
Majikanku Menjadi Mertuaku
Bab 3
Bu Heti tak juga sadarkan diri, beliau benar-benar syok, Aisyah menjadi panik. Pak Aryo telah pergi ke kantor sebab ada rapat penting. Ternyata wajah hitam itu adalah Angga. Namun, Angga sendiri tak menyadari.
"Lha kenapa ibu pingsan?" teriak Angga.
"Kamu siapa, ka--mu, hantu!" Aisyah menjadi takut.
"Sembarangan, aku ini Angga, cowok paling tampan!" Angga berlagak sok di depan Aisyah.
"Kalau kau benar om Angga, coba lihat wajahmu!" Aisyah mendekap bu Heti yang masih pingsan sebab syok melihat wajah hitam Angga.
"Aneh, gak tahan ya melihat wajah tampan aku," Angga menggoda Aisyah, Aisyah yang melihatnya semakin ketakutan.
Angga berlalu menuju cermin, tak lama terdengar teriakan Angga, "haaa! wajahku!" teriak Angga syok.
Bu Heti seketika sadar sembari memegang kepalanya yang berdenyut pusing.
"Ibu, ibu, alhamdulillah ibu sudah sadar," Aisyah membantu bu Heti berdiri.
"Aisyah, di mana manusia, muka hitam itu?" tanya bu Heti pada Aisyah sembari mengusap kening yang masih pusing.
"Bu, ternyata orang yang muka hitam itu, om Angga!" celetuk Aisyah dengan muka syok.
"Apa? kok bisa hitam?" cercah bu Heti tak percaya.
"Aisyah juga tak mengerti bu, tadi Aisyah menyuruhnya bercermin dan tak lama, om Angga berteriak," celetuk Aisyah.
"Bu, ibu, wajah Angga yang tampan, bu!" Angga muncul dengan wajah masih hitam.
Bu Heti menahan tawa, sekilas dia ingat pasti ulah pak Aryo, Ayahnya Angga. Pak Aryo sering polengin wajah Angga, kalau Angga kesiangan.
Aisyah masih bergidik ngeri melihat Angga, "apa lihat-lihat? Entar naksir!" bentak Angga kesal pada Aisyah.
Berdetak sedih hati Aisyah, Aisyah cukup rapu dalam hal bentakkan, "maaf, om." Aisyah tertunduk.
"Sudah Angga, cukup, kamu itu ya," bu Heti kesal melihat sikap Angga ke Aisyah.
Bu Heti mencolek pipi Angga, Aisyah memperhatikan sekilas, "nah, benar dugaan ibu, ternyata chat kuku," bu Heti tertawa.
"Maaf, bu, tapi tadi ibu pingsan!" Aisyah bertanya dalam kebingungan.
"Ibu lupa Aisyah, Angga telah dikerjain ayahnya, Angga ini calon tentara, tapi masih kesiangan bangun," bu Heti mentoyor kening putranya itu.
Angga membelalakkan matanya, "Ayah! tentara!" teriak kesal Angga.
"Ya Angga, ayahmu tak mau memarahimu dengan cara inilah dia menghukummu, sekarang cuci mukamu," bu Heti menarik tangan Aisyah dan meninggalkan Angga diruang makan.
Angga bersungut kesal, kesal bukan polengan hitam, tapi kata 'tentara'. Angga tak mau masuk kemiliteran, Angga lalu ke kamar mandi mencuci muka. Di ruang keluarga, bu Heti tertawa teringat kejadian pagi ini.
"Hadeh, Angga, Angga!" celetuk bu Heti tertawa.
"Maaf, bu, apa bapak sering ngerjain om Angga begitu?" tanya Aisyah dengan lembut sembari menahan tawa.
Bu Heti tersenyum dan mengajak Aisyah duduk di sofa, belum sempat duduk, Aisyah menghindar, "maaf, bu, saya tidak pantas duduk di sofa ini, saya cuma pembantu," Aisyah menundukkan kepala.
"Aisyah, tak ada kriteria dari perusahaan sofa yang boleh duduk di sofa ini!" jelas bu Heti dengan penuh pengertian.
"Ya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur mendapatkan majikan yang baik," batin Aisyah diiringi bulir bening dari matanya yang senduh.
Baru Aisyah ingin duduk, Angga datang melarang, "jangan, jangan pernah kamu duduk disitu, ingat batasanmu, kau cuma pembantu," Angga menatap Aisyah bagai burung Elang yang siap menerkam mangsa.
Aisyah tersenyum memandang Angga, "maaf om, bu, aku kebelakang dulu ya, permisi," Aisyah berlalu ke dapur menahan tangis.
Bu Heti marah dengan Angga, sebagai majikan, bu Heti bukan menganggap asisten rumah tangga seorang babu atau budak, melainkan keluarga sendiri.
"Angga! udah berapa kali ibu bilang, jaga sikap," bentak bu Heti marah.
Bu Heti kesal dan meninggal Angga sendiri di ruang tamu, "hmm, pembantu, dikasih hati," batin Angga sinis.
Sore yang indah telah tiba, matahari bersinar dengan terang, menandakan sore telah menggantikan posisi siang yang terik.
Ting! Ting!
Bel rumah berbunyi, menandakan pak Aryo telah pulang, "Aisyah, tolong buka pintunya nak, kayaknya bapak dah pulang," perintah bu Heti pada Aisyah.
"Baik, bu!" jawab Aisyah sembari menuju pintu depan.
Ceklek!!!
Pintu dibuka Aisyah, senyum hormat Aisyah haturkan, sembari membawa tas kerja sang majikan, "Aisyah, ibu ada." pak Aryo berbicara sambil tertawa.
"A--da, ada pak, lagi bikin kopi," Aisyah tersenyum kebingungan. Tapi pak Aryo cepat menyadari maksud dari ekspresi Aisyah.
"Aisyah pasti bertanya, kenapa bapak pulang senyum-senyum kan?" celetuk pak Aryo dengan senyum mengembak.
"Nah, pas banget, bapak dah pulang," bu Heti tertawa gemas sambil berjalan mengarah ke pak Aryo. Sontak pak Aryo tertawa, Aisyah menjadi bingung sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali.
"Bapak sudah tahu, pasti ibu mau tanya soal muka Angga pagi tadi kan?" pak Aryo tertawa lepas.
"Bapak! gak lucu tau, ibu sampai pingsan," bu Heti tersenyum kecut.
"Maafin bapak ya bu, bapak lupa cakap," pak Aryo merangkul bu Heti, tanpa menyadari ada Aisyah, Aisyah langsung pamit sambil tersenyum. Pak Aryo dan bu Heti tersenyum malu saat menyadari Aisyah pergi ke dapur.
Sore penuh cerita perlahan-lahan berganti malam yang hening. Aisyah tengah sibuk menyiapkan makan malam, "nah, beres!" celetuk Aisyah tersenyum.
"Aisyah, Aisyah, Aisyah!" teriak bu Heti.
"Ya, bu, sebentar!" jawab Aisyah.
Aisyah menghampiri bu Heti yang tengah panik, " ya, bu, ada apa?" tanya Aisyah pelan.
"Angga, Angga kemana Syah?" bu Heti panik.
Aisyah menepuk jidat tersenyum kecut, "maaf, bu, Aisyah lupa cakap. Om Angga lagi keluar nemuin pacarnya, siapa ya? Lupa namanya!" jelas Aisyah tersenyum.
"Kerumah Heni?" bu Heti membelalakkan mata tanda marah.
"Nah, iya, bu, om Angga bilang begitu!" ucap Aisyah polos.
"Astaghfirullah, Angga, malam ini ibu mau ajak dia kerumah letnan Yanto, dia malahan nemui ceweknya," bu Heti bersungut kesal.
Aisyah tak mau ikut campur, yang ada, Aisyah tidak mau nanti dibilang aduh domba sama Angga, "ya udah bu, makan malam sudah siap, mari bu, saya duluan kebelakang, mau siapkan minum." Aisyah berlalu menuju ruang makan.
Saat membuka handphone, Aisyah teringat akan Hendro, sang sopir travel temannya, "sudah lama tak berkabaran! Apa kabarnya, ya?" batin Aisyah.
Aisyah hendak menutup handphone, tapi merasa tak tenang kalau belum menghubungi Hendro. "Aku WhatsApp ajalah!" batin Aisyah sembari mengetik pesan.
Setelah itu, Aisyah langsung menutup aplikasi hijau bersimbol telpon itu. "Nak!" panggil pak Aryo.
"Eh, iya, pak!" Aisyah terkejut.
"Kayaknya seru ini, lagi sama pacar ya?" celetuk pak Aryo sembari berjalan ke meja makan.
Aisyah hanya tersenyum, bu Heti datang menghampiri pak Aryo, "pak, Angga, ibu sudah muak sama pacarnya Heni!" celetuk kesal bu Heti sembari menarik kursi hendak duduk.
Prang!!!
bunyi guci pecah mengagetkan semuanya, "Apa itu? bu!" pak Aryo terkaget.
Bu Heti, pak Aryo dan Aisyah berlarian ke ruang depan, semua terkejut melihat apa yang tak biasa, seketika bu Heti syok dan pingsan melihat keadaan yang terjadi.
"Om Angga!" teriak Aisyah khawatir menghampiri Angga yang terluka babak belur.
"Angga!" teriak pak Aryo.
Aisyah mengisyaratkan untuk mengangkat bu Heti yang pingsan akibat syok dulu.
"Pak, angkat ibu ke sofa dulu!" Aisyah membantu pak Aryo.
Saat Aisyah hendak menolong Angga, Angga menolak dengan mentah-mentah. Namun, Aisyah tak mendengarkan sama sekali tolakan Angga.
Anda Mungkin Juga Suka





