Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel MAIN HATI

MAIN HATI

Kehidupan Dev dan Lila kini terjerat dalam benang asmara yang kian rumit dan membingungkan. Hubungan yang mereka jalani dipenuhi dilema besar karena keduanya tak mampu mempertanggungjawabkan perasaan tersebut di hadapan realita. Di tengah ketidakpastian dan konflik batin yang terus mendera, mereka harus menghadapi pertanyaan besar mengenai masa depan. Akankah kebersamaan ini berujung pada kebahagiaan sejati atau justru berakhir dalam perpisahan yang menyakitkan?
Bab
Bagikan

Bab 1

—Lila Winter

“Ruby!”

Kuharap dia tahu apa yang dilakukannya.

“Ruby, keluarlah. Ayo, kita pergi ke pemakaman.”

Sepertinya, hanya dia yang keras kepala di hari kematian ibunya sendiri.

“Bibi Esther akan bersedih jika melihat kau tidak ada di sana.”

Hening.

Walau dia ada di dalam, bersembunyi dan tidak bersuara, Ruby Marion akan terus keras kepala hingga akhir.

“Okay. Jika itu maumu. Nanti, lain kali, jangan pernah mengeluh menyesal di depanku.”

Tetap tidak ada jawaban apa pun. Aku sudah membujuk lebih dari lima belas menit di sini. Itu melelahkan bagiku. Cukup sudah!

“Bagaimana?” Ray—adikku—di seberang terdengar gelisah.

Dia saja tidak berhasil membujuk, apalagi aku.

“Sama saja.”

Helaan napas Ray terasa nyaring di telingaku. Kuputuskan untuk mengakhiri panggilan telepon secara sepihak. Bergegas masuk ke mobilku yang berada tepat di pekarangan rumah Ruby.

Gerimis mulai turun tipis-tipis. Bahkan langit pun ikut bersedih atas kepergian bibi Esther.

Kuinjak rem mendadak, ketika rasanya nyaris menabrak sesuatu di depan. Oh, bukan! Maksudku, ada yang tiba-tiba melompat cari mati ke depan mobilku.

Kulihat seorang pria berada dalam posisi setengah berbaring di depan mobil. Mengenakan kaus lengan pendek hitam, topi dan masker yang berwarna sama.

Segera berjongkok tubuhku untuk memeriksa keadaannya. “Hei, kenapa kau—”

Dia mengeluarkan pistol. Tiba-tiba sekali. Mengarah padaku, walau secara tidak langsung. Dia bukan sedang menodongkan mulut benda itu ke kepalaku, tapi mengarahkannya lurus padaku.

“Ikuti saja perintahku, Nona. Cepat masuk kembali ke mobilmu dan biarkan aku ikut bersamamu.”

Walau terasa seperti ada sesuatu yang menghantam diriku, membuat kedua kakiku lemas ketika melihat senjata apinya yang mengarah padaku, aku berusaha tampak kuat. Seperti yang biasa kulakukan. Meski situasinya jauh berbeda.

Aku sudah berada di balik kemudi. Menunggu arahan si pria bermasker, sambil berusaha mencari bantuan lewat cara apa pun yang memungkinkan dan yang bisa kupikirkan.

“Jalan.”

Meski kedua tanganku gemetar, namun aku berhasil melajukan kembali mobilku dengan baik di jalanan.

Aku tidak berusaha meliriknya sama sekali. Hanya fokus menatap ke depan. Sementara pikiranku berkelana. Menyadari seketika bahwa aku tidak bisa menghadiri pemakaman bibi Esther. Sudah terlambat lebih dari tiga puluh menit!

Gila. Aku duduk bersebelahan dengan pria bersenjata api. Bagaimana jika dia menembakku, lalu membuangku ke sungai untuk menghilangkan—

“Belok kanan, Nona.”

Akh, hampir saja aku mati terkejut karena mendengar suaranya. Bahkan kemudian, aku tidak sadar entah sejak kapan dia sudah melepaskan maskernya.

Jalan yang dilalui mulai berbatu kerikil dengan lubang kecil di sana sini.

Suara tembakan yang datang tiba-tiba dari belakang, membuatku tersentak. Hampir saja aku menghentikan mobilku, jika pria itu tidak mengingatkanku.

“Fokus! Tetap menyetir, Nona. Jangan hiraukan apa pun. Antarkan saja aku ke tempat tujuanku, agar kau bisa selamat!”

Bentakannya malah membuatku tenang. Setidaknya, aku aman karena dia memiliki senjata api di tangannya. Asal bukan pistol mainan saja.

Jalanan semakin menguji nyali. Turunan yang licin dan berbatu. Bahkan yang tadinya gerimis tipis-tipis, kini sudah berganti menjadi hujan deras.

“Aku akan pindah ke belakang. Terus fokus mengemudi, tanpa menghiraukan apa pun. Terobos saja sungai dangkal berbatu di depan sana. Jangan berhenti sebelum aku memerintahkan itu padamu. Kau mengerti?”

“Ya.” Berusaha untuk hanya fokus pada jalanan yang nyaris rusak, aku tahu saat dia sedang memerintahkan ini dan itu padaku, pria ini terus saja mengarahkan senjatanya padaku. Meski tidak menodongkan pistolnya tepat ke pelipisku.

Jantungku berdebar begitu hebat. Lebih mengejutkan, ketika sungai dangkal berbatu sudah terlihat di depan mata.

“Jangan ragu,” bisiknya. Tiba-tiba suaranya sudah ada di belakangku. Dekat telingaku. “Terobos saja. Kau pasti bisa, Nona.”

Sekarang, kupikir dia memilihku karena jenis mobil yang kukendarai. Entah, jika itu salah duga.

Mobil off-road dengan jenis SUV milikku ini memang tangguh di segala medan.

Suara tembakan yang terdengar dekat, membuatku refleks menoleh ke belakang. Napasku tercekat di tenggorokan. Rasanya sesak.

Seperti di film-film action, kulihat dia mengeluarkan setengah tubuhnya keluar jendela.

Tidak sayang nyawa. Itu definisi yang tepat untuk mendeskripsikan pria ini. Padahal, jalanan berbatu seperti yang terlihat, memungkinkan tubuhnya terlempar keluar jendela.

Kembali fokus. Kau di kehidupan nyata! Bukan syuting film.

Dan, yap! Aku berhasil melewati sungai dangkal dengan dasar yang tidak menentu itu. Kelegaan berubah menjadi sesuatu yang menyenangkan.

Aneh, memang. Bagaimana bisa? Padahal, ini bukan situasi di mana aku sedang-

“Masuk ke semak-semak itu.” Suaranya terdengar lagi di belakangku.

Setelah sungai, sekarang semak belukar? Dia ini buronan yang butuh tempat persembunyian atau bagaimana?

“Lebih dalam sedikit lagi.”

Aku memajukan mobilku perlahan. Kesayanganku ini memang luar biasa. Sampai-sampai dia menjadi saranaku untuk menyusul bibi Esther secepat mungkin.

“Matikan mobilnya.”

Segera kulakukan. Aku berusaha bernapas dengan teratur. Keadaan di sekitarku gelap karena tertutup semak-semak yang tingginya nyaris dua meter. Bahkan suara hujan deras yang menimpa mobil terasa menakutkan berkombinasi dengan gesekan daun-daun memanjang runcing.

Rasa-rasanya, aku lebih takut ditemukan oleh binatang buas daripada para penjahat bersenjata.

Padahal, apa bedanya mereka bagi orang biasa tanpa senjata untuk melawan?

“Kita akan diam di sini selama beberapa jam.”

Apa? Sontak aku menoleh melihatnya yang sudah kembali ke kursi di sampingku.

“Kalau begitu, aku harus menghubungi keluargaku.”

Dia menatapku. Baru kusadari seberapa mengerikan wajahnya itu. Dia pria dewasa yang mungkin lebih cocok kupanggil ‘paman’ daripada ‘kakak’ meski wajahnya tidak setua paman Eddie atau paman Winter-ku yang lain.

Mengerikan dalam artian, dia seperti tidak memiliki gurat lembut sedikit pun, di wajah seriusnya itu. Kesannya seolah dia ini pembunuh berdarah dingin.

Ah, ya. Aku memang pecinta film dengan genre action dan thriller.

Dia masih belum menjawabku. Hanya terus mengamatiku. Lalu diam-diam mengumpat.

Hei, aku bisa mendengar umpatanmu, Bro!

“Kirim pesan, kalau begitu.”

Okay. Aku mengerti bahasamu. Kau melarangku menelepon.

“Setelah selesai, berikan ponselmu padaku. Kita tidak boleh terlacak oleh siapa pun.”

Aku menolak. Jelas saja. “Mereka tidak mengenalku. Bagaimana mungkin—”

“Menurut saja, Nona. Nyawamu itu berharga.”

Sejak dulu, aku pihak yang tidak senang berdebat. Sehingga kuturuti saja. Jariku mulai mengetik, sementara dia terus memperhatikan layar ponselku. Aku tahu itu.

Kusodorkan begitu saja ponselku padanya. Tentu saja setelah menonaktifkannya.

Hujan deras seperti menulikan telingaku. Aku tidak mendengar apa pun, tapi pria di sampingku ini memintaku tidak bersuara. Dia sedang coba mendengar sesuatu setelah memperingatiku lewat isyarat jari telunjuk di bibir.

Apa kami ketahuan?

Aku menunggu sambil menahan napas. Semakin tidak karuan saat dia mendekatkan wajahnya padaku. Oh, bukan. Bibirnya ke telingaku.

“Tidak aman. Kita harus pergi. Kau harus menyetir lagi. Lebih fokus lagi. Apa kau siap?”

Memangnya aku punya pilihan? Aku mengangguk. Tanganku siap menyalakan mesin mobil, ketika tangannya mencegah gerakanku.

“Jangan sekarang. Tunggu aba-aba dariku.”

“Oh, okay.” Aku melihat tangannya yang bertumpu di tanganku. Kokoh dengan urat yang menonjol di sana sini. Tubuhnya tidak terlalu terbentuk, tapi kupikir, lebih bagus dari paman-pamanku yang seperti raksasa.

Hujan kian mulai berangsur reda. Namun pria ini jelas sudah tidak berniat sama sekali untuk memberiku aba-aba.

Gawat bila aku tertidur di sini. Kulirik si pria yang terus sibuk melakukan pengintaian lewat pendengarannya.

Dengan gerak perlahan dan hati-hati, dia membuka pintu, lalu keluar dari mobil dengan hati-hati.

Dia mau ke mana?

Tatapan kami tiba-tiba saling bertemu. Dia memberi isyarat dengan tangannya, agar aku tetap di tempatku.

Hujan sudah benar-benar reda, tapi pria itu belum juga kembali. Suara semak-semak sesekali terdengar bergesekan karena tertiup angin.

Apa dia menipuku? Mungkin saja saat ini dia sudah berlari menjauhi tempat ini. Menyelamatkan dirinya sendiri.

Merasa perlu bertindak dan menyaksikan sendiri, aku turun dari mobilku dengan perlahan, hati-hati. Semak-semak ini sedikit luas dengan keadaan yang mencekam.

Hanya bermodal nekat, aku coba keluar dari semak. Baru satu langkah, tanganku sudah ditarik dari arah samping. Aku sungguh berharap bahwa yang melakukannya itu, pria tadi.

Memang dia. Namun ekspresinya siap membunuhku saat ini.

Punggungku terasa sakit menabrak badan mobil sisi samping. Dia mendorongku cukup kuat. Berengsek memang! Ini sakit sekali.

“Kau mau mengantarkan nyawamu dengan suka rela?” Dia bertanya setengah berbisik, setengah menggeram. Marah, matanya berkilat penuh kemarahan.

“Kau terlalu lama meninggalkanku seorang diri tanpa kepastian. Aku ragu kau akan kembali. Jadi, aku memeriksa keadaan untuk memastikan.”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Affair With Santa
8.4
Di tengah dinginnya New York yang menusuk tulang, seorang gadis nekat menunggu di bawah pohon besar meski suhu berada di bawah nol derajat. Sepatu boots tipisnya tak mampu menahan es, membuatnya nyaris beku saat menanti seseorang yang tak kunjung datang. Ketika tubuhnya mulai oleng akibat hipotermia di sudut taman yang sepi, sebuah pelukan hangat tiba-tiba mendekapnya. Suara berat seorang pria misterius menjadi hal terakhir yang ia dengar sebelum kesadarannya menghilang.
Sampul Novel AKU dan MAS DIREKTUR
9.2
Ajeng bertekad kuat untuk kabur demi menghindari acara pertunangan dari perjodohan yang tidak pernah ia inginkan. Ia merasa sangat terdesak hingga mencari segala cara untuk melarikan diri. Namun, sebuah keberuntungan tak terduga justru berpihak padanya. Saat waktu yang ditentukan tiba, sosok pria yang dijodohkan dengannya ternyata tidak kunjung datang. Ajeng pun merasa telah memenangkan situasi sulit tersebut karena rencana itu gagal total.
Sampul Novel Aku Tak Butuh Suami, Aku Butuh Keadilan
8.9
Lina terjebak dalam kemiskinan bersama Randi, kuli bangunan yang memberinya uang belanja minim. Di tengah kesulitan ekonomi dan sifat keras kepala suaminya, Lina mulai berpaling pada Damar, tetangga mapan yang memberikan perhatian serta materi lebih. Meski kini kebutuhan hidupnya tercukupi secara sembunyi-sembunyi, perasaan bersalah mulai menghantui Lina saat melihat pengorbanan Randi. Ia pun bimbang antara memilih keadilan hidup atau kesetiaan pada pernikahan.
Sampul Novel Bangunkan Aku Dengan Cintamu
9.7
Dijual miliaran demi menikahi Eric, taipan yang koma, Emily menjadi bahan cemoohan. Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh dengan adik angkatnya, ia bertekad membalas dendam melalui pernikahan ini. Emily membuktikan kemampuannya dengan merebut penghargaan medis yang dicuri darinya dan menghukum orang tua angkatnya yang kejam. Saat Eric sadar, ia tidak mengusir Emily, melainkan memuja sang istri sambil mengungkap rahasia besar yang selama ini tersembunyi.
Sampul Novel Bukan Istri Bayaran
9.8
Terhimpit keadaan sulit yang tanpa jalan keluar, aku terpaksa membuat kesepakatan nekat dengan Alister Bagaskara. Pria yang jauh lebih dewasa itu menjadi satu-satunya penyelamat yang mampu membebaskanku. Sebagai imbalan atas bantuannya, aku menawarkan diri untuk menjadi istrinya. Pernikahan ini pun dimulai tanpa landasan cinta, melainkan sebuah keterpaksaan demi bertahan hidup. Kini, aku harus menjalani hari-hari sebagai istri dari pria yang asing bagiku.
Sampul Novel Cewek lugu perlahan jadi liar
9.7
Hubungan asmara antara Laura dan Ardhy terjebak dalam dinamika yang tidak lazim. Di balik kisah cinta mereka, tersimpan fantasi seksual menyimpang yang mendominasi interaksi keduanya. Ardhy terus memberikan tekanan besar kepada Laura, memaksanya untuk berhubungan intim dengan orang lain demi memuaskan hasrat liarnya sendiri. Laura yang awalnya lugu kini harus menghadapi kenyataan pahit saat dirinya dipaksa memenuhi ambisi fantasi pasangannya yang ekstrem.