Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Lawon Abang (Kafan Merah)

Lawon Abang (Kafan Merah)

Mbah Karso menyaksikan cucunya, Mawar, tewas mengenaskan setelah difitnah dan dikejar warga Ledokombo hingga jatuh ke tebing. Dendam membara menyelimuti hatinya karena gadis bermata merah itu dibunuh secara keji. Demi membalas sakit hatinya, ia membangkitkan Nyai Larapati, sosok iblis kuno yang telah lama tertidur. Raga Mawar yang sudah mati dipaksa bangkit kembali untuk menuntaskan kesumat berdarah tanpa ampun terhadap para penduduk desa tersebut.
Bab
Bagikan

Bab 1

Seorang gadis muda bermayang panjang berjalan mondar-mandir di depan pintu. Sesekali, dia menggigit kukunya hanya demi menyalurkan kegusarannya. "Dimana Si Mbah? ini sudah hampir tengah malam, kenapa Si Mbah belum pulang juga?" gumamnya bermonolog.

Dia membuka jendela gedeknya lantas melongokkan kepalanya keluar. "Gerhana bulan merah?" gumamnya lagi seraya menatap langit malam. Angin berhembus kencang, membelai mesra wajah ayu serta rambut hitam legamnya yang tergerai. Dia memejamkan mata, merasakan kesejukan yang membawa kedamaian sejenak.

"Ah, ndak ilok (tak baik) buka jendela malam-malam, nanti yang ndak di undang malah datang," gumamnya lirih sembari menarik kembali daun jendelanya, lantas menutupnya rapat. Lelah menunggu, dia memasuki kamarnya, merebahkan tubuh rampingnya di atas amben.

Dia menatap langit-langit ruangan, cukup lama hingga akhirnya pasang matanya pejam. Dia, gadis yang paling dibenci di desa telah terlelap.

**Tok Tok Tok**

Suara ketukan terdengar sebanyak tiga kali pada daun pintu kayu di depan sana. Gadis yang baru saja terlelap itu lantas membuka mata. Dia menggelung rambut panjangnya sebelum menjejakkan pasang kaki mulusnya ke tanah.

"Ah, sudah datang toh?" Seru Mawar yang kemudian beranjak dari amben bambu beralaskan tikar di kamarnya, lalu berjalan cepat menuju pintu. Sejak tadi, dia memang cemas menunggu satu-satunya orang yang dia punya.

**Krieeeettt**

Suara deritan pintu lapuk itu terdengar nyaring, seiring dengan pintu yang terbuka semakin lebar. Dara berusia delapan belas tahun itu tersenyum lebar, namun senyumnya memudar cepat saat menyadari yang datang bukanlah Si Mbahnya, melainkan beberapa orang laki-laki yang kini berdiri angkuh menatapnya.

"A-ada apa ini? Apa sampean-sampean datang mencari Si Mbah?" Tanya Mawar terbata-bata. Para lelaki itu diam tak menyahut, sehingga Mawar kembali membuka suara.

"Si Mbah belum datang, tadi pamitnya mau ke desa sebelah," imbuhnya.

"Membersihkan rumah dan pekarangan Juragan Sutris, aku benar kan?" sambung lelaki jangkung yang sejak tadi menatap dengan tatapan tak suka.

"Be-benar," Mawar membenarkan semuanya.

"Kami tau itu, itu sebabnya kami datang sekarang," ujar yang lainnya sambil melangkah mendekat.

"Ma-mau apa kalian? Jangan dekat-dekat!" seru Mawar.

"Atau apa!? Koe mau mengutuk kami, hah!? Cuih! Doamu ndak akan pernah di dengar," sentak lelaki berwajah garang itu.

Mawar mulai merasa terancam, dia berbalik dan berlari masuk, tangan putih mulusnya secepat kilat meraih daun pintu lantas menutupnya. Namun belum juga pintu itu tertutup dengan benar, seseorang mendorongnya dengan kuat. Mawar jatuh terjengkang, namun segera menguasai diri dan merangkak menjauh.

Dia bangkit, berlari melalui pintu belakang, menghilang diantara tanaman singkong yang tumbuh subur di belakang rumah. Gadis ayu itu berlari sambil sesekali melihat ke belakang, memastikan mereka tak lagi mengejarnya.

"Mbah, sampean dimana? Tulung, aku wedi Mbah," lirih Mawar terisak. Dia terus berlari mengikuti kemana langkah kaki membawanya. Harapannya hanya satu, bertemu dengan Si Mbahnya di jalan nanti. Dia tak ingin pulang sendirian karena kali ini, dia mulai merasakan bahwa kebencian warga jadi semakin liar. Jika dulu mereka hanya sekedar membenci, tampaknya sekarang mereka mulai berani menyakiti.

Mawar merasakan nafasnya mulai terengah sesak, dia memutuskan untuk beristirahat sebentar di balik pohon besar. Sejenak, dia berusaha menetralkan degup jantung yang tak terkendali.

"Dimana perempuan Iblis itu!? Aku yakin tadi dia berlari ke arah sini! Cepat cari dia, mata merahnya itu pasti tak cukup baik saat melihat apalagi dalam gelap!" seru seorang pria berbadan tinggi besar sambil berkacak pinggang.

"Huft.. huft.. kami sudah kelelahan, Kang! Lebih baik istirahat dulu," Celetuk salah satu lelaki yang turut andil dalam pengejaran malam ini.

"Ojo membantah! Cepat cari, kalian berpencar saja! Kalian mau, apa yang diceritakan Eyang terulang lagi!? Wajahnya mirip dengan makhluk itu! Bisa jadi, dia sebenarnya bukan manusia!" Serunya lagi. Para lelaki itu menyebar, mencari kesana dan kemari dalam gelap, hanya berbekalkan obor di tangan masing-masing.

Mawar yang mendengar suara-suara itu lantas merangkak ke balik semak belukar. Gadis ayu bermata merah menyala itu bersembunyi dengan tangan membekap mulutnya. Degup jantungnya menggila hingga dia sendiri mampu mendengarnya dengan jelas.

"Gusti, selamatkan aku," batinnya Mawar, dara jelita berkulit putih pucat, dengan pasang mata berwarna merah menyala. Warga desa LEDOKOMBO seringkali menyebut Mawar dengan sebutan, "Anak Iblis".

**Ssssst.. Ssssst...** Suara desisan terdengar jelas dalam rungunya. Mata Mawar membelalak kala merasakan sesuatu meliuk melingkari betisnya. Dia menajamkan penglihatannya dalam remang. "Akhh!" Dia memekik tertahan tanpa sengaja. Tangannya meraih kepala ular yang sudah bersiap mematuknya, dia menarik lantas melemparkannya menjauh.

Pekikan tertahan Mawar sampai pada telinga mereka, para lelaki yang mencarinya itu lantas menghentikan langkah, menyeringai jahat lalu berbalik mendekati semak yang barusan luput dari pengawasan.

Mawar berusaha menetralkan degup jantungnya yang menggila, bagai genderang perang. "Syukurlah, sepertinya mereka sudah pergi," gumamnya. Baru saja dia merasa aman, sebuah tangan terjulur membekap mulutnya.

"Uhmmm! Uhmmm!" Mawar meronta-ronta saat tubuh rampingnya diseret keluar dari balik semak-semak.

"Krakk!"

"Aaaawwww! Perempuan setan!! beraninya menggigitku!" Umpat lelaki yang barusan membekap mulutnya. Mawar terlepas dari bekapan, dia kembali berlari dengan kaki telanjang. Jalanan yang gelap nan becek, akar-akar yang menjulur keluar dari tanah sama sekali tak mendukung pelariannya.

**Jleb!!** "Aaaakhhh! Bruagh!"

Sebuah pecahan beling menembus telapak kaki Mawar, membuatnya jatuh tersungkur. Dia meringis, mengaduh. "Ssssshhh.. Gusti Allah, ini sakit sekali," lirihnya. Dia duduk, lalu meraba telapak kakinya dengan tangan yang gemetaran. Bibir bawahnya dia gigit kuat, sementara tangannya menyentak kasar pecahan beling yang berhasil melukai kakinya.

"Uuuhhmpppp!!! Hiks hiks hiks!" Teriakannya tertahan, namun air matanya lolos tanpa bisa dihalau.

"Ketemu!" suara itu mengagetkan. Mawar menggerakkan lehernya yang terasa kaku, melihat siapa yang bicara. Dia kembali gemetaran, beringsut mundur, namun tangan itu segera menjambak rambut panjangnya.

"Langsung kita habisi, atau..." Tanya seorang yang kini sedang menyoroti wajah Mawar dengan obor. Para lelaki itu saling pandang dengan seringai yang mengerikan.

"Kita beruntung, mereka menyerahkan tugas ini pada kita! Jadi kita bisa bebas mau lakukan apa saja, iya toh?" seru si jangkung. Tangan-tangan kekar itu mulai menyeret Mawar dengan kasar, membawanya paksa ke balik semak lantas mulai menggagahinya secara bergantian. Mawar hanya bisa meronta, namun tenaganya tak cukup kuat melawan delapan orang itu.

Teriakan demi teriakan, umpatan demi umpatan, juga sumpah serapah dan kutukan lolos dari mulut Mawar. Hingga di akhir, saat rasa sakit sudah sampai di ubun-ubun, dendam menggelegak, Mawar menyumpahi dengan lantang.

"Lepas! Biadab!! Cuih!!" Mawar meronta sekuat tenaga, dia juga meludahi wajah pria bajingan itu.

"B*jingan koe! Setan!!" umpat Mawar lagi.

"Plakkkk!!! Menengo (diamlah) anak setan!" sebuah tamparan melayang di pipi mulus Mawar, membuatnya berkunang-kunang. Telinganya berdenging kuat.

Amarah Mawar kian membuncah, dia tak dapat lagi menahan dirinya untuk melayangkan kalimat kutukan. Dengan seluruh sisa tenaganya, dia berteriak nyaring sembari menatap langit.

**Seda!!!** seru Mawar melengking disela tubuhnya yang sedang dihentak-hentak.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Dianggap Pembunuh Cinta Sejati Suamiku
9.8
Setelah tewas mengenaskan akibat tusukan pisau bedah suaminya sendiri yang mendendam atas kematian Charlene, sang protagonis mendapatkan kesempatan kedua. Ia kembali ke hari di mana ia menderita pankreatitis akut akibat alkohol. Kali ini, suaminya yang berprofesi sebagai dokter UGD memilih mengabaikannya demi menyelamatkan cinta sejatinya tanpa ragu. Namun, keputusan sang suami untuk meninggalkannya justru memicu penyesalan mendalam, hingga akhirnya pria itu berlutut memohon pengampunannya.
Sampul Novel Guru Untuk Nona Muda Nakal
8.2
Dihan terpaksa mencari tempat persembunyian demi menghindari kejaran misterius yang mengancamnya. Di saat bersamaan, keluarga Rahadian sedang kewalahan mencari guru privat bagi dua putri mereka yang sangat nakal dan membenci pelajaran. Dihan pun menerima tawaran tersebut meski harus menghadapi kekacauan luar biasa. Mampukah ia menaklukkan sikap keras kepala kedua nona muda itu? Di tengah keributan tersebut, rahasia masa lalu Dihan terus membuntutinya.
Sampul Novel Intelijen Tampan
9.7
Carlo Bandarez adalah agen rahasia Rusia menawan yang selalu menjaga jarak dari wanita meski dikagumi banyak orang. Namun, pertemuannya dengan Claudia Rodriguez, teman masa kecilnya, membangkitkan perasaan mendalam. Carlo mencoba mematikan rasa itu, tetapi cinta mereka justru kian tumbuh. Kini ia terjebak dilema besar saat ditugaskan mengusut kasus kriminal Samuel Rodriguez, ayah Claudia. Haruskah ia setia pada tugas intelijennya atau memilih cintanya?
Sampul Novel Istri Jaminan Sang Laksamana
8.2
Admiral Shawn Miller, Jenderal bintang satu termuda AS, terjebak perjanjian gelap dengan mafia Yousef Kanishka. Demi data rahasia negara, ia menyetujui pernikahan rahasia dengan putri Kanishka, Kiran, sebagai jaminan. Syaratnya mutlak: Shawn dilarang menyentuh istrinya tersebut. Tanpa pernah bertemu sebelumnya, Shawn terpana saat menyadari jaksa cantik di pengadilan militer adalah sosok wanita yang kini terikat secara hukum dengannya.
Sampul Novel Menuntut Balas
8.4
Xavier terpaksa menyaksikan momen mengerikan saat nyawa ayahnya direnggut secara keji oleh kelompok mafia. Tragedi berdarah tersebut menyisakan luka mendalam dan amarah yang membara di hatinya. Enggan membiarkan para pelaku bebas begitu saja, ia bertekad menuntut balas. Xavier pun mulai mengasah kemampuan bela diri dengan keras demi mempersiapkan diri menghadapi organisasi kriminal yang telah menghancurkan hidupnya serta menuntaskan dendamnya.
Sampul Novel Segitiga Penguasa - Sudut Pertama
8.5
Pasca tragedi memilukan, seorang pria terpaksa mengungsi ke desa asal demi melindungi keluarganya dan bayi titipan sahabatnya dari kejaran prajurit. Namun, empat tahun berselang, maut menjemputnya di hadapan sang istri yang baru melahirkan. Dua puluh tahun kemudian, Marcapada yang tumbuh tanpa ibu harus berjuang bersama Soma, seorang pemuda yatim piatu. Mereka bersaing dengan puluhan pemuda lainnya dalam kompetisi sengit demi meraih gelar Penjaga.