
Kontrak Rahasia Sang Pewaris
Bab 2
Elysia duduk diam di dalam mobil, napasnya tak beraturan. Tawaran Damian menggantung di udara, berat dan mustahil untuk diabaikan. Lima miliar. Jumlah yang bisa menyelamatkan ibunya. Tapi sebagai gantinya, ia harus menikahi pria yang nyaris asing baginya-dan melahirkan anaknya.
Di sebelahnya, Damian tetap tenang, seolah tahu bahwa ia sudah memenangkan permainan ini bahkan sebelum Elysia menyadarinya.
"Kau tidak perlu terburu-buru mengambil keputusan. Aku bisa memberimu waktu," ucapnya akhirnya, suaranya datar namun tegas. "Tapi kau harus tahu satu hal-aku tidak membuat penawaran ini untuk siapa pun. Ini bukan transaksi biasa."
Elysia menelan ludah.
"Apa maksudmu?"
Damian menoleh, sorot matanya menelisik hingga ke dalam jiwanya. "Aku ingin anakku lahir dari seseorang yang tidak memiliki agenda tersembunyi. Aku sudah muak dengan wanita yang hanya menginginkan hartaku. Dan kau... Kau bukan salah satu dari mereka."
Elysia hampir tertawa sinis. "Jadi kau memilihku karena aku miskin?"
Alih-alih tersinggung, bibir Damian melengkung tipis. "Karena kau putus asa. Orang yang putus asa tidak punya pilihan selain jujur."
Kata-katanya menusuk. Elysia ingin menyangkal, ingin mengatakan bahwa ia lebih dari sekadar wanita yang putus asa. Tapi bagaimana bisa, jika kenyataannya ia memang tidak punya pilihan lain?
"Apa aku tidak punya kebebasan dalam pernikahan ini?" tanyanya pelan.
Damian mengamati ekspresinya sebelum menjawab, "Pernikahan ini akan bersifat kontrak. Kau akan memiliki semua yang kau butuhkan. Rumah mewah, fasilitas terbaik, perlindungan. Namun, ada satu syarat yang tidak bisa dinegosiasikan."
Elysia menunggu, hatinya berdebar tak menentu.
"Kau harus melahirkan anakku. Secepat mungkin."
Pernyataan itu begitu tajam, begitu lugas, hingga membuat dadanya sesak. Ia bukan hanya menikah demi uang, tetapi benar-benar harus mengandung anak pria ini.
Elysia menggeleng, menekan pelipisnya. "Ini gila. Ini lebih buruk daripada sekadar menjual diri."
Damian tetap tak terpengaruh. "Ini adalah bisnis. Kau mendapatkan sesuatu, aku mendapatkan sesuatu. Bedanya, aku tidak akan memperlakukanmu seperti barang. Kau akan menjadi istri sahku, ibu dari pewarisku. Dan setelah kontrak berakhir, kau bisa pergi dengan uangmu."
Seakan semua itu semudah mengucapkannya.
"Berapa lama pernikahan ini berlangsung?"
"Minimal lima tahun. Sampai anak kita cukup besar."
Lima tahun. Lima tahun terikat dengan pria ini. Lima tahun hidup dalam pernikahan yang sebenarnya tidak nyata.
Tapi lima miliar bisa menyelamatkan ibunya. Lima miliar bisa mengubah hidupnya.
Ia menggenggam tangannya erat, menatap Damian dengan penuh pertimbangan. "Dan jika aku menolak?"
Damian mengangkat bahu. "Aku tidak akan memaksamu. Tapi tawaran ini tidak akan datang dua kali."
Elysia menutup mata. Pilihan apa yang ia miliki? Jika ia menolak, ibunya bisa saja kehilangan nyawanya. Jika ia menerima, maka hidupnya tak lagi menjadi miliknya sendiri.
Tapi apa hidupnya benar-benar miliknya sekarang?
Dengan suara gemetar, ia akhirnya berkata, "Aku butuh jaminan."
Damian mengangkat alis, seakan tidak menyangka Elysia akan mencoba bernegosiasi.
"Jaminan seperti apa?"
"Aku ingin setengah dari uang itu diberikan di muka. Aku ingin ibuku mendapatkan perawatan terbaik tanpa menunggu lama."
Damian menatapnya lama, lalu mengangguk. "Sepakat. Lima ratus juta akan ditransfer ke rekeningmu malam ini. Sisanya setelah kita menikah."
Lima ratus juta. Jumlah yang lebih dari cukup untuk segera memindahkan ibunya ke rumah sakit terbaik.
"Dan satu lagi," lanjut Elysia, mencoba mempertahankan secuil kendali dalam situasi ini. "Aku ingin kebebasan. Aku tidak ingin hidup seperti tahanan."
Damian menatapnya tajam. "Aku tidak akan membatasi hidupmu, selama kau memegang komitmen kita. Kau hanya perlu menjaga nama baik keluarga Lancaster dan memastikan kehamilanmu berjalan dengan baik."
Elysia menelan ludah, merasa dadanya semakin sesak.
"Kalau begitu... aku setuju."
Kalimat itu keluar lebih pelan daripada yang ia kira. Namun, begitu terucap, ia tahu bahwa semuanya telah berubah.
Damian menatapnya sejenak, sebelum tersenyum tipis. "Kau membuat keputusan yang tepat."
Malam itu, sesuai janjinya, Damian mentransfer lima ratus juta ke rekening Elysia. Ia segera menghubungi rumah sakit dan memindahkan ibunya ke fasilitas terbaik.
Namun, meskipun uang itu telah mengamankan keselamatan ibunya, Elysia tidak bisa menghilangkan perasaan kosong yang mulai menjalar di dalam dirinya.
Dia baru saja menjual masa depannya kepada pria yang nyaris tidak ia kenal.
Dan tidak ada jalan untuk kembali.
Tiga hari kemudian, Elysia berdiri di depan sebuah gedung megah dengan arsitektur klasik yang menakjubkan. Rumah keluarga Lancaster.
Di sampingnya, Damian menatapnya sekilas sebelum berkata, "Mulai hari ini, ini rumahmu."
Rumah. Kata itu terdengar begitu asing di telinganya.
Seorang pelayan segera datang dan membukakan pintu untuk mereka. Begitu melangkah masuk, Elysia langsung merasa seperti memasuki dunia lain. Lantai marmer berkilauan, lampu kristal menggantung di langit-langit, dan keharuman mawar putih memenuhi udara.
Namun, belum sempat ia beradaptasi dengan kemegahan itu, suara dingin seorang wanita menyambut mereka.
"Jadi ini wanita yang kau pilih, Damian?"
Elysia menoleh dan menemukan seorang wanita paruh baya dengan gaun anggun berdiri di dekat tangga, matanya penuh penilaian.
"Ibu," Damian menyapa singkat.
Jadi ini ibu mertuanya. Tatapan dingin wanita itu membuat Elysia merinding.
"Kau benar-benar membuat keputusan tergesa-gesa," ujar wanita itu. "Menikahi wanita tanpa nama, tanpa latar belakang jelas. Apa kau tidak berpikir dua kali?"
Damian menegang. "Ini bukan urusanmu, Ibu. Elysia adalah istriku, dan kau harus menerimanya."
Wanita itu mendengus sebelum menatap Elysia dari ujung kepala hingga kaki. "Baiklah. Jika kau memang ingin mempertaruhkan nama keluarga kita dengan wanita ini, aku tidak akan ikut campur. Tapi ingat, Damian, keluarga Lancaster tidak menerima kegagalan. Aku harap kau membuat keputusan yang tepat."
Dengan angkuh, wanita itu melangkah pergi.
Elysia merasa tubuhnya melemas. Bahkan sebelum pernikahannya dimulai, ia sudah dihadapkan dengan tantangan besar.
Damian menatapnya sejenak sebelum berkata, "Jangan dengarkan ibuku. Dia memang seperti itu."
Elysia menghela napas. "Aku tahu ini tidak akan mudah. Tapi aku tidak mengira akan seberat ini sejak awal."
Damian menatapnya lama sebelum berkata pelan, "Kau masih bisa mundur."
Elysia mendongak, mata mereka bertemu.
Lalu ia menggeleng. "Tidak. Aku sudah memutuskan. Aku akan tetap di sini."
Damian mengamati ekspresinya sebelum akhirnya mengangguk. "Baiklah. Mulai sekarang, kau adalah Nyonya Lancaster."
Elysia menelan ludah.
Ia baru saja memasuki permainan yang jauh lebih besar dari yang ia kira.
Dan tidak ada jalan keluar.
Anda Mungkin Juga Suka





