Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mantan Kekasihku CEO Psikopat

Mantan Kekasihku CEO Psikopat

Alya Rahayu pindah ke Jakarta demi karier impian, namun nasib malang membuatnya kehilangan segalanya. Di titik terendah, ia bertemu Dira Pratama, mantan kekasih yang kini menjadi CEO dingin penuh rahasia gelap. Lima tahun berlalu, Dira bukan lagi pria lembut yang ia kenal, melainkan sosok obsesif yang menyimpan dendam masa lalu. Terjebak sebagai bawahan Dira, Alya harus menghadapi trauma dan kenyataan pahit di balik alasan pria itu meninggalkannya dahulu.
Bab
Bagikan

Bab 2

Alya keluar dari ruang wawancara dengan langkah yang lebih berat dibandingkan saat ia memasuki ruangan tersebut. Suasana di luar gedung terasa jauh lebih riuh daripada sebelumnya, namun di dalam hatinya, hanya ada keheningan yang mencekam. Wajah Dira yang penuh misteri masih tertanam dalam benaknya, mengisi ruang kosong yang selama ini ia kira telah mati. Dira Pratama, CEO yang tak hanya memimpin perusahaan raksasa, tetapi juga pernah menjadi pria yang mengisi hari-harinya dengan cinta, kini berdiri sebagai sosok yang seolah datang dari masa lalu yang kelam dan terlupakan.

"Ini gila," Alya bergumam, menatap sekelilingnya seolah mencari petunjuk untuk memahami apa yang baru saja terjadi. Ia merasakan angin Jakarta yang panas menyapa wajahnya, namun dingin menyelinap di hatinya. Ada perasaan seakan dunia ini sedang bermain-main dengannya, menempatkan Dira di tempat yang seharusnya menjadi awal baru baginya.

Matanya menatap gedung tinggi yang berkilauan, di mana lantai-lantai kaca menampakkan kilau matahari. Seperti sebuah dunia yang tidak peduli pada penderitaan orang-orang kecil, dunia ini berdiri megah, membungkus kenyataan dengan kilauan dan janji yang kosong. Alya merasakan air mata ingin meluncur, tetapi ia menahannya dengan sekuat tenaga. "Jangan menangis, Alya," bisiknya, suara itu hampir tak terdengar di tengah hiruk-pikuk jalanan. "Kamu bukan lagi gadis yang dulu."

Di tempat parkir gedung, suara mesin mobil dan klakson terdengar hampir bersamaan, menciptakan kekacauan yang tak jauh berbeda dengan perasaannya. Alya menatap ponselnya, mencoba mencari distraksi, tetapi matanya menatap angka yang menunjukkan pukul 10:30 pagi. Wawancara masih meninggalkan jejak yang dalam, begitu membekas, seolah menggoreskan luka di permukaan hatinya.

Ia mulai berjalan dengan langkah tak pasti, menyusuri trotoar yang penuh dengan pejalan kaki dan pedagang kaki lima. Setiap langkahnya menuntutnya untuk menghadapi kenyataan bahwa ia telah kembali di hadapan Dira, pria yang dulu membuatnya percaya bahwa mereka akan mengarungi hidup bersama, selamanya. Ia menutup matanya sejenak, mengingat bagaimana mereka pernah menghabiskan waktu bersama di kafe kecil di ujung kota, di mana Dira selalu memesan kopi hitam dan Alya memilih cappuccino dengan ekstra foam.

"Dira..." Alya mengucapkan namanya dalam bisikan yang terasa seperti doa. Ia merasa seolah sedang berada di dua dunia berbeda; dunia di mana ia berjuang untuk mendapatkan pekerjaan dan dunia di mana hatinya masih terperangkap dalam kenangan tentang pria itu.

Setelah beberapa jam berlalu, Alya duduk di sebuah taman kecil di tengah kota, di bawah pohon rindang yang memberikan keteduhan dari teriknya matahari. Di sekelilingnya, anak-anak bermain bola, pasangan muda bercengkerama, dan seorang pria tua duduk di bangku, memandangi bunga-bunga yang tumbuh di taman. Namun, semua itu tak mampu mengalihkan perhatian Alya dari perasaan sesak yang menyerang dadanya. Ia menghela napas, mencoba menenangkan pikirannya.

"Kenapa dia harus ada di sana?" tanyanya pada dirinya sendiri, matanya menatap jauh ke arah langit yang mulai mendung. Hatinya kembali mengingatkan pada masa-masa di mana mereka berdua berlari di bawah hujan, tertawa hingga perut mereka sakit. Dira, dengan senyumnya yang menenangkan, seolah bisa menghapus semua rasa takut yang pernah Alya rasakan. Namun, kebahagiaan itu berakhir begitu cepat, meninggalkan luka yang seolah tak pernah bisa sembuh.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar di tas. Alya menggenggamnya dan melihat nama yang muncul di layar: Mama. Sambil menekan tombol untuk menjawab, Alya merasa berat di dada. "Halo, Mama," suaranya terdengar lebih rapuh daripada yang ia kira.

"Alya, sayang, bagaimana wawancaranya?" suara Mama terdengar khawatir, penuh harap. Alya menutup mata, mencoba menenangkan diri di tengah gelombang emosi yang datang.

"Baik, Mama. Alhamdulillah," jawab Alya, meskipun kata-katanya terdengar seperti kebohongan. Ia tahu Mama tak akan pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam dirinya. Bagaimana bisa ia menjelaskan perasaan yang tak bisa diungkapkan, rasa sakit yang datang begitu mendalam hanya dengan melihat pria itu di sana, di tempat yang seharusnya tak ada kaitannya dengannya?

"Alya, kamu pasti akan berhasil. Kami di rumah selalu mendukungmu. Ingat, kamu bukan hanya berjuang untuk dirimu sendiri, tapi juga untuk kami," kata Mama, suaranya penuh dengan semangat dan cinta. Alya menatap taman di sekelilingnya, dan seketika itu juga, sebuah angin lembut melintas, membawa harum bunga dari taman yang seolah ingin menenangkan hatinya.

"Terima kasih, Mama. Aku tahu. Aku akan terus berusaha," kata Alya, menguatkan diri. Namun, saat panggilan berakhir dan kesunyian kembali menyelimuti, Alya merasakan ketegangan yang kembali menekan. Ia tahu bahwa langkah pertama yang harus diambil adalah menguatkan hatinya, tidak hanya untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk keluarganya.

Hidup Alya di Jakarta belum dimulai dengan cara yang ia bayangkan. Bukan hanya tentang memulai karier di Pratama Industries, tetapi juga tentang menghadapi kenyataan bahwa ia tak bisa lari dari masa lalunya. Dira, yang dulunya adalah pria yang membuatnya merasa istimewa, kini menjadi penghalang antara dirinya dan masa depan yang diidam-idamkan. Jika Alya ingin bertahan, ia harus menemukan cara untuk melawan bayang-bayang masa lalu yang mengintainya.

Hari itu berlalu, dan malam mulai merangkak mendekat. Alya memutuskan untuk kembali ke apartemennya, yang terletak di salah satu sudut Jakarta yang ramai. Ia berjalan dengan langkah lelah, tetapi hatinya penuh dengan semangat yang baru. Di dalam apartemen kecilnya, ia duduk di tepi ranjang, menatap langit Jakarta yang jauh lebih gelap dari langit kampung halamannya. Lampu-lampu dari gedung-gedung tinggi di luar sana hanya mengingatkan Alya bahwa di dunia ini, semua orang memiliki jalan mereka sendiri, dan setiap jalan itu mungkin membawa mereka lebih dekat pada kebenaran tentang diri mereka.

"Tuhan, beri aku kekuatan," Alya berbisik, matanya menatap langit malam yang tak berbintang. Ia tahu, untuk bisa berdiri di hadapan Dira dan menghadapinya tanpa takut, ia harus membangun kembali dirinya, sekuat apapun itu.

Di luar, hujan mulai turun dengan rintik yang lembut, mengetuk kaca jendela dengan irama yang menenangkan. Alya memejamkan matanya dan membiarkan kesedihan itu datang, hanya untuk merasakan bahwa ia masih hidup, dan masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki semua yang telah hancur.

Malam itu, di balik tirai kamar yang tertutup rapat, Alya membuat janji pada dirinya sendiri. Jika ia harus berjuang, maka ia akan berjuang hingga titik darah penghabisan. Dan Dira? Biarkan pria itu menjadi bayangan yang selalu mengintai, karena Alya tahu satu hal-di dalam hatinya, hanya ada satu perasaan yang tak pernah pudar: harapan.

Bab 2 ini menggambarkan bagaimana Alya berjuang melawan masa lalu dan membangun kekuatan dalam dirinya, menghadapi kenyataan yang sulit, serta membuat janji untuk terus maju.**Bab 2: Bayang-bayang Masa Lalu**

Alya keluar dari ruang wawancara dengan langkah yang lebih berat dibandingkan saat ia memasuki ruangan tersebut. Suasana di luar gedung terasa jauh lebih riuh daripada sebelumnya, namun di dalam hatinya, hanya ada keheningan yang mencekam. Wajah Dira yang penuh misteri masih tertanam dalam benaknya, mengisi ruang kosong yang selama ini ia kira telah mati. Dira Pratama, CEO yang tak hanya memimpin perusahaan raksasa, tetapi juga pernah menjadi pria yang mengisi hari-harinya dengan cinta, kini berdiri sebagai sosok yang seolah datang dari masa lalu yang kelam dan terlupakan.

"Ini gila," Alya bergumam, menatap sekelilingnya seolah mencari petunjuk untuk memahami apa yang baru saja terjadi. Ia merasakan angin Jakarta yang panas menyapa wajahnya, namun dingin menyelinap di hatinya. Ada perasaan seakan dunia ini sedang bermain-main dengannya, menempatkan Dira di tempat yang seharusnya menjadi awal baru baginya.

Matanya menatap gedung tinggi yang berkilauan, di mana lantai-lantai kaca menampakkan kilau matahari. Seperti sebuah dunia yang tidak peduli pada penderitaan orang-orang kecil, dunia ini berdiri megah, membungkus kenyataan dengan kilauan dan janji yang kosong. Alya merasakan air mata ingin meluncur, tetapi ia menahannya dengan sekuat tenaga. "Jangan menangis, Alya," bisiknya, suara itu hampir tak terdengar di tengah hiruk-pikuk jalanan. "Kamu bukan lagi gadis yang dulu."

Di tempat parkir gedung, suara mesin mobil dan klakson terdengar hampir bersamaan, menciptakan kekacauan yang tak jauh berbeda dengan perasaannya. Alya menatap ponselnya, mencoba mencari distraksi, tetapi matanya menatap angka yang menunjukkan pukul 10:30 pagi. Wawancara masih meninggalkan jejak yang dalam, begitu membekas, seolah menggoreskan luka di permukaan hatinya.

Ia mulai berjalan dengan langkah tak pasti, menyusuri trotoar yang penuh dengan pejalan kaki dan pedagang kaki lima. Setiap langkahnya menuntutnya untuk menghadapi kenyataan bahwa ia telah kembali di hadapan Dira, pria yang dulu membuatnya percaya bahwa mereka akan mengarungi hidup bersama, selamanya. Ia menutup matanya sejenak, mengingat bagaimana mereka pernah menghabiskan waktu bersama di kafe kecil di ujung kota, di mana Dira selalu memesan kopi hitam dan Alya memilih cappuccino dengan ekstra foam.

"Dira..." Alya mengucapkan namanya dalam bisikan yang terasa seperti doa. Ia merasa seolah sedang berada di dua dunia berbeda; dunia di mana ia berjuang untuk mendapatkan pekerjaan dan dunia di mana hatinya masih terperangkap dalam kenangan tentang pria itu.

***

Setelah beberapa jam berlalu, Alya duduk di sebuah taman kecil di tengah kota, di bawah pohon rindang yang memberikan keteduhan dari teriknya matahari. Di sekelilingnya, anak-anak bermain bola, pasangan muda bercengkerama, dan seorang pria tua duduk di bangku, memandangi bunga-bunga yang tumbuh di taman. Namun, semua itu tak mampu mengalihkan perhatian Alya dari perasaan sesak yang menyerang dadanya. Ia menghela napas, mencoba menenangkan pikirannya.

"Kenapa dia harus ada di sana?" tanyanya pada dirinya sendiri, matanya menatap jauh ke arah langit yang mulai mendung. Hatinya kembali mengingatkan pada masa-masa di mana mereka berdua berlari di bawah hujan, tertawa hingga perut mereka sakit. Dira, dengan senyumnya yang menenangkan, seolah bisa menghapus semua rasa takut yang pernah Alya rasakan. Namun, kebahagiaan itu berakhir begitu cepat, meninggalkan luka yang seolah tak pernah bisa sembuh.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar di tas. Alya menggenggamnya dan melihat nama yang muncul di layar: *Mama*. Sambil menekan tombol untuk menjawab, Alya merasa berat di dada. "Halo, Mama," suaranya terdengar lebih rapuh daripada yang ia kira.

"Alya, sayang, bagaimana wawancaranya?" suara Mama terdengar khawatir, penuh harap. Alya menutup mata, mencoba menenangkan diri di tengah gelombang emosi yang datang.

"Baik, Mama. Alhamdulillah," jawab Alya, meskipun kata-katanya terdengar seperti kebohongan. Ia tahu Mama tak akan pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam dirinya. Bagaimana bisa ia menjelaskan perasaan yang tak bisa diungkapkan, rasa sakit yang datang begitu mendalam hanya dengan melihat pria itu di sana, di tempat yang seharusnya tak ada kaitannya dengannya?

"Alya, kamu pasti akan berhasil. Kami di rumah selalu mendukungmu. Ingat, kamu bukan hanya berjuang untuk dirimu sendiri, tapi juga untuk kami," kata Mama, suaranya penuh dengan semangat dan cinta. Alya menatap taman di sekelilingnya, dan seketika itu juga, sebuah angin lembut melintas, membawa harum bunga dari taman yang seolah ingin menenangkan hatinya.

"Terima kasih, Mama. Aku tahu. Aku akan terus berusaha," kata Alya, menguatkan diri. Namun, saat panggilan berakhir dan kesunyian kembali menyelimuti, Alya merasakan ketegangan yang kembali menekan. Ia tahu bahwa langkah pertama yang harus diambil adalah menguatkan hatinya, tidak hanya untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk keluarganya.

***

Hidup Alya di Jakarta belum dimulai dengan cara yang ia bayangkan. Bukan hanya tentang memulai karier di Pratama Industries, tetapi juga tentang menghadapi kenyataan bahwa ia tak bisa lari dari masa lalunya. Dira, yang dulunya adalah pria yang membuatnya merasa istimewa, kini menjadi penghalang antara dirinya dan masa depan yang diidam-idamkan. Jika Alya ingin bertahan, ia harus menemukan cara untuk melawan bayang-bayang masa lalu yang mengintainya.

Hari itu berlalu, dan malam mulai merangkak mendekat. Alya memutuskan untuk kembali ke apartemennya, yang terletak di salah satu sudut Jakarta yang ramai. Ia berjalan dengan langkah lelah, tetapi hatinya penuh dengan semangat yang baru. Di dalam apartemen kecilnya, ia duduk di tepi ranjang, menatap langit Jakarta yang jauh lebih gelap dari langit kampung halamannya. Lampu-lampu dari gedung-gedung tinggi di luar sana hanya mengingatkan Alya bahwa di dunia ini, semua orang memiliki jalan mereka sendiri, dan setiap jalan itu mungkin membawa mereka lebih dekat pada kebenaran tentang diri mereka.

"Tuhan, beri aku kekuatan," Alya berbisik, matanya menatap langit malam yang tak berbintang. Ia tahu, untuk bisa berdiri di hadapan Dira dan menghadapinya tanpa takut, ia harus membangun kembali dirinya, sekuat apapun itu.

Di luar, hujan mulai turun dengan rintik yang lembut, mengetuk kaca jendela dengan irama yang menenangkan. Alya memejamkan matanya dan membiarkan kesedihan itu datang, hanya untuk merasakan bahwa ia masih hidup, dan masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki semua yang telah hancur.

Malam itu, di balik tirai kamar yang tertutup rapat, Alya membuat janji pada dirinya sendiri. Jika ia harus berjuang, maka ia akan berjuang hingga titik darah penghabisan. Dan Dira? Biarkan pria itu menjadi bayangan yang selalu mengintai, karena Alya tahu satu hal-di dalam hatinya, hanya ada satu perasaan yang tak pernah pudar: harapan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Si Kembar (TWINS LOVE)
9.0
Demi membiayai pengobatan sang ibu yang kritis, Maya terpaksa menyetujui tawaran pernikahan kontrak dari Reno. Di sisi lain, Reno sengaja memanfaatkan situasi sulit Maya untuk menjeratnya dalam ikatan legal yang menguntungkan. Bagi Reno, pernikahan ini hanyalah strategi licik untuk mengamankan harta warisan keluarga sekaligus memperkuat dominasinya di perusahaan. Mereka terjebak dalam kesepakatan gelap yang didasari oleh ambisi dan kebutuhan mendesak.
Sampul Novel DESTINY
9.5
Zeline Zakeisha sering dikhianati karena kondisi genophobia miliknya. Demi kesembuhannya, sahabat Zeline mendaftarkannya ke situs kencan internasional. Di sana, ia terhubung dengan Ricardo Fello Daniello, triliuner asal New York yang muak dengan wanita pemburu harta. Meski terpisah jarak Indonesia-New York, kepribadian Zeline yang unik justru memikat Ricardo. Kini, mereka harus berjuang melawan trauma dan jarak demi membuktikan apakah takdir akan menyatukan cinta mereka.
Sampul Novel Gairah Istri yang Tersembunyi
8.9
Abigail Putri terikat pernikahan paksa demi wasiat sang kakek. Di balik sosoknya yang biasa, ia menyembunyikan identitas profesional yang penuh gairah. Suaminya, seorang psikolog sekaligus CEO penerbitan yang dingin, justru terobsesi pada satu penulis misterius tanpa tahu itu adalah istrinya sendiri. Saat rahasia besar Abigail mulai terancam terbongkar, ia harus bernegosiasi dengan sang suami. Namun, perlindungan atas rahasia tersebut menuntut harga yang sangat mahal.
Sampul Novel Hasrat Cinta Terlarang CEO
8.8
Ditinggal pergi oleh kekasihnya tepat di hari pernikahan membuat Rachael hancur dan berhenti memercayai cinta. Namun, takdir membawanya kembali bertemu dengan Andrew Collins. Merasa tak punya harapan lagi dalam asmara, Rachael akhirnya setuju menikahi Andrew yang merupakan putra sahabat ayahnya. Tanpa ia sadari, keputusan ini menjadi awal dari rencana besar takdir yang akan mengubah pandangannya terhadap hubungan dan masa depannya selamanya.
Sampul Novel Kubeli Kesombongan, Gundik Suamiku
8.7
Keysa adalah istri dari seorang abdi negara yang juga berprofesi sebagai dosen serta influencer. Namun, kehidupannya terusik saat ia harus berhadapan dengan Risa, seorang wanita kaya raya yang diduga menjadi selingkuhan suaminya. Meski Risa sangat sombong dengan kekayaannya, Keysa justru bangkit menjadi sosok yang jauh lebih tangguh. Mampukah Keysa membungkam kesombongan Risa dan memenangkan persaingan ini? Simak perjuangan Keysa yang penuh emosi.
Sampul Novel Sang Putri Asli Kembali: Aku Mewarisi Kekayaan
9.0
Dahulu ia dihina sebagai penipu dan diusir secara kejam, namun kini ia kembali sebagai putri kandung dari keluarga konglomerat yang sangat berpengaruh. Dengan kekuatan dan kekayaan luar biasa di tangannya, ia siap menuntut balas. Ia memberikan kekalahan telak yang mempermalukan mantan tunangannya serta putri palsu yang selama ini mencuri posisinya. Sebuah kisah pembalasan dendam yang elegan dan penuh kemenangan bagi sang pewaris takhta yang sebenarnya.