Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel MANDUL

MANDUL

Kehidupan Izza penuh dengan tekanan karena ia tak kunjung hamil meski sudah lama menikah. Setiap hari, ia harus menelan hinaan dan cibiran dari orang-orang di sekitarnya. Keadaan semakin berat saat ia terus dibanding-bandingkan dengan Asih, menantu baru yang langsung mengandung di bulan pertama pernikahannya. Di tengah rasa sakit hati dan ekspektasi keluarga, mampukah Izza bertahan? Ikuti perjuangan emosional Izza demi mendapatkan garis dua yang dinanti.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Sayang, besok weekend. Nonton film yuk. Kita sama-sama pulang lebih awal kan?" Begitulah isi pesan WA Yanto kepada istrinya.

"Besok aku pulang jam setengah empat, Yang. Kita nonton jam setengah lima yaa. Nanti aku pesen tiket online aja," balas Izza.

"Oke sayang, nanti sepulang dari pabrik aku numpang mandi di rumah ibu deh. Terus aku jemput kamu di kantor ya." Yanto tampak bersemangat mengetik.

"Siap ❤️." Masuklah notice balasan dari istrinya.

Yanto tau kapan waktunya quality time bersama pasangannya. Ia tau istrinya stress berat dengan semua beban di pundaknya. Terlebih jika memikirkan soal momongan.

Jadi, setiap weekend, Yanto mengajak istrinya refreshing. Kadang ke mall. Sekedar makan di foodcourt atau nonton film terbaru sambil makan popcorn. Terkadang pergi makan bakso di pinggir jalan. Kadang juga makan lalapan di warung kesukaan Izza. Sesekali ke pantai atau ke kolam renang dekat rumah sambil jajan cilok. Dan kalau malas pergi-pergi, mereka memilih menghabiskan waktu di rumah. Beli jajanan di minimarket dan seharian ngobrol, rebahan, atau nonton TV berdua sambil makan oreo dan eskrim lima ribuan. Itu sudah quality time bagi mereka.

Jam tiga sore, Yanto sudah pulang. Ia langsung mampir ke rumah ibunya. Mandi dan bergegas menjemput Izza.

"Mau kemana, Le? Izza mana?" tanya Bu Ami.

"Mau nonton, Bu. Mumpung malem minggu. Ini mau jemput Izza ke tempat kerja terus berangkat," jawab Yanto.

"Owh, nanti sepulang nonton ajak Izza mampir kesini ya." Terlihat wajah Bu Ami penuh harap. Mungkin rindu kepada menantunya.

"Nginep juga boleh kok, Le," lanjut Bu Ami sambil nyeruput kopi.

"Siap, Bu," tukas Yanto sambil bersalaman dan pamit kepada Bu Ami.

**********

Sepulang dari nonton film, Yanto dan Izza makan di tempat langganan mereka.

"Sayang, habis ini kita mampir ke ibu ya." Tiba-tiba Yanto memulai percakapan ketika sedang makan.

"Ehmmm...?" Izza terlihat berfikir sejenak.

"Oke deh ayo mampir," sahutnya setengah ragu.

"Eh tapi nanti bungkusin ibu roti bakar di perempatan ya," lanjut Izza, dengan senyum mengembang.

"Okay," jawab Yanto sambil nyengir kuda.

***********

Yanto pun melajukan motor ke rumah ibunya. Sesampai di muka gang, Izza tiba-tiba menghela napas gusar.

"Semoga tak ada omongan-omongan itu lagi." Ia berbisik dari belakang, tepat di telinga suaminya.

Yanto mengangguk paham.

Sampailah mereka di depan rumah Bu Ami. Yanto menghentikan motor dan Izza tetap di posisi duduknya. Sekilas ia menoleh ke dalam rumah Bu Ami. Asih terlihat sedang duduk di sofa dengan daster yukensi sepaha. Asih sedang memotong kuku. Terlihat perutnya sudah besar. Mungkin saat ini, dia sudah hamil tujuh bulan.

Setelah mengumpulkan kekuatan, kesabaran, dan keikhlasan. Izza masuk ke dalam rumah mertuanya.

Terdengar suara Bu Ami dari dapur, "Ya Allah anakku, lupa kah sama jalan kerumah ibu? Lama banget gak kesini. Nginep ya?" ucapnya.

"Tidak, Bu. Izza gak bawa baju ganti. Jadi ndak bisa nginep," jawab Izza seraya tersenyum, kemudian segera ia bersalaman dan memberikan roti bakar kepada Bu Ami.

"Makanlah sana. Ibu sudah masak," suruh Bu Ami sambil membuka roti itu.

"Nanti saja, Bu. Barusan makan kok," sahut Yanto sambil mendudukkan bokongnya di kursi dapur, menemani ibunya yang sedang menggoreng rengginang.

Izza bergegas keluar ke teras hendak mengambil tasnya di motor.

Tiba-tiba Asih menyapa, "Dari mana, Mbak?" tanya Asih sambil mengelus perutnya. Diiringi raut wajah pamer.

Sekilas Izza menoleh ke perut adik iparnya itu, dan ..., Degh ...! ada perasaan tak nyaman mendera. Hatinya seperti dihantam ribuan batu. Ada kesedihan tersendiri yang mencabik-cabik perasaannya.

"Dari nonton ke bioskop," jawab Izza singkat.

"Enak banget yaa, pulang kerja nonton, jalan-jalan, makan-makan. Gak ada anak sih. Jadi bebas gak ada yang dipikir selain bersenang-senang." Asih mulai mencibir.

"Aku sih udah ndak bisa kemana-mana. Perut udah buncit kayak gini. Bumil kan harus banyak-banyak di rumah." Mulut Asih terus menerutuk begitu saja. Sambil sesekali menyunggingkan senyuman mengejek.

"Iya lah, kapan lagi happy-happy? Sayang dong, kalau uang dicari terus-menerus, tapi gak dipake buat nyenengin diri," jawab Izza dengan tenang.

"Jangan nyari uang terus. Gak ada tanggungan beli pampers dan sufor kan? Hehehe." Asih berbicara dengan nada datar tapi di setiap kalimatnya terselip duri.

"Emang gak ada tanggungan buat beli pampers sih. Tapi lipstick aku mahal, lhoh. Hehehe," jawab Izza dengan senyuman elegan.

"Aku sih pakai lipstick sepuluh ribuan saja yang penting merah di bibir. Lagian bumil kayak aku ini meskipun pakai makeup murah, aura bumilnya itu lho udah mengkilau." Asih terus saja berbicara soal kehamilannya.

"Iya lah, kamu kan cuma ke sungai, nyuci kolor. Rugi kan kalau beli lipstick mahal-mahal. Aku kan harus tampil prima di depan mitra kerjaku." Izza masih bisa menghandle rentetan keusilan mulut Asih.

"Ke sungai itu cuma nemenin suami aku lho. Yang nyuci baju yaa dia. Aku mah gak pernah nyuci baju. Maklum kan lagi hamil. Hamil itu enak lho, Mbak. Dimanja." Terlihat Asih begitu menggebu-gebu pamer kehamilan.

Oh ya. Rumah Bu Ami ini bersebelahan dengan sungai. Jadi, masih sering nyuci baju ke sungai.

"Hari gini ngapain nyuci baju ke sungai? Aku nyucinya ke laundry aja lebih praktis. Kalau mau nyuci sendiri dirumah juga bisa. Ada mesin cuci dan tinggal diputer. Hemat tenaga, hemat waktu dan gak perlu setor darah ke nyamuk penunggu sungai kan." Izza terus saja mendapati jawaban bagus untuk ocehan adik iparnya.

"Oh iya, perihal dimanja. Kalau aku sih sejak menikah udah dimanjain sama Masmu. Gak harus hamil juga baru dimanjain," tandas si Izza.

"Definisi dimanja itu banyak, gak cuma nemenin ke sungai aja. Malem minggu nih, minta jalan-jalan kek sama Ragil. Minimal ngajak makan di luar sana. Nah, itu salah satu definisi dimanjain, lho." Izza seperti sudah menyiapkan jawaban-jawaban yang bagus untuk kejulidan Asih.

"Yaa gak gitu juga, Mbak. Dimanja itu biasanya sama suami dilarang kerja. Kayak aku nih, nikah, hamil dan dirumah nganggur. Nikmat banget lho, gak usah repot-repot kerja." Kini Asih menyindir perihal rutinitas Izza yang sibuk berkarir.

"Ohh, kalau soal kerja. Aku sih lebih ke sebuah rutinitas yang positive ya. Daripada nganggur di rumah. Paling-paling gosip sana-sini sama tetangga. Gak ada faedahnya kan? Mending berkarir. Kerja kan juga ibadah. Penghasilanku ya buat diriku. Buat tabungan, buat beli makeup, buat beli baju, beli tas, dan untuk hal-hal lain. Rumah kami juga alhamdulillah sudah lengkap isinya. Dan satu lagi, aku dan masmu bekerja keras karena kami sadar kami harus mandiri. Kami gak mau hidup membebani orang tua, kayak kamu. Heheeh." Izza terkekeh.

"Dan satu lagi, Orang tuaku pasti bangga melihat anak perempuannya bisa bekerja dan sesuai dengan harapan mereka. Mandiri. Pemikiranku sih berbeda dengan pemikiranmu yang hanya lulusan SD." Wanita itu benar-benar menggencarkan serangan balik untuk setiap mulut julid adik iparnya.

Akhirnya, Asih pergi masuk ke dalam kamarnya begitu saja, tanpa berbicara apa-apa. Izza bersikap masa bodoh dan tidak peduli jika adik iparnya itu baper atau tersinggung.

Asih-lah yang menyulut api peperangan terlebih dahulu.

"Dasar wanita julid," desah si Izzah setengah kesal.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95GQH" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95GQH
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bayangan Luka di Balik Seragam Putih
7.9
Aldian bertekad mengungkap misteri kematian adiknya yang penuh fitnah. Penyelidikannya tertuju pada seorang guru yang menyimpan rahasia kelam di balik reputasi terhormat. Di tengah rencana balas dendam, Aldian bertemu Aluna, putri sang guru yang hidupnya terkekang ambisi ibu. Meski awalnya hanya dianggap alat, Aluna ternyata memiliki luka serupa. Kini Aldian terjebak dilema antara menuntaskan dendam atau merajut cinta di atas kebenaran yang menyakitkan.
Sampul Novel Forced Marriage
9.2
Joan Arkan Rivenno, CEO sukses yang jatuh hati pada pandangan pertama, dijodohkan dengan aktris jelita Liza Nathalia Hope. Sayangnya, Liza menolak karena menganggap Joan hanya kakak dan ia sudah memiliki kekasih. Meski Liza terang-terangan menentang, obsesi Joan justru makin menguat. Suatu malam, Joan melakukan tindakan nekat yang merenggut kesucian Liza hingga ia hamil. Pernikahan paksa pun terjadi, meski hati Liza penuh dengan penolakan dan rasa benci.
Sampul Novel Hati Tak Terucap: Istri yang Bisu dan Terabaikan
9.4
Lima tahun Kelly menderita sebagai istri bisu yang diabaikan suami dan disiksa mertuanya. Setelah resmi bercerai, ia mendapati mantan suaminya segera bertunangan dengan wanita idaman lain. Dalam kondisi hamil, Kelly memilih pergi dan menganggap pria itu asing. Saat sang mantan memohon untuk kembali, Kelly yang telah bahagia dengan hidup barunya memberikan penolakan keras. Ia tidak lagi memberi ruang bagi pria yang dulu membuangnya demi cinta yang lain.
Sampul Novel Istri Kontrak Tuan CEO
8.4
Hidup Scarlett Piers hancur saat ayah dan ibu tirinya menjebaknya untuk dijual kepada duda tua kaya. Di tengah keputusasaan, Xanders Rilley hadir menyelamatkannya. Pengusaha dingin nan misterius itu menawarkan perlindungan, namun dengan syarat pernikahan kontrak selama satu tahun. Kini Scarlett harus memilih: menerima tawaran Xanders demi membalaskan dendam pada keluarganya, atau justru terjerumus ke dalam lingkaran masalah yang jauh lebih berbahaya.
Sampul Novel Istri Rahasianya, Aib Publiknya
8.1
Duniaku runtuh saat menangani pasien VIP bernama Evelyn Santoso. Tunangan yang ia tangisi adalah suamiku, Bima. Namun di foto itu, dia adalah Brama Wijaya, taipan kejam, bukan pria konstruksi yang kurawat saat amnesia. Brama masuk tanpa mengenaliku, lalu memeluk Evelyn dan membisikkan janji setia yang sering ia ucapkan padaku. Melalui tatapan dinginnya, ia menegaskan bahwa pernikahan kami adalah aib rahasia yang harus segera ia lenyapkan selamanya.
Sampul Novel Kematianku Membuat Hatinya Hancur
8.8
Nathan Cross, bos mafia penguasa kegelapan, menikahi Jane Rivers yang ia cintai selama satu dekade. Jane merasa sangat dimuliakan hingga tahun kelima, saat ia hamil dan Nathan memaksanya menggugurkan janin itu demi wanita lain. Terungkap pula bahwa Nathan dalang kehancuran keluarga Jane. Hancur, Jane memalsukan kematiannya lewat bantuan musuh Nathan untuk kabur. Nathan pun meratap penuh penyesalan, namun luka Jane sudah terlalu dalam untuk dimaafkan.