
Malam Untuk Danira
Bab 2
Batamindo.
Itu adalah tulisan yang Danira baca saat taksi yang membawa mereka dari bandara memasuki sebuah kawasan yang menurut Lusy adalah kawasan tempat tinggalnya.
Jadi, Danira akan menumpang dulu sebentar di kediaman Lusy sampai ia mendapatkan pekerjaan.
“Di sini tempatnya, Sy?” tanya Danira sambil terus memandang ke luar lewat kaca jendela. Sejak dari bandara tadi, gadis itu tidak sedikitpun mengalihkan pandang dari kaca jendela dan merekam semua yang ia lihat untuk di ceritakan nanti pada kedua orang tuanya ketika ia pulang kampung nanti.
“Iya. Nama daerahnya Muka Kuning. Kamu lihat itu,” tunjuk Lusy.
“Semua bangunan itu adalah perusahaan-perusahaan. Pemiliknya orang luar negeri semua. Dan yang di sebelah sana, coba kamu lihat.” Lusy mengalihkan tunjuk ke sisi lain mereka. Danira mengikuti arah tempat yang di tunjuk Lusy.
Di sana, terdapat bangunan bertingkat dengan banyak jendela. Hampir di setiap dindingnya tergantung jemuran kain yang telah selesai di cuci. Terlihat sedikit kotor menurut Danira, masa iya... menjemur kain melewati jendela.
“Itu namanya dormitory,” ujar Lusy memberi tahu.
“Dormitory?” Danira mengulang kembali perkataan Lusy. Kedua alis matanya bertaut, kata itu baru pertama ia dengar.
“Iya. Di sini di sebut Dormitory. Hampir sama dengan rumah susun kalau di kampung kita. Hanya saja, dormitory ini isinya sampai enam belas orang dalam satu kamar.”
Mulut Danira terbuka. “Enam belas orang?” tanya nya tidak percaya.
“Iya. Enam belas orang. Dan sudah di sediakan ranjang. Enak kan?” ujar Lusy membangga.
Danira membayangkan betapa luasnya ruangan itu, kemudian....
“Bayar berapa sebulan?” tanya Nadira ingin tahu.
“Gratis. Perusahaan yang membayarnya.” Sekali lagi Lusy membanggakan tempat tinggal dan tempat ia bekerja. Dan Danira kembali di buat takjub mendengar pernyataan Lusy.
“Kalau kita sewa rumah atau ngekos, sebulannya biaya sewa bisa sampai tujuh ratus lima puluh ribu.”
Kali ini Danira benar-benar di buat menganga oleh Lusy. Tujuh ratus lima puluh ribu bukan angka yang kecil bagi Danira. Ia bisa mengumpulkan uang sebanyak itu selama tiga bulan menjalin daun kelapa menjadi sarang ketupat.
Lusy mengulum senyum melihat ekspresi Danira. Sahabatnya itu memang sepolos itu, apa-apa terpancar langsung dari wajahnya.
Taxi yang mereka kendarai telah sampai di dormitory tempat Lusy tinggal. Gadis itu membayar ongkos taxi dan mengajak Danira masuk. Sebelumnya ia berbicara dulu dengan security yang menjaga di pos depan. Danira di suruh menunggu di pintu masuk.
Kamar Lusy berada di lantai dua, Danira tidak sedikitpun melepaskan pandang dari sekelilingnya. Bangunan tersebut terdiri dari 4 lantai dengan kamar yang sangat banyak tapi suasana di sana terlihat sangat sepi seperti tidak ada yang menghuni padahal di depan pintu kamar ada beberapa jemuran yang tergantung.
“Kok sepi, ya, Lus?” tanya Danira penasaran.
“Pada kerja semua,” jawab Lusy santai. “Kalau tidak kerja, paling mereka istirahat dan tidur. Karena ada yang kerja malam dan pulang pagi,” lanjutnya.
Danira mengangguk mengerti, ia sekarang berada di kawasan pekerja yang menurut Lusy tidak pernah stop meskipun di malam hari. Dari Lusy juga Danira tahu kalau pekerja di sana selalu berganti shif dari pagi ke malam dan dari malam ke pagi sehingga perusahaan di sana selalu beraktivitas tanpa henti. Bahkan di hari minggu tetap ada yang masuk kerja dan pekerjanya di bayar dua kali lipat dari gaji biasanya. Kalau tidak salah, namanya OT. Singkatan dari over time. Ternyata di sini sekeren itu, terkadang mereka menggunakan bahasa asing di keseharian, itu yang ada dalam pikiran Danira.
Danira benar-benar tidak sabaran lagi bergabung bersama mereka, menjadi pekerja seperti Lusy.
“Istirahat dulu, Ra,” ujar Lusy saat mereka sudah sampai di kamar Lusy.
“Ini ranjangku. Nanti kamu di atas ya, kebetulan di atas sedang kosong. Orangnya sudah habis kontrak dan harus meninggalkan tempat ini.” Lusy menunjuk ranjang tingkat dua di bagian atasnya. Danira mengangguk dan segera naik ke bagian atas. Ia lalu merebahkan diri di sana, meskipun sebenarnya ia tidak merasakan lelah karena perjalanan dari kampungnya ke sini terasa singkat sekali, padahal jaraknya teramat jauh.
Danira menatap langit-langit kamar sambil membayangkan nasibnya beberapa bulan ke depan, gadis itu tersenyum membayangkan perubahan hidupnya nanti.
Kata Lusy satu bulan ia bisa mendapatkan gaji empat sampai tujuh juta. Tergantung berapa lama ia kerja dalam satu bulan itu. Kalau banyak OT nya maka gaji akan semakin besar. Nanti kalau aku sudah bekerja, aku akan mengirim ayah dan ibu uang separuh dari gajiku. Sisanya lagi akan aku simpan sebagai tabungan, karena rumah tidak bayar, makan siangnya sudah di kasih perusahaan dan kita hanya memikirkan makan malam saja lagi, sepertinya pengeluaran tidak terlalu besar. Aku pasti bisa menabung banyak dalam satu bulan.
Danira sudah menghitung-hitung jumlah tabungan yang ia dapatkan dalam khayalannya.
Pagi datang menyapa...
“Ra, hari ini aku masuk pagi pulang sore. Gak OT hari ini, pulangnya kita jalan-jalan ya. Aku akan bawa kamu keliling Muka Kuning biar kamu tau daerah sekitar sini, besok paginya kamu bisa keliling mencari lowongan pekerjaan. Akan banyak kawan yang sama dengan kamu, jadi kamu nanti bisa menyapa mereka agar tidak sendirian.” Lusy yang sudah selesai mandi dan sedang memakai pakaian kerja menjelaskan kegiatan apa yang akan mereka lalui hari ini.
“Untuk makan pagi dan siang ini, masih bisa pakai lauk yang kita bawa kemaren, kan?” tanya Lusy.
Danira mengangguk, Ibunya sudah membekali lauk untuk makan mereka setibanya di Kota Batam ini dan lauk kemaren itu masih bersisa. Danira tinggal memanaskan nya saja sebelum makan.
Dan hari pertama Danira berada di blok dormitory Lusy, hanya ia habiskan dengan duduk sambil membaca novel kesayangan yang ia bawa dari kampungnya.
Dua bulan sudah berlalu, Danira belum juga mendapatkan pekerjaan. Setiap hari ia sudah berkeliling area Batamindo, bahkan ia sudah hafal setiap sudut dan nama perusahaan yang ada di sana. Ternyata, mencari pekerjaan tidak semudah yang Lusy ceritakan. Setiap hari ia berkeliling tapi belum mendapatkan pekerjaan. Pernah secara administrasi ia sudah lulus, tapi ia gagal di tes kesehatan.
Danira hampir putus asa karena tabungan yang ia punya dari hasil menjalin daun kelapanya sudah menipis. Ia tidak mungkin terus menerus menggantungkan makan pada Lusy. Biaya sewa kamar dan transportasinya untuk berkeliling mencari pekerjaan sangat besar, bahkan ia sudah menekan biaya makannya supaya tidak terlalu mahal.
“Ra, aku habis kontrak,” ucap Lusy waktu itu.
“Terus?”
“Maaf, kamu gak bisa ikut aku terus. Kita juga harus keluar dari dormitory ini.”
Anda Mungkin Juga Suka





