Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Living With The Devil

Living With The Devil

Alicia Lucero dijual oleh pamannya yang serakah kepada Lucius Denovan, pria bermata merah saat ia masih kecil. Setelah bertahun-tahun diasingkan, Lucius kembali menjemputnya saat Alicia dewasa. Hidup Alicia berubah menjadi mimpi buruk penuh siksaan karena Lucius sangat gemar melihatnya menderita. Meski terjebak dalam kekejaman pria yang menganggapnya sebagai mainan itu, Alicia memilih bertahan sebab ia menyimpan rahasia besar yang tidak diketahui Lucius.
Bab
Bagikan

Bab 3

Gadis berambut hitam dengan blus putih di atas mata kaki itu duduk di atas rerumputan sambil memainkan pucuk dandelion yang tadi dipetiknya. Matanya menatap ke depan, pada beberapa ekor domba yang tengah asik mengunyah rumput.

Rambut hitam gadis itu beterbangan diterpa angin, namun dia tidak peduli, malah matanya menutup, menikmati suasanya pagi ini yang begitu sejuk.

Di kala sendiri seperti ini, dia selalu diingatkan akan kedua orangtuanya, dan pria bermata merah yang telah membawanya ke sini.

Di usianya yang sudah menginjak angka delapan belas tahun, Alicia tidak lagi menangis jika mengingat kedua orangtuanya pergi meninggalkannya tanpa sebab. Dia berpikir, apa dulu dia pernah berbuat nakal sehingga ayah dan ibunya pergi dan tidak mau bersamanya lagi? Apa dulu dia telah menjadi anak yang tidak baik sehingga membuat ayah dan ibunya menangis? Alicia tidak tahu, dia tidak akan pernah tahu.

Paman Robert yang dulu juga berjanji akan menjaganya dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, nyatanya melakukan sebaliknya. Dia menjual Alicia pada si pria bermata merah kelam yang sampai saat ini tidak pernah bisa Alicia lupakan. Tentang bagaimana pria itu menatapnya, yang langsung membuat sekujur tubuh Alicia merinding dan hampir selalu bergetar takut setiap kali mengingatnya. Apa pria itu benar-benar manusia? Atau dia adalah jelmaan iblis di dunia nyata?

Yang pasti, Alicia tidak ingin bertemu dengan pria itu lagi. Dia bertekad, setelah sekolahnya lulus di desa terpencil ini, dia akan merantau ke kota, untuk mencari kedua orangtuanya di sana.

Tapi bagaimana dengan pria bermata merah itu? Alicia memikirkannya lagi. Karena jelas-jelas bahwa pria itulah yang membawanya ke tempat ini, menitipkannya pada bibi Jen yang saat ini selalu berperan sebagai ibu pengganti untuknya. Dulu, bibi Jen selalu menghibur atau hanya sekedear menemani Alicia ketika gadis itu menangis di malam hari, bermimpi buruk karena merindukan kedua orangtuanya. Alicia sangat menyayangi bibi Jen. Dan dia suka pada kehidupannya di sini, di desa terpencil yang tidak banyak orang ketahui.

Suasananya masih sangat asri dan hijau, udaranya juga segar dan hangat.

"Alicia!"

Alicia membuka kedua kelopak matanya ketika mendengar suara bibi Jen memanggil di belakang.

Sontak, Alicia pun menoleh dan mendapati bibi Jen tengah berjalan tergopoh-gopoh ke arahnya. Alicia lantas bangkit dan berjalan mendekati bibi Jen dengan tatapan penuh bertanya.

"Ada apa, Aunt?" tanya Alicia.

Bibi Jen berhenti di hadapan Alicia dengan napas ngos-ngosan, hal itu semakin membuat Alicia mengerutkan kening.

Setelah napasnya mulai teratur, barulah Bibi Jen menatap Alicia dengan penuh kekhawatiran di wajahnya.

"Ayo cepat kembali ke rumah!" kata bibi Jen kemudian menarik tangan Alicia dan menyeret gadis itu pergi.

"Tunggu! Tunggu, Aunty! Tunggu dulu!" Alicia menahan tangan bibi Jen yang sontak berhenti dan berbalik menatapnya bingung.

"Apa yang terjadi, Aunty? Apa Aunty baik-baik saja?" tanya Alicia dengab raut penuh kekhawatiran di wajahnya.

"Aku baik-baik saja. Kita harus cepat, dia sudah datang?"

Alicia hendak bertanya siapa yang datang namun bibi Jen telah lebih dulu menarik tangannya da pergi.

Rasa penasaran Alicia bertambah dua kali lipat ketika melihat Wendy, anak semata wayang bibi Jen, tengah mengintip di balik pintu dapur yang langsung menuju ke ruang tamu.

"Wendy, ada apa?" bisik Alicia di belakang Wendy yang membuat perempuan berambut pirang itu berjengit kaget.

"Alice!" serunya kesal.

Alicia tidak menggubris tanggapan berlebihan Wendy, dia hendak ikut mengintip ketika bibi Jen yang baru saja selesai minum menarik tangannya kembali dan membawanya menaiki tangga berkayu tempat kamar Alicia.

Di dalam kamarnya yang sempit, bibi Jen tampak gelisah. Dia berjalan bolak-balik sambil berkacak pinggang.

Alicia yang tengah duduk di pinggir kasur menatapnya aneh.

"Kau harus mengenakan dress yang bagus!" tekad Bibi Jen yang kemudian mengobrak-abrik lemari pakaian Alicia.

"Aunty, stop! Tenangkan dirimu."

Bibi Jen menggeleng. "Tidak ada kata tenang untuk saat ini! Ya Tuhan, setelah bertahun-tahun, dia akhirnya menemuimu, apa kau tahu artinya apa?"

Kernyitan di dahi Alicia semakin dalam. Dia bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati bibi Jen yang masih berkutik dengan baju-baju di lemarinya.

"Siapa yang kau maksud dengan 'dia', Aunty?" tanya Alicia.

"Kenapa kau harus memiliki baju yang sama, Alice?!" sahut bibi Jen seolah tidak menggubris pertanyaan Alicia.

Alicia menoleh ke arah lemarinya dan mengidikkan bahu.

"Semua bajuku, Aunty kan yang menjahitnya. Di atas mata kaki, berwarna putih, berbahan lembut dan nyaman."

Bibi Jen memutar bola matanya jengah. Dia menatap Alicia dari atas sampai bawah. Alicia tumbuh sebagai gadis yang cantik dengan porsi tubuh yang ideal, dia tidak tampak gemuk, tidak juga terlihat kurus. Rambut hitam lurusnya membingkai wajahnya yang tirus. Dan Alicia tidak pernah mengenakan make up, wajahnya sudah terpoles cantik dengan alami. Bulu mata lentik dengan iris hijau, bibirnya berwarna pink alami, serta kulit wajahnya yang putih dengan pipi merona. Apalagi dengan warna rambutnya yang gelap, Alicia seolah tampak seperti boneka-boneka porselen cantik. Mungkin jika dia diberi sedikit make up, maka orang-orang tidak akan menganggapnya manusia.

"Aku kenakan yang ini saja, ya," kata Alicia pada akhirnya, menyadarkan bibi Jen dari lamunannya.

Bibi Jen menatap baju yang dibawa Alicia di tangannya. Itu adalah sebuah pakaian yang sama dengan pakaian-pakaiannya yang lain. Hanya saja, yang satu ini adalah baju baru yang baru saja selesai Jen jahit dua hari yang lalu.

Bibi Jen pun mengangguk kuat-kuat. "Ya... ya kenakan itu dan segeralah ganti pakaianmu. Sisir juga rambutmu, kenakan sedikit make up yang aku belikan padamu kemarin, dan lakukan semuanya dengan cepat, mengerti?"

Alicia mengangguk patuh dan tidak sempat berkomentar saat bibi Jen berucap lagi. "Cepat, Alicia! Dia tidak suka menunggu lama," kata bibi Jen kemudian keluar dari kamar Alicia, meninggalkan gadis itu yang lagi-lagi bertanya siapa 'dia' yang dimaksud oleh bibi Jen.

***

Setelah Alicia selesai mengganti bajunya, dia kemudian hanya menyisir rambutnya tanpa mengenakan make up seperti yang bibi Jen perintahkan. Karena jujur, Alicia tidak tahu cara menggunakan barang-barang yang bibi Jen dan Wendy sebut make up itu.

Alicia pun keluar dari kamarnya, tanpa alas kaki dia menapaki lantai kayu yang dingin.

Sampai di ruang tamu, Alicia mendengar suara berat milik seorang pria tengah mengucapkan sesuatu yang Alicia tidak dapat dengar dengan jelas.

Alicia berjalan semakin mendekat.

"Usianya sudah delapan belas tahun, Jen. Sembilan tahun berlalu dan dia sudah tidak punya alasan apapun untuk tetap tinggal di sini. Seperti yang kukatakan padamu sebelumnya, bahwa aku akan datang kembali padanya."

Terdengar suara bibi Jen menangis, Alicia memelankan langkahnya.

"Tapi kumohon, tidak bisakah kau menunggu? Setidaknya beri kami waktu dua hari, kumohon! Aku sangat menyayangi Alicia seperti aku menyayangi anak kandungku sendiri, kumohon Tuan Lucius, beri kami waktu bersamanya sedikit lebih lama."

Alicia memasuki ruang tamu, melihat bini Jen duduk di sofa dengan berlinang air mata dan paman Fillbert duduk di sampingnya mengusap punggung bibi Jen yang tengah terisak.

Kemudian, mata Alicia bertemu dengan sepasang mata merah kelam yang balas menatapnya tajam. Napas Alicia tercekat. Dia menutup kedua mulutnya karena terkejut, merasa bahwa apa yang dia lihat saat ini tidaklah nyata. Tanpa sadar, Alicia melangkah mundur, dan di detik berikutnya dia berbalik dan berlari pergi.

***

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dijodohkan Hantu
8.7
Erina, yatim piatu yang selamat dari tragedi kebakaran, memiliki kemampuan melihat hantu. Selama seminggu, sesosok arwah wanita terus menguntitnya demi sebuah permintaan ganjil: menghibur suaminya yang berduka. Meski sempat menolak, Erina akhirnya luluh dan menemui Eldrick Damiano. Pertemuan itu justru menumbuhkan benih cinta di hati Erina. Namun, Eldrick telah menutup rapat hatinya dan bersumpah hanya akan mencintai mendiang istrinya selamanya.
Sampul Novel DON'T PLAY GAMES WITH ME
8.7
Pasca menikah di Pakistan, Adiba dan Syden menetap di Rusia. Gangguan mistis mulai menghantui Adiba serta ibu mertuanya di rumah baru mereka, namun Syden terus bersikap skeptis. Tragedi besar terjadi saat Adiba keguguran, memicu amarahnya untuk menuntut balas atas kematian sang buah hati. Sambil bersumpah demi Allah, wanita Pakistan ini tidak akan membiarkan siapa pun menghalanginya. Siapakah dalang keji di balik teror yang menghancurkan hidup Adiba?
Sampul Novel Gadis Titisan Harimau Putih
8.1
Naiya, guru kontrak yang mempesona, dipindahkan oleh Faisal ke Desa Blang Bungong demi rencana rahasia. Di sana, Laila yang cemburu mencoba membunuhnya lewat dukun, namun gagal karena Naiya adalah titisan harimau putih sakti. Desa itu pun dicekam kutukan Nyai Beulangong yang menumbalkan gadis-gadis untuk jin. Saat Naiya disekap Faisal, Razi datang mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkannya. Akankah Naiya menyadari cinta Razi di tengah ancaman para dukun jahat ini?
Sampul Novel Gita Sukma : Lagu Dari Jiwa
9.4
Narendra Wilaga terjerat dalam pesona melodi misterius yang mengusik hidupnya. Kekuatan magis lagu itu menuntunnya kembali pada Oceana Bluesha, sosok dari masa lalu yang ternyata menyimpan rahasia besar. Pertemuan ini menjadi awal tersingkapnya simpul takdir, mulai dari rekonsiliasi luka lama hingga petualangan berbahaya yang melibatkan benda-benda gaib. Kini, mereka harus menghadapi misteri semesta demi menentukan nasib di masa depan.
Sampul Novel Kayungyun
8.0
Sejak kecil, tubuh Fatih menjadi wadah bagi entitas misterius yang disebut sebagai teman. Seiring bertambahnya usia, beban mistis ini kian tak terkendali hingga membuat hidupnya kewalahan. Kehadiran sosok-sosok tak kasat mata tersebut mulai meneror ketenangan Fatih dan mengancam keselamatan orang-orang di sekitarnya. Kini, ia harus menghadapi gangguan supranatural yang kian agresif dan merusak tatanan realitas di lingkungan terdekatnya secara perlahan.
Sampul Novel Misteri Hutan Gondoriyo: Perjalanan Malam yang Mencekam
8.5
Seorang pria terjebak dalam kengerian Hutan Gondoriyo setelah tersesat saat menjelajah. Di tengah fenomena ghaib kendaraan yang raib, ia bertemu pasangan lansia misterius di sebuah pondok terpencil yang memberinya peringatan. Meski berhasil pulang, rasa penasaran membawanya kembali, namun hutan itu seolah lenyap. Hubungan gelap antara kecelakaan bus di jurang dan misteri hutan ini mulai terkuak, memaksanya mempertaruhkan nyawa demi mengungkap kebenaran yang menghantui.