
Lelah ku mencintaimu
Bab 2
Aku semakin sadar, aku tak akan pernah cukup berani.
Bukan karena Dimas terlalu tinggi untuk kugapai, tapi karena aku terlalu takut jatuh tanpa disambut.
Hari-hari terus berlalu. Dimas masih kadang datang ke perpustakaan, masih duduk di hadapanku sambil membuka buku atau sekadar berbagi cerita. Tapi sekarang, ada jarak yang hanya aku yang bisa rasakan. Jarak yang perlahan tumbuh seiring kedekatannya dengan Nadine.
"Dia baik, ya, Nadine," katanya suatu sore. "Kelihatannya aja jutek, padahal aslinya perhatian."
Aku tersenyum tipis.
"Ya, aku tahu," jawabku pelan.
Dan saat dia bercerita panjang lebar tentang gadis itu, tentang caranya tertawa, caranya marah-marah manja, caranya mengingatkan untuk makan, aku hanya bisa duduk diam, menyimpan seluruh rasa sakit yang tak bisa ku tunjukkan.
Inilah nasib menjadi pengagum rahasia.
Mencintai dalam diam, tanpa pernah diberi ruang untuk berharap.
Kadang aku ingin berhenti. Ingin menghilang saja dari hadapannya, agar tak perlu terus merasakan getir ini. Tapi di sisi lain, aku terlalu lemah untuk benar-benar menjauh.
Aku pernah bertanya pada diriku sendiri. Apa cukup hanya mengagumi seseorang dalam diam?
Dan jawaban yang kutemukan adalah tidak.
Tapi kenyataan tak memberiku pilihan lain.
Aku tahu Dimas menyukaiku sebagai teman. Teman yang tenang, yang bisa diajak ngobrol tanpa harus pura-pura jadi siapa pun. Tapi hanya sampai di situ.
Aku bukan seseorang yang akan ia genggam tangannya di depan banyak orang.
Bukan seseorang yang akan dia perkenalkan dengan bangga sebagai "pacar aku."
Bukan yang ia cari di keramaian.
Aku hanya bagian dari latar, seperti bayang-bayang yang selalu ada tapi tak pernah diperhatikan.
Namun meski begitu, aku tetap menyukainya. Bahkan ketika itu menyakitkan.
Bahkan ketika aku tahu, cintaku mungkin hanya akan hidup di satu sisi.
Dan suatu sore, saat hujan turun pelan di luar jendela perpustakaan, Dimas berkata sambil tersenyum.
"Kadang aku merasa tenang banget kalau ngobrol sama kamu, May. Kamu itu kayak rumah yang gak banyak suara, tapi selalu bikin betah."
Aku tak menjawab. Hanya tersenyum, menunduk, menyembunyikan genangan yang hampir tumpah dari mataku.
Karena ia tak tahu, bahwa rumah yang ia anggap tenang itu... menyimpan badai yang tak pernah ia lihat.
Aku mulai belajar pergi, pelan-pelan.
Bukan karena aku ingin menghilang dari hidupnya, tapi karena aku sadar... aku tak pernah benar-benar ada di sana.
Perasaanku pada Dimas tumbuh seperti benih yang kubenamkan dalam tanah kering. Aku sirami setiap hari dengan perhatian diam-diam, kutemani dengan doa yang tak pernah ia tahu. Tapi benih itu tak pernah tumbuh. Ia hanya diam di tempatnya, kering dan tak berakar.
Aku mulai mengurangi waktu di perpustakaan. Aku datang lebih siang atau kadang tak datang sama sekali.
Jika biasanya aku duduk di meja pojok, kini aku memilih tempat tersembunyi di antara rak buku, menjauh dari pandangannya.
Aku tahu Dimas menyadarinya.
"May, kamu ke mana aja? Jarang kelihatan belakangan ini," katanya suatu hari lewat pesan.
Aku sempat menatap pesan itu lama, sebelum membalas pendek.
"Banyak tugas, lagi fokus ngerjain."
Dia membalas dengan stiker senyum dan pesan, "Semangat, ya."
Dan di situlah letak lukanya, dia tetap baik. Terlalu baik.
Kebaikannya seperti tali yang terus menarik ku kembali, bahkan ketika aku sudah memaksa diri untuk melangkah menjauh. Tapi aku tahu, jika aku terus tinggal di dekatnya, aku hanya akan melukai diriku sendiri. Aku akan terus jadi penonton dalam kisah cinta yang bukan milikku.
Pernah suatu sore, aku melihat mereka berjalan bersama di depan fakultas. Nadine menggandeng lengannya, tertawa lepas. Dimas tampak santai, senyum itu masih sama yaitu hangat dan tulus.
Dan aku berdiri di balik tiang lorong, berusaha mengatur napas yang mulai sesak.
Saat itu, aku benar-benar yakin.
Cinta diamku bukan hanya tak terbalas. Ia juga tak punya tempat untuk tumbuh.
Malamnya, aku menulis di jurnal kecilku.
"Mencintai diam-diam adalah bentuk paling sunyi dari pengorbanan. Bukan karena tak bisa bicara, tapi karena tahu, tak ada gunanya bicara kalau ia tak melihat ke arah yang sama."
Sejak itu, aku mulai mengisi waktuku dengan hal lain. Bergabung dengan klub menulis. Mengambil kelas tambahan. Mencoba memberi diriku alasan untuk sibuk, agar tidak lagi terpaku pada kehadiran seseorang yang bahkan tak tahu betapa ia telah menjadi pusat semestaku.
Tapi ada satu hal yang tak bisa kuhindari.
Setiap kali aku menulis cerita, tokoh utamanya... selalu punya mata seperti Dimas.
***
Kelulusan datang seperti angin musim panas, cepat, hangat, dan penuh kenangan yang belum sempat dirangkum.
Kami berdiri dalam balutan toga, bersorak dengan teman-teman, memeluk dosen yang selama ini hanya kami kenal lewat nilai dan komentar di makalah. Dimas ada di sana, tentu saja. Dengan senyum bangga, dikelilingi banyak teman dan kamera ponsel yang mengabadikan dirinya.
Aku hanya melihat dari kejauhan.
Sama seperti selama ini, menyimpan rasa dalam diam, mengucapkan selamat hanya lewat bisikan dalam hati.
Setelah hari itu, kami berpisah seperti cerita yang tak selesai. Tanpa kalimat perpisahan, tanpa janji apa pun.
Aku pikir, itu akhir dari kisahku dengan Dimas.
Tapi takdir rupanya punya cara yang aneh.
***
Beberapa bulan setelah kelulusan, aku diterima kerja di sebuah perusahaan media yang cukup besar di kotaku. Hari pertama kerja, aku gugup setengah mati. Mengenakan kemeja putih dan sepatu yang sedikit kebesaran, aku mencoba menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.
Lalu aku mendengar suara yang tak asing dari balik ruang kaca.
"Maya?"
Jantungku nyaris berhenti.
Aku menoleh pelan.
Dimas.
Dengan kemeja abu-abu, name tag yang menggantung, dan senyum yang masih sama seperti dulu.
"Kamu kerja di sini juga?" tanyanya antusias.
Aku mengangguk, menahan gelombang rasa yang tiba-tiba menyerbu seperti air pasang.
"Baru mulai hari ini..."
Dia tertawa kecil. "Wah, keren! Aku udah duluan dua bulan di sini. Welcome, ya."
Kata-katanya sederhana. Tapi bagiku, itu seperti menekan tombol rewind dalam hidupku. Semua yang sudah kucoba kubuang, kenangan, rasa, luka tapi kembali muncul ke permukaan.
Beberapa hari kemudian, aku tahu kami bahkan satu tim.
Awalnya canggung. Aku menjaga jarak. Tapi Dimas tetap jadi Dimas, mudah dekat, ramah, dan selalu tahu cara membuat orang merasa nyaman.
"Kamu masih suka baca novel?" tanyanya saat makan siang bersama tim.
Aku hanya mengangguk. "Masih."
"Aku kangen duduk di perpustakaan," katanya sambil tersenyum, mengingat masa lalu. "Tenang banget. Apalagi kalau ada kamu di situ."
Aku tak tahu harus menjawab apa.
Tak tahu apakah kalimat itu hanya nostalgia atau... sesuatu yang lebih.
Yang kutahu, aku kembali terperangkap.
Bukan karena aku belum move on, tapi karena ternyata, rasa itu... tak pernah benar-benar pergi.
Aku pernah mencoba menjauh. Pernah mencoba melupakan. Tapi hidup membawaku kembali ke titik ini, bersama orang yang tak pernah bisa ku abaikan.
Kini aku tak lagi mahasiswi pendiam di pojok perpustakaan. Tapi aku masih Maya, si pengagum rahasia, yang duduk satu ruangan dengan lelaki yang tetap tak tahu isi hatiku.
Dan aku bertanya-tanya dalam hati,
Apakah kesempatan kedua ini akan membuatku berani... atau justru patah untuk kedua kali?
Anda Mungkin Juga Suka





