
Lenyap Usai Kata Pisah
Bab 5
Aku menatap email terkirim yang berisi pengakuan tentang kehamilanku kepada lembaga riset di Alvara. Sekarang, tak ada lagi yang bisa kulakukan selain menunggu. Tanganku terangkat sendiri, menyentuh perutku seakan mencoba menenangkan kami berdua.
Balasan dari direktur datang hanya dalam hitungan jam.
[Selamat memasuki babak baru! Kami sudah menyiapkan hunian keluarga hanya beberapa langkah dari laboratorium, dan istri Dokter Yandi, kepala obstetri kami sudah memesan langsung semua jadwal pemeriksaan kehamilanmu. Yang paling penting, kami mengirim seorang anggota tim untuk menjemputmu dari pintu kedatangan bandara sampai ke rumah barumu. Tidak perlu mengangkat koper, tidak ada antrean, tidak ada stres sedikit pun!]
Aku menatap layar. Tanpa ragu. Tanpa penilaian. Hanya dukungan. Ada sesuatu yang mengencang di dadaku, mungkin secercah harapan pertama sejak aku melihat dua garis merah muda itu.
[Terima kasih...] Aku mengetik balasan lagi: [Karena menghargai aku lebih dari sekadar keadaanku saat ini.]
Hari keberangkatan tiba. Aku berdiri gelisah di pintu kedatangan, mataku menyapu kerumunan mencari kontak dari lembaga itu. Saat ini suara seseorang memanggil, "Sofia?"
Aku menoleh, melihat seorang pria jangkung dengan tatapan lembut menerobos keramaian. Erik, begitu tertulis di lencananya, menyapaku dengan hangat, membuat rasa canggungku sedikit mereda. Ia meraih koper kecilku dengan hati-hati, seakan sedang memegang benda antik yang berharga. "Proses penumpang prioritas sudah siap," katanya sambil tersenyum. "Direktur bersikeras kamu dapat perlakuan VIP, peneliti bintang kami."
Ketika Erik bergerak ke arahku, bahunya sempat menutupi pandanganku terhadap keributan di dekat ruang VIP, di sana Revan berdiri dengan Olivia yang melekat erat di lengannya. Mereka membelakangi kami saat menyambut sekelompok pengusaha.
Saat itu juga, tubuh Revan menegang.
"Barusan ada yang memanggil Sofia?" tanyanya.
Tawa renyah Olivia bergema. "Jangan konyol, Revan. Sofia pasti lagi tenggelam di lab sekarang," katanya sambil menarik Revan menuju resepsi sampanye.
Kami sudah menghilang dalam antrian sebelum tatapannya sempat mengarah ke kami.
Dalam perjalanan menuju gate, Erik dengan bersemangat menceritakan mikroskop dua foton terbaru di laboratorium. "Dokter Yandi memasangnya khusus untuk penelitian proteinnya kamu," katanya, matanya berkilat penuh gairah akademis yang hampir kulupa pernah ada.
Ia menyesuaikan genggamannya pada koperku. "Oh, dan tim sepakat bulat untuk mengikuti jadwal yang kamu sukai, tidak ada rapat pagi sebelum jam sembilan, dan sama sekali tidak ada kerja malam."
Aku menekan dada dengan tangan. Orang-orang ini, yang bahkan belum pernah bertemu denganku, berusaha keras menebak kebutuhanku, sesuatu yang Revan tak pernah lakukan selama empat tahun pernikahan.
Di pemeriksaan keamanan, Erik menyerahkan setumpuk kartu pos, gambar pergunungan berkilau di kertas murah. "Buat nulis kabar ke rumah," katanya sambil mengangguk memberi semangat.
Semua itu lenyap ditelan tempat sampah.
Erik sempat tertegun. "Tidak ada yang bisa kamu kirimi?"
Aku menoleh sejenak pada jendela terminal, di mana siluet kota tegak jelas di bawah fajar. Di suatu tempat di luar sana, Revan mungkin sedang menatap foto USG terbaru Olivia sambil sarapan, tangan berhiaskan berlian itu menempel di lengannya.
"Sudah tidak ada lagi," jawabku, lalu melangkah menuju pintu.
Pesawat bergemuruh pelan di bawah kami. Erik masih berceloteh tentang pasar petani di Zorvia. "Manggis di bulan Agustus! Rasanya seperti kamu mencicipi manisnya cahaya matahari!" Sementara aku menempelkan tangan ke jendela.
Selamat tinggal pada foto-foto di mana hanya salah satu dari kami yang tersenyum.
Selamat tinggal pada rumah mewah yang tak pernah terasa seperti rumah.
Selamat tinggal, Revan.
Anda Mungkin Juga Suka





