
Kobaran Masa Lalu
Bab 2
Leon menatapku dengan tatapan tidak percaya. Suaranya terdengar kaget, "Kita belum resmi bercerai, bagaimana bisa kamu menikah dengan orang lain?"
Dimas yang mendengar perkataan Leon pun segera berlari ke depanku. Dia mendongak marah, "Ibu, apa Ibu sudah nggak menginginkan kami lagi? Kenapa Ibu menikah dengan orang lain? Kenapa Ibu mengkhianati kami?"
Mengkhianati mereka?
Dulu, ayah dan anak ini yang seenaknya saja membawa masuk Marinka ke rumah.
Aku bahkan belum bilang setuju, tapi Leon sudah menyuruhku memberikan kamar utama pada wanita itu.
Aku sudah menolak, tapi Leon malah menatapku tajam sambil menghakimiku, "Kamu ini egois sekali. Marinka dulu menikahi seorang konglomerat dan hidup mewah. Kalau nggak tidur di kamar utama di rumah kita, mau tidur di mana lagi dia?"
"Kamar utama dan kamar tamu kan sama saja, apa salahnya memberikan kamar ini padanya?"
Akhirnya, Marinka yang tidak tahu malu itu pun tinggal di kamar utama. Sedangkan aku, aku terpaksa pindah ke kamar tamu.
Marinka bukan hanya menguasai kamarku, tapi juga menganggapku sebagai pembantunya.
Aku harus membuatkan sarapan untuknya setiap pagi. Kalau masakanku tidak sesuai dengan seleranya, dia tidak perlu repot menggerutu, karena Dimas sudah lebih dulu melakukannya, "Ibu, sebagai orang yang posisinya sedikit lebih tinggi sebagai koki di rumah, seharusnya Ibu bisa merawat Tante Marinka dengan lebih baik. Aku dan Ayah pasti akan marah kalau begini."
Melihat suami dan anakku yang selalu memprioritaskan Marinka seperti ini membuatku naik pitam. Aku pun memorak-porandakan dapur dan mengusir Marinka dari rumah. Tapi Leon dan Dimas malah marah padaku.
Suami dan anak kandungku malah lebih membela orang luar seperti Marinka. Mereka justru menyuruhku yang pergi dari rumah.
Padahal, mereka yang lebih dulu mengkhianatiku, tapi sekarang malah balik menyalahkanku.
Aku mendengus dan melangkah menuju ke seberang jalan, memilih untuk mengabaikan pertanyaan bodoh mereka.
Tapi Leon malah menarik pergelangan tanganku, "Nggak masalah kalau memang kamu sudah menikah. Aku tetap akan menerimamu lagi asal kamu mau menceraikan suamimu yang sekarang. Lagipula, kamu kan ibu kandung Dimas."
Aku menatap kesal Leon, lalu melepaskan tangannya dengan geram, "Aku nggak mau!"
Hari ini sepertinya hari sialku, makanya bisa sampai bertemu dengan Leon dan Dimas begini.
Dulu, waktu aku terkunci di kamar dan berteriak meminta pertolongan, Leon sama sekali tidak peduli. Dia malah sibuk menyelamatkan Marinka yang hanya mengalami luka ringan, dan membiarkanku terbakar hidup-hidup.
Sekarang, saat aku akhirnya bisa hidup tenang setelah selamat dari bencana itu, mereka malah datang menggangguku lagi ....
Aku pun memilih untuk mempercepat langkahku menuju trotoar.
Tapi tiba-tiba terdengar suara klakson yang melengking, hingga membuatku membeku di tempat. Sebuah mobil terlihat melaju kencang ke arahku.
Aku masih terpaku di tempat, kakiku seperti menancap di tanah dan sama sekali tidak bisa bergerak.
Kemudian, tiba-tiba ada sebuah tangan yang menarik pergelangan tanganku ke dalam pelukannya. Dia terdengar panik, "Hati-hati ...."
Aku masih syok saat menatap wajah Leon yang terlihat cemas di depanku. Aku refleks ingin mendorongnya, tapi aku malah jatuh ke tanah karena lututku lemas.
Ketika aku terjatuh, Leon akhirnya melihat kaki palsuku dengan jelas.
Dia menatapku dengan kaget, "Kamu ...."
Sebelum aku sempat angkat bicara, Dimas sudah berlari mendekat. Dia memegang kaki palsuku sambil menatapku kaget, "Ibu, mana kaki Ibu? Kenapa Ibu bisa sampai kehilangan satu kaki?"
Anda Mungkin Juga Suka





