Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kuakhiri Dendam Ini

Kuakhiri Dendam Ini

Kehidupan tenang Anisa hancur dalam sekejap saat suaminya, Barry, kembali dari perjalanan luar negeri. Kegembiraan menyambut kepulangan sang suami berubah menjadi kengerian luar biasa ketika sebuah koper miliknya dibuka. Di dalamnya, tersimpan jasad seorang wanita cantik yang tidak bernyawa. Penemuan mayat misterius ini memicu huru-hara di rumah mereka, menyeret Anisa ke dalam pusaran misteri kelam yang mengancam segalanya.
Bab
Bagikan

Bab 1

[Nisa, mas pulang besok. Mau jemput di Bandara?]

[Boleh, Mas. Jam berapa?] balasku.

Jari-jariku gemetaran saat membalas text demi text. Sakit luar biasa, mengingat Mas Barry baru saja menghabiskan seminggu bersama selingkuhannya di Bangkok. Dan hari ini, ponselnya baru diaktifkan.

Lelah, aku sangat lelah dan sakit hati.

Taktiknya dengan memintaku berhenti kerja agar fokus urus anak-anak, berhasil. Kini aku tergantung padanya. Termasuk untuk pengobatan ibuku yang menderita penyakit stroke dan ayah yang menderita sakit ginjal sejak beberapa tahun terakhir.

Barry menguasai hidupku dan keluargaku.

"Biar mas aja yang kerja, Nisa urus anak-anak."

"Tapi, Mas. Nisa harus membantu pengobatan ayah ibu."

"Ah, biar mas aja. Mereka 'kan orangtuaku juga. Penghasilan mas sudah lebih dari cukup untuk membiayai kita semua."

Sesaat kupikir Mas Barry suami sempurna, aku dengan sukarela mengikuti keinginannya agar mengundurkan diri dari jabatan strategis di sebuah perbankan.

"Biaya kuliah Andre besar, Mas. Kalau Nisa tidak bekerja, bisa-bisa gagal kuliahnya."

"Sudah, jangan dipikirin, Nisa. Mas bisa membiayai semua kebutuhan kita dan keluarga kamu. Kita atur saja sebaik mungkin supaya cukup. Percaya saja."

Tak pernah kami kekurangan uang, pengobatan ayah ibu, semua ditanggung Barry, tanpa pernah aku mendesaknya. Begitupun biaya kuliah Andre—adikku—yang baru menginjak semester tiga.

Aku bahagia, sangat bahagia.

Tapi, seperti kata pepatah, tidak ada kebahagiaan yang abadi. Begitu pula hidupku.

Kebahagiaan itu, hanya bertahan enam bulan sejak aku resign.

"Lo mesti pintar, Bro. Gue suruh Nisa berhenti kerja, supaya dia tergantung sama gue. Nggak apa-apa gue keluar uang buat biaya pengobatan orangtuanya, buat kuliah adeknya, yang penting gue leluasa jalan sama si Amanda." Tawa itu menggema, berbanding terbalik denganku. Tubuhku luruh ke lantai, jantungku berdegup kencang.

Mas Barry?!

Percakapan tanpa sengaja kudengar, saat dirinya berbicara di sambungan telepon dengan seseorang yang kuduga adalah temannya, mengingat Barry selalu memanggil teman dengan kata 'Bro'.

"Nisa sekarang terpaksa di rumah saja, urus anak-anak, urus keluarganya. Gue bisa sering nginap di luar dengan alasan kerja, ke luar kota bahkan ke luar negeri. Bebas." Lagi-lagi ia terbahak, semakin lama dan nyaring. Kepuasan terdengar jelas dari tawanya yang panjang.

Rupanya, itu sebabnya Mas Barry ngotot aku resign. Supaya bisa menguasai secara keuangan dan mengikatku diam di rumah. Mas Barry, kenapa engkau bisa berubah sejahat itu? Tak kuasa kutahan air mata yang menganak sungai. Sakitnya luar biasa!

Aku diam tepekur di balik pintu kamar. Bila tak mengingat keadaan sudah terlanjur, akan kulabrak Mas Barry saat itu juga. Tapi, kesehatan ayah ibu tergantung dirinya. Andre mungkin bisa cuti kuliah, tapi mempertaruhkan nyawa orangtua untuk sebuah rasa sakit hati? Aku harus mempertimbangkan matang-matang.

Dengan diamku, Mas Barry semakin menjadi-jadi. Herannya, uang gaji selalu utuh diserahkannya padaku. Apakah ia punya sampingan pekerjaan?

Entah.

Setiap sebulan sekali pasti Mas Barry ijin menginap ke luar kota, bahkan ke luar negeri. Rata-rata tiga hari, kadang seminggu. Aku menahan diri, dengan berpura-pura tidak mengetahui perselingkuhannya. Seperti kali ini, ia ijin berangkat ke Bangkok, dengan alasan pekerjaan.

"Kantor mengirimku ke sana, Nisa. Seminggu. Sebentar lagi mas naik jabatan, kamu doakan saja semua lancar. Jaga anak-anak ya, nanti mas pulang kita liburan ke Bali."

Begitulah Barry, setiap kali selesai bepergian bersama selingkuhannya, ia akan memanjakan aku dan anak-anak. Aku mulai muak! Mengetahui kebohongannya tapi terpaksa diam dulu.

Aku tau ia pergi bersama selingkuhannya karena salah satu rekan kantornya, Adam, ternyata teman SMA-ku. Aku mengetahuinya tak sengaja, saat reuni SMA. Kepadanya aku berpesan agar tidak usah memperkenalkan diri sebagai temanku kepada Mas Barry. Tanpa bertanya kenapa, Adam menurutinya.

Adam menjadi pengintai gerak-gerik Mas Barry.

"Nggak, Nis. Kantor nggak kirim Barry. Sudah ku-cek. Dia ijin mengurus ayahmu operasi."

Si*l*n Barry! Jadwal ayah operasi masih dua bulan ke depan. Rupanya menurut Adam, Barry selalu menggunakan kondisi kesehatan orangtuaku sebagai alasan ijin tidak masuk kerja.

***

"Mba, titip anak-anak bentar ya, saya mau jemput bapak ke Bandara."

Saat tiba kepulangan Mas Barry, kutinggalkan ketiga buah hatiku ke tangan Mbak Mirna, Assisten rumah tangga yang sudah bekerja dua tahun di rumah. Sejauh ini, dirinya sangat baik terhadap anak-anak.

Tepat satu jam sebelum kedatangan Mas Barry, aku sudah memarkirkan mobil di parkiran bandara. Kupergunakan waktu menghubungi beberapa teman lama, untuk menanyakan barangkali ada lowongan pekerjaan yang sesuai untukku.

Semoga saja, pikirku. Aku harus bekerja kembali secepat mungkin, sebelum Mas Barry semakin menjadi-jadi.

Entah sudah berapa lama Mas Barry bermain-main, apakah dari semenjak aku masih bekerja, atau sejak aku resign? Entah. Sudah tidak penting lagi. Sekarang yang terpenting aku harus bisa mencari uang sendiri agar lepas dari cengkeraman Mas Barry.

[Mas udah turun, lagi tunggu bagasi.]

[Iya, Mas. Nisa sudah di parkiran.]

Sejurus kemudian, aku melihat Mas Barry tengah mendorong koper besarnya, hendak menyeberang menuju ke arahku yang parkir tidak jauh dari pintu ke luar.

Terlihat dirinya sangat kesusahan dengan koper berwarna hitam itu. Lagipula, kenapa juga membawa koper sebesar itu, untuk bepergian hanya seminggu, pikirku? Masih ada dua koper yang lebih kecil di rumah, tapi Mas Barry ngotot membawa koper itu. Dan memang Mas Barry membawa banyak sekali pakaian, karena aku ikut menyiapkannya saat itu. Ahh, sudahlah! Aku tidak mau memikirkannya.

Sebuah kecupan di kening, diberikannya padaku saat kami berhadapan. Kupasang wajah manis walau hatiku muak. Sabar Anisa, belum waktunya kau tunjukkan kemarahanmu.

Tanpa banyak bicara, aku membantunya mengangkat koper ke bagasi mobil.

"Berat sekali, Mas. Bawa apa aja?"

"Sama seperti waktu berangkat, Nis. Tambahan sedikit oleh-oleh buat kamu dan anak-anak. Heran juga. Tadi waktu ambil bagasi, nggak seberat ini."

"Ohya? Aneh," ujarku mengernyitkan kening. Kali ini aku benar-benar merasa aneh.

"Tadi sempat berdiri sebentar di dekat pintu ke luar, sambil teleponan sama teman, trus pas dorong koper ke sini, kopernya jadi berat. Ahh sudahlah, mungkin karena mas lelah, jadi rasanya berat. Ayoo jalan."

Mas Barry mengambil alih kemudi sementara aku duduk diam di sampingnya. Bisa kucium aroma wanita lain pada kemeja yang dikenakannya. Teriris rasa hatiku membayangkan apa yang baru saja dilakukan lelaki ini.

Lagi-lagi, kuingatkan hati ini agar sabar. Bila ingin memenangkan pertempuran, kesabaran adalah kunci utama.

"Hufh." Kuembuskan napas berat.

"Kenapa, Sayang?"

"Gak, lelah aja." Mas Barry diam, matanya lurus menatap jalanan namun di bibirnya terselip senyum kepuasan. Aku semakin muak membayangkan apa saja yang baru dilakukan dengan bibir itu.

Sesampai di rumah, Mas Barry menurunkan tas dan koper, lalu bergegas mendorongnya ke kamar.

Penasaran dengan beratnya yang luar biasa, kami segera membuka koper itu.

"Aaaa …!" Mataku membulat sempurna.

Kulepaskan pegangan pada sisi koper, setelah melihat apa yang ada di dalamnya. Potongan tubuh terbalut plastik wrapping, terpampang di depan mata. Bisa kulihat jelas, kepala seorang wanita cantik berambut panjang, melotot.Tidak ada bau busuk, hanya darah tergenang di dasar plastik.

Segera kututup pintu kamar, agar anak-anak dan Mba Mirna tak melihat apa yang terjadi.

Berdiri mondar mandir, aku mengusap wajah dan menarik rambutku gusar. Tanganku masih gemetaran.

"Kau mengenalnya, Mas?" selidikku. Kutatap heran wajahnya yang terperangah. Kedua telapak tangan Mas Barry tertangkup dan menutup mulutnya. Dia bersimpuh di pinggir koper, dan tak melepaskan pandangannya dari kepala wanita berambut panjang itu.

"Ti-tidak, Nisa. Aku … aku tidak mengenalnya," ujarnya tercekat. Binar ketakutan dan kesedihan muncul bersamaan di wajahnya, ia berusaha menutupinya namun kabut di kedua netranya terlihat jelas di mataku.

*

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dia Menjadi Gila Setelah Mengurungku di Gudang Pendingin
9.4
Demi membalas penderitaan cinta pertamanya, William Yuardi tega mengunci istrinya di dalam gudang pendingin tua yang terbengkalai. Dia hanya meninggalkan semangkuk air agar istrinya merenungkan kesalahannya. Tanpa disadari, mesin pendingin tiba-tiba menyala otomatis setelah pintu dikunci. Di tengah suhu yang membekukan, sang istri terus berteriak meminta tolong hingga jari-jarinya berdarah. Saat pintu akhirnya dibuka tujuh hari kemudian, penyesalan William tidak lagi berarti karena ia hanya mendapati jasad yang telah membeku.
Sampul Novel Hitungan Mundur Di Atas Kepala
8.1
Kemampuan melihat angka kematian di atas kepala orang terdekat membuatku dicap pembawa sial. Ketiga kakak laki-lakiku membenciku setelah kakek, ayah, dan ibu tewas dalam sehari sesuai ramalanku. Anehnya, adik perempuan kami yang kelahirannya merenggut nyawa ibu justru dipuja sebagai pembawa berkah. Di hari ulang tahunku yang kedelapan belas, cermin menunjukkan hitungan mundur ajalku sendiri. Usai membeli kotak abu, aku memasak hidangan terakhir untuk berkumpul bersama kakak-kakakku. Namun, hingga waktu itu habis, tak ada satu pun dari mereka yang datang menemui diriku.
Sampul Novel Istriku Kuyang
9.6
Yusuf, seorang pemuda asal Jawa yang merantau, menemukan tambatan hati pada seorang gadis cantik di Kalimantan. Namun, romansa indah itu seketika berubah menjadi teror mengerikan saat ia mengungkap identitas asli sang kekasih. Ternyata, wanita yang ia puja adalah sosok kuyang, siluman berkepala terbang dengan organ dalam yang menggantung. Kini, Yusuf terjebak dalam dilema antara cinta dan kengerian. Bagaimana nasib hubungan mereka selanjutnya?
Sampul Novel Janda Cantik Dan Psycopat Dingin
8.2
Pasca memergoki perselingkuhan sang suami, seorang wanita menolak untuk terpuruk dalam kesedihan. Alih-alih menyerah, ia menyusun rencana balas dendam yang kejam demi memberikan rasa sakit yang setimpal kepada para pengkhianat. Namun, langkahnya terhenti saat seorang pria misterius masuk ke hidupnya secara tiba-tiba. Siapa sangka, sosok tersebut adalah psikopat berdarah dingin yang terobsesi dan jatuh cinta padanya. Akankah ini membantu atau menghancurkan tujuannya?
Sampul Novel JARAN GOYANG PENARI JAIPONG
8.3
Terbakar api cemburu melihat Abimanyu memadu kasih dengan sahabatnya sendiri, Kamila nekat menempuh jalan hitam. Ia mengamalkan Ajian Jaran Goyang pemberian Nyai Winarsih, sosok tua yang secara misterius tetap berparas jelita. Kamila tidak menyadari bahwa tindakannya menyeretnya ke dalam pusaran sumpah masa lalu sang nyai. Obsesi buta ini membangkitkan petaka kuno yang telah terkubur puluhan tahun, mengancam nyawa demi sebuah cinta yang dipaksakan.
Sampul Novel Mantra pemanggil kuntilanak
7.8
Ara adalah wanita cantik dan mandiri yang menjalani keseharian jauh dari keluarganya. Meski daya tariknya memikat banyak pria, hidupnya selalu diwarnai berbagai pengalaman mistis yang mencekam. Hubungan uniknya dengan dunia gaib bahkan membuat Ara berteman dengan makhluk halus. Namun, segala gangguan supranatural yang menghantuinya selama ini tiba-tiba berhenti total setelah ia resmi menikah. Kini, kehidupan penuh misteri itu berubah menjadi ketenangan yang tak terduga.