
Madu Pemberian Ipar
Bab 3
Sebenarnya pernah terbersit keinginan Yanto untuk pindah ke rumah ibunya daripada harus mengontrak terus, tetapi faktor jarak ke tempat kerjanya menjadi pertimbangan bagi Yanto. Jarak rumah ibunya ke kantor lebih jauh daripada jarak rumah yang ditempatinya saat ini sehingga untuk mengantisipasi agar tidak terlambat datang ke kantor dan juga untuk menghemat ongkos bensin, maka Yanto terpaksa mengurungkan niatnya itu.
Namun, sebagaimana kata pepatah, 'untung tak dapat diraih dan malang tak dapat ditolak', sebuah musibah menghampiri mereka beberapa bulan setelah ibu mereka pindah ke Kota A. Rumah yang mereka sewakan dilahap si jago merah karena si penyewanya lupa mematikan kompor saat mereka pergi meninggalkan rumah untuk bertamasya ke sebuah tempat wisata. Berhubung rumah itu tidak ada asuransinya, maka mereka tidak mendapatkan sepeserpun ganti rugi atas peristiwa tersebut. Ingin meminta pada si penyewa, Yanto tidak sampai hati karena mereka pun juga mengalami kerugian dimana semua barang – barang mereka termasuk surat – surat penting yang ada di dalam rumah hangus terbakar tanpa sisa.
Ibu Yanto yang mendapat kabar tersebut menjadi sangat shock. Pasalnya rumah itu merupakan peninggalan almarhum ayah Yanto dan Runi, rumah yang penuh kenangan bagi ibu mereka. Karena terlalu larut dalam kesedihan, ibu Yanto akhirnya jatuh sakit dan setelah dirawat selama satu bulan di rumah sakit, beliau pun akhirnya menghembuskan nafas terakhir dan menyusul sang suami ke alam baka.
Kepergian sang ibu untuk selamanya itu, membuat Yanto dan Viana sangat bersedih, tapi yang mengherankan Runi malah bersikap biasa saja. Biarpun nampak kesedihan di wajahnya, tapi tidak seperti Yanto dan Viana yang begitu terpukul dengan kejadian itu.
Semenjak kepergian sang ibu, kesombongan Runi kian menjadi-jadi. Dengan menyandang status sosial sebagai orang kaya, Runi memandang rendah kepada Yanto dan Viana bahkan selama menikah dengan Andri, dia sama sekali tak mau melakukan kontak dengan Yanto dengan alasan tidak level.
Lalu sekarang, tiba-tiba wanita sombong itu ingin tinggal di rumah mereka. Apa dia tidak salah dengar? Sungguh, hal yang sama sekali di luar dugaan Viana.
"Gimana, Dek?" tanya Yanto, membuyarkan lamunan Viana tentang Runi.
Viana menatap Yanto sejenak sebelum membuka suara.
"Tapi Mas, kamu tahu sendiri kan kalau Runi itu orangnya seperti apa? Maaf Mas, aku bukan bermaksud untuk menjelekkan adikmu. Hanya saja dari apa yang kita alami selama ini, nyata sekali bahwa dia tak pernah menghargai kita sebagai kakak dan kakak iparnya. Kalau seandainya dia tinggal di sini, bisa-bisa aku dan dia tiap hari cekcok dan itu jelas akan membuat aku merasa tidak nyaman tinggal di rumah, Mas," Viana mencoba menolak secara halus dengan mengungkapkan fakta yang sudah terjadi antara mereka dengan Runi serta kemungkinan yang akan terjadi ke depannya.
Yanto nampak tercenung sesaat. Memang benar apa yang dikatakan oleh Viana, tetapi hati kecilnya sebagai seorang kakak tak bisa menutup mata atas apa yang menimpa adiknya itu terlebih lagi saat ini mereka berdua adalah anak yatim piatu yang tentunya harus saling dukung satu sama lain.
"Mas tahu itu, Dek. Namun, gimana pun juga Runi itu tetap adik mas. Mas tidak bisa lepas tangan begitu saja. Apalagi sebelum meninggal, ibu mengamanatkan mas untuk ikut menjaga Runi karena ibu khawatir Runi akan mendapat masalah karena sifat jeleknya itu. Dulu dia masih ada suami yang menjaganya sehingga mas tidak begitu khawatir, tetapi sekarang dia udah cerai, otomatis mas lah yang menjadi tempatnya bersandar sekarang. Vi, mas mohon, kesampingkan dulu rasa tidak sukamu pada Runi. Siapa tahu, sekarang Runi sudah tidak seperti dulu lagi. Kalau misalnya kamu masih tersinggung atas sikap Runi di masa lampau, izinkan mas mewakilinya meminta maaf kepadamu," ucap Yanto panjang lebar.
Viana tak menggubris perkataan Yanto. Batinnya masih sibuk berperang antara menerima atau tidak.
"Dek, gimana? Boleh ya, Runi tinggal di sini?" bujuk Yanto
Viana melirik suaminya, sepasang matanya menatap tajam iris hitam pekat milik sang suami.
"Atau kalau kamu keberatan, biar mas kontrakin aja rumah untuk Runi," ujar Yanto melihat sang istri tak kunjung memberi jawaban.
Anda Mungkin Juga Suka





