
Mainan Tuan Muda
Bab 2
Perlahan mata itu terbuka, kesadarannya pun langsung terkumpul menyadari Ia terbangun di tempat asing. Baru saja akan mendudukan tubuhnya, sesuatu yang berat menimpa perut nya membuat Fiona perlahan menolehkan kepala. Sempat Ia menahan nafas beberapa saat memperhatikan wajah Arion, hampir lupa jika semalam mereka sudah berhubungan badan dengan panas nya.
"Aku harus secepatnya pergi dari sini sebelum dia bangun," gumam Fiona pelan. Dengan perlahan Ia turunkan tangan kekar yang memeluk pinggang nya itu, lalu beranjak bangun dari ranjang. Saat berdiri malah meringis merasakan sakit di bagian selangkangannya. "Aduh apa lecet ya?" Batin nya khawatir.
Semalam Arion benar-benar gila, tidak ada lelahnya menyentuh tubuhnya setiap inci. Padahal Fiona sudah memohon minta istirahat, tapi tetap saja tidak diberikan dan terus menggempur nya. Menyadari terus memikirkan kejadian semalam, membuat Fiona menggelengkan kepala dan bergegas memakai baju nya yang teececer di lantai.
Sebelum keluar dari kamar hotel itu, sempat Fiona melirik lagi ke arah ranjang. Cahaya matahari yang menyinari wajah pria itu, membuat ketampanannya semakin bertambah membuat Fiona beberapa saat mengagumi. Tidak mau terlalu hanyut, Fiona pun memutuskan benar-benar keluar.
***
Fiona memilih pulang lebih dahulu ke rumahnya untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian. Setelah siap, Ia langsung ke rumah sakit. Di Koridor dekat ruang rawat Ibu nya, terlihat Tante nya yang tidak lain adik Ibunya duduk sambil bergelayut manja pada seorang pria paruh baya.
Setelah Fiona berdiri di depan mereka, barulah kehadirannya pun di sadari. "Tante, gimana kabar Ibu? Apa sekarang kondisinya sudah pulih, Tante bilang semalam Dokter langsung melakukan operasi," tanyanya meminta penjelasan dengan harap-harap cemas.
Amelia dan pria paruh baya itu pun berdiri. Mendapatkan usapan di kepalanya dari Tante nya itu, membuat perasaan khawatir Fiona perlahan menguap. "Tenang saja Fiona, Ibu kamu sudah siuman kok. Operasinya berjalan dengan lancar, Ibu kamu sudah sadar di dalam dan nungguin kamu," jawab nya dengan senyuman manis.
Mendengar kabar bahagia itu tentu saja membuat Fiona tidak bisa menahan senyuman, hatinya lega dan senang sekali karena Ibu nya berhasil melewati masa kritis nya. Fiona lalu izin pada Tante nya itu untuk masuk ke ruang rawat Ibu nya, Amelia hanya mengangguk dan mengatakan akan pergi juga.
Saat Fiona akan membuka pintu ruang rawat, tidak sengaja telinganya malah mendengar perkataan pacar Tante nya. "Jadi gadis perawan yang semalam kamu jual itu keponakan kamu ya? Kasihan dia. Kenapa gak pinjam uang dari aku saja?" Entah kenapa Fiona jadi malu, tapi Ia berusaha bersikap acuh dan segera masuk.
Bibir nya semakin tersenyum lebar melihat ke arah ranjang, dimana Ibu nya duduk sambil melambaikan tangan ke arah nya seolah meminta mendekat. Setelah dekat, Fiona pun langsung berhambur memeluk Ibunya itu dengan kedua mata berkaca-kaca.
"Syukurlah Ibu sudah siuman, aku.. Aku takut banget Ibu kenapa-napa," ucap nya dengan suara bergetar menahan tangis.
Ibunya terus mengusapi kepala putrinya itu dengan sayang, sesekali juga mengecup nya ingin memberikan ketenangan. Merasa bersalah dan tidak enak karena terus membuat anaknya ini khawatir karena penyakit jantung nya yang sering kambuh. "Maaf ya sayang Ibu selalu repotin dan buat kamu khawatir," ujar nya.
Fiona melepaskan pelukannya lalu menggeleng pelan. "Enggak kok, Ibu jangan bilang begitu, Ibu gak pernah repotin aku. Dari kecil kan Ibu sudah rawat aku sampai sebesar ini, sekarang giliran aku yang balas semua jasa Ibu," sahut nya berusaha tersenyum, walau dadanya berdenyut nyeri.
Bahkan Fiona rela mempertaruhkan keperawanannya demi kesembuhan Ibu nya. Jika saja Ibunya tahu, mungkin akan marah dan tidak sudi menerima uang pengobatan darinya yang didapatkan dengan hina seperti itu. Fiona yang tidak bisa menahan sedih nya memilih menyembunyikan wajahnya di bahu Ibunya dan berusaha tidak terisak.
Tidak apa, Fiona tidak menyesal sudah menjual keperawanannya karena sekarang Ibu nya sudah pulih. Ia akan lebih menjaga Ibunya supaya penyakit nya tidak kambuh lagi. Fiona lalu tersentak saat rambut nya di sibak ke samping, diikuti usapan pelan di leher nya.
"Kenapa leher kamu merah-merah begini, Fiona?" tanya Ibu nya bingung.
Fiona yang syok pun langsung menjauhkan tubuh nya dan merapihkan rambut nya lagi, berusaha menutupi leher nya walau tidak bisa semua tertutupi. Padahal Ia sudah memakai sweater tebal supaya kiss mark di leher nya tidak terlihat, tapi tetap saja. "A-aku gak sengaja makan kacang Bu, jadinya gatal-gatal dan malah aku garuk, jadinya begini," jawabnya berbohong.
"Ya ampun sayang, kamu ini ceroboh sekali, kan kamu alergi kacang. Sudah minum obat belum? Harus minum obat, nanti sesak nafas lagi." Melihat raut khawatir di wajah sang Ibu, malah membuat kedua mata Fiona kembali berkaca-kaca.
Mudah sekali pikir nya Ibunya percaya, hanya karena menganggap anak nya selama ini tidak suka aneh-aneh.
Tidak ada hentinya Fiona meminta maaf pada Ibunya itu di dalam hati, merasa menjadi anak durhaka dan kotor. Fiona menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan secara perlahan. Ia lalu mendekati ranjang untuk memotong kan buah-buahan yang nanti akan dimakan Ibu nya. Tidak mau berlarut-larut dalam kesedihan.
"Kata Dokter nanti sore juga Ibu bisa pulang, Ibu jadi pengen cepet-cepet karena gak suka bau obat-obatan di rumah sakit. Selain itu takut biaya rawat nya makin mahal. Amelia bilang dia minta uang dari pacar nya, tapi Ibu bakalan tetap ganti walau pasti akan lama lunas nya." Ibunya terus bergumam menceritakan apapun, sedang Fiona hanya diam fokus memotong buah apel nya dengan tatapan kosong.
***
Sedangkan di tempat lain, terlihat Arion yang baru bangun sambil meregangkan tubuhnya yang pegal-pegal. Dengan senyuman lebar nya Ia pun menoleh untuk melihat partner nya di sebelah, tapi senyumannya langsung menghilang karena tidak menemukan yang dicari nya. Ranjang di sebelahnya kosong.
"Ah sial kemana dia?" kesal nya sambil menggerutu. Arion mendudukan tubuh nya sambil merapihkan rambut nya yang kusut, matanya pun terus memperhatikan sekitar kamar yang kosong.
Melihat pintu kamar mandi yang terbuka tanpa ada suara di dalam nya, membuat nya yakin jika wanita sewaan nya semalam pun tidak ada di dalam. "Ck baru kali ini gue dicampakkin, bisa-bisa nya cewek itu ninggalin gue," Batin nya kesal karena ego nya tersentil.
Arion lalu turun dari ranjang untuk memakai pakaian nya, wajahnya terlihat tertekuk karena sedang bad mood. Saat akan membawa kemeja di bawah ranjang, matanya malah tidak sengaja menemukan anting. Merasa ini adalah milik wanita semalam, membuat Arion menyeringai senang.
Lihat saja, tidak dalam waktu lama pasti mereka akan bertemu lagi. Arion terlihat percaya diri.
Anda Mungkin Juga Suka





