
MALAM TERAKHIR DI KOTA
Bab 2
Malam semakin larut, dan di tengah hingar bingar bar yang dipenuhi oleh dentingan gelas dan tawa pengunjung lainnya, suasana di meja Ardi terasa hangat. Momen nostalgia memenuhi percakapan mereka, seperti arus sungai kenangan yang mengalir kembali ke masa-masa saat semuanya terasa lebih sederhana.
Reza, dengan senyum nostalgia, mengangkat gelasnya sambil tertawa. "Ingat nggak waktu kita bolos kuliah demi nonton konser? Dosennya sampai marah besar ke kita besoknya!"
Ardi dan Andi langsung tertawa terbahak-bahak. Waktu itu, mereka masih mahasiswa penuh semangat yang merasa bahwa dunia adalah tempat yang tak terbatas. Konser band indie lokal menjadi hal yang sangat penting, jauh lebih penting daripada ujian tengah semester.
"Hampir saja kita nggak lulus karena bolos itu!" kata Andi, menggelengkan kepala dengan senyum penuh nostalgia. "Tapi, jujur saja, itu malam yang tak terlupakan. Kita benar-benar nekat waktu itu."
Ardi tersenyum lebar, mencoba menikmati kenangan itu, meskipun ada sesuatu yang masih menghantui pikirannya sejak percakapannya dengan Fira di luar bar. Ia mencoba untuk tidak memikirkannya, untuk fokus pada tawa dan cerita lucu yang berputar di sekitar meja mereka. Ini adalah malam terakhir sebelum hidupnya berubah selamanya, dan ia ingin menikmati setiap detiknya.
"Aku nggak percaya kita udah sejauh ini," kata Fira sambil tersenyum kecil, namun matanya tampak sedikit menerawang. "Rasanya kayak baru kemarin kita masih duduk-duduk di kampus, nggak ada yang tahu akan jadi seperti ini."
Reza menyentuh bahu Fira dengan lembut. "Iya, waktu benar-benar cepat berlalu. Sekarang, lihat kita. Ardi akan menikah, Andi sudah punya anak, aku... ya, aku masih di sini, menikmati kebebasan hidup."
Tawa kecil terdengar, tapi di balik tawa itu, ada rasa kebersamaan yang begitu mendalam. Mereka pernah muda bersama, melewati masa-masa sulit, menjalani impian mereka. Masing-masing kini telah berada di jalur yang berbeda, tapi malam ini, nostalgia menyatukan mereka kembali seperti dulu.
"Ngomong-ngomong, Ardi," Andi berkata sambil menatapnya dengan tatapan penuh godaan, "Kamu ingat nggak waktu kamu naksir berat sama dosen bahasa Inggris kita? Yang itu, siapa namanya?"
Semua orang langsung tertawa keras. Ardi merasakan wajahnya memerah, meskipun ia berusaha tertawa juga. "Ya ampun, kenapa kamu harus ingat itu?" jawabnya sambil menutupi wajahnya dengan tangan.
"Dosen itu benar-benar bikin kamu gugup setiap kali dia masuk kelas!" tambah Fira sambil tertawa lebih keras. "Kamu sampai keringat dingin dan salah sebut nama sendiri waktu dia tanya!"
Tawa mereka membahana lagi, memenuhi udara malam di dalam bar. Ardi tertawa bersama mereka, meskipun dalam hatinya ia masih merasakan perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Malam ini begitu hangat dan penuh cinta dari teman-temannya, tapi ada ketegangan yang ia rasakan, sesuatu yang tak terlihat tapi nyata. Ia melihat Fira tertawa, namun senyum di wajahnya tak bisa menutupi rasa canggung yang Ardi tahu ada di sana. Setelah pengakuannya tadi, hubungan mereka terasa sedikit goyah, meski Fira berusaha keras menyembunyikannya.
Dan bukan hanya Fira. Andi, yang biasanya begitu ceria dan tak pernah menunjukkan tanda-tanda masalah, tampak sedikit lebih pendiam dari biasanya, terutama setelah canda tawa tentang masa kuliah mereka. Ardi memperhatikan bahwa Reza juga sesekali melirik ke arah Andi, seolah ada sesuatu yang dipendam antara mereka.
Ardi mengabaikan perasaan itu. Mungkin hanya perasaannya saja. Ini adalah malam terakhir kebebasannya, dan ia ingin menikmatinya tanpa terlalu memikirkan hal-hal yang rumit. Ia mengangkat gelasnya sekali lagi dan berkata, "Untuk kita. Persahabatan yang nggak akan pernah berubah, apa pun yang terjadi."
Mereka semua bersulang. Gelas-gelas saling berdenting, dan tawa kembali mengalir. Tapi di sudut benak Ardi, ia tak bisa mengabaikan fakta bahwa ada sesuatu yang tak biasa di antara mereka malam ini. Mungkin itu hanya bayang-bayang kegelisahan tentang pernikahannya, atau mungkin itu lebih dari sekadar perasaan aneh yang muncul karena pengakuan Fira.
Saat mereka terus mengenang masa lalu, satu demi satu cerita lucu bermunculan. Malam itu seharusnya menjadi malam perayaan, malam untuk merayakan ikatan yang telah mereka bangun bertahun-tahun. Tapi Ardi mulai menyadari, ada jarak yang perlahan muncul di antara mereka. Persahabatan mereka yang begitu erat dan penuh tawa tampaknya menyimpan rahasia yang selama ini tidak pernah diungkapkan.
Fira, meskipun terus tersenyum dan tertawa, sesekali melirik Ardi dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
Reza, meskipun tampak menikmati percakapan, sering kali terdiam ketika topik berubah menjadi lebih serius. Dan Andi-Andi tampak terjebak dalam pikirannya sendiri, seperti ada sesuatu yang mengganjal di dalam dirinya.
"Kenapa semua orang terlihat aneh malam ini?" pikir Ardi dalam hati. Ia berusaha keras untuk menikmati momen, tapi semakin malam berlalu, semakin ia merasa ada sesuatu yang tidak beres.
"Nostalgia memang menyenangkan, tapi... ada sesuatu yang lebih besar di balik semua ini," pikirnya, sambil menyeruput minumannya dan menyandarkan punggungnya di kursi. Malam masih panjang, dan Ardi tahu, rahasia yang terpendam dalam persahabatan mereka akan segera muncul ke permukaan.
Ardi mencoba kembali fokus pada percakapan di meja. Reza tengah menceritakan kisah konyol tentang masa-masa mereka di kampus, tapi pikirannya terus melayang. Ada sesuatu yang mengganggu, sebuah ketegangan yang semakin jelas, namun sulit untuk ditangkap sepenuhnya.
"Tapi serius, bro, ingat nggak waktu kita nekat naik gunung tanpa persiapan apa-apa?" Reza tertawa, sementara yang lain mengangguk, mengenang salah satu momen paling gila yang pernah mereka alami bersama.
"Hampir aja kita nggak turun lagi," Andi menimpali, senyum tipis di wajahnya, meskipun kali ini matanya tampak jauh. "Reza yang hampir jatuh ke jurang waktu itu, kalau nggak ditarik sama Ardi."
"Aku ingat itu," kata Ardi, mencoba ikut tertawa meski kegelisahan di hatinya masih ada. "Tapi sepertinya aku yang lebih takut daripada Reza waktu itu."
Fira tersenyum, menatap gelasnya. "Itu salah satu momen kita merasa hidup, ya? Waktu kita nggak punya apa-apa selain keberanian dan persahabatan."
Kata-kata Fira membuat suasana tiba-tiba hening. Ardi bisa merasakan bahwa ada makna lebih dalam dari ucapan Fira. Dia menatap Fira, berharap mendapatkan petunjuk lebih dari tatapannya, tapi Fira dengan cepat mengalihkan pandangannya, mencoba menjaga senyumnya tetap ringan.
Andi, yang sebelumnya sibuk dengan ponselnya, tiba-tiba berdiri. "Aku harus ambil udara segar sebentar," katanya tanpa melihat siapa pun. Ardi bisa merasakan sesuatu yang aneh dalam sikapnya, tapi ia tidak ingin menanyakan apa-apa. Setidaknya, belum saat ini.
Setelah Andi keluar, Reza menatap Ardi dengan cerminan kebingungan di wajahnya. "Ada apa dengan Andi? Dia kelihatan nggak seperti biasanya malam ini."
Ardi hanya mengangkat bahu. "Nggak tahu. Mungkin lagi ada masalah di rumah?"
Fira menggeleng pelan, seolah tahu lebih banyak. "Bukan soal rumah...," katanya dengan suara lirih, lalu menutup mulutnya, sadar telah mengatakan terlalu banyak.
Reza menatap Fira tajam. "Kamu tahu sesuatu, Fir?"
Fira terlihat ragu sejenak, tapi kemudian ia memutuskan untuk berbicara. "Aku nggak tahu detailnya, tapi beberapa hari lalu aku sempat ngobrol sama Andi. Dia terlihat sangat... tertekan."
Ardi ikut menunduk, merasakan sesuatu di dadanya mulai membentuk kecemasan yang lebih besar. "Tertekan kenapa?"
Fira menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab. "Dia bilang... dia merasa bersalah soal sesuatu. Sesuatu yang terjadi lama sekali, tapi dia nggak bisa berhenti memikirkannya."
Kata-kata itu menyebar di antara mereka, menciptakan suasana yang tiba-tiba berat. Ardi mencoba mengingat apakah ada sesuatu di masa lalu yang bisa menjelaskan perasaan Andi saat ini, tapi pikirannya tetap kosong. Apa pun itu, tampaknya Andi telah menyimpannya begitu lama, hingga sekarang tidak bisa lagi menahan beban tersebut.
"Dia nggak bilang apa itu?" tanya Reza, masih dengan tatapan penuh tanda tanya.
Fira menggeleng pelan. "Nggak, dia nggak bilang apa-apa, cuma menyebutnya 'kesalahan terbesar'."
Tatapannya berubah serius, seperti mencoba mencari jawaban di mata Ardi dan Reza. "Apa kalian tahu apa yang dia maksud?"
Ardi dan Reza saling bertukar pandang. Mereka berdua menggeleng.
"Kesalahan terbesar?" gumam Ardi pada dirinya sendiri, mencoba mengingat apakah ada hal besar yang pernah terjadi dalam kehidupan mereka yang mungkin menyebabkan Andi merasa seperti itu. Tapi ingatannya tidak memberikan apa-apa. "Kita nggak pernah ada di situasi yang benar-benar buruk, kan?"
Reza merespons dengan pandangan yang sama bingungnya. "Seingatku, nggak ada. Maksudku, kita semua bikin kesalahan, tapi nggak ada yang sampai segitunya."
Suasana menjadi semakin tegang saat mereka berusaha memecahkan misteri di balik sikap Andi. Sebelum mereka bisa lebih jauh menebak, pintu bar terbuka dan Andi kembali, wajahnya tampak lebih tenang tapi sedikit canggung.
"Ada apa ini?" Andi mencoba tersenyum, namun senyumnya tak mencapai matanya. "Kenapa kalian semua kelihatan tegang?"
"Lu nggak apa-apa, Ndi?" Ardi akhirnya bertanya langsung. "Kamu kelihatan nggak nyaman."
Andi tertawa pelan, meski terdengar terpaksa. "Ah, nggak ada apa-apa. Cuma stres soal kerjaan, you know. Semua orang punya masalah sendiri, kan?"
Reza, yang tak pernah pandai menyembunyikan rasa ingin tahunya, menatap Andi lebih serius. "Masalah besar? Apa ini ada hubungannya sama 'kesalahan terbesar' yang kamu bilang ke Fira?"
Andi tampak kaget, matanya melebar. Ia menatap Fira dengan ekspresi penuh rasa bersalah sebelum akhirnya tertunduk. "Kamu cerita ke mereka?"
Fira langsung merasa bersalah. "Aku nggak maksud buka rahasia, Ndi. Tapi mereka khawatir."
Andi menarik napas panjang dan duduk kembali, kali ini tanpa mencoba menutupi ketegangannya.
Tangannya memegang erat gelas bir di depannya, bergetar halus. "Ya... itu... masalah lama. Bukan sesuatu yang gampang aku bicarakan."
Ardi, yang sudah semakin penasaran, mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. "Apa itu, Ndi? Kita udah sahabatan lama. Apa pun itu, kita bisa hadapi bareng."
Andi menatap mereka satu per satu, tampak ragu-ragu. Kemudian, setelah keheningan yang panjang, dia akhirnya berkata dengan suara rendah. "Ini soal kamu, Ardi."
Ardi langsung merasa dadanya sesak. "Maksud kamu, apa?"
Andi mengusap wajahnya dengan kedua tangan, berusaha keras mencari keberanian untuk melanjutkan. "Ingat waktu kamu pacaran pertama kali sama Citra?"
Ardi mengangguk, mencoba mengerti ke mana arah pembicaraan ini. "Iya, terus?"
"Saat itu... ada satu malam... aku... aku tidur dengan Citra."
Seluruh ruangan terasa berhenti bergerak. Ardi membeku, merasa seluruh dunianya berguncang. Tawa dan nostalgia malam itu seketika lenyap. Yang tersisa hanyalah ketegangan yang lebih besar dari apa pun yang pernah ia rasakan dalam hidupnya.
Bersambung...
Anda Mungkin Juga Suka





