."

Kami berpisah sebentar saat bersiap turun ke ruang utama, dan suara piano Marco, tunanganku, terdengar jauh seperti benang tak terlihat yang mengikat seluruh keluarga dalam irama tunggal dan terkontrol. Marco punya cara bermain yang membuat segalanya tampak seperti adegan dalam film lama, penuh glamor dan rahasia tersembunyi di balik tiap nada.

Namun, ada sesuatu dalam ekspresinya saat menatap jendela yang terasa dingin, tak tersentuh, seolah ada di sana tapi tak sepenuhnya hadir. Aku tak bisa menghindari rasa frustrasi dan keinginan terpendam setiap kali dia mendekat. Seperti api yang tak kunjung menyala, ketegangan halus yang membakar di bawah kulit.

Latihan setiap dua hari berubah menjadi rutinitas tatapan curi, gerak terkendali, dan kata-kata yang mengatakan lebih dari yang mereka sembunyikan. Kadang, di tengah keheningan berat itu, aku bertanya pada diri sendiri apa sebenarnya yang aku masuki. Tapi kemudian aku ingat hadiahnya, dan jawabannya datang kembali dengan kuat.

Ketika Martina dan aku kembali ke kamar, suara jauh Marco dan bisikan pelayan bercampur dengan bisikan kami.

"Kau pikir Marco tahu sesuatu yang tidak kita tahu?" tanyanya malam itu saat kami mengulas detail terakhir acara.

"Aku tidak tahu," aku mengaku dengan nada sarkastik, "tapi kalau dia tahu, dia tidak menunjukkannya. Itu senjata bermata dua."

Martina mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya.

"Kadang aku merasa keluarga ini menyimpan lebih banyak rahasia daripada yang bisa kita bayangkan."

Sebuah bayangan melintas di mataku saat gelombang mual naik ke tenggorokan. Bukan hanya makanan atau panas terik musim panas Italia, tapi campuran mengganggu antara keinginan dan bahaya yang membuatku merasa hidup sekaligus rentan.

Malam itu, saat bersiap tidur, sebuah gambar menyelinap di antara serpihan ingatanku yang pecah: perdebatan singkat dan panas antara Marco dan Nicolo, suara meninggi di kegelapan, kata-kata yang hilang dalam gelap. Aku tak bisa mengingat semuanya, tapi beban saat itu membuatku terengah-engah.

Aku tahu, meski belum mengerti sepenuhnya, ada sesuatu yang disembunyikan dariku.

Udara di kamar makin pekat, aku kesulitan tidur, seperti setiap kata di antara kami menambah beban rahasia yang baru mulai kami mengerti. Martina, dengan matanya yang besar dan campuran kepolosan dan tekad, tampak seperti jangkar sekaligus badai. Duduk di depanku, aroma melati dari taman masuk lewat jendela, bercampur bau kopi dingin yang kami tinggalkan di meja.

"Tahu nggak?" bisiknya, menurunkan suara seperti takut dinding punya telinga. "Tadi malam aku dengar Marco dan Nicolo berdebat. Aku nggak paham banyak, tapi suara Marco terdengar... berbeda, seperti takut atau benar-benar marah."

Dadaku tegang. Aku tak mau bilang padanya kalau aku melihat mereka, tahu apa yang dia bicarakan. Informasi Martina seperti kunci yang membuka pintu ke ruangan gelap dan terlarang. Aku tak bisa membiarkan kebenaran itu keluar tanpa kendali. Tapi dia berguna, terlalu berguna untuk membuatnya takut. Aku tak mau dia khawatir tanpa alasan.

"Terus kenapa kamu berpikir begitu?" tanyaku pura-pura tertarik.

Martina menatapku tajam, ekspresi seperti orang yang tahu lebih dari yang ia tunjukkan.

"Aku nggak tahu, Clara. Itu cara Nicolo memotong pembicaraan, seperti mau membungkam dia. Dan Marco, bukannya melawan, malah diam, sesuatu yang belum pernah aku lihat sebelumnya."

Suaraku agak serak, keringat dingin membasahi punggung. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan gemetar di tanganku.

"Itu bukan masalah kita," kataku, meski kata-kataku terdengar hampa. "Yang penting kita di sini dan tahu apa yang harus dilakukan. Kamu bantu aku dan semuanya akan baik-baik saja."

Martina mengangguk, dengan senyum yang tak sepenuhnya tulus. Saat itu, aku merasa ikatan antara kami semakin kuat, jaring tak terlihat yang dibuat dari rahasia, ambisi, dan ketakutan.

Tapi bayangan Nicolo dan Marco membentang di atas rumah itu, dan aku tahu mereka akan segera menjerat kami berdua.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95KJU" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95KJU
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Terlarang & Rahasia
9.4
Karina, gadis dari keluarga retak, terjebak asmara terlarang dengan Evan, kakak sahabatnya yang sudah beristri. Saat hubungan rahasia ini terungkap, ia pun dihujat dan dimusuhi Siska. Karina memilih pergi sambil mengandung buah hati mereka tanpa sepengetahuan siapa pun. Bertahun-tahun kemudian, ia kembali ke Jakarta membawa seorang putra. Kini, rahasia besar mengenai ayah biologis sang anak terancam terbongkar. Sanggupkah ia terus menutupi fakta dari masa lalunya?
Sampul Novel Cinta Yang Tak Pernah Sampai Di Pelaminan
8.3
Lima tahun berpacaran tidak menjamin kebahagiaan bagi protagonis wanita setelah kekasihnya, seorang pengacara, membatalkan pernikahan mereka hingga 52 kali demi membantu seorang gadis magang. Mulai dari insiden salah formulir hingga konflik di tempat kerja, sang kekasih selalu memprioritaskan gadis tersebut dan meninggalkan pasangannya menanggung malu. Lelah terus diabaikan, ia akhirnya menyerah, memilih putus, dan pergi meninggalkan Kota Alia. Keputusan hengkang ini seketika membuat mantan kekasihnya menyesal dan mencarinya dengan histeris ke mana-mana.
Sampul Novel Derita Seorang Gadis Desa
9.4
Alya, gadis yatim piatu lulusan SMP, nekat merantau ke kota demi membiayai neneknya yang sakit. Nasib membawanya bekerja di kediaman Ibu Ratna yang baik hati. Namun, hidupnya hancur saat Arka, putra majikannya, pulang dan merenggut kehormatannya secara paksa. Bukannya bertanggung jawab, Arka justru menghina dan mengusir Alya dengan kejam. Di tengah luka batin yang mendalam, Alya harus berjuang bangkit menghadapi kenyataan pahit demi kelangsungan hidupnya.
Sampul Novel Duda itu Suamiku
8.1
Hidup Bianca berubah total sejak bertemu Bealize, balita yang terus memanggilnya 'Mami'. Demi Bea, Bianca terpaksa tinggal di rumah gadis kecil itu bersama ayahnya, seorang duda tampan. Merasa cemas akan pandangan orang dan getaran di hatinya, Bianca memilih kabur diam-diam untuk menghindari skandal. Ia mengabaikan nasib Bea demi kebebasannya sendiri. Namun, akankah sang duda membiarkannya pergi begitu saja atau justru mencarinya kembali?
Sampul Novel Setelah Mengetahui Rahasia Bos Wanitaku, Aku Terkena Masalah Besar
8.5
Mengubur masa lalunya yang kelam, seorang mantan penguasa dunia bawah memutuskan kembali ke ibu kota demi menjalani kehidupan normal sebagai karyawan biasa. Namun, kedamaian yang ia dambakan hancur seketika saat ia tidak sengaja mengetahui rahasia besar milik atasan wanitanya yang menawan. Kejadian tak terduga ini menyeretnya kembali ke dalam pusaran konflik berbahaya yang mengancam nyawanya. Kini, ia harus menghadapi konsekuensi besar demi bertahan hidup di tengah intrik kekuasaan yang rumit.
Sampul Novel ISTRI KECILKU YANG MENGGEMASKAN
9.3
Mahardika terjepit oleh desakan sang kakek untuk segera menikahi Eka Maheswari. Hubungan erat antara keluarga Wijaya dan Saputra menjadi landasan perjodohan ini. Meski terikat komitmen, perbedaan usia sembilan tahun menjadi tantangan besar bagi mereka. Mahardika pun terpaksa menguji kesabarannya dalam membimbing Eka yang masih memiliki sifat kekanak-kanakan. Akankah rumah tangga mereka bertahan di tengah perbedaan kedewasaan yang sangat mencolok tersebut?