
Lenyap Usai Kata Pisah
Bab 2
Olivia bilang apartemennya perlu direnovasi setelah dia kembali. Makanya dia akhirnya menempati kamar tamu kami, tentu saja untuk sementara.
Revan menyetujuinya sebelum aku sempat menolak.
"Keluarga Kartika sudah jadi mitra bisnis selama puluhan tahun," katanya, seolah itu menjelaskan segalanya.
Sekarang dia melangkah ke seluruh rumah kami seolah itu miliknya, bersantai di tepi kolam dengan bikini desainer, mengadakan pesta di ruang anggur kami, selalu mencari alasan untuk menyela saat Revan dan aku sedang sendirian.
Malam ini, aku memergoki mereka di ruang kerja, menunduk serius di atas dokumen-dokumen hukum. Jari panjang Olivia menelusuri garis di kertas, terlalu dekat dengan tangan Revan.
"Sofia!" Dia tersenyum saat melihatku. "Kami sedang merencanakan ruang bioskop pribadi baruku. Kamu ikutlah."
"Aku masih harus menilai laporan lab," kataku sembari menggenggam gaun tidurku. Kami sudah bercerai sekarang. Apa pun yang Revan lakukan, dengan siapa pun dia bersama, itu bukan urusanku.
Tawa Olivia berdering seperti kaca pecah. "Selalu asyik sama buku-bukumu! Revan dulu mengerjakan PR matematika untukku waktu kecil, kamu sendiri yang ngajarin aku, kan Revan? Semua kemampuan matematikaku itu berkatmu."
Revan terkekeh ringan.
"Matematika lebih mudah dibanding mencuci keuntungan kasino." Sekilas matanya melirik ke arahku, diam-diam mengecek reaksiku.
Aku tetap menatap ke lantai, wajah tak berekspresi. Betapa menyentuhnya, ikatan masa kecil mereka masih kuat sampai sekarang. Aku hanya bisa berdiri di sini, menghitung hari sampai aku bisa kabur dari reuni yang mempesona tapi menyebalkan ini.
Menjelang tengah malam, aku sedang meninjau data lab ketika Revan masuk ke kamar kami. Aroma bir dan parfum manis Olivia menempel di bajunya saat dia duduk di sampingku di tempat tidur.
"Masih kerja?" Jari-jarinya menyentuh bahuku.
Aku otomatis menegang. Tapi ketika tangannya meluncur ke punggungku, aku menanggapi sentuhannya seperti wanita kelaparan yang diberi remah-remah.
'Menyedihkan,' bisik bagian rasional di otakku. Tapi empat tahun kesepian telah mengukir ruang kosong di dalam diriku yang hanya bisa diisi sementara oleh Revan, meski dia tak pernah tinggal.
Bibirnya menyentuh leherku saat ia mulai membuka kancing gaun tidurku. Aku menutup mata, membiarkan diri terhanyut dan melupakan segalanya… sampai perutku tiba-tiba mual hebat.
"Sofia?" Revan membeku saat aku menutup mulut dengan tangan.
Rasa mual itu hilang secepat datangnya.
"Hanya… makan sesuatu aneh di lab hari ini." Aku menjawab lemah. Pil KB yang kubiasakan minum membuat kehamilan mustahil, tapi perutku tampaknya memberontak memikirkan Olivia tidur tepat di bawah kami sementara Revan menyentuhku.
Tiba-tiba, suara pecahan terdengar dari bawah.
"Revan?" Suara Olivia terdengar dari tangga, gemetar. "Aku dengar kaca pecah… Sepertinya ada orang di rumah."
Aku merasakan tubuh Revan menegang. Tugas memanggil.
Dia sudah bangun dari tempat tidur sebelum aku sempat berkata apa-apa, mengambil pistol dari meja samping.
"Tetap di sini," perintahnya, sementara dia sudah setengah jalan ke pintu.
Ternyata tidak ada apa-apa, hanya pembantu yang menjatuhkan piring. Tapi ketika Revan kembali beberapa jam kemudian, dia langsung ke kamar mandi tanpa sepatah kata pun. Aku pura-pura tidur.
Keesokan paginya, aku hampir tersedak kopi saat melihat Revan membolak-balik formulir aplikasi institut risetku, yang konyolnya kubiarkan di meja dapur. Perutku mengencang.
"Rekayasa biomedis?" Dia memegang aplikasi ke institut Alvara, alis terangkat. "Kapan kamu mengatur proyek luar negeri ini?"
Aku memaksakan diri untuk mengangkat bahu. "Kawan sekelasku minta tolong ambilkan formulirnya." Jariku mengepal di telapak jauh dari pandangan, jauh dari pikiran, tapi tidak sebelum aku menangkap getaran tipis di jari kelingkingku. Sial.
Revan membalik halaman, menelusuri rincian.
"Zorvia. Kamu benci pergunungan."
Tentu saja dia tidak ingat. Dua tahun lalu, aku menyeretnya ke kabin di Vermontia hanya untuk menikmati pergunungan di sana. Tapi dia menghabiskan seluruh waktu menelpon pengacara.
Aku tidak merespons. Hanya menatapnya dingin.
Dia meletakkan kopinya, mata gelapnya menatapku dengan intensitas yang menakutkan.
"Kamu tidak butuh gelar lain. Besok aku bisa menunjukmu sebagai peneliti utama di Rumah Sakit Mahendra."
Itu masalahnya. Setiap pencapaian yang kumiliki, setiap makalah, setiap hibah, selalu dibayangi marga Mahendra. Aku membuka mulut untuk membantah ketika tawa Olivia memotong ketegangan.
"Selamat pagi, sayang-sayangku!" Dia melayang masuk, jubah sutranya berkibar saat duduk di lengan kursi Revan. "Revan, pengacara suruh kita meninjau kontrak kasino baru sebelum siang." Jari-jarinya yang ramping menyentuh bahu Revan dengan akrab.
Revan langsung berdiri tanpa menoleh ke formulirku.
"Kita bahas di ruang kerja," katanya.
Saat mereka hilang di lorong, aku menarik kembali formulirnya. Tanganku mantap saat kubuka bagian Status Perkawinan. Lajang.
Anda Mungkin Juga Suka





