
Lawyer With Benefit
Bab 3
Boire Amour Cafe's
Deva membawa Adara ke sebuah kafe ala Perancis langganan dirinya untuk melepas penat.
Sebenarnya Deva sedikit ragu mengajak Adara ke tempat kesukaannya itu, sebab hampir semua yang dijual disana adalah minuman beralkohol favoritnya. Namun, jika dilihat dari kondisi Adara, sepertinya wanita itu butuh tempat yang sedikit berbeda.
"Yuk," kata Deva, sembari melepas sealt belt.
"Saya mau no smoking area, ya," ujar Adara, memperingati. Deva mengangguk.
"Santai. Saya juga bukan perokok kok."
Pernyataan Deva membuat Adara lega, setidaknya ia tidak harus berurusan dengan asap kematian yang sangat ia benci dari dulu. Asap sialan yang selalu saja membuatnya sesak napas.
"Kamu mau apa?" Deva menyodorkan sebuah buku menu pada Adara.
"Strawberry milkshake," kata Adara, cepat. Ketika melihat nama 'milkshake' tertera di sana, ia langsung girang bukan main.
"Miss, strawberry milkshake and wine," ujar Deva, pada salah satu pelayan.
Ternyata ruangan tempat mereka berada sekarang jauh dari ekspektasi Adara. Ia awalnya skeptis pada tempat ini, namun setelah masuk dan merasakan suasananya, sepertinya Adara akan menyukai tempat ini. Dengan alunan musik klasik dan pengharum ruangan beraroma lavender favoritnya.
"Saya tahu kenapa kamu sangat menyukai tempat ini," ujar Adara, ia menerawang sekeliling.
"Kenapa?" Deva menoleh.
"Tempat ini tenang. Seorang pengacara pasti butuh tempat dan suasana yang tenang agar pikirannya tetap stabil saat memeriksa dokumen kliennya," kata Adara, santai.
"Exactly! Kok kamu tahu?" Deva memberikan milkshake strawberry pada Adara, sekaligus menuang wine pada gelasnya.
"Nebak aja," jawab Adara, singkat.
Alunan musik klasik kembali mengambil alih diantara mereka. Baik Adara maupun Deva sama-sama terdiam, hanyut dalam pikirannya masing-masing.
"Kamu merasa hidup kamu terlalu datar, nggak?" tanya Deva. Ketika ia memikirkan topik apa yang akan dikeluarkan, hanya pertanyaan itu yang muncul dipikirannya.
Adara berpikir sebentar. "Sometimes."
Ella bahkan sering berkata bahwa hidup Adara itu kelewat santai.
"Kelihatan dari wajah kamu. Terus cara kamu menyiasati kedataran itu?" Deva bertanya lagi.
"Hmm, I don't know. Maybe read a book atau hunting milkshake yang ada di Jabodetabek," jawab Adara, disusul tawa dua orang berbeda jenis kelamin itu.
Deva tak dapat menahan tawa. "Kamu unik juga. Andai masalah bisa terlupakan hanya dengan minum milkshake atau wine."
"Mungkin aku nggak pernah ketemu kamu," lanjut Adara.
Deva tersenyum. "Dar, kamu pernah making out?"
Adara terkejut. Memang benar, pria manapun otaknya tidak pernah jauh-jauh dari mesum. Astaga! Ingin sekali Adara tampar pipi pengacara itu memakai botol wine-nya. Melihat ekspresi Adara yang berubah datar membuat Deva cepat-cepat mengklarifikasi ucapannya.
"Maksud aku, kita itu kan sudah sama-sama dewasa. Jadi kupikir pembahasan yang tepat untuk kita adalah itu. Sorry to say, Dar." Deva merasa canggung luar biasa. Ingin sekali ia terjun ke dari gedung ini.
Adara diam. Tidak ada salahnya memang membahas hal seperti itu. Toh apa yang dikatakan Deva benar, mereka sudah sama-sama dewasa dan pantas membicarakan itu. Lagipula sahabatnya, Ella, juga selalu berkata untuk jangan terlalu terkejut ketika mendapati pembahasan macam itu.
Mungkin benar apa yang selalu Ella katakan, dirinya terlalu datar. Terlalu takut keluar dari zona nyamannya sehingga selalu saja ada alasan untuk mencoba hal-hal baru. Mencoba menikmati masa-masa seusia dirinya.
Dan, making out salah satunya. Memang tidak semua orang dewasa melakukan itu. Tetapi dalam lingkungan Adara tak jarang mereka melakukan itu dan tak malu mengakuinya pada orang lain.
"Kamu mau milkshake lagi?" Deva bertanya kembali. Ia takut Adara tersinggung karena tak kunjung juga berbicara.
"Ah, nggak perlu, terima kasih. Dan untuk tadi kamu nggak perlu minta maaf. Kamu kan bicara begitu sama wanita 24 tahun bukan 14 tahun jadi sah-sah aja," ujar Adara, yang juga merasa tidak enak karena telah membuat suasana menjadi canggung.
Deva tersenyum. "Oke."
Selalu saja. Adara selalu saja terbuai dengan senyum manis seseorang. Entah itu pria maupun wanita. Deva adalah salah satunya, pria pemilik senyum manis yang masuk dalam kategori Adara Wirasti Maheswari.
"Kamu sudah pernah?" Pertanyaan Adara cukup rancu, tapi Deva berhasil menangkap maksud wanita itu.
"Hmm ... Pernah. Waktu punya pacar," jawab Deva.
Ya. Untuk kali pertamanya ia melakukan hal itu saat masih duduk dibangku kuliah dan tentu saja saat ia masih memiliki seorang pacar. Dia bukan tipe pria yang mau tidur sama siapa saja hanya demi kepuasaan diluar akal sehat itu.
"Sekarang nggak ada?" Adara sangat tertarik untuk mengetahui lebih dalam.
Deva menggeleng pelan. "Belum."
"Nggak coba ONS? Banyak temanku melakukan itu disaat mereka nggak ada pasangan." Adara mengambil contoh dari salah satu sahabat prianya, Theo. Pria itu suka sekali menghabiskan waktu sebagai seorang single dengan one night stand.
Deva kembali menggeleng. "Kemungkinan kena penyakit kelamin lebih besar. Aku nggak mau. Lagipula, aku cuma ingin berhubungan dengan orang yang benar-benar aku kenal, bukan sebatas sebagai pemuas hasrat disaat ingin aja. Aku ngerasa akan jadi sangat murahan bila melakukan ONS, walaupun aku pria."
"Aku juga nggak ingin kalau suatu hari istriku tahu kalau suaminya bekas penidur banyak wanita. Apalagi sampai istriku kenal dengan siapa saja wanita yang aku tiduri, bisa kacau kan?" lanjut Deva dengan nada guraunya, seperti biasa.
Adara mengangguk sembari menunjukkan senyum setuju. Adara rasa Theo harus mendengarkan ucapan Deva barusan, kecuali jika pria itu memilih menjadi single selama hidupnya.
"Dar, kamu pernah dengar istilah friends with benefit?"
Adara mengangguk. Theo pernah mengajaknya melakukan itu dan berakhir sebuah tamparan dipipi pria itu.
[Flashback On
"Friends with benefit. Nggak ada salahnya kalau lo mau coba untuk pertama kalinya sama gue, Dar. Siapa tahu ketagihan," ujar Theo, terdengar sangat genit.
"Kalau lo ketagihan, gue rela deh cuma tidur sama lo seumur hidup gu—"
PLAK!
"Gila lo ya?! Ngebayangin lo telanjang aja sudah bikin gue jijik, tahu?!"
"Sadis! Makanya kalau mau brengsek jangan ke sahabat sendiri kenapa," sahut Ella, sambil tertawa.
Flashback Off]
"Apa respons kamu?"
"Aku tolak. Aku nggak berani keluar dari zona nyamanku. Aku takut sesuatu buruk terjadi," ucap Adara, jujur.
"Sekali-sekali kamu harus keluar dari zona nyaman. Nggak harus having sex, Dar. Aku rasa banyak hal-hal yang belum kamu coba diusia 24 tahun ini, kan?"
Tebakan Deva sangat benar. Bahkan datang ke club seperti ini hanya akan Adara lakukan jika ada pesta saja.
"Aku ingin, tapi aku takut."
"Mulai dari hal yang kecil dulu," ujar Deva, terdengar sangat meyakinkan.
"Apa?"
Deva menyodorkan sebuah gelas kecil berisi minumannya yang barusan ia tuang ke gelas baru. "Minum ini dan rasakan sensasinya."
Adara dan Deva tertawa ketika mendengar pria itu berbicara seperti seseorang yang sedang mengiklankan sesuatu.
"Kamu harus mau. Wine nggak begitu buruk untuk seorang pemula," kata Deva, usai tertawa.
"Okay."
Adara mengambil gelas berisi wine dan mulai meminumnya. Demi apapun rasanya sangat tidak enak dan bau. Tetapi ketika cairan itu masuk ke rongga tenggorokannya, seakan meminta untuk dipanggilkan wine lagi.
Anda Mungkin Juga Suka





