
Kontrak Pewaris Lima Miliyar
Bab 3
Hari-hari berlalu tanpa banyak perubahan, kecuali satu hal-Kirana mulai merasakan sesuatu yang tidak seharusnya ia rasakan.
Narendra Adipradana adalah pria yang dingin dan penuh perhitungan. Setiap interaksi mereka selalu terasa seperti transaksi bisnis. Namun, di balik tatapan tajamnya yang selalu berusaha menjaga jarak, Kirana mulai menangkap kilasan emosi yang lain.
Ia melihatnya saat pria itu diam-diam mengawasi saat dokter memeriksa kesehatannya.
Ia merasakannya saat Narendra, tanpa kata-kata, menggeser mangkuk sup mendekat padanya ketika ia kehilangan nafsu makan.
Ia menemukannya dalam cara pria itu, yang biasanya tak pernah menyentuhnya tanpa alasan, tiba-tiba membantunya saat ia hampir terpeleset di tangga.
Hal-hal kecil itu.
Namun, Kirana tahu lebih baik daripada membiarkan harapan tumbuh di hatinya.
Mereka punya perjanjian.
Dan setelah bayi ini lahir, ia akan pergi.
Narendra duduk di ruang kerjanya, menatap laporan bisnis yang ada di tangannya tanpa benar-benar membaca isinya. Pikirannya terganggu, dan ia membenci dirinya sendiri karena itu.
Ia tidak boleh terpengaruh.
Ia sudah memutuskan bahwa pernikahan dan cinta bukanlah sesuatu yang akan masuk dalam hidupnya. Tapi entah kenapa, setiap kali ia melihat Kirana, ada sesuatu yang mengusiknya.
Ia tidak suka melihatnya murung.
Ia tidak suka saat Kirana menunduk, seolah tak yakin dengan keberadaannya di rumah ini.
Dan yang paling ia benci, ia mulai peduli.
Suatu malam, saat ia melewati ruang keluarga, ia melihat Kirana duduk sendirian di balkon, memeluk dirinya sendiri. Hujan baru saja reda, dan udara dingin menusuk.
"Kau seharusnya tidak duduk di luar saat udara dingin," katanya tanpa sadar, membuat Kirana tersentak kaget.
Ia menoleh, menatap Narendra dengan mata sedikit membesar. "Aku hanya ingin menghirup udara segar."
Narendra menghela napas dan berjalan mendekat. Dengan gerakan tegas, ia melepas jasnya dan menyampirkannya ke bahu Kirana.
Wanita itu membeku. Ini pertama kalinya Narendra menunjukkan sesuatu yang mendekati kepedulian secara langsung.
Kirana menggigit bibirnya. "Kau tidak perlu melakukan ini."
Narendra menatapnya tajam. "Aku tidak ingin kau jatuh sakit. Itu akan membuat segalanya lebih rumit."
Jawaban dinginnya seharusnya membuat Kirana sadar diri. Tapi, jantungnya justru berdetak lebih cepat.
Ia menarik napas dalam. "Narendra..."
Pria itu tidak menjawab, hanya berdiri di sana, menatapnya.
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, keheningan di antara mereka terasa lebih dari sekadar batasan.
Itu adalah awal dari sesuatu yang berbahaya. Sesuatu yang tidak boleh mereka biarkan berkembang.
Tapi apakah mereka benar-benar bisa menghindarinya?
Anda Mungkin Juga Suka





