Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel La Tahzan, Miss Lemot

La Tahzan, Miss Lemot

Vinessa adalah gadis cantik nan ceria yang harus menelan pahitnya kenyataan hidup. Meski memiliki hati yang baik, kehadirannya tak pernah diharapkan dan selalu dipandang rendah oleh orang-orang di sekitarnya. Alih-alih menaruh dendam atas segala perlakuan buruk keluarganya, ia justru menerima hinaan tersebut dengan lapang dada sebagai bagian dari nasibnya. Simaklah perjuangan menyentuh hati Vinessa dalam menghadapi kerasnya dunia yang tidak memihaknya.
Bab
Bagikan

Bab 1

Seorang gadis tengah menatap pantulan dirinya di depan cermin. Entah apa yang ingin dia lihat? Yang jelas, dia hanya mengulas senyum manisnya. Senyum manis yang selalu terukir di bibirnya setiap hari, tanpa lelah. Dia mengedipkan sebelah matanya, lalu berjalan keluar kamar dan menuju ke ruang makan.

"Selamat pagi, Bun," sapa gadis itu kepada wanita paruh baya yang sedang berkutat dengan masakannya.

Gadis itu menatap ke arah meja makan yang terdapat beberapa makanan. Hati rasa ingin mencicipi, tetapi apalah dayanya yang takut sang bunda marah.

"Bunda, Ines berangkat dulu, ya. Assalamu'alaikum, Bun." Setelah mencium punggung tangan bundanya, Ines langsung berjalan keluar rumah menuju ke depan gerbang rumahnya.

Vinessa Queensheila Erick. Gadis yang cantik, manis, dan selalu menebar senyum kepada setiap orang. Dia juga selalu membuat orang tertawa sekaligus kesal dalam waktu yang bersamaan, karena ketidakwarasan dan kelemotannya, membuat siapa pun di sekelilingnya akan langsung naik pitam.

Seperti saat ini, dia sedang berdiri menunggu jemputan dari seseorang untuk berangkat ke kampus. Namun, sudah pukul 07.25 WIB orang yang ditunggu tak kunjung datang, padahal hari ini ia ada kelas pagi. Dia kemudian mengambil ponsel di saku celananya untuk menghubungi orang itu. Saat sudah tersambung, Ines langsung berbicara pada intinya tanpa memberi salam sekalipun.

"Halo, Akang Fernanku yang gantengnya tiada tara," ucap Ines dengan nada selembut mungkin.

"Hm, apa?" tanya Fernan dengan suara serak khas bangun tidurnya di seberang sana.

"Lo lama banget, sih, jemput Ines, Fer. Kaki Ines kesemutan, bahkan badan hampir lumutan," papar Ines.

"Jemput lo? Emang mau ke mana?" tanya Fernan kembali.

"Ya ke kampuslah, Akang Fernan!" tegas Ines sambil mengentakkan kakinya.

"Sorry, gue baru bangun tidur, Nes," sahut Fernan.

"Lo baru bangun, Fer? Kok bisa, sih? 'Kan hari ini ngampus, Fer?" Bukannya menjawab pertanyaan dari Fernan, Ines malah balik bertanya dengan bertubi-tubi.

"Sebentar, Nes. Ngampus, ya?" beo Fernan, "emang hari ini hari apa? Bukannya hari minggu, ya? Kok bisa ada jadwal kampus, sih? Atau gue yang salah? Gue lihat kalender dulu." Fernan menatap ke layar ponselnya dan membuka kalender.

"Fer, lo ngomong apaan, sih? Ayo, buruan jemput Ines. Nanti kita telat!" pekik Ines.

Fernan mendengkus sebal. "Makanya, kalau lemot jangan dipelihara, Nes! Lo ganggu mimpi indah gue yang lagi kencan sama Lisa blackpink. Ini hari Minggu, Ogeb. Lihat kalender lo makanya. Udah, ah, bye."

"Minggu?" Ines menyalakan ponselnya, lalu melihat kalender.

"Si Fernan kayaknya pengen libur sendiri, nih, anak. Orang di kalender Ines aja sekarang hari kamis. Gimana bisa libur?" gumam Ines.

Ines mengedikkan bahunya, lalu berjalan menuju ke halte bus terdekat. Saat sedang menunggu bus yang lewat, tiba-tiba sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti di hadapan Ines. Gadis itu langsung mengerucutkan bibirnya karena kesal.

Bagaimana tidak? Mobil ini menghalangi pemandangan Ines. Gadis itu berjalan mendekati jendela mobil, lalu mengetuknya dengan pelan.

"Permisi, Pak, Kak, atau siapa aja. Tolong mobilnya jangan menghalangi pemandangan saya!" ucap Ines dengan sedikit lantang.

Kaca mobil terbuka lebar, tampaklah seorang pria dengan setelan kantor lengkap dan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya.

Pria itu melambaikan tangannya, lalu berkata, "Halo, Princess? Are you Okay?"

"Not fine."

Pria itu mendengkus sebal. "Mau ke mana?" tanya pria di dalam mobil itu sambil menatap Ines dari bawah sampai ke atas.

"Ck, mau ke kampuslah, Bang Arka," jawab Ines dengan santainya.

Arka, pria di dalam mobil itu langsung terkejut dengan mata yang melotot. Dia atau gadis di hadapannya ini yang bodoh? Pasalnya, tadi dia melihat kalender sebelum pergi, tetapi ini bukankah hari minggu?

"Kamu baik-baik aja 'kan?" tanya Arka dengan hati-hati.

Ines menganggukkan kepala. "Baik."

"Kayaknya kamu nggak baik, deh. Abang tahu kamu lagi frustasi, tapi nggak begini juga, Nes." Mendengar ucapan abangnya, Ines hanya mengerutkan dahi sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Orang aku sehat, Bang."

"Sehat kok oon," gumam Arka.

"Ini hari minggu, Nes. Ngapain kamu ngampus? Mau mejeng dengan Pak Kobet? Ya, kali, Dek. Jangan malu-maluin abang dong!" Sinis Arka.

"Minggu? Ini kamis, Bang," bantah Ines.

"Coba lihat ponsel kamu."

Ines menyerahkan ponselnya kepada Arka, membuat pria itu langsung menghidupkan ponsel adiknya. Dia mengecek kalender dan ternyata benar. Ya, benar-benar buat kesal.

"Ya, gimana nggak hari kamis! Lihat, ini bulannya. Dasar ogeb!" Arka menoyor kepala Ines, membuat gadis itu mengerucutkan bibirnya.

Arka menarik tangan Ines agar masuk ke mobilnya. "Masuk, Abang ajak kamu ke suatu tempat."

***

Arka memarkirkan mobilnya di halaman perusahaan milik sang ayah, yang kini telah diambil alih olehnya. Ines cemberut, gadis itu mengira bahwa Arka akan membawanya ke suatu tempat yang indah. Ternyata ke perusahaan? Tempat membosankan dan melelahkan bagi Ines. Bagaimana tidak? Di sana Arka hanya menyuruhnya duduk, lalu terkadang meminta bantuannya.

"Ngapain, sih, ke sini?" tanya Ines.

Arka menatap ke arah adiknya. "Mau jual paku."

Ines mengerutkan dahinya bingung. "Hah? Gimana ceritanya, Bang, perusahaan jualan paku? Dikira matrial kali," ucap Ines sambil memutar bola matanya jengah.

Arka menjitak kepala Ines dengan gemas. "Ya kali, Nes. Masa abang yang gantengnya mirip Bright, harus jualan paku di perusahaan."

"Ganteng dari mana, Bang?" tanya Ines, "kalau Bang Sean sama Bang Erick beneran gantengnya, abang mah oplas kali."

"Yang bener aja, Nes! Masa abang harus oplas dulu biar ganteng! Ini kegantengan alami yang diturunkan oleh Ayah sama Bunda," ungkapnya dengan bangga.

"Muka kayak badut ancol aja bangga," gumam Ines yang masih terdengar oleh Arka.

"Adek siapa, sih, lo? MasyaAllah, pinter banget. Saking pinternya, gue pengen pelet lo," gerutu Arka.

"Ye, dikira melet pacar apa? Ya kali Ines mau jadi pacar Abang, ogah. Mending Ines jadi pacarnya si Jupri aja," cerocos Ines.

"Ih, itu mulut atau burung perkutut? Nyerocos aja kalau ngomong. Mending suaranya bagus, kayak kaleng rombeng!" pekik Arka sambil menoyor kepala Ines.

"Abang kdrt, nih, dari tadi jitakin kepala Ines mulu," racau Ines.

Arka memukul tangan Ines dengan lumayan keras, membuat sang empu mengaduh kesakitan.

"Ya kali gue kdrt sama adek sendiri. Kalau sama bini gue, baru namanya kdrt. Lo kapan pinternya, Nes?" pungkas Arka dengan nada kesal, lalu berjalan mendahului Ines.

"Nanti, Bang. Kapan-kapan!" teriak Ines sambil berlari menyusul sang kakak.

Ketika Arka dan Ines akan memasuki gedung, tiba-tiba sebuah suara memanggil nama keduanya.

"Bang Arka, Ines," panggil seseorang, membuat keduanya menatap ke asal suara. Arka menaikkan sebelah alisnya, sedangkan Ines menatap tajam ke arah orang di hadapannya kini.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Cinta Dan Trauma
8.3
Masa lalu Adel kelam akibat kekerasan ayahnya, menyisakan trauma mendalam meski sang ibu selalu mendukung. Di sekolah, ia merasa terasing saat sahabatnya, Dara, mulai menjauh demi Farhan. Hubungan asmara Adel dengan Vero pun penuh kekecewaan, memaksanya mempertanyakan kesempatan kedua. Demi pulih, Adel memilih mengikuti pelatihan di Surabaya untuk menata masa depan. Di tengah luka dan bayang-bayang masa lalu, mampukah ia menemukan kebahagiaan sejati?
Sampul Novel Dokterku, Cintaku
8.1
Berprofesi sebagai dokter spesialis ginekologi membuatku terbiasa berinteraksi dengan berbagai pasien wanita setiap hari. Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang bisa menandingi kesempurnaan Teresa Bunanta, wanita yang tinggal tepat di sebelah rumahku. Di mata pria ini, sosok Teresa adalah definisi keindahan yang mutlak. Di balik sikap profesionalnya sehari-hari, sang dokter memendam sebuah hasrat rahasia yang mendalam, yaitu sebuah harapan agar suatu hari ia bisa memeriksa tubuh tetangganya itu secara medis.
Sampul Novel Gairah Terlarang Sang CEO!
9.0
Jordan Freemantle menyimpan dendam membara pada Lawrence Brickman yang kabur setelah menggelapkan dana proyek besar mereka. Saat Chantal Brickman, putri Lawrence yang cantik, datang ke rumah ayahnya di Malibu, Jordan langsung menjadikannya target pelampiasan. Pria arogan ini memaksa Chantal mematuhi segala hasrat gilanya sebagai bentuk penebusan utang sang ayah. Terjebak dalam cengkeraman Jordan, Chantal tak punya pilihan selain menuruti semua kemauan pria itu.
Sampul Novel Hanya Pria Tak Berguna
9.7
Pernikahan lima tahun hancur saat Vincent Amjaya pulang membawa cinta pertamanya, Cindy Harris, yang telah hamil tiga bulan. Vincent memaksa agar Cindy menetap di rumah mereka dan meremehkan penolakan istrinya. Ia lupa bahwa rumah tersebut adalah hadiah dari keluarga sang istri, dan seluruh keluarganya hidup menumpang. Bertekad menghentikan semua bantuan finansial, sang istri langsung menghubungi asistennya untuk mengurus surat cerai bagi suaminya yang tidak tahu diri.
Sampul Novel Jalan Jodoh Sang Koki
8.1
Max, koki ternama, mendadak jadi buronan setelah masakannya tak sengaja menewaskan perdana menteri. Saat pelarian, jiwanya berpindah ke tubuh seorang wanita yang tenggelam di lokasi berbeda. Dalam raga barunya, Max justru jatuh cinta pada Wulan, sahabat dari Nadia. Begitu berhasil kembali ke tubuh aslinya, Max bertekad mencari dan menikahi Wulan. Namun, meyakinkan wanita itu bukanlah perkara mudah. Akankah cinta sang koki berakhir manis?
Sampul Novel Janji yang Hancur, Cinta yang Tak Terucap
9.5
Bara mengabdi enam tahun demi Isabella, bahkan merawat ibu mertuanya saat sang istri membangun karier. Namun, Isabella justru mengkhianatinya dengan menyebut pernikahan mereka hanya utang budi. Saat ibu Isabella wafat, wanita itu malah bersama mantannya dan mengandung. Tragedi berlanjut hingga keguguran dan perceraian terjadi. Saat Bara nyaris ditabrak, Isabella mengorbankan nyawa demi melindunginya. Di detik terakhir, terungkap rahasia bahwa janin itu adalah darah daging Bara.