
Mafia in The Morning
Bab 2
Suara tembakan saling bersautan. Mamoru semakin menjauh dari posisi Mayumi berada. Dia lebih sedikit menembak. Mungkin untuk menghemat peluru.
Mayumi masih meringkuk di tempatnya ditinggalkan. Berbagai macam pikiran buruk muncul di benaknya. Berbagai macam pertanyaan berkeliaran.
Siapa orang-orang ini? Kenapa mereka mengejarnya? Kenapa Mamoru-san bisa memiliki pistol di tangannya? Apa dia orang jahat? Siapa yang penjahat di sini? Apa Rikimaru dan Irie baik-baik saja? Apa yang harus dia lakukan, menelpon polisi? Bagaimana cara menelpon polisi? Di mana posisi mereka sekarang? Apa dia akan mati?
Mayumi gemetar di tempatnya bersembunyi. Suara teriakan kesakitan lalu diikuti suara gedebuk keras. Sepertinya sudah ada yang tumbang. Kulitnya semakin dingin memikirkan jika orang itu mati.
Dia ingin pulang. Dia ingin memeluk ibunya. Dia cuma mau hidup cukup lama untuk mengabulkan keinginan ibunya melihatnya menikah. Juga melihat adiknya tumbuh besar mengalahkan badannya. Dia pikir dia akan mati hari ini.
Mayumi mencoba menarik napas dan mengeluarkannya. Berharap itu bisa memberikan ketenangan. Coba berpikir positif bahwa dia masih bisa pulang setelah ini. Dia tidak yakin sudah berapa lama, tapi saat sudah cukup tenang, dia menyadari suara tembakan berhenti. Gudang tekstil itu sepi.
Gadis itu tidak yakin harus melakukan apa. Mungkin menunggu Mamoru-san kembali atau menunggu kedua orang lainnya datang untuk memastikan bahwa sudah aman. Dari posisinya dia kembali melihat Mamoru-san. Matanya bergerak ke kanan dan kiri memeriksa keadaan.
Mayumi menunggu dengan tegang. Berdoa semoga ini telah selesai. Dari sudut matanya dia melihat pergerakan. Seseorang berpakaian hitam sedang membidik Mamoru-san. Sementara cosplayer itu membelakanginya. Mayumi ingin berteriak memperingatkan. Masalahnya jika itu dilakukan, kemungkinan dia akan langsung ditembak di kepala oleh musuh Mamoru-san.
Mayumi hampir putus asa. Tapi dia melihat sebuah pulpel dari tumpukan barang yang dijatuhkan Mamoru-san dari tasnya. Mayumi mengambilnya dan berjalan merangkak mendekati orang itu. Dia akan melakukan hal gila.
Mayumi memusatkan pikiran. Dia melempar pulpen di tangannya ke arah musuh layaknya melempar dart ke poin target. Bagian tajam pulpen itu menancap di bagian leher yang terbuka. Orang itu meringis sakit dan berbalik ke arahnya dengan pistol di tangan.
Dor!
Mayumi mengira dia sudah mati. Tapi peluru itu tidak menembus tubuhnya. Orang yang terkena tembakan adalah si orang berbaju hitam. Mamoru-san menembaknya tepat di kepala. Orang itu langsung jatuh telungkup ke depan. Darah menggenang dari luka tembakan.
"Mamoru-sama!" suara Rikimaru memanggil sambil berlari masuk. "Semua yang di luar sudah clear."
Mayumi tidak begitu yakin otaknya mendengar apa yang dibicarakan Rikimaru dan Mamoru. Dia luruh ke lantai. Matanya menatap tangannya dengan gemetar. Dadanya terasa sesak. Dia baru saja membunuh seseorang.
Mamoru datang lalu berjongkok di depannya. Dia memperhatikan Mayumi yang masih terdiam. Sinar matanya mengiba. Dia menangkup tangan Mayumi yang gemetar dengan tangan besarnya.
"Bukan salahmu." katanya lembut.
Mayumi tidak bergerak. Otaknya masih tidak bisa memproses apapun yang diucapkan oleh Mamoru-san. Dia merasa tangan dingin mengusap pipinya. Apa dia menangis? Mungkin iya. Dadanya sesak sekali.
Mamoru menguatkan genggaman tangannya. Perlahan dia menarik kepala perempuan muda yang baru saja menyelamatkan dirinya dari bidikan senjata. Dia membenamkannya di dadanya yang bidang. Membiarkan gadis itu mengeluarkan semua rasa takut, teror, dan kagetnya.
"Bukan salahmu." ulangnya lagi.
Rikimaru dan Irie yang baru datang menatap tuannya aneh. Percaya atau tidak, Mamoru-sama biasanya tidak memperdulikan orang lain. Dia bukan tipe orang yang bisa menenangkan seseorang yang menangis. Kecuali kalau lagi meet & greet dengan fans-nya. Kalau mereka menangis juga Mamoru hanya akan menepuk bahu orang itu dan menyuruh panitia menenangkannya. Tidak pernah sampai memeluk seseorang dengan penuh kelembutan seperti ini.
"Um, mobil kita rusak. Jadi aku akan mencari penggantinya." kata Rikimaru sambil menggaruk pipi.
Mobil sewaan mereka terkena tembakan di beberapa tempat. Masih bisa jalan sebenarnya. Tapi akan sangat menarik perhatian jika dibawa berkendara. Beruntung mereka menyewa mobil pada kolega di sini. Jadi misal bolong-bolong peluru seperti itu, mereka tidak akan memperkarakannya. Paling minta ganti rugi. Rikimaru berniat pergi keluar untuk menelpon.
Suara dering ponsel terdengar dari saku Mayumi. Semua orang menegang. Mereka waspada, khawatir ada sesuatu. Mayumi melepaskan diri dari pelukan Mamoru. Dia mengusap wajahnya yang masih memerah pasca menangis, menarik napas berkali-kali untuk menenangkan diri. Mamoru menatapnya awas.
"Halo Mas."
[Halo Mba. Photoshootnya jadi apa gak?]
Ternyata panggilan dari pemilik studio foto.
"Oh iya Mas. Maaf kita lagi ada kendala tadi."
Suaranya cukup tenang saat menjawab. Walau berulang kali menarik ingus.
[Kenapa Mba macet?]
"Ini.. mobilnya mogok." jawabnya spontan. "Iya mogok makanya kita lagi nunggu mobil lain."
[Aduh Mba kenapa gak kasih kabar dari tadi?] ujar yang di sana kesal.
"Maaf, maaf saya rada panik tadi. Jadi gak kepikiran."
[Udah nyampe mana Mba? Kalau dekat kita jemput.]
"Aduh di mana ini ya. Tadi agak muter jauh juga keluar jalan utama. Nyari jalan pintas. Tapi gak tau di mana. Kita... kita sudah panggil kendaraan lain. Gak usah dijemput ke sini." ujarnya sedikit panik.
Tidak mungkin dia memberitahu kalau mereka habis di serang oleh orang bersenjata. Apalagi bilang kalau Mamoru habis bunuh orang dengan pistol yang dia bawa.
[Kira-kira lama gak Mba? Biar saya bilang ke yang lain.]
"Umm... 40-50 menitan deh Mas." karena kalau bilang satu jam kelamaan.
[Oke Mba. Saya tunggu ya.]
Mayumi menghela napas sejenak. Dia melihat wajah tegang ketiga laki-laki di sana. Tahu bahwa mereka khawatir akan telepon yang diterimanya, Mayumi menjelaskan isi pembicaraan dirinya dengan pemilik studio. Rikimaru segera menelpon koleganya untuk mengirim mobil lain. Semoga mereka bisa sampai dengan cepat.
Demi memotong waktu, Rikimaru melajukan mobil yang penuh lubang peluru itu. Beruntung tidak ada kebocoran bensin atau kerusakan mesin. Nanti saat sudah sampai di jalan utama, mereka akan menunggu mobil pengganti. Rikimaru melajukan mobilnya sesuai rute terdekat ke studio foto.
Mobil pesanan mereka tiba tidak lama setelah mereka tiba di jalan utama. Mereka memindahkan semua barang ke mobil itu. Sementara mobil rusaknya dibawa kolega mereka.
Sepanjang perjalanan Mayumi diam sambil meremas ponselnya. Matanya dia palingkan dari orang yang duduk di sebelahnya. Dia tidak ingin berinteraksi dengan mereka.
Orang-orang di studio foto menyambut mereka dengan gembira. Mayumi langsung membungkuk dan minta maaf berkali-kali pada pemilik studio atas keterlambatannya. Rikimaru selaku manager juga melakukan hal yang sama. Mamoru hanya diam melihat mereka. Dia tidak bicara apapun dan hanya membungkuk sedikit untuk mengucapkan permintaan maafnya. Tidak seperti Rikimaru dan Mayumi yang membungkuk lebih dalam.
Mamoru segera berganti pakaian dan memasang makeup. Tampilannya berubah menjadi luar biasa tampan. Benar kata managernya, Mamoru menggunakan setelan polisi di photoshoot ini. Pakaiannya membingkai seluruh tubuhnya dengan baik. Dengan tubuh proporsional dan dada yang bidang, Mamoru terlihat luar biasa.
Mayumi seharusnya bersemangat saat melihat cosplayer idolanya sedang berpose dengan profesional di depan matanya. Cara bagaimana dia mengungkapkan ekspresi untuk ditangkap layar sangat di atas levelnya. Tapi sayangnya Mayumi masih tidak bisa menghilangkan gambaran penembakan yang baru dilaluinya beberapa menit lalu. Apalagi dengan pistol hitam yang sekarang digunakan sebagai properti cosplay oleh Mamoru.
"Mayu, kenapa diam saja? Biasanya kamu heboh. Terlalu terpesona ya sama Mamoru-sama. Cieee." goda salah satu photografer.
"Apa sih Kak Dama."
Orang yang dipanggil Dama itu semakin giat menggodanya. Mumpung lagi gantian bertugas.
"Rikimaru-san. Do you know that Mayu-chan is a cosplayer?"
"Eh, I don't know. She didn't tell us."
"Mayu-chan is one of our best model. Look at that photo. That's her."
Dama menunjuk ke salah satu foto cosplay yang di pajang di dinding. Rikimaru ternganga saat melihatnya. Penampilan di foto itu benar-benar sangat cantik. Mayumi menggunakan kostum Ahri dari K/DA. Posenya sangat tegas dan menantang.
"Wow."
"That one too." tunjuknya pada Nezuko dari Kimetsu no Yaiba.
"Waa kawaii."
Rikimaru dengan tidak tahu malu mengambil foto di dinding itu dengan handphone.
"Dama, stop it!"
Mayumi merasa sangat malu. Dia sudah lama tidak meluangkan waktu untuk cosplay. Lebih banyak dia ikut sebagai volunteer sekarang. Dama masih belum selesai. Dia mengeluarkan katalog cosplay yang ada di sana dan menyerahkannya pada Rikimaru. Di dalam katalog itu ada beberapa yang menjadikannya model. Sial sekali memang.
Mayumi sejak awal menutupi kalau dirinya seorang cosplayer karena khawatir Mamoru-san tidak nyaman. Dia juga tidak bilang kalau dia fansnya Mamoru V. Takut nanti idolanya tidak nyaman bersamanya. Sekarang temannya yang seorang photografer membuka aibnya terang-terangan. Mayumi dengan kesal memukul Dama.
"Ih, kenapa ih marah. Orang aku gak ngapa-ngapain."
"Siapa yang izinin kamu bilang."
"Tapi kamu kan modelnya. Aduh, aduh jangan dicubit dong."
Sedang seru-serunya mereka bertengkar, Mayumi tidak sadar kalau Mamoru-san sedang break. Dia mengambil katalog itu dan melihat-lihat. Ada wajah Mayumi dengan costume yang menantang. Masih dengan pakaian Nezuko, tapi belahan dadanya lebih kelihatan termasuk paha putihnya. Mamoru melihat kearah Mayumi yang sekarang sedang pakai celana jeans panjang kusam dan kaos polos biru lengan panjang. Kemudian melihat kembali ke katalog untuk memastikan jika mereka orang yang sama. Rikimaru yang berada di sampingnya tiba-tiba merasa was-was.
"Mamoru-san." bisik Rikimaru.
Mamoru mengerjapkan mata mendengar panggilan itu. Dia melirik managernya dan memiringkan kepala.
"Waktunya 30 menit lagi. Apa Mamoru-san masih ingin melanjutkan."
Mamoru mengangguk sedikit. Dia bangkit dan kembali ke set studio. Melakukan beberapa take terakhir sebelum berganti pakaian.
"Terima kasih untuk hari ini. Sangat menyenangkan. Otsukaresamadeshita minna-san."
Rikimaru memberikan amplop tebal kepada pemilik studio.
"Mohon maaf karena kami tidak banyak menukarkan uang, jadi masih ada beberapa yang berbentuk dollar."
Mayumi menerjemahkan kalimat Rikimaru dengan hati-hati. Tim studio poto yang ada di sana langsung ingin buru-buru membuka amplop. Tapi sang ketua berhasil menahannya. Agar tidak memalukan, tim photograper menyiapkan suatu hadiah kenang-kenangan untuk dibawa Mamoru-san pulang. Tim studio foto melepas mereka dengan senang dan banyak kata terima kasih. Mayumi yakin setelah pintu ditutup, orang-orang di sana langsung merobek amplop. Terbukti dengan suara teriakan gembira di belakang.
Mayumi kembali duduk di mobil bersama Mamoru-san dan timnya. Sama seperti tadi, tidak ada pembicaraan. Mamoru meliriknya dari tempat duduknya, tapi tidak mengatakan apapun. Hari ini sudah tidak ada jadwal lagi. Besok Mamoru-san baru akan kembali ke Jepang. Jadi hari ini Mayumi masih menginap di hotel yang sama dengan mereka sampai dia mengantarkan Mamoru-san dan tim ke bandara. Mayumi harus bertahan sedikit lagi sebelum bisa pulang ke rumah.
Anda Mungkin Juga Suka





