
Kutukan Selingkuhan
Bab 3
Setahun yang lalu.
Dalam waktu kurang dari seminggu, Rhino akan menikah dengan Rena. Meskipun mereka memiliki kesempatan untuk saling mengenal enam bulan sebelum akad nikah, menurut Rhino, pernikahan tersebut tidak dilandasi dengan cinta. Bahkan, sekadar bersimpati pada Rena yang baru ditemuinya pun, sulit untuk ia lakukan.
Rhino sendiri tak kuasa menolak permintaan ibunya untuk menikahi Rena yang merupakan keluarga jauh mereka. Menurut ibunya, Rena yang sudah tidak memiliki orang tua tersebut adalah anak yang baik dan cocok dengan Rhino. Rhino tidak sependapat, tapi tak berani menentang keinginan ibunya yang begitu dominan dalam kehidupannya.
Setelah masa perkenalan yang cukup singkat, Rhino akhirnya melamar Rena. Rencananya, mereka akan menikah secara sederhana, sesuai dengan keinginan Rhino dan Rena. Sebab, mereka berencana untuk membeli rumah dan tinggal terpisah dari ibu Rhino. Jadi, pilihan untuk menggelar pernikahan sederhana adalah semata demi menghemat anggaran agar dapat membeli rumah impian mereka.
Akan tetapi, menjelang pernikahan mereka, kegundahan Rhino semakin menjadi. Di depan Rena, ia bisa bersandiwara menjadi sosok calon suami yang baik. Namun tidak jika ia sudah menyingkir dari keberadaan Rena sekeluarga dan keluarganya sendiri. Rhino masih berpikir bahwa Rena adalah sosok asing yang terpaksa ia nikahi.
Hari ini adalah hari terakhir Rhino bekerja sebelum mengambil cuti nikahnya. Juga, menjadi kesempatan terakhirnya untuk menjadi 'diri sendiri' sebelum mengenakan topengnya di hadapan Rena dan keluarga mereka berdua. Setidaknya, itulah yang ada dalam pikirannya.
Pada akhirnya, Rhino hanya bisa menenggelamkan diri dalam pekerjaannya. Sebelum kelak menjalani kehidupan yang tidak ia inginkan, Rhino hanya ingin menepi sesaat. Ia berharap keajaiban terjadi dan ia dapat menemukan kebahagiaan dalam hidup yang tidak berjalan sesuai keinginannya tersebut.
"Uhuk! Uhuk!"
Suara batuk seorang wanita menghentakkan Rhino. Menyadarkannya dari kesibukan menggores drawing pen di meja gambarnya. Ia menoleh ke asal suara dan melihat seorang wanita tengah berada di ambang pintu ruang kerja Rhino.
Rhino sendiri tak mendengar bunyi pintu dibuka, sehingga ia tak tahu, sejak kapan wanita itu berdiri di sana. Yang jelas, wanita itu mengalami kesulitan bernapas hingga terbatuk-batuk karena menghirup kepulan asap rokok yang dinikmati oleh Rhino.
"Astaga! Maaf," ujar Rhino. Ia buru-buru membuka jendela agar pertukaran udara segera terjadi. Alarm kebakaran di ruangannya sudah lama rusak hingga ia bebas merokok saat sedang bekerja. Sehingga ia lupa bahwa bukan hanya ia yang dapat terus-terusan berada di ruang kerjanya itu.
Rhino mempersilakan wanita yang tidak ia kenal itu duduk, sementara ia sendiri sibuk mengipas-ngipas untuk membantu menjernihkan udara di ruang kerjanya. Dengan risih, ia membuang gunungan puntung rokok di asbak ke tempat sampah.
"Sebentar. Anda asisten saya yang baru?" tanya Rhino pada wanita yang masih berusaha menahan batuknya itu.
"Iya, Pak. Saya Risa," jawab wanita tersebut.
Dari tanya jawab singkat, Rhino mengetahui bahwa Risa berasal dari alma mater yang sama dengannya. Namun Rhino tak mengenalnya karena ia baru saja lulus saat Risa masuk fakultas yang sama di universitas tersebut.
Rhino cukup senang karena dapat bertemu dengan sesama alumni. Mereka bertukar cerita sejenak, di mana Rhino menanyakan kabar para dosen mau pun karyawan di tempatnya menuntut ilmu dahulu.
Pada awalnya, hubungan Rhino dan Risa sebatas atasan dan bawahan semata. Rhino juga mengundang Risa menghadiri resepsi pernikahannya.
Sama sekali tidak terbersit dalam pikiran Rhino bahwa kelak, Risa akan menjadi seseorang yang memberikan warna baru untuk hidupnya. Sebab, setelah menikah, kehidupannya dengan Rena berjalan baik dan cukup lancar sehingga Rhino sempat mengira bahwa ia terlalu berburuk sangka pada pernikahannya.
Nyatanya, Rena adalah istri yang baik. Ia mengurus Rhino dengan telaten dan apik. Selama Rena berada di sisinya, Rhino tak perlu khawatir kelaparan karena setiap hari Rena menyiapkan makanan yang sehat dan enak untuk suaminya. Sarapan, bekal makan siang hingga makan malam, semuanya disiapkan dengan baik.
Rena pun seorang istri yang patuh dan siap melayani segala kebutuhan Rhino, termasuk kebutuhan biologis. Wanita berwajah ayu dengan sorot mata teduh itu juga pandai memuaskan Rhino. Sehingga Rhino merasa malu sendiri karena telah meragukan kehidupan barunya sebagai seorang suami.
Segalanya tampak berjalan dengan baik, hingga saat Rena mulai mual-mual dan menjadi sangat lemah untuk sekadar bergerak. Apalagi untuk memenuhi kebutuhan Rhino, wanita itu sampai meminta maaf karena ia tidak kuat lagi.
Rhino pada awalnya merasa cemas dan mengira istrinya sedang terserang penyakit. Namun saat dokter menyatakan bahwa Rena tengah hamil, kecemasan itu tentu saja berganti menjadi kebahagiaan.
Rhino merasa kebahagiaannya sudah lengkap. Dunianya hampir penuh, karena tak lama lagi, akan bertambah sosok yang akan ia sayangi dengan sepenuh hati.
Sayangnya, Rhino terlalu melambungkan harapannya. Dia tidak menyadari bahwa arah hidupnya akan berubah. Meninggalkan Rena dan calon bayinya demi seseorang yang tidak pernah menolak permintaannya.
Anda Mungkin Juga Suka





